Since You Married Me

Since You Married Me
Hukuman



Aaron terus meminta sopirnya untuk mengendarai mobil dengan cepat. Dia memeluk Zaya sambil terus menekan luka yang ada di leher sebelah kiri Zaya.


Sebenarnya lukanya tidak terlalu dalam, tapi darahnya terus saja keluar hingga mengotori pakaian yang Zaya kenakan.


"Sayang, bertahanlah. Sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit." Ujar Aaron dengan cemas, seolah saat ini Zaya tengah berjuang antara hidup dan mati.


Sekali lagi Zaya tak merespon. Ia diam seperti sedang tidak mendengar ataupun merasakan apapun.


Aaron semakin cemas saja melihat Zaya yang terus diam. Entah sudah berapa kali Aaron menyuruh sopirnya untuk mempercepat laju mobil.


Akhirnya mereka sampai ke rumah sakit terdekat. Zaya pun segera mendapatkan pertolongan.


Luka Zaya tidak parah, tapi tampaknya ia sedikit syok dengan kejadian yang baru saja menimpanya, hingga tubuhnya lemas dan tak bertenaga. Alhasil Aaron meminta pada dokter agar Zaya dirawat.


Tak berapa lama kemudian, Asisten Dean datang bersama Kara setelah mendapatkan kabar dari Aaron.


Zaya masih tak ingin berbicara. Hingga Aaron akhirnya memutuskan untuk meminta Kara datang, agar istrinya itu bisa lebih terhibur.


"Apa kau sudah mengurus perwakilanku yang akan keluar kota hari ini?" Tanya Aaron pada Asisten Dean.


Asisten Dean mengiyakan sambil sedikit membungkukkan badannya.


"Anda tidak usah khawatir, Tuan. Klien kita juga sudah bisa menerima alasan dari batalnya keberangkatan Tuan. Mereka justru meminta maaf karena tidak bisa menjenguk Nyonya. Mereka menitip salam untuk Nyonya dan mendoakan supaya Nyonya lekas sembuh." Ujar Asisten Dean.


Aaron mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu dia pun mengajak Asisten Dean dan Kara untuk masuk kedalam ruang perawatan Zaya.


"Zaya..." Hampir saja Kara berhambur memeluk Zaya. Jika tidak ingat ada Dean dan Aaron bersama mereka saat ini, Kara pasti sudah heboh dan membombardir Zaya dengan berbagai pertanyaan ajaib.


"Kara?" Zaya menoleh dan tersenyum saat melihat sahabatnya itu.


Aaron menautkan kedua alisnya. Istrinya itu langsung merespon dengan normal saat Kara yang menyapa, tapi kenapa saat dengannya tadi Zaya tak mau bergeming.


"Bagaimana keadaan Anda saat ini, Nyonya?" Asisten Dean juga menyapa dengan sopan.


"Saya baik-baik saja, Asisten Dean. Terima kasih sudah mengajak Kara membesuk." Jawab Zaya.


Aaron semakin mengerutkan keningnya. Sekarang Asisten Dean juga mendapat respon yang baik. Dia mulai curiga jika saat ini istrinya itu kembali merajuk padanya.


"Sebenarnya Tuan Aaron yang menghubungiku untuk datang kemari bersama Dean. Beliau bilang kamu agak sedikit syok." Ujar Kara memberitahu.


"Oh..." Ekspresi Zaya langsung berubah.


Aaron pun jadi semakin yakin jika Zaya sedang marah padanya. Mungkinkah karena tadi Aaron sempat meragukan apa yang ia katakan?


Aaron menghela nafasnya. Sepertinya sekarang dia kembali melakukan kesalahan. Dan tampaknya kesalahannya kali ini agak fatal sehingga akan sedikit sulit untuk dimaafkan.


Aaron merutuki dirinya sendiri dalam hati. Entah kapan dia akan berhenti bertindak bodoh dan tak membuat istrinya marah lagi. Aaron memang tak pandai jika di hadapkan dengan urusan perasaan. Itulah sebabnya dulu dia sangat malas berurusan dengan yang namanya perempuan.


Lalu saat ini, Aaron sepertinya harus mencari seorang mentor yang bisa membantunya agar bisa lebih peka. Sungguh dia tak ingin membuat istrinya tersakiti lagi. Tapi apa mau dikata, dirinya mungkin memang telah seperti itu sejak dia masih embrio.


"Tapi Zaya, bagaimana kamu bisa sampai terluka seperti ini?" Tanya Kara kemudian.


Zaya tampak menghela nafasnya.


"Ini akibat dari menilai seseorang hanya dari tampilan luarnya saja, tidak melihat seperti apa isi didalamnya.. Masih untung hanya tergores seperti ini. Biarpun terluka, setidaknya aku masih hidup." Jawab Zaya dengan penuh penekanan.


