Since You Married Me

Since You Married Me
Drama Hormon Kehamilan



Hari-hari selanjutnya, kondisi Aaron semakin membaik. Dia tidak terlalu sering lagi merasakan mual dipagi hari, hanya pada saat-saat tertentu saja, atau saat ada aroma yang benar-benar tidak bisa ditoleransi oleh hidungnya.


Albern juga sudah mulai bisa menerima kehamilan Zaya. Ia tidak lagi marah, meski terkadang memang tingkahnya agak lain dari biasanya. Bocah itu tampaknya berusaha untuk selalu mendapatkan perhatian Mamanya. Hingga tidur pun sekarang ingin ditemani oleh Zaya.


Terang saja Aaron seringkali merasa keberatan. Dia sedikit jengkel dengan keinginan Albern yang satu ini. Tapi tentu saja dia tak bisa membuat putra kesayangannya itu kecewa. Aaron pun akhirnya mengizinkan Zaya tidur bersama Alben, meski dengan sangat tidak rela.


Seperti halnya malam ini, Albern kembali meminta Zaya untuk menemaninya tidur lagi. Bocah itu bahkan hampir menangis saat melihat ekspresi Aaron yang tampak keberatan. Hingga Aaron pun hanya bisa pasrah saat Zaya memilih untuk tidur bersama putra kesayangannya itu lagi.


Aaron kesal. Dia benar-benar ingin marah, tapi tidak tahu mesti marah pada siapa. Tidak mengertikah anak dan istrinya itu jika dia punya kebutuhan yang mesti dipenuhi? Sungguh ironi rasanya jika harus menuntaskan hasratnya sendirian dikamar mandi, sedangkan istrinya ada didepan mata.


'Aarrgghhh'


Aaron benar-benar merasa frustasi, hingga menarik-narik rambutnya sendiri.


Menjelang tengah malam Aaron nenyelinap ke kamar Albern. Dilihatnya bocah itu sudah terlelap dengan sangat pulas. Zaya juga sudah ikut tertidur disamping Albern.


Perlahan Aaron mendekat dan duduk dipinggiran tempat tidur, disamping Zaya berbaring.


"Sayang." Aaron mengusap wajah Zaya lembut, berusaha untuk membangunkan istrinya itu.


Tapi tampaknya Zaya sudah tidur dengan sangat nyenyak hingga tidak merasa terganggu dengan apa yang sedang Aaron lakukan.


Aaron tak putus asa. Kembali disentuhnya pipi Zaya sambil mengguncang tubuhnya pelan. Tapi tetap saja Zaya tak bergeming. Perempuan itu tampak masih enggan untuk terjaga. Entah mimpi indah apa yang saat ini menemani tidurnya hingga ia tak mau bangun dan tetap terlelap.


Merasa gemas, Aaron pun mengangkat tubuh Zaya dan menggendongnya ala bridal style. Dibawanya istrinya itu keluar dari kamar putra mereka. Tak lupa Aaron menutup kembali pintu kamar Albern sebelum menuju kamar mereka sendiri.


Aaron membaringkan Zaya ditempat tidur mereka dengan hati-hati. Kemudian dikuncinya pintu kamar sebelum dia kembali mendekati istrinya yang tengah terlelap itu.


"Sayang." Aaron kembali membelai pipi Zaya. Kali ini tangan yang satunya juga menyentuh bagian tubuh Zaya yang lain.


Zaya menggeliat. Perlahan ia membuka matanya karena merasa ada tangan jahil yang menggerayangi tubuhnya.


"Honey?" Zaya bergumam saat melihat Aaron. Ia agak terkejut karena telah mendapati dirinya sudah tidak dikamar Albern lagi.


Melihat Zaya yang telah terbangun, langsung saja Aaron menyambar bibir Zaya dan melahapnya dengan rakus, tak memberi kesempatan bagi istrinya itu untuk berbicara lebih banyak lagi.


