
Zaya menatap langit malam dari balkon kamarnya. Dilihatnya langit yang sedikit tertutup awan. Membuat bulan yang tengah bulat sempurna malam ini seperti mengintip dari atas sana.
Zaya agak gelisah. Setelah beberapa lama penyelidikannya, meski semakin hari semakin jelas jika Anna memang sedang merencanakan sesuatu, tapi Zaya masih belum mendapatkan bukti yang bisa ia tunjukkan pada Aaron.
Yang bisa Zaya lakukan saat ini hanyalah bertahan dengan semua siasat yang Anna gunakan. Zaya juga harus balas bersiasat agar Anna tak bisa melancarkan aksinya untuk mendekati Aaron.
Beberapa kali Anna kembali memainkan trik yang kemudian dicegah oleh Zaya. Sejauh ini, apapun rencana Anna masih bisa diatasi oleh Zaya. Tapi sejujurnya, Zaya mulai merasa lelah.
Zaya ingin segera bisa mengakhiri segala tipu muslihat Anna. Tapi sejauh ini Anna selalu bisa memainkan perannya dengan cantik. Ia akan memasang wajah polos tak bersalahnya ketika rencananya tak berhasil ia jalankan.
Zaya sungguh berharap orang yang disewanya akan segera menemukan sesuatu yang bisa mengungkap tujuan Anna sebenarnya. Tapi yang bisa dilakukannya sekarang hanyalah menunggu. Entah sampai kapan.
"Apa yang kau lakukan disini, Sayang?" Suara Aaron membuyarkan lamunan Zaya. Lelaki itu tiba-tiba saja muncul dan memeluk Zaya dari belakang. Diciumnya bahu dan ceruk leher Zaya berulangkali.
"Aku sedang melihat bulan." Jawab Zaya sambil menggeliat geli.
"Apa bulan itu lebih menarik sehingga kau sampai mengabaikan suamimu ini?" Tanya Aaron lagi.
Zaya terkekeh.
"Bukankah kamu tadi sedang menyelesaikan pekerjaanmu diruang kerja. Aku berdiri disini hanya karena bosan menunggumu." Kilah Zaya.
"Aku sudah selesai sejak lebih dari tiga puluh menit yang lalu. Tapi kau terlihat sangat asyik disini sampai tidak menyadari kehadiranku. Memangnya apa yang sedang kau pikirkan?"
Kali ini Zaya melonggarkan pelukan Aaron dan berbalik untuk menghadap kearah suaminya itu. Dirangkumnya wajah Aaron dengan kedua tangannya sambil mengulas sebuah senyuman.
"Kalau ada hal yang sangat penting untuk ku pikirkan sampai menguras tenaga dan pikiranku. Itu pasti adalah dirimu, Honey." Ujarnya lembut.
"Benarkah?" Aaron menatap Zaya tajam sambil tersenyum tipis.
"Jadi kau tadi sedang memikirkanku?"
Zaya mengherdikkan bahunya. Aaron pun terlihat gemas dan kembali membawa Zaya kedalam pelukannmya.
"Ngomong-ngomong, apa kau tidak jadi mengganti suasana kamar dan toilet seperti yang dihotel waktu itu?" Tanya Aaron tiba-tiba.
Zaya agak membeliakkan matanya dari dalam pelukan Aaron. Ia tak menyangka jika Aaron masih mengingatnya. Waktu itu ia hanya mencari alasan agar bisa memeriksa keadaan kamar hotel tempat Aaron menginap saja. Tentu saja ia tidak berniat untuk benar- benar merubah desain interior kamarnya.
"Sepertinya aku berubah pikiran lagi. Ada beberapa refetensi lain yang membuatku tertarik. Aku belum memutuskan untuk memilih yang mana." Zaya mencoba mencari alasan.
"Apa kamu benar-benar tidak keberatan jika aku merubah kamar kita? Mengingat sepertinya kamar ini mewakili dirimu."
Aaron tampak berpikir sejenak.
"Selama tidak kau ganti dengan warna merah muda, aku rasa tidak masalah." Jawab Aaron akhirnya.
Zaya terkekeh.
"Kalau begitu warna ungu muda?" Tanyanya.
"Mereka masih bersaudara, tidak berbeda jauh. Apa kau ingin aku menjadi feminim?"
Zaya tertawa semakin renyah.
"Tentu saja tidak, Honey. Kalau kamu jadi feminim, lalu siapa yang akan menggagahi aku?" Tanya Zaya dengan nada menggoda.
Aaron tersenyum menyeringai.
