Since You Married Me

Since You Married Me
Rencana Liburan



Albern menunjukkan raport kenaikan kelasnya kepada Zaya dengan bangga. Hampir semua nilai akademisnya menyentuh angka sempurna. Hingga bocah itu dinobatkan sebagai juara umum dikelas, bahkan disekolahnya.


Ya. Saat ini Zaya, Aaron dan Albern sedang makan siang bersama usai Aaron mengambil raport kenaikan kelas untuk Albern. Bocah itu tidak sabar untuk memperlihatkan piagam penghargaan yang ia dapatkan kepada Sang Mama, hingga siang itu mereka pun bertemu tanpa direncanakan sebelumnya.


Zaya terlihat sangat senang dengan apa yang telah putranya capai. Jika mengingat bagaimana nilai-nilainya dulu saat bersekolah, Zaya sungguh tidak menyangka bisa dikaruniai seorang putra yang sangat cerdas seperti Albern.


Sepertinya dalam hal ini gen Aaron lebih mendominasi didalam otak Albern ketimbang gennya. Dan Zaya sangat mensyukuri hal itu, karena setidaknya Albern tidak perlu mengalami penderitaannya dulu sebagai siswa yang bodoh.


Zaya tersenyum sambil mengelus kepala Albern dengan lembut.


"Anak Mama sangat hebat. Mama sangat bangga dengan malaikat kecil Mama ini. Al pasti sudah bekerja keras untuk mendapatkan nilai yang bagus" ujarnya masih dengan mengelus kepala Albern.


"Grandma juga sudah bekerja keras mengajari Al." tambah Albern.


Zaya mengangguk setuju. Bekas mertuanya itu memang punya andil besar dalam membimbing Albern belajar. Meski seringkali Zaya tidak memahami pola asuhnya terhadap Albern, tapi tidak Zaya pungkiri jika Ginna sangat handal membuat Albern lebih unggul dibandingkan dengan anak-anak lainnya.


'Makanya Al harus berterima kasih pada Grandma. Al harus patuh dengan apa yang Grandma katakan. Jangan membuat Grandma kerepotan. Anak Mama yang pintar ini mengerti, kan?" ujar Zaya kemudian kepada Albern.


Albern mengangguk.


"Al mengerti, Ma." jawabnya.


Mereka pun makan siang sambil sesekali bercengkrama.


Momen makan siang yang tidak pernah terjadi sebelumnya selama tujuh tahun Zaya menjadi istri Aaron.


"Al ingin hadiah apa?" tanya Aaron kemudian setelah beberapa saat lalu hanya menjadi penonton.


Albern tampak agak terkejut.


"Al boleh minta hadiah walaupun tidak sedang ulang tahun?" bocah itu malah balik bertanya dengan polos.


Aaron mengangguk.


"Al boleh minta apa saja. Papa akan mengabulkan apapun yang menjadi keinginan Al." jawab Aaron


Wajah Albern mendadak menjadi lebih berseri dari sebelumnya.


"Al mau pergi liburan sama Mama dan Papa." pintanya kemudian dengan penuh semangat.


Zaya terkesiap, begitu pun dengan Aaron. Keduanya tidak menyangka jika Albern akan meminta hal seperti itu.


Menyadari jika kedua orang tuanya tidak merespon dengan baik permintaannya tadi, Albern pun menunduk dengan sedikit sedih.


"Tidak boleh, ya...?" tanyanya dengan suara lirih.


Zaya buru-buru menyadari perubahan wajah Albern. Kemudian ia mengulas senyum kepada putranya itu.


"Memangnya Al mau pergi kemana?" tanya Zaya kemudian.


Albern mengangkat wajahnya dan menatap Zaya, seakan ingin mencari kesungguhan Atas yang Zaya ucapkan.


"Al mau ke Disneyland dengan Mama dan Papa." ujarnya kemudian.


Zaya agak menautkan kedua alisnya.


Bukankah putranya ini penggemar tokoh Avangers bukannya Disney? Lalu kenapa dia ingin ke Disneyland?


"Kenapa Al mau ke sana?" tanya Zaya penasaran.


Albern terdiam dan tak langsung menjawab.


Zaya menyadari ada sesuatu yang membuat putranya ini bersedih, meski Zaya tak tahu itu apa.


"Sayang..." Zaya menyentuh lembut pipi Albern.


"Ada apa, Jagoan? Katakan apa yang menganggu pikiranmu." Aaron akhirnya ikut membuka suaranya.


Albern mengangkat wajahnya dan memandang kearah Aaron.


