Since You Married Me

Since You Married Me
Sebuah Rintangan



Seluruh pegawai kafe Zaya heboh saat Zaya membagikan undangan pernikahannya. Satu persatu dari mereka memberikan selamat dan mendoakan agar proses pernikahannya nanti berjalan lancar.


Namun tidak semuanya bersemangat, beberapa pegawai Zaya malah ada yang terlihat patah hati karena Bu Bos idola mereka akan segera melepas masa lajangnya. Mereka adalah para pegawai lelaki Zaya yang selama ini sangat mengagumi sosok Bos muda mereka itu. Mereka bahkan akan menobatkan tanggal pernikahan Zaya sebagai hari patah hati nasional.


Lalu ada juga pegawai Zaya yang justru merasa patah hati karena melihat nama calon suami Zaya. Mereka adalah para pegawai wanita yang mengenal sosok Aaron Brylee sebagai pengusaha muda yang banyak menginspirasi dan sering masuk pemberitaan karena kemampuannya di bidang bisnis. Mereka tak menyangka jika Zaya ternyata akan menikah dengan lelaki sehebat itu. Beberapa pegawai perempuan itu sampai histeris antara takjub dan juga iri.


Zaya hanya terkekeh melihat macam-macam reaksi pegawainya saat menerima undangan darinya itu. Diluar dari bagaimana reaksi mereka, Zaya merasa terharu karena mereka tetap memberikan doa terbaik untuknya. Dan bagi Zaya, itu adalah kado terbaik untuk pernikahannya kelak.


Sebenarnya Zaya sendiri masih tidak bisa mempercayai jika ia benar-benar akan menikah kembali dengan Aaron.


Saat bercerai, tidak terbesit sedikit pun dibenak Zaya untuk kembali pada Aaron setelah mereka berpisah. Zaya hanya berusaha untuk menjalani hidupnya dengan baik meski tak bersama dengan lelaki itu lagi.


Tapi siapa sangka, Tuhan punya rencana-Nya sendiri untuk Zaya dan Aaron. Mereka kembali didekatkan hingga akhirnya memutuskan untuk sekali lagi menjalin ikatan suci itu.


Zaya hanya berharap, pernikahan kali ini adalah yang terakhir untuknya maupun Aaron. Dan mereka akan tetap bersama hingga maut yang memisahkan.


"Selama aku mengenalmu, baru kali ini aku melihat wajahmu berseri-seri seperti ini. Kamu terlihat benar-benar bahagia, Zaya. Sebagai sahabatmu, aku ikut merasa senang." Suara Kara membuyarkan lamunan Zaya.


Zaya tersenyum. Dilihatnya Kara yang telah duduk disebelahnya.


"Apa sangat terlihat kalau aku sedang bahagia? Aku jadi malu." Zaya tertawa dengan wajah agak merona.


"Kamu bahkan mulai banyak tertawa sekarang. Jangan sampai Tuan Aaron membuatmu jadi gila saja." Kara ikutan tertawa.


Zaya menghentikan tawanya, menyisakan seulas senyuman yang tampak begitu manis. Mendengar nama Aaron membuat dadanya kembali berdebar. Tak peduli seberapa banyak ia mencoba membiasakan diri, tetap saja Aaron selalu membuatnya dipenuhi hormon adrenalin.


Aaron selalu bisa membuat hatinya bergetar hanya dengan mendengar namanya saja.


"Aku sangat mencintainya, Ra. Itulah kenapa dulu aku sampai bertahan selama tujuh tahun meski selalu dia abaikan. Dan sekarang, dia bahkan memiliki perasaan yang jauh lebih besar dari yang aku miliki. Rasanya benar-benar seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Akhirnya kami bisa kembali bersama dengan perasaan saling mencintai." Zaya berujar sambil masih terus tersenyum.


"Selamat atas kebahagiaanmu ini, Zaya. Tapi setelah kalian menikah lagi nanti, siap-siap saja dengan sikap posesif Tuan Aaron padamu." Kara menepuk-nepuk pundak Zaya.


Zaya menautkan kedua alisnya.


"Maksudmu?" Tanyanya.


"Apa kamu tahu, beberapa hari yang lalu, Tuan Aaron bahkan menyuruh Dean membawaku untuk menemuinya. Dia berbicara langsung padaku agar aku mengawasi setiap lelaki yang berinteraksi denganmu, dan melapor padanya jika ada lelaki yang menunjukkan gelagat tidak baik."