"Jadi sekarang kau suka aku gagahi?" Aaron balas menggoda.
"Bukankah akhir-akhir ini kau yang lebih sering menggagahi aku, Sayang?" Goda Aaron lagi.
Zaya membulatkan matanya, lalu cepat-cepat membuang wajahnya dengan pipi merona.
"Belakangan ini kau lebih pandai bermain, Sayang. Apa diam-diam kau mengambil kelas privat?"
Kini berganti Aaron yang terkekeh.
"Tapi aku suka." Bisik Aaron kemudian.
"Istriku yang polos sekarang sudah sangat lihai dan lebih sering diatas. Aku sangat suka saat kau menjadi liar diatas tubuhku." Aaron terus mengeluarkan kata-kata yang membuat Zaya jadi semakin tersipu.
"Hentikan, Honey. Kamu membuatku malu." Zaya menyembunyikan wajahnya di dada Aaron.
"Kenapa harus malu pada suamimu sendiri? Apa kau tahu, apa yang belakangan ini kau lakukan itu membuatku semakin tergila-gila padamu."
Aaron mengurai pelukannya, kemudian memperhatikan Zaya dengan seksama.
"Sayang, apa kau menyadari jika punyamu ini sekarang makin besar." Goda Aaron lagi sambil mengarahkan kedua telapak tangannya untuk menangkup dada Zaya.
"Tentu saja semakin besar. Disana sudah mulai dipriduksi Asi untuk calon anakmu nanti."
"Oh ya? Kalau begitu bolehkah aku menawarkan diri menjadi penguji rasanya? Aku akan memberikan jasa itu secara gratis. Tapi dengan syarat aku mencobanya langsung dari tempatnya di produksi." Goda Aaron lagi sambil mengerlingkan matanya.
"Kamu mesum." Sungut Zaya.
Aaron terkekeh sambil meremas lembut dada Zaya.
"Hentikan, Honey." Pinta Zaya dengan agak menahan efek dari yang Apa yang Aaron lakukan.
"Sayang, aku ingin memcobanya." Bisik Aaron lagi, yang ditanggapi dengan pelototan dari Zaya.
Aaron tertawa semakin renyah.
"Jangan marah. Aku hanya bercanda." Ujarnya kemudian sambil masih terus tertawa.
"Ayo masuk, di sini sudah semakin dingin." Aaron membimbing tubuh Zaya untuk masuk ke dalam kamar mereka.
Aaron pun kembali menggoda Zaya saat sudah berada dikamar.
___________________________________________
Semakin hari Anna semakin gencar melancarkan aksinya. Dengan kedok urusan perusahaan, Anna sengaja mengatur jadwal Aaron untuk lebih sering keluar kota.
Entah dengan maksud untuk membuat Zaya marah atau apa, Anna seringkali justru sengaja membeberkan semua hal yang dikerjakannya bersama Aaron pada Zaya.
Meski Zaya tahu Aaron tidak tertarik pada Anna, Zaya tetap merasa was-was. Zaya takut jika sewaktu-waktu Asisten Dean meninggalkan mereka berdua saja dan Anna berkesempatan untuk melancarkan rencananya menjebak Aaron.
Ditengah kegelisahan Zaya karena tak kunjung bisa menyingkirkan Anna, tiba-tiba ia seperti mendapatkan bantuan dari langit.
Siang itu saat akan makan siang dengan Kara di sebuah restoran, tanpa sengaja Zaya melihat Anna juga datang kesana sendirian. Dan tak lama kemudian Zaya melihat Salah satu rekan bisnis Aaron, yang tempo hari mengadakan penjamuan, datang dan berbicara dengan sangat serius dengan Anna.
Zaya bertanya-tanya, apa yang sedang mereka bicarakan. Jika itu menyangkut kerja sama dengan Brylee Group, kenapa hanya Anna sendiri yang datang.
Zaya pun mengeluarkan ponselnya dan men-dial nomor kontak seseorang.
"Sepertinya aku menemukan sebuah celah. Cepat selidiki ada hubungan apa Anna dengan pemilik perusahaan yang baru-baru ini bekerja sama dengan Brylee Group. Aku ingin infonya secara detail." Ujar Zaya pada seseorang di seberang sana. Terdengar orang itu mengiyakan.
Zaya memutus sambungan telfon, lalu melihat kearah Anna yang masih berbicara dengan rekan bisnis Aaron itu dari kejauhan.
Zaya berharap kali ini ia akan menemukan apa yang dicarinya selama ini.
Bersambung...
Jangan lupa like, komen dan votenya
Happy reading❤❤❤