
"Mama sungguh sering menghadapi hal semacam ini?" Ulang Zaya.
Ia tampak agak terkejut dengan penuturan Ginna. Sedangkan Ginna hanya tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Zaya. Diraihnya kembali gelas teh dihadapannya, lalu masih dengan gaya elegannya yang khas, Ginna kembali menyesap isinya.
"Apa kau tidak pernah memprediksi hal ini akan terjadi padamu setelah menikah dengan Aaron?" Zaya malah balik bertanya.
Zaya hanya bisa tertegun sambil menggeleng pelan.
Ginna melirik Zaya sekilas sembari menaruh kembali gelas tehnya di atas meja.
"Kau ini polos atau apa, tidakkah kau sadar kalau suami yang menikahimu itu adalah sumber masalah?" Tanya Ginna lagi dengan enteng.
Zaya mengangkat wajahnya dan melihat kearah Ginna dengan penuh tanda tanya. Bagaimana bisa ibu mertuanya ini menyebut putra semata wayangnya sendiri sebagai sumber masalah? Zaya benar-benar tak mengerti dibuatnya, tapi kali ini ia tak berani untuk bertanya. Ginna pasti akan mengatakan Zaya bodoh jika Zaya kembali tak mengerti perkataannya.
"Punya suami tampan dan kaya seperti Aaron sudah tentu adalah sebuah masalah besar. Dimana pun dia berada, akan ada banyak sekali perempuan yang tertarik padanya. Mulai dari yang hanya sekedar suka, hingga yang tergila-gila setengah mati sampai terobsesi ingin memiliki."
"Akan lebih mudah jika perempuan itu menyukai Aaron secara terang-terangan, karena dapat di pastikan jika Aaron akan menolaknya secara tegas. Tapi tentu sulit jika perempuan itu menyukai secara diam-diam dan memilih untuk memainkan trik untuk mendapatkan Aaron. Kau di tuntut untuk cerdas dan punya trik juga untuk menghadapinya, tidak bisa hanya mengandalkan perasaan. Apa kau sudah menyiapkan diri dengan hal semacam itu?" Ginna bertanya pada Zaya dengan ekapresi serius.
Zaya menghela nafasnya.
"Aku tidak tahu jika menjadi istri Aaron akan serumit itu." Gumam Zaya pelan.
Ginna menatap Zaya yang terlihat bingung.
"Saat kau menikah dengan Aaron, kau bukan hanya menjadi istri dari Aaron saja, tapi kau juga menjadi Nyonya Muda keluarga Brylee. Identitas yang tak main-main. Banyak perempuan di luar sana yang berlomba untuk mendapatkan posisimu itu. Mereka rela melakukan apapun demi untuk menjadi istri Aaron, bahkan ada yang sampai melakukan tindakan melawan hukum. Jadi tentu kau dituntut untuk menjadi sosok yang tangguh agar bisa terus berada di posisimu." Ujar Ginna menjelaskan.
Zaya terdiam mendengar penuturan Ginna.
"Lalu apa yang harus aku lakukan agar pernikahanku dengan Aaron baik-baik saja, Ma?" Tanya Zaya kemudian.
"Jadilah perempuan cerdas yang tak terkalahkan." Jawab Ginna.
Zaya kembali terdiam dan mencoba memahami arti dari perempuan cerdas yang terkalahkan. Zaya bertanya-tanya dalam hati, bisakah dia menjadi hebat seperti itu?
"Bisakah aku menjadi seperti itu?" Gumam Zaya lirih.
Ginna menghela nafasnya.
"Jika kau ingin aku menjadi mentormu, jangan terlalu sulit diajari. Aku paling tidak suka dengan murid bebal." Ujar Ginna terus terang.
Zaya mengulas senyum yang lebih mirip dengan ringisan. Kalimat itu terasa begitu mengena dihatinya. Meskipun mungkin sekarang ia sudah jauh lebih pintar, tapi ia tak memungkiri jika saat masih bersekolah dulu ia termasuk ke dalam jajaran murid bebal yang sulit diajari.
Ginna kembali menghela nafasnya.
"Melihat dari ekspresimu, sepertinya kau termasuk kedalam daftar yang tidak aku sukai. Tapi mengingat kau sudah hampir memberikanku dua cucu, aku tidak punya pilihan selain bersabar padamu." Ujar Ginna pasrah.
Zaya tertawa mendengar kata-kata Ginna. Meski kalimat yang didengarnya bukanlah kata-kata sanjungan yang manis, tapi hatinya menghangat. Biarpun nantinya jalan yang dilaluinya akan sulit, setidaknya ibu mertuanya ini ada bersamanya. Zaya bersyukur disaat-saat seperti ini Ginna hadir sebagai salah satu penguatnya.