Kara berdehem canggung. Sepertinya ia mengajukan pertanyaan yang salah. Atmosfir didalam ruangan itu tiba-tiba menjadi agak tak mengenakkan.


Sedangkan Aaron sendiri melirik sekilas istrinya itu. Benar dugaannya jika sekarang Zaya sedang marah. Kata-katanya tadi pasti ia tujukan pada Aaron yang telah salah menilai Anna selama ini.


"Tapi untung lukanya tidak dalam. Walaupun meninggalkan bekas luka, tapi masih bisa dihilangkan dengan perawatan kecantikan. Jadi kamu tidak usah khawatir, tidak akan sampai menganggu penampilanmu." Ujar Kara lagi berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.


"Aku tidak terlalu memusingkan penampilan. Lagipula bagus juga kalau sampai ada bekas luka. Biar saat melihatnya, seseorang akan selalu teringat, apa akibatnya jika lebih mempercayai perempuan lain daripada istri sendiri." Jawab Zaya lagi dengan sarkas.


Kali ini Kara menoleh kearah Dean. Sepertinya mereka datang disaat yang tidak tepat. Jika terus berada disini, bisa-bisa mereka berdua terjebak ditengah pertikaian suami istri.


Kara memberi isyarat pada Dean agar segera pamit undur diri.


"Tuan, Nyonya, maaf. Saya tidak bisa lama-lama disini. Masih ada yang harus saya urus." Ujar Dean sesaat setelah mendapat isyarat dari Kara.


"Zaya, aku juga harus kembali ke kafe. Nanti aku kembali lagi." Ujar Kara menimpali.


Lalu kedua sejoli ini pun pergi meninggalkan Zaya dan Aaron, memberi ruang bagi pasangan suami istri ini untuk menyelesaikan apa yang belum terselesaikan.


Sepeninggalan Dean dan Kara, suasana kembali hening.


Zaya kembali pada mode diamnya, lalu memilih untuk merebahkan diri dan tidur dengan membelakangi Aaron.


Menjelang malam, berganti Ginna dan Carlson yang datang. Kedua orang tua Aaron ini langsung kembali dari luar kota saat mendengar ada insiden yang menimpa menantu mereka.


Lalu saat melihat luka dileher Zaya dan mendengar cerita keseluruhannya, Carlson tak henti memarahi Aaron, hingga akhirnya Aaron diseret keluar oleh Papanya itu, entah hendak dibawa kemana.


Zaya sendiri tak merasa keberatan jika Carlson memberi pelajaran pada putranya itu dengan sedikit memukulinya. Saat ini ia benar-benar merasa kesal dan marah pada Aaron. Melihat sedikit lebam diwajah Aaron, mungkin tak akan terlalu mempengaruhinya.


Kini tinggalah Zaya dan Ginna saja.


Sedari tadi Ginna tak mengeluarkan suara. Wajahnya juga terlihat sangat tak terbaca. Entah apa yang ada dibenak ibu mertua Zaya itu saat ini. Zaya hanya bisa menunggu Ginna berbicara lebih dulu, tanpa berani membuka pembicaraan.


"Lain kali kau harus lebih berhati-hati, jangan sampai terluka lagi." Suara Ginna akhirnya keluar memecah keheningan.


Zaya mengangkat wajahnya, melihat kearah Ginna. Ibu mertuanya ini sedang mengkhawatirkan dirinya, kah?


"Tidak ada gunanya misi berhasil, jika diri sendiri terbunuh. Yang paling penting adalah keselamatan. Nyawa itu cuma satu, tidak ada duplikatnya." Ujar Ginna lagi.


Zaya sedikit mengembangkan senyuman. Ibu mertuanya ini memang sedang mengkhawatirkannya, tapi tentu dengan cara dan gayanya sendiri.


"Baik, Ma. Lain kali aku akan lebih hati-hati." Ujar Zaya kemudian.


Ginna mengangguk, lalu kembali terdiam.


"Aku punya prinsip dalam hidupku, yang bersalah harus menerima hukuman." Ginna berujar lagi.


Kemudian ia menatap kearah Zaya.


"Lalu apa kau sudah memikirkan, hukuman apa yang akan kau berikan pada Aaron?" Tanyanya kemudian.


Zaya menautkan kedua alisnya.


'Hukuman?'


Bersambung...


Sebenernya semalem mau up satu part lagi, tapi mood tiba2 ancur gegara baca novel tentang poligami😟😟😟


Kalo dipaksain nulis, takutnya ceritanya ikutan ancur😅


tetep like, komen dan vote ya


Happy reading❤❤❤