
Keesokan harinya Zaya sudah menerima laporan tentang Anna dan pengusaha yang ditemuinya kemarin.
Pengusaha tersebut bernama Bryan Fernandez, pemilik perusahaan yang bergerak di bidang bisnis properti. Perusahaannya bekerja sama dengan Brylee Group belum lama ini. Dan ternyata kerja sama tersebut tak lepas dari peran Anna.
Anna seperti pembuka jalan bagi kedua perusahaan hingga keduanya sama-sama merapat.
Tapi yang sedikit mencurigakan adalah, Anna ternyata sering bertemu dengan Bryan diluar jam kerja. Mereka seperti punya kerja sama lain yang tidak diketahui orang-orang terlepas dari kerja sama perusahaan.
Dan ternyata memang benar. Anna membantu Bryan agar bisa menjalin kerja sama dengan Brylee Group, dengan imbalan Bryan membantu Anna melakukan beberapa hal untuk melancarkan rencananya mendekati Aaron sedikit demi sedikit. Termasuk membuat Anna tampil berdansa berdua bersama Aaron pada malam penjamuan beberapa waktu yang lalu.
Tujuannya tak lain untuk membuat hubungan Zaya dan Aaron merenggang, sehingga ia bisa menyusup di antara keduanya.
Zaya menghela nafasnya setelah membaca laporan itu. Ternyata ada pihak lain juga yang ikut bermain bersama Anna. Dan ini sampai melibatkan perusahaan.
Tampaknya ini akan menjadi sedikit rumit. Zaya harus lebih berhati-hati menyikapi hal ini.
Tiba-tiba ponsel Zaya berdering, menampilkan nama orang yang disewanya.
"Ya?" Zaya menerima panggilannya.
"Nyonya, saya sudah menemukan bukti kuat seperti yang Anda minta. Saya berhasil mendapatkan rekaman CCTV lengkap dengan suara, saat perempuan itu membicarakan rencananya dengan pengusaha yang kemarin."
"Benarkah?" Mata Zaya langsung melebar.
"Benar, Nyonya. Saya akan mengirimkan potongan videonya pada Anda. Tapi Nyonya, isinya sedikit sensitif. Jika Nyonya ingin melihat, saya sarankan Anda melihatnya bersama Nyonya Ginna."
Zaya berpikir sesaat. Saat ini Ginna sedang tidak ada di tempat. Ibu mertunya itu sedang pergi ke luar kota untuk sebuah urusan. Jika ingin menunggu Ginna untuk menyelesaikan permasalahan ini, Zaya takut nanti akan semakin berlarut-larut.
Zaya pun memutuskan untuk melihatnya sendiri, dan segera memberitahukannya pada Aaron.
"Tidak perlu menunggu Mama. Kirimkan saja videonya padaku. Aku bisa mengatasinya." Ujar Zaya akhirnya.
"Baiklah, Nyonya. Saya akan kirimkan videonya. Tapi saya harap Nyonya tidak terpengaruh saat melihatnya."
"Tentu saja. Tidak usah khawatir."
Zaya memutus sambungan telfon. Lalu tak berapa lama kemudian, sebuah video masuk kedalam ponsel Zaya.
Zaya terdiam sejenak. Ia agak berdebar saat akan melihat isi video itu. Lalu dengan mengumpulkan segenap keberaniannya, Zaya menekan tombol putar.
Tampak didalam video itu Anna tengah duduk bersama Bryan didalam sebuah ruangan. Mereka sedang membicarakan sesuatu dengan serius.
Mata Zaya membeliak mendengar percakapan itu. Tubuhnya gemetar karena menahan geram. Ia benar-benar marah mendengar apa yang Anna katakan dalam video itu.
"Dasar wanita ular." Desis Zaya geram. Ia sungguh tidak akan mengampuni Anna kali ini. Perempuan itu harus mendapatkan pelajaran karena telah berani mengusik rumah tangganya.
Belum sepenuhnya Zaya berhasil mengendalikan dirinya. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Tampak Aaron masuk kedalam kamar dengan agak tergesa.
"Honey?" Guman Zaya dengan sedikit kaget.
Aaron mengeluarkan koper dan membuka lemari.
"Sayang, tolong bantu aku menyiapkan barang-barang dan pakaian gantiku. Aku harus keluar kota selama tiga hari. Harusnya aku pergi minggu depan, tapi mendadak acara yang akan kuhadiri di percepat." Pinta Aaron pada Zaya.
"Kamu akan keluar kota lagi?" Tanya Zaya.
"Iya." Jawab Aaron sambil berkemas.
"Apa kamu juga akan menghadiri pesta disana?" Tanya Zaya lagi.
"Iya. Dihari terakhir, malamnya memang diadakan pesta." Jawab Aaron.
"Cepatlah, Sayang, bantu aku berkemas. Penerbanganku tinggal satu jam lagi. Anna sudah menunggu dibawah." Pinta Aaron lagi.
"Kamu pergi bersama Anna?" Tanya Zaya dengan nada agak meninggi. Amarahnya perlahan tersulut saat mendengar nama itu.
