Since You Married Me

Since You Married Me
Menangkap Pengantin Kabur



Aaron mengamati rekaman CCTV didepan ruang kerjanya dengan kening berkerut. Terlihat dia juga menghembuskan nafas kasar saat mengetahui jika Zaya datang dan mendengarkan percakapannya dengan para pemegang saham diruangannya waktu itu.


Pantas saja hari itu Zaya tidak jadi menemaninya makan siang. Rupanya calon istrinya itu sudah datang, tapi lalu pergi lagi karena mendengarkan sesuatu yang membuatnya sedikit salah paham.


Aaron kembali menghembuskan nafasnya kasar.


Entah sejauh mana kesalahpahaman yang ada dibenak Zaya hingga ia memilih untuk pergi diam-diam selama tiga hari ini.


Bahkan Kara, sahabatnya, pun tidak tahu dimana sekarang Zaya berada. Yang Zaya katakan pada Kara hanyalah ia akan pergi menemui rekan bisnisnya untuk membahas kerjasama.


Dimana dia pergi dan berapa lama, Zaya tidak memberitahukannya kepada siapapun. Nomor kontaknya pun tidak bisa di hubungi, hingga Kara dan Aaron menjadi khawatir dibuatnya.


Lalu saat resepsionis kantor Aaron mengatakan jika hari itu Zaya datang berkunjung, Aaron pun buru-buru meminta rekaman CCTV saat Zaya datang.


Dan kini, terjawab sudah kenapa Zaya seolah tak ingin di hubungi. Perempuan itu pasti merasa jika perusahaan Aaron masih dalam masalah, hingga kemungkinan ia jadi ragu untuk meneruskan rencana pernikahan mereka dan memilih pergi untuk sementara.


"Ternyata bukan hanya rubah tua itu yang memakan umpan kita, Dean. Calon istriku yang polos itu juga ikut terpancing." Aaron bergumam pada Asisten Dean yang sedang berdiri disampingnya.


Asisten Dean sedikit membungkukkan badannya.


"Sepertinya Nyonya sudah salah paham, Tuan." Asisten Dean menanggapi.


Aaron mengangguk.


"Lalu, apa kau sudah tahu dia sekarang ada dimana?" Tanya Aaron.


"Aku harus segera menjelaskan semuanya pada calon istriku itu, sebelum dia kembali melakukan tindakan bodoh." Sambungnya lagi.


"Beberapa hari yang lalu Nyonya melakukan pemesanan tiket untuk penerbangan menuju Bali, Tuan. Sebelumnya juga memang sudah ada tawaran dari rekan bisnis Nyonya, untuk membuka satu cabang kafe disana. Sepertinya saat ini Nyonya sedang melakukan perjalanan bisnis ke Bali." Jawab Dean. Dia tampak ingin melanjutkan laporannya, tetapi ragu.


Aaron agak menautkan alisnya.


"Katakan semuanya." Pinta Aaron.


Asisten Dean tampak mengatur kata.


"Yang terakhir saya temukan, saat ini Dokter Evan juga sedang ada pekerjaan disana. Jadi kemungkinan Nyonya..."


"Cukup!" Aaron memotong sebelum Asisten Dean menyelesaikan kalimatnya.


Aaron kembali menghembuskan nafasnya kasar.


"Apa kau juga sudah tahu alamat tempat dia menginap dan kapan dia kembali?" Tanya Aaron lagi.


"Belum, Tuan." Jawab Asisten Dean dengan nada menyesal.


"Segera temukan tempatnya menginap, aku harus segera menyusulnya." Perintah Aaron dengan nada tidak ingin di bantah.


"Baik, Tuan." Dean kembali membungkukkan badannya.


Dean ingin segera undur diri, tapi Aaron menahannya dengan isyarat tangan. Tampak lelaki itu tengah membaca sebuah pesan singkat yang baru saja masuk di ponselnya dari nomor tidak dikenal.


Pesan itu berisi alamat sebuah penginapan yang berada di dekat salah satu tempat wisata di Bali. Lalu tak lama kemudian, pesan kedua masuk dan membuat Aaron sedikit tertegun saat membacanya.


'Zaya ada di alamat itu. Keadaannya sedang tidak terlalu baik sekarang. segeralah datang, dia membutuhkanmu.'


Aaron terdiam agak lama. Dia bertanya-tanya siapakah yang mengirimkan pesan singkat itu padanya. Apakah itu...Evan? Mungkinkah rivalnya itu saat ini sedang membantunya?


"Dean."


"Ya, Tuan."


"Suruh Anna untuk segera menyiapkan penerbangan menuju Bali untukku. Aku akan kesana hari ini juga."


Dean tampak agak terkejut, tapi tetap ia mengangguk juga.


"Baik, Tuan." Jawab Dean.


"Pastikan selama aku pergi rencana kita tetap berjalan dengan baik. Aku tidak ingin rubah tua itu kembali lolos kali ini."


"Jangan khawatir, Tuan. Sudah dipastikan orang itu akan mendekam dipenjara dalam waktu yang lama. Kita sudah punya bukti kuat atas semua tindak kriminal yang dilakukannya selama ini, selain tindakannya membocorkan rahasia perusahaan. Termasuk bukti saat dia meracuni minuman Tuan dengan obat perangsang bertahun-tahun yang lalu."