Zaya terkejut dibuatnya. Serangan Aaron yang tiba-tiba membuatnya tak tahu harus merespon seperti apa.


"Aku merindukanmu, Sayang." Bisik Aaron ditengah cumbuannya. Kemudian dia mulai melucuti pakaian Zaya satu persatu sembari terus menjelajahi setiap lekuk tubuh Zaya.


Zaya pun mengerti. Sudah seminggu lebih Zaya tidur menemani Albern, dan membiarkan Aaron tidur sendirian. Malam itu nampaknya suaminya itu sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk menuntaskan hasratnya. Aaron membutuhkan Zaya. Dan tentu saja Zaya berkewajiban untuk memenuhinya.


Zaya mengulurkan tangannya dan merangkum wajah Aaron. Kemudian diciumnya bibir suaminya itu dengan penuh perasaan. Dan tak berselang lama, mereka pun telah larut dalam sebuah permainan panas yang menggairahkan.


___________________________________________


Memasuki empat bulan usia kehamilan Zaya, Aaron sudah sepenuhnya tidak merasakan ngidam lagi. Kondisi tubuhnya sudah kembali normal seperti biasanya. Dan yang lebih melegakan, Albern juga sudah kembali bersikap seperti biasanya.


Bocah pintar itu tidak lagi berusaha mencari perhatian Zaya. Ia sudah kembali menjadi Albern yang cerdas dan mandiri seperti sebelumnya.


Tapi sekarang, justru Zaya yang tampaknya mulai dipengaruhi hormon kehamilan. Ia menjadi lebih sensitif dibanding sebelumnya. Ia juga menjadi sangat manja dan selalu punya keinginan yang harus dipenuhi Aaron setiap harinya.


Ibu hamil satu ini menjadi sangat rewel dan cengeng. Sedikit saja Aaron salah bicara atau tak bisa memenuhi keinginannya, maka dapat dipastikan Zaya akan menangis saat itu juga, tak peduli mereka sedang ada dimana, atau sedang bersama dengan siapa. Zaya akan menangis sejadi-jadinya jika ia merasa tidak senang sedikit saja. Sungguh pengaruh hormon yang merepotkan dan cukup mengganggu. Tapi apa mau dikata, Zaya sendiri terkadang tidak mengerti kenapa ia bisa seperti itu. Yang pasti semua itu tentu diluar keinginannya.


Dan siang itu, Zaya kembali berada dalam suasana hati yang buruk. Pasalnya ia sangat ingin makan siang berdua dengan Aaron disebuah restoran, tapi Aaron tidak bisa memenuhinya karena beralasan akan makan siang dengan seorang klien penting.


Zaya pun berusaha untuk memaklumi meski ia sangat ingin menangis saat itu. Tentu saja Zaya masih memikirkan masa depan Brylee Group meski tengah di pengaruhi oleh hormon kehamilannya.


Kemudian agar tak terlalu merasa kecewa dan sedih, Zaya akhirnya memutuskan untuk pergi sendiri ke restoran yang ingin ia datangi dengan ditemani oleh seorang pelayan di rumahnya.


Lumayan juga. Meski tak ditemani Aaron, Zaya akhirnya bisa mengembalikan moodnya karena sudah bisa memenuhi keinginan calon bayinya. Zaya pun makan dengan lahap menu yang ada dihadapannya, sebelum akhirnya matanya menangkap pemandangan yang membuat moodnya kembali anjlok.


Beberapa meter dari tempatnya duduk saat ini, tampak Aaron sedang menikmati makan siangnya juga. Suaminya tengah duduk berhadapan dengan seorang perempuan cantik, sambil terlihat sesekali membicarakan sesuatu. Dan yang membuat hati Zaya panas adalah saat melihat suaminya itu tersenyum pada perempuan dihadapannya itu.


Mereka berdua tampak sangat menikmati kebersamaan mereka saat ini.


Zaya mengeratkan genggamannya pada sendok dan garpu yang dipegangnya dengan marah, hingga pelayan yang sedari tadi menemaninya agak terkejut.


