
Setelah Aaron kembali, Zaya dan yang lainnya hanya melanjutkan liburan mereka selama dua hari saja. Mereka memutuskan untuk pulang tiga hari lebih awal dari rencana semula.
Zaya kembali ke rutinitasnya semula. Seminggu kemudian, Albern juga sudah kembali ke sekolah.
Tidak ada kabar lebih lanjut tentang Aaron dan perusahaannya setelah liburan mereka di Paris. Setelah terakhir kali meminta Zaya untuk menunggu dan memberinya kesempatan, lelaki itu tidak pernah lagi menghubungi Zaya ataupun muncul dihadapan Zaya.
Sepertinya kata-kata dan permintaannya waktu itu tidaklah serius. Entahlah. Zaya juga berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya, meski terkadang tak sengaja terpikir sendiri diotaknya.
Zaya mencoba menikmati waktunya yang tak diganggu oleh Aaron lagi. Sesekali ia juga akan bertemu dengan Evan. Dan sejauh ini hubungan mereka tetap sebatas kakak-adik, tidak lebih. Evan juga terlihat lebih santai dan tidak mendesak Zaya untuk menerimanya, hingga Zaya pun menjadi nyaman saat berada didekat Evan.
Tapi yang tidak Zaya mengerti, entah kenapa terkadang tanpa sadar ia merindukan sosok Aaron. Setiap ia pulang kerumah, Zaya akan melihat pagar rumahnya dari ujung jalan, berharap mobil lelaki itu telah terparkir disana seperti sebelum-sebelumnya.
Diam-dian Zaya merasa kehilangan, meski ia berusaha sekuat tenaga untuk menyangkalnya.
"Bu Boss, kamu sudah baca berita di internet? Bukankah ini perusahaan Tuan Aaron?" Kara berguman sambil masih menatap layar ponselnya.
"Kenapa memangnya?" Zaya masih asyik dengan laporan keuangan dihadapannya.
Kara tak menjawab. Matanya masih menatap layar ponsel sambil sesekali menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Wah...benar-benar... Sebegitu inginnya berita dibaca orang, sampai-sampai omong kosong seperti ini dijadikan headline news." Cerocos Kara sambil tetap menatap layar ponselnya.
Zaya mendongak sekilas. Lalu kembali pada kesibukannya semula. Ia tak tertarik dengan apa yang Kara baca. Paling Kara sedang membaca berita hoax di internet.
"Astaga. Sungguh kejam pemberitaan akhir-akhir ini. Masa iya, Brylee Group terancam bangkrut?"
Mata Zaya sontak membulat mendengar kalimat terakhir Kara. Tangannya yang tadinya hendak menandatangani sebuah berkas, mendadak berhenti dan tak sengaja menekan pena yang dipegangnya hingga kertas yang akan ditanda tangani menjadi bolong.
Zaya mendongak.
"Apa katamu tadi?" Tanyanya pada Kara.
Kara menoleh. Kemudian ia mendekat dan menyodorkan ponselnya kepada Zaya.
"Bacalah" Ujarnya.
Zaya meraih ponsel Kara dan membaca berita yang sebelumnya Kara baca.
Mata Zaya membulat sempurna.
Berita itu menuliskan jika saham Brylee Group merosot tajam dikarenakan goncangan dari internal perusahaan itu sendiri.
Disebutkan juga, jika ada pihak yang berkhianat dengan mencuri data perusahaan dan menyerahkannya pada perusahaan lain sehingga Brylee Group mengalami kerugian yang tidak main-main. Perusahaan besar itu menjadi kolaps hanya dalam kurun waktu satu malam. Dan hal itu terjadi saat Sang Direktur Utama sedang berlibur ke luar negri.
Zaya membeku. Ia langsung teringat saat Aaron mengatakan akan membereskan sesuatu sesaat sebelum pergi dari Paris dengan terburu-buru.