"Benarkah?" Mata Zaya membulat tak percaya.


Kara mengangguk meyakinkan.


"Tapi, gelagat tidak baik itu maksudnya apa?" Zaya kembali bertanya dengan polosnya.


Kara tampak memutar bola matanya jengah.


"Apalagi, tentu saja maksudnya lelaki itu menyukaimu." Jawabnya malas.


"Dia tidak ingin ada lelaki yang menyukaiku?" Tanya Zaya lagi.


"Begitulah. Tuan Aaron sepertinya sudah mengidap penyakit cinta akut. Setelah kamu jadi istrinya nanti, pasti akan sangat merepotkan jika dia sedang cemburu." Kara berujar dengan mimik wajah serius. Tapi justru tidak ditanggapi Zaya dengan serius.


Zaya malah kembali tertawa.


"Masa?" Tanya Zaya lagi setelah puas tertawa.


"Seandainya saja Tuan Aaron tahu kalau semua pegawai lelaki di kafemu ini menyukaimu. Coba bayangkan apa yang akan terjadi? Jangan-jangan kamu langsung disuruh memecat mereka semua." Ujar Kara lagi.


Kali ini Zaya mendelik.


"Sampai sebegitunya?"


Kara mengangguk.


"Kamu tidak dengar, sih, bagaimana Tuan Aaron memerintahkan Dean untuk menjagamu sejak kalian berencana untuk menikah kembali."


"Memangnya bagaimana?" Zaya penasaran dibuatnya.


Kara berdehem untuk membuat suaranya terdengar berat seperti suara milik Aaron.


"Dean, atur orang untuk menjaga calon istriku. Kalau ada lelaki yang menyukainya, apalagi sampai berani mendekatinya, bereskan orang itu!" Kara menirukan cara bicara Aaron.


Sontak Zaya yang mendengarnya menjadi tertawa terpingkal-pingkal.


"Hei, kamu pikir aku sedang melucu. Aku serius, tahu!" Kara tampak kesal melihat tanggapan Zaya.


Zaya berusaha menghentikan tawanya, meski rasanya ia ingin tertawa lebih banyak lagi.


"Calon suamimu itu menyeramkan. Nanti kalau sudah resmi jadi istrinya, jangan sekali-kali kamu membuatnya cemburu. Kalau sampai itu terjadi, habislah kamu..." Kara mengingatkan seperti orang yang sedang membuat konten horor. Dibuat-buat menjadi seram. Tapi Zaya justru merasa lucu dan kembali ingin tertawa.


Tiba-tiba dering ponsel Zaya menghentikan percakapan mereka. Orang yang sedang mereka bicarakanlah yang tampaknya menelfon Zaya.


"Apa kau sedang sibuk?" Tanya Aaron dari seberang sana.


"Tidak juga. Kenapa memangnya?" Zaya balik bertanya.


"Datanglah ke kantorku. Anna sudah memesankan makan siang untuk kita berdua. Aku ingin makan bersamamu."


Zaya menautkan kedua alisnya.


"Biasanya juga kamu makan siang sendiri." Ujar Zaya.


"Kau tidak merindukanku?" Tanya Aaron.


"Tidak." Jawab Zaya cepat.


Terdengar Aaron menghela nafasnya.


"Baiklah... Aku yang merindukanmu. Aku ingin sekali bertemu denganmu, tapi pekerjaanku sedang sangat banyak. Jadi kumohon, Sayang..., datanglah kesini, oke?" Aaron terdengar memelas hingga Zaya tak tega untuk tertawa.


"Oke... Aku akan kesana." Jawab Zaya akhirnya.


"Tapi janji kamu tidak akan bermain-main denganku." Ujar Zaya lagi.


"Aku tidak akan bermain-main denganmu. Paling hanya memeluk dan menciummu saja."


"Aaron!"


Terdengar Aaron terkekeh diseberang sana.


"Baiklah...baiklah, kali ini kita akan makan siang bersama saja, tidak ada yang lain. Aku akan mengakumulasi semuanya dan menagihnya saat kita menikah nanti." Ujarnya disela kekehannya.


Zaya mendengus kesal. Entah kenapa ia merasa sosok Aaron yang sekarang mulai bertrasformasi menjadi lelaki mesum. Zaya benar-benar dibuat waspada setiap kali bertemu dengan lelaki itu.