Aaron tampak menegang saat Asisten Dean menyinggung insiden yang terakhir disebutnya.


"Jika kali ini dia sampai lolos, segera buat surat pengunduran dirimu, Dean. Aku tidak ingin melihatmu lagi." Ujar Aaron dengan penuh penekanan.


Asisten Dean membungkukkan badannya agak dalam kali ini.


Aaron menganggukkan kepalanya.


"Urus penerbanganku dalam satu jam. Aku harus segera menangkap pengantinku yang kabur."


Asisten Dean sedikit tercenung mendengar kalimat terakhir Aaron. Tapi kemudian dia kembali tersadar dan bergegas melakukan apa yang diperintahkan padanya. Ia harus sigap jika tak ingin kehilangan pekerjaannya.


___________________________________________


Hari sudah malam saat taksi yang ditumpangi Aaron melaju dari Bandara Ngurah Rai menuju alamat yang dikirim seseorang padanya siang tadi. Aaron tak sabar ingin segera sampai, dia takut Zaya benar-benar dalam keadaan yang buruk saat ini.


Dan setelah menempuh perjalanan yang terasa agak lama, Aaron pun tiba ditempat tujuan. Aaron memastikan sekali lagi jika tempat itu benar-benar tempat yang ditujunya. Dan setelah merasa yakin, Aaron pun melangkahkan kakinya mendekati tempat itu.


Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti kala seseorang memanggil namanya.


"Tuan Aaron."


Aaron menoleh kearah belakang. Tampak seseorang yang belakangan menjadi rivalnya berdiri tak jauh dari sana. Evan.


Tampaknya memang benar jika Evan yang telah mengirimkan alamat tempat ini pada Aaron.


Lelaki itu pun melangkah mendekati Aaron yang mematung


"Apapun permasalahan kalian saat ini, tolong jangan buat dia semakin tertekan. Kondisinya sedang tidak terlalu baik untuk mendengarkan ocehan seseorang." Ujar Evan saat telah berada dihadapan Aaron.


Aaron menautkan kedua alisnya. Apa Evan berpikir jika saat ini Aaron akan memarahi Zaya?


"Sejak kecil Dee-ku itu sudah banyak menangis, Tuan Aaron. Dan saat dia menikah dengan Anda dulu pun, dia juga banyak menangis. Aku harap sekarang Anda tidak akan membuatnya menangis lebih banyak lagi."


"Jangan pernah membuat airmatanya jatuh lagi. Dia pantas untuk bahagia." Evan berujar sambil menatap Aaron.


Aaron pun membalas tatapan mata Evan. Keduanya saling menatap dengan sorot mata tajam.


"Tidak perlu khawatir, Dokter Evan. Kali ini aku tidak akan membiarkan merasakan kesedihan sedikit pun. Aku memang telah berbuat kesalahan di masa lalu. Tapi tentu saja aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku bisa menjamin itu." Tegas Aaron.


Evan masih menatap Aaron seolah sedang menilai kesungguhan Aaron saat mengucapkan kata-katanya barusan.


"Aku pegang janjimu, Tuan Aaron. Jika sampai Anda mengingkarinya, aku pasti akan merebut Zaya darimu saat itu juga."


"Aku juga bisa pastikan Anda tidak akan mendapatkan kesempatan itu, Dokter Evan." Aaron kembali menjawab dengan tegas.


Evan terdiam. Lalu dihembusnya nafas panjang.


"Baiklah..." Lirih Evan akhirnya.


"Ini adalah kunci cadangan kamar Zaya dari pihak pengelola penginapan. Aku sengaja memintanya agar Anda tidak perlu membangunkannya untuk masuk. Dia pasti sudah tidur, jangan mengganggu istirahatnya." Evan menyerahkan sebuah kunci pada Aaron.


Aaron menerima kunci itu dengan ekspresi yang sulit di jelaskan. Entah bagaimana dia mesti bersikap dengan rivalnya ini sekarang.


Evan pun melangkah menjauh setelah Aaron menerima kunci itu.


"Dokter Evan" Tiba-tiba Aaron memanggil Evan.


Evan berhenti, tapi tidak menoleh.


"Terima kasih." Gumam Aaron.


Evan tak bergeming, kemudian kembali melangkahkan kakinya tanpa menoleh lagi.


Sedangkan Aaron yang terus memandangi kepergian Evan tampak kembali tersadar. Bergegas dia menuju kekamar penginapan Zaya dan membukanya menggunakan kunci yang sebelumnya diberikan Evan tadi.


Pintunya terbuka.


Aaron melangkah masuk kedalam kamar penginapan itu perlahan. Setelah sempat mengunci kembali pintu kamar itu, Aaron pun melangkah mendekati Zaya yang tampak tertidur dengan lelapnya.


Aaron duduk disisi tempat tidur dan mengamati wajah cantik calon istrinya itu. Diulurkan tangannya dan dibelainya lembut wajah Zaya.


Zaya tidak merasa terganggu, mungkin karena terlalu lelap.


Akhirnya Aaron ikut berbaring di sofa yang ada di samping tempat tidur Zaya. Dia lega telah berhasil menemukan calon istrinya itu.


Mudah2an besok bisa up dua bab.


Jgn lupa votenya ya


Happy reading❤❤❤