Aaron menghentikan apa yang dia kerjakan dan melihat kearah Zaya.
Zaya membeliakkan matanya.
"Tidak! Kamu tidak boleh pergi bersama wanita ular itu." Zaya meradang. Tampaknya ia kesulitan menahan emosinya kali ini.
Aaron menautkam kedua alisnya.
"Sayang, apa yang kau katakan?" Tanya Aaron heran.
"Honey, Anna sungguh tidak seperti yang kamu pikirkan. Dia punya niat buruk padamu. Jangan pergi bersamanya, kumohon."
Aaron menghela nafasnya.
"Aku sedang terburu-buru, Sayang. Tolong jangan berpikir yang macam-macam. Kami pergi untuk urusan perusahaan, tidak ada hal lain. Berhentilah menjadi paranoid dan mencurigai orang lain tanpa alasan." Ujar Aaron. Ia terlihat kesal dengan sikap Zaya.
Zaya terdiam sesaat sambil memandang Aaron dengan tatapan marah.
"Apa kamu benar-benar berpikir jika aku hanya paranoid? Kamu tidak mempercayaiku?" Tanya Zaya tajam.
Aaron kembali melihat kearah Zaya dengan penuh tanda tanya.
"Aku sedang terburu-buru, Zaya. Tolong hentikan kecurigaanmu itu. Aku paham kau sedang dalam pengaruh hormon kehamilan. Tapi saat ini aku benar-benar tidak punya waktu untuk mempermasalahkan hal ini. Aku pergi untuk masa depan perusahaan, yang artinya masa depan kita dan anak-anak kita juga."
Zaya tak membeku sambil menatap Aaron nanar.
"Setelah proyek ini selesai, aku akan memindahkan Anna ke bagian lain. Jadi kau tidak perlu khawatir." Ujar Aaron lagi.
Zaya tak bergeming. Lalu ia tersenyum kecut pada Aaron.
"Aku ingin kamu menyingkirkan Anna bukan untuk kesenanganku semata, Aaron. Tapi demi keamananmu dan keutuhan rumah tangga kita. Aku berusaha setengah mati untuk membuatmu tak masuk kedalam jebakannya. Tapi kamu malah lebih percaya padanya ketimbang aku, istrimu sendiri." Zaya berujar dengan penuh ironi.
"Aku memang dalam pengaruh hormon kehamilan. Tapi pikiranku masih waras sepenuhnya. Aku tak mungkin menuduh orang yang tidak bersalah, aku tak sejahat itu."
Aaron terdiam. Dia tampak tak mengerti dengan apa yang Zaya katakan.
"Lihatlah ini dulu. Setelah itu, terserah padamu mau tetap pergi bersama Anna atau tidak." Zaya memperlihatkan layar ponselnya pada Aaron.
Video yang baru Zaya lihat tadi, kini di putarnya kembali dengan volume penuh, persis di depan wajah Aaron.
"*Kali ini apa yang bisa aku bantu, Nona Anna?" Bryan bertanya.
"Tidak banyak, Tuan Bryan. Cukup Anda membantuku untuk membuat Tuan Aaron berdansa denganku di penjamuan nanti. Jika istrinya tidak datang bersama Nyonya Ginna, aku akan membuat Tuan Aaron tidak sadarkan diri dan menghabiskan malam bersamaku. Tapi jika istrinya datang, mungkin kali ini cukup dengan mereka berdua bertengkar saja."
Bryan tampak berpikir.
"Tapi aku dengar istrinya itu perempuan yang cukup pintar. Mungkin dia tidak akan terpengaruh dengan hal ini."
Anna tersenyum.
"Saat ini dia sedang dipengaruhi hormon kehamilan. Sangat sensitif dan mudah marah. Aku yakin dia akan langsung mengamuk saat melihat suaminya berdansa dengan perempuan lain. Untung-untung jika dia sampai stres dan kehilangan bayinya. Aku yakin setelah itu dia akan meminta cerai dari Tuan Aaron." Ujar Anna sambil meyeringai.
Bryan diam sejenak dan menghela nafas.
"Itu agak sedikit kejam." Gumam Bryan.
"Anda tidak perlu ragu, Tuan Bryan. Setelah ini, aku akan jamin Anda bisa terus menjalin kerjasama dengan Brylee Group. Tuan Aaron sudah sangat menpercayaiku. Dia pasti akan setuju dengan apapun yang aku rekomendasikan."
"Lagipula apa hebatnya perempuan itu. Dia hanya yatim piatu yang awalnya dinikahi karena terlanjur hamil anak Tuan Aaron. Entah sihir apa yang dia pakai hingga Tuan Aaron sampai menyukainya. Dia sama sekali tidak pantas menjadi Nyonya Muda keluarga Brylee. Tunggu saja, aku pasti akan membuatnya gila secara perlahan sampai dia akan mengakhiri hidupnya sendiri*."
Video berhenti. Zaya menurunkan ponselnya dari hadapan wajah Aaron dan meninggalkan Aaron yang tampak mematung.
Bersambung...
Vote dong😘😘😘
Happy reading❤❤❤