Meski seringkali ikut terhanyut, sebenarnya ia khawatir jika sampai harus melakukan hal lebih sebelum mereka resmi menikah lagi. Zaya tidak ingin menjalani hubungan yang tak sehat. Dan ia bersyukur, sejauh ini Aaron selalu bisa menahan diri meski tak jarang mereka bercumbu dengan sangat intim.


Setelah memutus sambungan telfon dari Aaron, Zaya pun bergegas mengendarai mobilnya menuju kantor Aaron. ia tidak ingin Aaron menunggunya terlalu lama.


Tapi sialnya, Zaya justru terjebak macet dijalanan hingga ia baru tiba dikantor Aaron setelah hampir satu jam lamanya. Zaya hanya berharap Aaron tidak terkena asam lambung karena menunggunya untuk makan bersama.


Resepsionis kantor Aaron menyambut Zaya dengan sangat ramah. Perempuan muda itu juga mempersilahkan Zaya untuk menggunakan lift khusus Direktur yang biasa digunakan oleh Aaron. Sepertinya Zaya benar-benar telah di anggap sebagai Nyonya Muda Brylee di perusahaan Aaron saat ini.


Zaya pun berusaha untuk menikmatinya saja meski sesungguhnya ia sangat tak terbiasa.


Zaya sampai dilantai tempat ruangan kerja Aaron berada. Tapi dilihatnya meja sekertaris yang berada dihadapan pintu masuk ruang kerja Aaron tampak kosong.


Anna tidak ada dimejanya. Apa Aaron juga sudah pergi?


Meski ragu, Zaya tetap melangkah menuju ruangan Aaron untuk memastikan. Dan setelah sampai didepan pintu, Zaya memegang handel pintu dan membukanya perlahan.


Namun baru sedikit pintu itu terbuka, Zaya langsung menghentikan apa yang dilakukannya itu.


Tampaknya ada beberapa orang selain Aaron, sedang membicarakan hal yang penting didalam sana. samar Zaya dapat mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.


"Bagaimana bisa investor yang telah setuju menanamkan modal bisa berubah pikiran? Jika kita tidak mendapatkan kucuran dana dalam waktu dekat, maka perusahaan kita ini tidak dapat menghindari akusisi." Suara orang yang lebih tua terdengar dari dalam sana.


Aaron nampak tak menjawab.


"Tuan Aaron, tampaknya Anda harus mempertimbangkan tawaran pernikahan dari keluarga Nugraha. Hanya itulah satu-satunya cara untuk menyelamatkan perusahaan saat ini." Suara lain juga terdengar.


"Itu tidak mungkin." Aaron menjawab.


"Aku akan menikah dalam waktu dekat ini, bukankah kalian semua juga sudah tahu?" Sambung Aaron lagi.


"Tuan Aaron, seseorang seperti Anda, bukankah seharusnya memang memilih pendamping dengan latar bekakang yang bisa mendukung Anda? Kenapa Anda harus mempertaruhkan perusahaan hanya untuk seorang perempuan?"


"Tutup mulutmu!!" Aaron membentak orang yang terakhir bicara.


"Apa kau sudah bosan hidup? Berani-beraninya kau meremehkan calon istriku. Aku tidak akan pernah menerima tawaran pernikahan dari keluarga Nugraha. Jika mereka ingin membantu, tidak perlu ada embel-embel pernikahan dibelakangnya. Aku lebih memilih kehilangan perusahaan daripada harus kehilangan calon istriku. Apa kau mengerti?!!" Suara Aaron terdengar menggelegar dari dalam ruangan.


Zaya terhenyak. Ditutupnya kembali pintu ruang kerja Aaron yang tadi sempat akan dibukanya.


Zaya melangkahkan kakinya menjauh dari sana. Entah apa yang dirasakannya, Zaya tidak tahu pasti. Yang jelas saat ini ia ingin pergi sejauh-jauhnya dari tempat ini, dan berharap tak perlu menginjakkan lagi kakinya disini.


Untuk sesaat Zaya terlena dengan perlakuan Aaron dan melupakan perbedaan mereka. Tapi saat ini ia seperti mendapatkan sebuah tamparan yang menyadarkannya, jika ia dan Aaron seperti berada di dunia yang berbeda. Dan jika mereka tetap ingin bersama, tentu saja ada yang harus mereka korbankan.


Bersambung....


Kalo banyak yg vote, mungkin ntar mlm up satu part lagi😁


Happy readingā¤ā¤ā¤