
Zaya mengemudikan mobilnya sambil sesekali memijat kepalanya yang terasa agak pusing. Tidak tidur semalaman dan tidak makan dengan benar saat sarapan tadi, membuat tubuhnya agak terasa kurang sehat.
Tapi karena hari ini ia sudah berjanji untuk menemui Kara, akhirnya ia tetap memaksakan diri untuk pergi kerumah sahabatnya itu.
Zaya datang disambut dengan tatapan penuh teka-teki dari Kara. Setelah mempersilahkan Zaya masuk, Kara terlihat siap membombardir Zaya dengan sejuta pertanyaan yang berputar-putar diotaknya sejak kemarin.
"Jadi orang yang menghamilimu itu orang kaya?" tanya Kara akhirnya.
Zaya diam tak langsung menjawab.
"Katakan, pasti dia bandot tua yang suka gadis-gadis muda dan punya simpanan dimana-mana. Iya, kan?" tanyanya lagi.
Zaya makin tak bersuara dan hanya melongo mendengar pertanyaan Kara.
"Astaga, Zaya... Jadi benar, selama ini kamu jadi simpanan Om-om, lalu kalian cerai karena ketahuan istri sahnya, dan anakmu sekarang hidup bersama ibu tiri?" Kara tampak terkejut dan menutup mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangannya.
Zaya yang mendengarnya juga tak kalah syok.
Ia benar-benar takjub dengan sahabatnya satu ini. Selain sering mengeluarkan kata-kata konyol, Kara juga sering berpikiran hal yang aneh-aneh.
Zaya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dasar Miss Lebay." berganti Zaya yang menoyor dahi Kara menggunakan telunjuknya.
"Makanya jangan terlalu sering menonton drama tidak bermutu ditv. Sekali-kali tonton acara yang menambah wawasan, supaya otakmu tidak sering berhalusinasi." sergahnya.
Kara pun mengusap-usap dahinya sambil mendelik sebal.
"Habisnya kamu masih main rahasia-rahasiaan segala. Menghilang tujuh tahun, tiba-tiba muncul pakai mobil sendiri. Aku kan jadi curiga." Kara membela diri.
"Mantan suamiku orang kaya, memang benar. Tapi dia bukan bandot tua mata keranjang seperti yang kamu bilang. Aku juga menikah dengannya sebagai istri sah, bukan jadi simpanan." Zaya terlihat agak kesal.
Kara yang tadinya berapi-api kini hanya bisa nyengir kuda.
"Kami bercerai karena tidak ada kecocokan. Dari awal pernikahan kami memang hanya sebatas tanggung jawabnya pada anak yang kukandung, tidak lebih. Dan kenapa anakku tidak ikut bersamaku, itu karena dia adalah penerus satu-satunya keluarga mantan suamiku."
Zaya meneruskan kalimatnya dengan nada sedikit sedih, membuat Kara jadi agak merasa bersalah.
"Maaf...aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Tadi aku terlalu penasaran karena tiba-tiba sekarang kamu menjadi kaya. Aku hanya takut kamu terlibat hal-hal buruk." ujar Kara akhirnya.
Zaya tersenyum.
"Tidak apa-apa. Aku tahu kamu hanya mencemaskanku. Tapi kamu tidak usah khawatir, aku tidak melakukan sesuatu yang ilegal. Dan mobil yang kamu lihat itu, itu adalah hasil dari jerih payahku sendiri." balas Zaya dengan bangga.
"Benarkah?" Kara nampak tidak percaya.
Zaya mendelik pada Kara.
"Jadi kamu meragukan kemampuanku?" tanyanya.
"Bukan begitu, aku tahu kamu tidak berbohong. Hanya saja..., kalau ingat dulu kita sama-sama bekerja sebagai pelayan restoran, rasanya memang sulit dipercaya." jawab Kara sambil sedikit meringis dan mengangkat kedua jarinya tanda damai.
Zaya terdiam dan mengangguk-angguk.
"Benar juga." gumamnya.