"Satu hal lagi." Ginna kembali membuka suara.
"Jika jelas-jelas ada perempuan yang mengincar suamimu. Meskipun kau merasa cemburu, usahakan untuk mengendalikan dirimu agar kau tidak bertengkar dengan Aaron. Kau justru harus membuat suamimu itu agar semakin bertekuk lutut padamu. Jika kau mudah tersulut emosi, maka akan sangat mudah bagi pihak lain untuk menghancurkan rumah tangga kalian. Aku harap pertengkaranmu semalam dengan Aaron tidak terulang lagi. Jika terus berlanjut, maka akan ada pihak yang diuntungkan. Kau harus lebih cerdas mulai dari sekarang." Ujar Ginna lagi dengan serius.
Zaya tampak berpikir sesaat, lalu menganggukkan kepalanya.
Apa yang dikatakan Ginna memang benar. Jika karena kejadian semalam ia dan Aaron terus bertengkar, tidak menutup kemungkinan akan kembali terjadi perceraian diantara mereka, yang tentu akan berdampak buruk pada anak-anak mereka kelak. Dan pihak yang diuntungkan disini tentu saja perempuan yang meninginkan suaminya.
"Baiklah, Ma. Aku akan melakukan seperti yang Mama katakan. Aku tidak akan membiarkan siapapun merebut Aaron dariku. Aku berjanji." Ujar Zaya mantap.
Ginna pun tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Tapi, Ma. Bagaimana aku harus menghadapi Anna? Apa dia akan dibiarkan saja tetap menjadi sekertaris Aaron?" Tanya Zaya lagi.
Ginna tampak diam sesaat.
"Untuk sementara ini biarkan saja dulu dia tetap menjadi sekeetaris Aaron. Kita perlu bukti yang mendukung untuk menngungkapkan niat buruknya. Jika saat ini kau bersikeras menyingkirkan dia, itu hanya akan membuat dirimu buruk dimata Aaron, dan tentu Anna akan bersikap seakan dia menjadi pihak yang disakiti sehingga Aaron akan merasa simpati. Jangan biarkan dia mendapatkan celah sedikitpun untuk menarik perhatian Aaron. Apa kau mengerti?" Ginna kembali melihat kearah Zaya dengan ekspresi serius.
Zaya mengangguk.
"Aku mengerti, Ma. Mama tidak perlu khawatir. Kali ini aku tidak akan mudah terpancing. Aku akan bersikap sebaik mungkin." Ujar Zaya dengan mantap.
"Tapi, Ma..." Zaya tampak ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Tapi apa?"
"Aku..., bagaimana caraku mencari bukti tentang keburukan Anna dengan perut yang sudah membesar seperti ini?" Tanya Zaya lagi.
Ginna tampak mendesah dengan agak kesal.
"Apa kau juga tidak tahu caranya menggunakan uang?" Tanya Ginna gemas.
Zaya kembali menautkan alisnya bingung.
"Astaga. Kau ini benar-benar... Tentu saja dengan menyewa seseorang untuk menyelidikinya. Aku juga tidak pernah menyelidiki semua hal sendiri. Itulah salah satu sisi baik punya suami kaya, kau tidak harus dipusingkan permasalahan uang."
Zaya kembali tertawa. Entah kenapa, sejak hamilnya yang kedua ini otaknya menjadi tumpul sehingga menjadi agak lamban. Ia pun tidak akan menyangkal jika Ginna benar-benar akan mengatainya bodoh.
"Maaf, Ma. Aku tidak paham hal seperti ini." Ujarnya dengan tersenyum meringis.
"Sudahlah, sejauh ini aku masih bisa menoleransi dirimu. Tapi kedepannya kau harus semakin pintar."
"Baiklah. Aku akan belajar dengan cepat."
"Nanti aku akan memberikan nomor kontak seseorang padamu. Aku akan mengatakan padanya jika kau menantuku. Katakan saja padanya tugas apa yang harus dia kerjakan. Dia akan melakukan apapun perintahmu."
"Tapi Zaya, kau harus sangat hati-hati. Jangan sampai ada yang tahu tentang hal ini, karena ini akan mempengaruhi reputasimu sebagai Nyonya Muda Brylee."
Zaya kembali mengangguk dengan ekspresi yang lebih serius.
"Baiklah, Ma. Aku mengerti. Aku akan melakukannya dengan baik. Percayalah padaku." Ujar Zaya mantap.
Ginna pun mengangguk dengan mengulas sebuah senyuman tipis.
Bersambung...
Tetep like, komen dan vote
Happy reading❤❤❤