Since You Married Me

Since You Married Me
Cerita Pagi



Zaya memandang wajah Aaron yang terlihat damai. Suaminya itu masih tertidur dengan sangat lelap meski pagi telah menjelang.


Barusan Asisten Dean datang dengan membawakan pakaian ganti untuk Aaron. Dia juga menyampaikan pada Zaya jika hari ini Aaron mengambil cuti, sehingga tak perlu berangkat ke kantor.


Zaya pun akhirnya membiarkan Aaron tidur lebih lama lagi. Mungkin suaminya itu kelelahan karena sepulang kerja kemarin langsung menyusulnya kemari.


Zaya memutuskan untuk menyegarkan diri terlebih dahulu di kamar mandi. Lalu setelah berpenampilan rapi, Zaya kembali mendekati Aaron yang masih belum bangun juga.


"Honey, bangunlah. Tidak biasanya kamu bangun kesiangan seperti ini." Zaya membangunkan Aaron dengan lembut.


Aaron menggeliat.


"Sebentar lagi, Sayang. Aku masih mengantuk. Beberapa hari kemarin aku tidak bisa tidur." Gumam Aaron sambil masih memejamkan matanya.


Zaya terkesiap mendengar kata-kata Aaron. Suaminya ini tak bisa tidur, apakah karena ia pergi meninggalkan rumah? Sebegitu menderitakah Aaron karena Zaya kali ini? Rasa bersalah kembali datang menyusup ke dalam hati Zaya.


Zaya mengulurkan tangannya dan membelai wajah Aaron lembut


"Maaf, Honey. Aku sudah membuatmu kesusahan seperti ini. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi." Ujar Zaya lirih. Lalu di dekatkannya wajahnya pada wajah Aaron. Di ciumnya kening suaminya itu, kemudian ia berlalu keluar kamar.


Di dapur, Bu Nia sedang menyiapkan sarapan untuk Zaya. Perempuan paruh baya tersebut sedang membuat roti panggang dengan isian daging asap, telur dan keju lembaran. Aromanya tercium sangat harum hingga membuat perut Zaya menjadi lapar.


"Bu, buat untuk suami saya juga, ya." Pinta Zaya dengan sopan.


Bu Nia menoleh dengan agak kaget.


"Suami Nyonya ada disini?" Tanya Bu Nia.


Zaya mengangguk mengiyakan.


"Semalam suami saya menyusul kemari. Dia kelihatannya sangat kelelahan, sekarang masih tidur di kamar." Ujar Zaya lagi.


Bu Nia tersenyum dan mengangguk.


"Baiklah, Nyonya." Jawabnya.


"Minumnya, mau teh atau kopi, Nyonya?" Tanya Bu Nia lagi.


"Suami saya biasa minum teh herbal, kalau tidak ada, coklat panas saja."


Bu Nia kembali tersenyum dan mengangguk.


Tak berapa lama kemudian, sarapan pun siap. Zaya menaruh sarapan untuknya dan Aaron ke dalam nampan, kemudian membawanya ke kamar, setelah sebelumnya sempat berterima kasih pada Bu Nia.


Sesampainya di kamar, Zaya meletakkan nampan yang dibawanya di atas nakas. Lalu ia kembali duduk di pinggiran tempat tidur untuk membangunkan Aaron.


"Honey, bangunlah." Zaya mengecup pipi dan kening Aaron bergantian.


Bukannya bangun, Aaron justru menarik Zaya hingga ikut berbaring dan masuk kedalam pelukannya.


"Temani aku tidur sebentar lagi." Gumamnya dengan suara serak khas bangun tidur.


"Tidak mau." Zaya berusaha keluar dari pelukan Aaron. Suaminya itu tak mengenakan apapun dibalik selimutnya. Ia takut junior Aaron kembali menegang dan meminta pertanggung jawabannya pagi ini.


Aaron membuka matanya dan mengeratkan pelukannya.


