
Zaya akhirnya bisa bernafas lega. Setelah drama melelahkan yang berkepanjangan itu, Aaron pun pergi kekantornya bersama Asisten Dean.
Hari sudah menunjukkan pukul sembilan lebih, menandakan jika baik Zaya maupun Aaron, keduanya sama-sama sudah agak telat untuk memulai aktifitas mereka.
Zaya juga bergegas melajukan mobilnya menuju kafe miliknya. Sepanjang perjalanan, Zaya terus memikirkan tentang sikap Aaron yang berubah sangat drastis belakangan ini.
Apakah Aaron benar-benar mempunyai perasaaan padanya sekarang?
Setiap perlakuan Aaron pada Zaya sekarang adalah impian Zaya saat masih menjadi istri Aaron dulu. Cumbuan, rayuan, dan perhatian Aaron saat ini, itu semua sangat Zaya nantikan selama tujuh tahun lamanya hidup bersama lelaki itu.
Tapi sekarang, mereka sudah bercerai dan punya kehidupan masing-masing. Segala hal tentang mereka tak akan pernah sama lagi. Ikatan suci itu telah terputus, Aaron sendiri yang telah memutusnya. Dan sejak saat itu, Zaya telah membuang jauh semua harapannya untuk Aaron.
Lalu kenapa sekarang dia datang dan mengejar Zaya, seolah-olah dia tak akan bisa hidup tanpa Zaya? Bukankah dia sendiri yang telah memaksa Zaya untuk pergi dari hidupnya?
Zaya menghela panjang untuk kesekian kalinya.
Ia benar-benar bingung dengan situasi yang tengah dihadapinya saat ini. Haruskah ia memberikan Aaron kesempatan lagi seperti yang diminta Aaron sebelumnya? Atau mungkin, yang harus dilakukannya adalah menolak dengan tegas kehadiran lelaki itu agar tidak masuk kedalam hidupnya lagi?
Lalu jika itu yang Zaya pilih, haruskah ia menjaga jarak dengan Albern juga? Mengingat saat ini Aaron seringkali memanfaatkan putranya itu untuk kembali mendekatinya.
Zaya sungguh tidak tahu harus bagaimana. Seandainya saja tidak ada Albern, mungkin lebih mudah baginya untuk memutuskan.
Sejujurnya, Zaya memang merindukan lelaki itu. Tapi Zaya tidak mau kembali tenggelam kedalam cinta yang semu dan kembali membuatnya terpuruk.
Tujuh tahun sudah cukup baginya hidup dalam harapan kosong. Sekarang Zaya sudah punya kehidupan yang cukup baik, dan ia tidak ingin mengulang kesedihan masa lalunya lagi. Cukup sudah. Sekarang ia ingin bahagia juga, meski itu tanpa Aaron.
Tidak terasa, Zaya sudah sampai didepan kafenya.
Zaya memarkir mobilnya, tapi tak langsung turun dari sana. Ia masih agak tercenung dengan pikiran yang mengembara entah kemana.
Tiba-tiba Zaya terkejut saat ada yang mengetuk pintu mobilnya. Tampak Fina sedang berdiri diluar mobil sambil mengintip kearah dalam mobil Zaya.
Buru-buru Zaya membuka pintu mobil dan turun dari mobilnya itu.
"Saya kira Bu Bos tidak ke kafe hari ini. Tumben jam segini baru datang." Ujar Fina.
Zaya tersenyum menanggapi.
"Ada yang harus diurus terlebih dahulu dirumah." Jawab Zaya.
Fina kemudian mengikuti Zaya masuk kedalam kafe.
"Bu Bos..." Gumam Fina sambil mengimbangi langkah Zaya.
"Ada apa?" Zaya menghentikan langkahnya. Tampaknya ada yang ingjn disampaikan gadis itu pada Zaya.
"Ada yang mencari Ibu sejak tadi. Sekarang orangnya sedang menunggu di ruang kerja Bu Bos."
Zaya menautkan kedua alisnya.
'Ada yang mencariku? Siapa? Tidak mungkin Aaron lagi, kan?'
"Dua orang perempuan cantik. Satunya sudah paruh baya, dan yang satunya lagi masih muda. Katanya ada hal penting yang harus dibicarakan dengan Bu Bos." Tambah Fina lagi.
Zaya semakin bertanya-tanya. Siapakah gerangan dua perempuan cantik yang sedang mencarinya. Seingatnya ia tidak sedang menyinggung siapapun belakangan ini. Zaya juga tidak sedang dekat dengan lelaki beristri. Jadi, kira-kira siapa perempuan yang datang ingin membicarakan hal penting dengannya?