"Nyonya, Anda kenapa?" Tanya pelayan itu.


Zaya tak menjawab. Matanya nyalang menatap Aaron yang masih tak menyadari keberadaannya. Beberapa kali Zaya menghela nafas untuk meredakan emosinya yang rasanya ingin meledak saat itu juga.


"Jadi ini yang disebut klien penting. Dasar lelaki tak berperasaan. Bisa-bisanya dia selingkuh saat istrinya sedang hamil." Zaya bergumam pada dirinya sendiri.


"Selingkuh? Siapa Nyonya? Tuan?" Pelayan dihadapan Zaya bertanya tanpa sadar.


Zaya tak juga menjawab. Tiba-tiba ia bangkit dan tampak merapikan penampilannya.


"Kamu bayar makanan kita, lalu tunggulah di mobil." Zaya menyerahkan sebuah kartu pada pelayannya.


"Aku masih ada urusan yang harus di selesaikan." Ujar Zaya lagi dengan nada tak ingin dibantah.


"Ba-baik, Nyonya." Pelayan itu menerima kartu yang diberikan Zaya. Ia tampak agak takut melihat Nyonya Mudanya itu sekarang. Perempuan yang biasanya selalu lembut dan anggun itu kini terlihat sedang ingin membunuh orang.


Zaya pun melangkah menuju meja Aaron yang terletak tak jauh dari sana.


Karena terlalu asyik membicarakan sesuatu, Aaron masih tidak menyadari kehadiran Zaya yang kini berada tepat di sampingnya.


"Selamat siang, Tuan Aaron." Suara Zaya membuat Aaron menghentikan pembicaraannya dan sontak menoleh.


"Senang bisa bertemu Anda disini." Ujar Zaya lagi. Ia tak menggubris reaksi Aaron yang tampak kaget dengan kehadirannya.


"Apa kabar istri Anda, saya dengar saat ini dia sedang mengandung. Wah...selamat, ya, sebentar lagi Anda akan segera punya dua orang anak." Zaya masih terus membombardir Aaron dengan kata-katanya. Sedangkan lelaki itu tampak melihatnya dengan ekspresi heran dan bingung. Begitu pula dengan perempuan yang saat ini sedang bersama Aaron.


"Kalau sudah mau punya dua anak, itu artinya Anda sudah tidak diperbolehkan untuk bermain-main lagi, Tuan. Kasihan istri dan anak Anda kalau Anda bermain dibelakang mereka."


" Saya permisi, maaf mengganggu waktu Anda."


Zaya tersenyum sekilas pada perempuan yang sedang bersama Aaron, kemudian pergi meninggalkan lelaki itu.


Zaya mempercepat langkahnya, tidak ingin jika sampai Aaron menyusulnya. Tapi kelihatannya lelaki itu memang tidak berusaha untuk mengejarnya.


Zaya tersenyum masam. Sepertinya Aaron lebih memilih untuk menjaga perasaan perempuan itu daripada menjaga perasaannya. Ia pun masuk kedalam mobilnya dengan perasaan yang berkecamuk.


"Lelaki brengsek!!" Maki Zaya lantang. Suaranya membuat sopir pribadi dan pelayannya yang juga berada didalam mobil menjadi terkejut bukan kepalang. Tidak pernah selama ini mereka mendengar Zaya berbicara dengan nada tinggi, apalagi sampai memaki. Mereka pun hanya bisa diam dan tak berani bergeming, hingga akhirnya Zaya memerintahkan pada sopir pribadinya untuk melajukan mobilnya menuju menuju rumah.


Mereka pun pulang dengan suasana yang mencekam.


Bersambung...


Kabur dulu ah, ntar dibuli emak2 yang baca, Walaupun sebenernya ga yakin juga kalo Mang bucin berani buat selingkuh😅


Jangan lupa votenya ya reader yg baik...


Happy reading❤❤❤