Since You Married Me

Since You Married Me
Aku Merestuimu



Zaya berdiri dengan pandangan yang agak kosong. Pikirannya masih melayang memikirkan sosok yang sejak beberapa hari lalu mengusiknya. Evan. Lelaki yang begitu patah hati karena mengetahui Zaya telah kembali bersama Aaron lagi.


Sejak mengucapkan selamat tinggal malam itu, Evan tidak pernah menghubungi atau pun menemui Zaya lagi. Dia seperti sengaja menghilang dari kehidupan Zaya.


Sebenarnya Zaya merasa khawatir dan sangat ingin tahu kabar kakaknya itu. Tapi Zaya menahan diri untuk tidak menemui Evan. Zaya takut akan semakin menyakiti Evan jika Evan terus melihat dirinya.


"Sudah selesai, Nona." Suara seorang wanita muda yang sejak tadi membantu Zaya mengenakan gaun pengantinnya membuyarkan lamunan Zaya.


Zaya pun tersenyum dan mengangguk.


Ya. Saat ini Zaya memang tengah melakukan fitting baju pengantin bersama dengan Aaron. Hari pernikahan mereka memang sudah kurang dari sebulan lagi, dan kini mereka tengah disibukkan dengan persiapan pernikahan.


Dua hari sebelumnya juga, Zaya dan Aaron juga sudah mengambil cincin pernikahan mereka. Aaron memesan cincin yang di desain khusus hanya untuk satu pasangan saja. Sepertinya kali ini dia benar-benar menginginkan hal yang istimewa untuk pernikahannya. Hal ini terlihat dari bagaimana seriusnya Aaron dalam mempersiapkan segalanya.


Zaya bersyukur. Nampaknya Aaron telah benar-benar mencintai dirinya. Lelaki itu begitu antusias dengan pernikahan mereka kali ini, sangat berbeda dengan pernikahan pertama mereka dulu.


Zaya menatap pantulan dirinya di sebuah cermin besar yang ada disana.


Ia tersenyum melihat sosok wanita yang berada didalam cermin itu. Begitu cantik dan anggun dengan balutan gaun pengantin yang sangat pas membalut tubuhnya.


Tak lama kemudian, Aaron juga muncul dengan memakai jas pengantinnya. Lelaki itu tampak sangat tampan dan mempesona, membuat Zaya tak bisa berhenti melihatnya.


"Bagaimana?" Tanya Aaron meminta pendapat Zaya.


Zaya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya karena tidak tahu harus merespon seperti apa.


Aaron menautkan kedua alisnya.


"Apa maksudnya itu?" Tanya Aaron lagi.


Zaya terlihat agak berpikir.


"Bagus." Jawab Zaya akhirnya.


Aaron melangkah mendekati Zaya sambil tersenyum tipis. Lalu direngkuhnya pinggang Zaya hingga tubuh Zaya agak menempel padanya.


"Katakan dengan jelas, Sayang. Apanya yang kau sebut bagus tadi?" Tanya Aaron sambil menggesekkan hidungnya ke telinga Zaya.


Zaya menggeliatkan tubuhnya karena geli.


"Tentu saja jas pengantinmu. Memangnya apalagi?" Ujarnya sambil berusaha mendorong tubuh Aaron.


"Oh, ya? Apa kau yakin jas ini akan tetap bagus jika bukan aku yang memakainya?" Tanya Aaron lagi dengan nada menggoda.


Zaya mengerutkan keningnya.


"Memangnya orang yang memakai bisa berpengaruh? Bukankah barang bagus tetap saja akan bagus tidak peduli siapapun yang memakainya." Ujar Zaya.


Aaron tersenyum menyeringai.


"Jadi maksudmu jika ada lelaki lain yang memakai jas ini, kau akan tetap mengatakannya bagus?" Tanyanya.


Zaya terdiam sejenak. Kenapa tiba-tiba ia merasa jika sekarang Aaron sedang menjahilinya.


"Kamu bicara apa, sih?" Tanyanya bingung. Sontak Aaron terkekeh dibuatnya.


"Calon istriku yang polos. Aku sedang menanyakan pendapatmu tentang penampilanku, bukan tentang jas yang aku pakai." Ujar Aaron disela tawanya.


"Jasnya tentu saja bagus, tapi apakah terlihat pas saat aku kenakan?" Tanya Aaron lagi.


Zaya yang mendengarnya jadi ikut tertawa.


"Oh..." Gumamnya dengan sedikit malu. Zaya jadi bertanya-tanya, apakah saat ini Aaron ingin Zaya memujinya?


"Zaya..." Tiba-tiba Aaron memanggilnya.


"Ya?" Zaya mengangkat wajahnya.


"Kau adalah calon pengantin paling cantik yang pernah aku lihat. Beruntung sekali aku yang menjadi pengantin prianya."


Zaya terkesiap dengan wajah merona. Entah sejak kapan tepatnya Aaron menjadi sangat lihai merayu. Zaya harus berusaha untuk menjadi terbiasa. Lalu diberanikannya untuk menatap Aaron.


"Kamu juga..." Balas Zaya.


"Kamu adalah pengantin pria paling tampan yang pernah aku lihat. Aku juga beruntung, kali ini tetap aku yang menjadi pengantin wanitamu." Sambung Zaya lagi.


Keduanya pun sama-sama tersenyum sambil saling menatap satu sama lain dengan tatapan penuh cinta. Sungguh pemandangan yang akan membuat iri siapapun yang melihatnya.


Lalu tiba-tiba ponsel Zaya berbunyi, mengintetupsi kemesraan keduanya.


"Ya, Kara." Zaya mengangkat telfonnya karena melihat yang menghubunginya adalah Kara.