Jadi inikah yang dimaksud Aaron dengan sesuatu itu?
Ya Tuhan. Zaya kembali terbayang dengan wajah rapuh Aaron waktu itu. Kilasan saat lelaki itu memeluknya dengan sangat erat seakan tengah mencari kekuatan.
Bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah selama ini Aaron tidak pernah lalai dalam menjalankan perusahaan?
Zaya langsung memberikan kembali ponsel milik Kara dan mencari ponselnya sendiri. Zaya mencoba menghubungi Aaron untuk memastikan keadaan lelaki itu, tapi nomornya tidak dapat dihubungi.
Ia pun mencoba untuk menghubungi Asisten Dean, tapi nomornya juga tidak dapat dihubungi.
"Kara, apa Asisten Dean menceritakan sesuatu padamu belakangan ini?" Tanya Zaya kemudian.
Kara tampak berpikir sejenak dan menggeleng.
"Sebelum pulang dari Paris, Dean mengatakan padaku jika dia tidak bisa menghubungiku untuk sementara. Jadi sampai sekarang kami belum saling berhubungan sama sekali. Memangnya kenapa? Apa jangan-jangan...?" Kara tak meneruskan kalimatnya dan menutup mulutnya dengan telapak tangannya sendiri.
"Jadi berita itu benar?" Tanyanya tak percaya.
Zaya menghela nafas panjang.
"Entahlah..." Gumam Zaya.
Kara masih terperangah tak percaya sambil sesekali bergumam pada diri sendiri, sedangkan Zaya terdiam dan larut ke dalam pikirannya. Ia menimbang-nimbang bagaimana caranya untuk mencari tahu keadaan Aaron sekarang.
Dan Albern? Terpengaruh atau tidakkah putranya itu dengan keadaan Aaron saat ini? Haruskah Zaya datang ke kediaman Aaron untuk mencari tahu?
Zaya terus berpikir hingga tanpa sadar waktu telah merambat malam. Mau tidak mau ia pun beranjak pulang.
Setelah makan malam dan membersihkan diri, ia berusaha mengistirahatkan tubuhnya diatas kasur. Tapi sekeras apapun Zaya berusaha untuk tidur, matanya tetap saja tidak mau terpejam.
Aaron?
Zaya segera menggeser tombol terima.
"Halo." Suara seorang lelaki terdengar diseberang sana.
Zaya menautkan kedua alisnya. Itu bukanlah suara Aaron.
"Apa benar Anda istri dari pemilik ponsel ini?" Tanya lelaki itu kemudian.
Mata Zaya melebar. Perasaan tidak enak tiba-tiba datang menyelimutinya.
"Ada apa?" Zaya malah balik bertanya.
"Maaf, Nyonya. Saya adalah salah seorang security di sebuah club malam. Suami Anda sepertinya mabuk berat dan tidak sadarkan diri saat akan masuk kedalam mobilnya. Jadi sekarang dia ada di pos securty kami. Saya akan mengirimkan alamatnya supaya Anda bisa menjemput suami Anda, Nyonya." Terang lelaki diseberang sana.
Zaya tertegun.
Club malam? Mabuk dan tidak sadarkan diri? Sejak kapan Aaron melakukan semua itu? Bukankah selama ini Aaron sangat membenci minuman keras? Sebegitu parahkah keadaan perusahaan sekarang sampai-sampai Aaron begitu frustasi dan melampiaskannya dengan mengkonsumsi minuman haram itu?
Tanpa pikir panjang lagi Zaya langsung bersiap. Setelah lelaki tadi mengirim alamat pada Zaya, Zaya langsung mengemudikan mobilnya ke alamat tersebut. Ia juga menghubungi Asisten Dean dan meminta bawahan Aaron tersebut untuk datang ke alamat itu juga. Beruntung kali ini nomornya sudah bisa dihubungi.