"Ah, sudahlah. Lain kali aku ceritakan semuanya. Sekarang aku ingin mengajakmu kesuatu tempat. Kamu mau pekerjaan tetap, kan?" tanya Zaya kemudian.
"Tentu saja mau. Tapi pekerjaan apa?" Kara balik bertanya.
"Aku jamin kamu bakalan suka. Cepat ganti pakaian. Aku akan ajak kamu langsung ketempatnya." jawab Zaya.
Meski masih bertanya-tanya, Kara pun akhirnya menuruti kata-kata Zaya. Segera setelah Kara bersiap-siap, mereka pergi meninggalkan kontrakan Kara.
Mobil Zaya melaju membelah jalanan kota.
Sesekali Kara melirik Zaya yang sedang fokus menyetir. Ia tersenyum. Diam-diam ia merasa sahabatnya itu sekarang terlihat sangat keren. Tak percaya rasanya jika mendengar gadis cantik disebelahnya itu dulunya hanya seorang pelayan restoran.
Roda kehidupan memang selalu berputar. Kara ikut senang mengetahui sahabatnya kini punya kehidupan yang lebih baik.
Setelah beberapa saat, mereka pun berhenti didepan sebuah kafe.
Zaya mengajak Kara turun dan masuk kedalam kafe yang saat ini tampak sedang ramai pengunjung.
Semua karyawan kafe menyapa Zaya dengan hormat, membuat Kara menjadi agak bingung. Ia bertanya-tanya kenapa Zaya terlihat seperti bosnya disini. Apa jangan-jangan ini adalah kafe miliknya? Mungkinkah sekarang temannya ini benar-benar telah menjadi orang yang sukses?
Belum selesai Kara bergelut dengan pikirannya, seorang karyawan kafe menghampiri mereka.
"Selamat pagi, Bu Bos." sapanya.
"Pagi menjelang siang." tambahnya lagi dengan nada bercanda.
Zaya hanya menanggapi sambil tersenyum.
"Bu Bos?" gumam Kara tanpa sadar. Kemudian ia melihat kearah Zaya dengan tatapan penuh tanda tanya.
Zaya kembali tersenyum.
"Ini kafe milikku." ujarnya akhirnya.
Kara tampak terperangah dengan wajah takjub.
"Kafe ini milikmu?" tanyanya tidak percaya.
Zaya mengangguk.
"Kafe ini, dan lima cabang lainnya dibeberapa tempat." tambahnya.
Kara semakin terperangah dengan mulut yang menganga sempurna. Cepat-cepat ia tutup mulutnya dengan telapak tangan.
Zaya yang melihat itu hanya tertawa kecil.
"Ayolah, jangan berlebihan seperti itu. Aku mengajakmu kesini untuk menawarkanmu pekerjaan. Apa kamu mau bekerja disini?" tanyanya.
Kara tampak berusaha untuk menenangkan dirinya.
"Pekerjaan apa?" tanyanya masih dengan keterkejutannya.
Kara kembali melongo.
"Aku? Membuat kue?" tanyanya.
Zaya mengangguk.
"Kamu akan digaji dengan bayaran master pembuat kue. Lalu dapat tempat tinggal dan kendaraan inventaris sebagai tunjangan, bagaimana?" tawar Zaya.
"Benarkah?" Kara masih merasa tidak percaya.
"Apa semua karyawanmu dapat fasilitas seperti itu?" tanyanya lagi.
Zaya kembali tertawa.
"Tentu saja tidak. Itu hanya untuk kamu." jawabnya.
"Sudahlah. Lebih baik kita bicarakan diruanganku saja." ujar Zaya akhirnya. Tapi belum sempat ia membawa Kara menuju ruangannya, tiba-tiba saja kepalanya kembali terasa pusing, dan kali ini berdenyut dengan sangat hebat hingga matanya ikut menjadi gelap.
Zaya oleng sebelum akhirnya jatuh pingsan.
"Zaya!!!" Kara terpekik sambil menahan tubuh Zaya.
Orang-orang yang ada dikafe itu pun mendadak panik dan berkerumun.