"Zaya, apa fitting bajumu sudah selesai?" Tanya Kara dari seberang sana.


"Belum. Memangnya kenapa?" Zaya balik bertanya.


Kara tak langsung menjawab pertanyaan dari Zaya. Terdengar ia menghembuskan nafas kasar, hingga Zaya merasa ada sesuatu yang tidak beres terjadi.


"Kenapa, Ra? Apa terjadi masalah di kafe?" Tanya Zaya lagi.


Zaya menautkan kedua alisnya.


"Zaya, sebenarnya kemarin Dokter Evan menemuiku. Kelihatannya dia sudah tahu jika kamu akan menikah. Dia tampak sangat sedih."


Kara kembali menghela nafasnya.


"Hari ini Dokter Evan akan pergi ke Bali untuk sebuah pekerjaan, dan rencananya dari sana dia akan langsung kembali ke Singapura. Dia memintaku untuk tidak memberitahumu, tapi rasanya salah jika aku tidak memberitahukan kepergiannya padamu."


Kara berhenti sejenak. Sedangkan Zaya mematung tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.


"Saat ini dia mungkin masih dirumahnya, cepatlah kesana jika kamu ingin mengucapkan selamat tinggal padanya. Jika dia sudah berada di bandara, akan sulit untuk mencarinya...."


Kara masih terus berbicara panjang lebar di seberang sana, tapi Zaya tak bisa mendengar apa-apa lagi. Yang terdengar berulang-ulang ditelinganya adalah Evan akan pergi. Hingga sampai sambungan telfon terputus, Zaya masih tetap tercenung.


Aaron yang menyadari perubahan Zaya pun mendekat dan menyentuh lembut pipi Zaya.


"Ada apa?" Tanya Aaron.


Zaya mengangkat wajahnya dan melihat kearah Aaron.


"Aaron...." Guman Zaya.


"Kak Evan...dia akan pergi. Aku harus menemuinya sekarang. Mungkin ini akan jadi pertemuan terakhirku dengan Kak Evan. Setelah ini mungkin aku tidak akan bertemu dengannya lagi.... Maukah kamu mengantarku?" Tanya Zaya kemudian dengan sedikit memohon.


Aaron termenung agak lama sebelum akhirnya mengiyakan permintaan Zaya. Lalu setelah mereka kembali berganti pakaian, Aaron pun mengantarkan Zaya ketempat kediaman Evan dengan sesekali di pandu oleh Zaya.


Aaron menghentikan mobilnya di depan rumah Evan tepat saat sebuah taksi sedang terparkir disana. Tampak Evan membawa sebuah koper melangkah menuju taksi itu.


Seandainya lima menit saja Zaya terlambat, maka Zaya tidak akan bisa bertemu dengan Evan hari ini.


Buru-buru Zaya turun dari mobil dan menghampiri Evan. Sedangkan Aaron mrmutuskan untuk tetap berada di dalam mobil dan memberikan Zaya ruang.


"Kak Evan... " Zaya memanggil Evan sambil terus mendekat kearah lelaki itu.


"Dee..." Evan menatap tak percaya dengan seseorang yang kini berada dihadapannya.


Zaya semakin mendekat dan berhenti tepat dihadapan Evan.


"Kak Evan mau pergi?" Tanya Zaya.


Evan terdiam sejenak dan mengangguk.


"Apa Kakak berencana pergi tanpa memberitahuku?" Tanya Zaya lagi.


Evan pun masih terdiam sambil menatap kearah Zaya.


"Aku memang sengaja tidak memberitahumu. Aku takut tidak bisa pergi jika kembali bertemu denganmu lagi." Jawab Evan akhirnya.


"Kak Evan...." Zaya bergumam lirih dan sedih.


"Aku harus pergi, Dee. Itulah satu-satunya cara agar aku bisa melepaskanmu." Tambah Evan lagi.


Zaya terdiam beberapa saat.


"Maukah Kakak memaafkan aku?" Tanya Zaya kemudian.


Evan tersenyum. Lebih tepatnya berusaha untuk tersenyum.


"Memaafkan untuk apa? Tidak ada yang perlu kumaafkan. Kita mungkin memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Aku sudah berusaha untuk menerima semua itu meski sulit." Ujar Evan sambil masih berusaha untuk tersenyum.


Tapi Zaya tahu jika saat ini Evan sedang menahan perasaannya sebisa mungkin.


Perlahan tangan Evan terulur dan menyentuh kepala Zaya. Dibelainya rambut Zaya seperti yang sering dilakukannya saat Zaya kecil dulu.


"Aku baik-baik saja, tidak perlu memikirkanku. Menikahlah dan hiduplah dengan bahagia, Dee..." Ujar Evan sambil masih membelai kepala Zaya.


Evan menatap Zaya lekat sambil masih terus berusaha untuk memberinya senyuman.


"Aku merestuimu." Ujar Evan lagi. Kali ini setetes airmata jatuh dari pelupuk matanya, meski kemudian cepat-cepat dia hapus.


"Jadwal penerbanganku sebentar lagi. Aku pergi dulu, Dee."


Evan kembali menarik kopernya dan berlalu dari hadapan Zaya untuk masuk kedalam taksi yang sudah sejak tadi menunggunya.


Dapat Zaya lihat Evan masih menyempatkan diri melambaikan tangannya sebelum taksi itu melesat meninggalkan Zaya yang masih berdiri mematung.


Tiba-tiba airmata Zaya juga jatuh membasahi pipinya.


'Maafkan aku Karena tidak bisa bersamamu, Kak. Semoga Kakak juga bisa menemukan kebahagiaan suatu hari nanti...'


Bersambung....


Jangan lupa like, komen dan vote ya


Happy reading❤❤❤