Tidak berselang lama setelah Zaya sampai, Asisten Dean juga sampai dengan mengendarai taksi online. Mereka pun segera memeriksa keadaan Aaron didalam pos security yang dimaksud.
Dan tampaklah disana seorang lelaki masih dengan pakaian kerjanya, tergeletak disebuah kursi dengan penampilan yang sudah sangat berantakan. Aroma alkohol tercium dari tubuhnya. Meski dengan mata terpejam, ekspresinya terlihat sangat tertekan sehingga memperjelas guratan halus yang ada diwajahnya.
Zaya menatap sedih kearah lelaki itu. Lelaki tampan yang biasanya selalu tampil mempesona, kini terlihat begitu memprihatinkan.
Dengan dibantu oleh Asisten Dean, akhirnya Zaya membawa Aaron pulang kerumahnya.
Seorang pelayan membukakan pintu, dan terkejut mendapati Aaron tak sadarkan diri. Terlebih saat melihat Zaya yang ikut mengantarnya. Tapi tentu saja ia tidak berani untuk mengeluarkan suara, apalagi jika sampai bertanya. Para pelayan Aaron memang cukup tahu diri dan tidak usil dengan urusan pribadi majikannya.
Zaya dan Dean pun membawa Aaron kekamarnya. Setelah membaringkan Aaron ditempat tidur, Dean langsung keluar dari kamar Aaron, seolah sedang memberikan ruang bagi Aaron dan Zaya.
Zaya duduk di tepi ranjang sambil menatap Aaron sendu. Kemudian ia mengeluarkan ponsel Aaron yang sempat diberikan oleh security tadi kepada Zaya.
Zaya menyentuh layar ponsel yang ternyata tidak terkunci itu. Layarnya menyala, dan tampaklah walpaper yang membuat Zaya terkesiap saat melihatnya. Foto dirinya bersama dengan Albern yang sedang tertawa cerah dengan latar belakang keceriaan parade di Disneyland.
Aaron memasang gambar Zaya dilayar ponselnya. Sungguh tak pernah terbesit dipikiran Zaya sebelumnya.
Jemari Zaya kembali menekan layar ponsel Aaron. Kali ini untuk memeriksa nama apa yang Aaron berikan pada nomor kontaknya, hingga security yang menolong Aaron tadi bisa salah paham.
Lalu saat Zaya men-dial nomornya sendiri dari ponsel Aaron, Zaya kembali membeku. Layar ponsel Aaron menampilkan nama 'Istriku' untuk nomor kontaknya.
Zaya mengakhiri panggilan itu, dan kembali menatap Aaron dengan sendu. Setetes airmata jatuh dipipinya tanpa bisa ia tahan.
"Kenapa harus seperti ini, Aaron?" Lirihnya.
"Seharusnya setelah menceraikanku hidupmu menjadi jauh lebih baik. Kamu bisa mendapatkan pendamping yang mampu membuatmu semakin bersinar. Kenapa kamu justru menjadi terpuruk seperti ini?" Lanjut Zaya sambil mulai terisak.
Zaya meletakkan ponsel Aaron diatas nakas dan bangkit dari duduknya. Zaya ingin segera pergi. Ia tidak mau sampai tersedu dihadapan Aaron.
Tapi sejurus kemudian, Zaya merasakan ujung bajunya tertahan. Tampak Aaron telah memgenggam ujung bajunya tersebut. Lelaki itu telah membuka matanya dan memandang ke arah Zaya dengan tatapan sayu yang sulit diartikan.
"Tetaplah di sini," pintanya.
Zaya terdiam dan tak tahu harus bagaimana. Ia sungguh tidak mau berada dalam situasi seperti ini bersama Aaron.
Aaron masih tetap menatap Zaya sambil mempererat gengamannya.
"Kumohon, Zaya. Jangan pergi ..."
Bersambung....
Tetep like dan komen,
Yang vote aku kasih kiss nihπππ
π π π
Happy readingβ€β€β€