Seorang pengunjung laki-laki yang sedari tadi tampak memperhatikan Zaya ikut mendekat.
"Permisi, saya dokter. Biar saya periksa keadaan Nona ini." ujarnya.
Orang-orang yang berkerumun pun memberikan ruang untuk lelaki itu memberikan pertolongan.
Fina,karyawan Zaya mengarahkan lelaki itu untuk membawa Zaya keruangannya diiringi oleh Kara.
Suasana kafe akhirnya kembali tenang.
Tak berapa lama Zaya tampak mengerjapkan matanya. Aroma minyak kayuputih yang tajam membuatnya kembali tersadar.
Tampak ia tengah terbaring disofa yang terletak diruang kerjanya, ditemani olah Kara dan juga Fina.
"Zaya..., syukurlah kamu sudah sadar." Kara terlihat lega. Kemudian ia membimbing Zaya untuk minum teh hangat.
"Dokter bilang kamu pingsan karena kelelahan, dan sepertinya perut kamu juga kosong. Kamu belum makan, ya?" tanya Kara.
"Kamu panggil dokter?" Zaya malah balik bertanya.
"Kebetulan salah satu pengujung kafe kita tadi ada seorang dokter. Jadi dia yang memberi pertolongan." Fina membantu memberi jawaban.
Tiba-tiba pintu ruangan diketuk. Tampak lelaki yang tadi menolong Zaya masuk.
"Eh iya, Bu Zaya. Ini dokter yang tadi menolong Ibu." ujar Fina memperkenalkan.
Zaya tersenyum pada lelaki itu.
"Terima kasih atas pertolongannya." ujarnya tulus.
Lelaki itu mengangguk sambil tersenyum.
"Boleh saya berbicara berdua saja dengan Nona Zaya?" pintanya.
Zaya menautkan kedua alisnya.
"Kenapa?" tanyanya.
Lelaki itu diam sejenak.
"Saya ingin memastikan sesuatu." jawabnya.
Zaya tampak berpikir. Sepertinya ada hal serius menyangkut dengan kesehatannya hingga dokter itu ingin membicarakannya secara pribadi.
"Baiklah." gumam Zaya akhirnya.
Ia pun memberi isyarat agar Kara dan Fina meninggalkannya.
Kini ia hanya berdua saja dengan dokter itu. Suasana hening agak lama. Zaya jadi sedikit tegang menunggu apa yang akan disampaikan oleh dokter itu padanya.
"Nona Zaya, apa nama lengkap Nona adalah Zaya Diandra?" tanya lelaki itu akhirnya.
Zaya mengerutkan keningnya. Pertanyaan itu diluar dugaannya. Tadinya Zaya berpikir dokter itu akan menanyakan hal yang berkaitan dengan kesehatannya. Tapi tunggu dulu, dari mana dokter itu tahu nama lengkap Zaya?
Zaya menatap lelaki dihadapannya itu dengan penuh tanda tanya.
"Nona Zaya terlihat mirip sekali dengan orang yang saya kenal. Saya hanya ingin memastikan, apakah Nona Zaya adalah orang yang sama dengan Zaya yang selama ini saya cari." tambah lelaki itu lagi.
Zaya tampak terperangah.
Diperhatikannya lekat-lekat lelaki yang tengah berdiri dihadapannya itu. Lalu kemudian matanya tertuju pada tanda lahir berwarna hitam yang ada dipunggung tangan sebelah kiri lelaki itu.
Nafas Zaya seketika terasa berhenti. Matanya membulat sempurna dengan mulut yang agak terbuka.
"Kak Evan...???"
Bersambung....
Nah lo...nah lo... siapa itu Kak Evan?
Rasain Aaron, mantanmu kayaknya bakal dapet cowok baru.πππ
Btw, author lagi mempertimbangkan bakal up lagi ntar malem apa enggak.
Tapi Kalo misalkan banyak yang vote, author bakal bela2in begadang nih( hahaha... Modus lagi )ππππ
Jangan lupa like dan komen selalu ya
Happy readingβ€β€β€