"Apa Papa tidak akan marah jika Al nengatakannya?" tanyanya ragu.


Aaron tampak menatap putranya itu beberapa saat.


"Kenapa Papa harus marah? Katakanlah, mungkin Papa bisa membantu." jawab Aaron mencoba menenangkan


Albern terdiam lagi, tapi sejurus kemudian ia kembali membuka suaranya.


"Dia berfoto bersama Mama dan Papanya. Al juga mau seperti itu. Al mau punya foto bersama Mama dan Papa di Disneyland. Al mau memperlihatkan sama teman-teman Al kalau Al juga punya Mama. Dan Mama Al cantik..."


Zaya membeku. Hatinya tiba-tiba terasa seperti ditimpa sebuah batu besar. Apa itu maksudnya putranya ini mengalami perundungan di sekolah karena tampak seperti anak yang tak mempunyai seorang ibu?


Zaya mengalihkan pandangannya kearah Aaron seolah ingin meminta sebuah penjelasan.


"Aku juga tidak tahu hal ini sebelumnya." ujar Aaron dengan nada menyesal.


Zaya menghela nafasnya, kemudian berusaha mengulas sebuah senyuman manis untuk Albern.


"Selain ingin punya foto bersama Mama dan Papa, apa ada hal lain yang Al inginkan?" tanya Zaya lagi.


Bocah itu tampak ragu untuk menjawab.


"Katakan saja, Sayang. Mama akan berusaha untuk memenuhinya." Zaya meyakinkan putranya.


Albern mengangkat wajahnya.


"Al mau tidur bersama Mama dan Papa." ujarnya akhirnya.


Zaya membeku mendengarnya, begitu juga dengan Aaron. Mereka berdua sama-sama tidak tahu harus berkata apa.


Zaya tidak menyangka jika putranya itu akan banyak menahan perasaan setelah kepergiannya.


"Ayolah, Jagoan, jangan sedih. Kita akan berlibur sesuai dengan keinginanmu." Aaron tampak berusaha untuk menghibur Albern.


Albern membulatkan matanya.


"Benarkah, Pa?" tanyanya tak percaya.


"Tentu saja. Kita akan pergi ke Disneyland dan kita akan mengambil gambar yang banyak, lalu kita juga akan tidur bersama-sama. Bagaimana?" tawar Aaron.


Albern semakin membeliakkan matanya.


"Papa tidak bohong, kan?" bocah itu masih tampak tak percaya.


Aaron mengulas senyum tipis.


"Tentu saja tidak. Al bisa tanyakan kepada Mama jika tidak percaya." Aaron melirik sekilas kepada Zaya, seperti memberi isyarat untuk mengiyakan semua yang dipertanyakan Albern.


"Benar, Ma?" tanya Albern sembari menoleh kearah Zaya.


Zaya mengulas senyum tipis dan mengangguk, membuat Albern bersorak kegirangan.


"Yeah... Al akan ke Disneyland." pekiknya senang. Senyuman kembali menghiasi wajah tampan putranya itu, sehingga kekhawatirkan Zaya pun berkurang.


Setelah makan siang itu selesai. Aaron pun meminta sopirnya untuk mengantar Albern pulang terlebih dahulu, sebelum dia kembali kekantor.


Kini tinggalah Aaron dan Zaya dengan posisi duduk yang saling berhadapan.


"Aku harap kau tidak keberatan aku menyetujui keinginan Albern ." ujar Aaron memecah keheningan.


Zaya tampak berusaha menyungging senyuman


"Tidak apa-apa. Jika itu bisa membuat Albern senang, kenapa tidak?" jawab Zaya.


"Aku akan mempersiapkan semuanya. Jika sudah akan berangkat, aku akan menghubungimu lagi."


Zaya hanya bisa mengangguk. Sapertinya kali ini dia mesti menyiapkan diri berdekatan dengan Aaron kembali, demi putra semata wayangnya.


Mungkin berlibur bersama bukan ide yang buruk juga.


Zaya juga telah bekerja cukup keras akhir-akhrir ini, jadi dia sebenarnya juga membutuhkan liburan. Meski berlibur bersama dengan Aaron tak pernah terbayangkan sebelumnya dibenak Zaya, bahkan saat ia masih sebagai istri Aaron sekalipun.


Sepertinya akan sangat terasa canggung bagi Zaya maupun Aaron. Tapi jika ini demi kebahagiaan anak semata wayangnya, kenapa tidak?


'Baiklah... anggap saja dia tidak ada.' Zaya berbisik dalam hatinya.


Bersambung....


Votenya plis......


Happy reading❤❤❤