Zaya pun mempercepat langkah menuju ke ruang kerjanya. Ia sangat penasaran dengan dua orang yang sedang menunggunya itu. Lalu saat telah sampai didepan ruang kerjanya, Zaya berhenti sejenak.
Kemudian dengan perlahan, tangan Zaya terulur membuka pintu ruangan tersebut. Lalu nampaklah dua orang yang dimaksud Fina tadi.
Dua orang perempuan cantik nan elegan sedang duduk disofa yang ada diruang kerja Zaya. Dia adalah Ginna, ibunya Aaron, bersama dengan seorang perempuan muda yang tak kalah cantik, yang jika Zaya tak salah mengenali, dia adalah Carissa Nugraha. Teman masa kecil Aaron.
Melihat kedatangan Zaya, kedua orang itu bangkit dari duduknya.
Zaya pun mendekat dengan hati bertanya-tanya. Apakah kiranya yang membuat mantan ibu mertuanya itu repot-repot mencarinya seperti ini?
Lalu ia juga duduk dihadapan Ginna dan Carissa yang telah kembali duduk diposisi semula.
"Saya agak terkejut melihat Anda disini. Mungkinkah ada hal yang begitu penting hingga Nyonya harus merepotkan diri datang sendiri kesini?" Tanya Zaya kemudian dengan terus terang.
Ginna terdiam sesaat.
"Benar. Ada sesuatu yang sangat penting, yang harus kusampaikan padamu, Zaya." Jawab Ginna akhirnya.
Zaya menautkan kedua alisnya. Nada bicara Ginna terdengar sangat tak biasa. Perempuan yang biasanya berbicara dengan tegas dan tajam ini, sekarang berbicara dengan nada lebih lembut kepada Zaya.
Zaya semakin penasaran dengan apa yang ingin Ginna sampaikan sebenarnya.
"Apakah tentang Albern?" Tanya Zaya kemudian.
Ginna menggeleng.
"Bukan." Ujarnya.
"Ini tentang Brylee Group." Tambahnya lagi.
Zaya semakin tak mengerti dibuatnya.
Mantan ibu mertuanya yang selama ini acuh tak acuh pada Zaya, kini datang mencarinya untuk berbicara mengenai Perusahaan. Apa tidak salah?
"Maksud Anda, Nyonya?" Tanya Zaya tak mengerti.
Ginna tampak menghela nafas sejenak.
"Brylee Group saat ini terancam bangkrut." Ujarnya kemudian dengan nada sedih.
Zaya membeliakkan matanya tak percaya. Jadi berita diinternet yang pernah dibacanya tempo hari memang benar?
Mungkinkah itu juga yang membuat Aaron mabuk pada malam sebelumnya?
Berbagai pertanyaan muncul dibenak Zaya. Tapi yang paling membuatnya ingin tahu adalah, kenapa Ginna repot-repot memberitahukan hal ini pada Zaya?
"Seseorang telah menjadi penghianat dan sengaja ingin melihat Brylee Group hancur. Mereka melancarkan aksinya saat Aaron sedang mengajak kau dan Albern berlibur." Tambah Ginna lagi tak lama kemudian.
Zaya terkesiap. Apakah Ginna datang untuk mengatakan jika sesuatu yang terjadi dengan Brylee Group saat ini adalah salahnya?
"Says turut sedih mendengarnya, Nyonya. Tapi hal itu tidak ada hubungannya dengan saya." Jawab Zaya.
Zaya merasa harus meluruskan masalah ini. Ia tak ingin menjadi kambing hitam untuk permasalahan yang tengah menimpa perusahaan milik keluarga Aaron. Ia bukan lagi bagian dari keluarga Brylee, jadi Brylee Group tak ada sangkut pautnya dengan dirinya.
"Aku datang untuk meminta bantuanmu, Zaya. Saat ini hanya kau yang bisa membantuku." Ujar Ginna saat menyadari kesalahpahaman Zaya atas kedatangannya.
Zaya terdiam. Matanya menatap kearah Ginna dengan penuh tanda tanya.
Ginna bangkit dari duduknya, kemudian melangkah kehadapan Zaya. Lalu yang dilakukan Ginna berikutnya sangat tidak Zaya sangka.
Perempuan paruh baya itu berlutut tepat dihadapan Zaya dengan airmata yang meluncur cepat dipipinya.
Zaya terkejut, begitu pula dengan Carissa. Mereka berdua tidak percaya dengan apa yang Ginna lakukan saat ini.
"Hanya kau saja yang bisa membantuku saat ini, Zaya. Nasib Brylee Group berada ditanganmu..."
Bersambung....
Author lg ada kerjaan yg cukup menyita waktu, jd ga bisa bls komen kayak biasanya. Upnya jg baru bisa mlm hari.
Tetep like, komen dan vote ya...
Happy reading❤❤❤