"Kau membangunkanku dengan cara yang salah, Sayang. Jika caramu seperti tadi, adik kecilku juga ikut bangun." Ujar Aaron dengan nada menggoda.


Zaya memutar matanya jengah. Baru saja hal itu terlintas di pikirannya, sekarang malah menjadi kenyataan. Ia sungguh tidak tertarik mengulang kegiatan mereka malam tadi. Tubuhnya masih terasa pegal di beberapa bagian dan perutnya lapar. Yang diinginkannya sekarang adalah sarapan.


"Mandilah dulu, lalu sarapan. Sekalian cuci otakmu dengan sabun, biar pikiranmu bersih sedikit, tidak mesum." Gerutu Zaya.


"Memangnya siapa semalam yang memintaku untuk berbuat mesum?" Tanya Aaron.


Zaya melengos dengan wajah memanas. Ia benar-benar malu jika ingat kejadian semalam. Bagaimana dirinya bisa mengeluarkan kata-kata sensual untuk membujuk Aaron agar segera menyentuhnya.


Aaron pun terkekeh mendengarnya. Tak peduli entah Zaya sedang kesal atau pun sedang marah, mendengar suara Zaya ketika berbicara dengannya benar-benar menyenangkan untuk Aaron.


Aaron melepaskan Zaya dari pelukannya dan beranjak.


"Baiklah, aku mandi." Ujarnya sambil melenggang menuju kamar mandi dengan tubuh polosnya.


"Honey, tahu malu sedikit!" Teriak Zaya syok.


Aaron terkekeh dan menutup pintu kamar mandi. Lima belas menit kemudian, dia keluar dengan tubuh yang lebih segar.


Aaron duduk di pinggiran tempat tidur.


"Sayang, bantu aku mengeringkan rambutku." Pintanya pada Zaya sambil menyodorkan sebuah handuk kecil.


Zaya mendekat dan mengambil handuk yang disodorkan Aaron. Lalu masih dengan posisi berdiri, Zaya mulai mengeringkan rambut suaminya itu.


Aaron memeluk pinggang Zaya dari arah samping sambil mengusap lembut perut Zaya yang telah membesar. Dirasakannya calon anak mereka menendang disalah satu sisi perut istrinya itu.


"Dia bergerak." Ujar Aaron takjub.


"Dia memang sangat aktif akhir-akhir ini." Zaya menimpali sambil tersenyum.


Aaron mengecup perut Zaya dan di balas dengan tendangan aktif dari calon anaknya itu, hingga Zaya tertawa melihatnya.


"Anak kita tidak suka di cium Papanya, makanya dia menendang." Ujarnya geli.


"Siapa bilang. Dia sangat suka sampai-sampai merespon dengan begitu antusias seperti itu" Kilah Aaron.


"Dia tahu Papanya mesum, suka membuat Mamanya kewalahan. Lihatlah, sekarang dia menendang semakin keras karena mau protes." Ujar Zaya lagi saat merasakan perutnya di kembali ditendang dari dalam.


"Dia bukannya protes, Sayang, tapi sedang melakukan selebrasi. Karena dia tahu Papanya mesum hanya dengan Mamanya saja." Aaron tidak mau kalah.


Zaya kembali tertawa. Entah sejak kapan suaminya ini pandai berkilah. Diletakkanya handuk yang telah selesai ia gunakan untuk mengeringkan rambut Aaron. Lalu dirangkumnya wajah Aaron dengan kedua tangannya.


"Suamiku ini sudah pandai bersilat lidah rupanya." Gumam Zaya.


"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, Sayang. Lelaki polos dan lugu sepertiku ini mana bisa mana bisa bersilat lidah." Jawab Aaron tanpa beban.


Zaya kembali tertawa mendengar penuturan Aaron.


"Polos dan lugu, ya? Mana, aku mau lihat dulu seperti apa wajah lelaki polos dan lugu itu." Zaya kembali menangkup wajah Aaron dan pura-pura mengamatinya.


"Kamu kelihatannya memang lelaki jujur, tapi kalau polos dan lugu, aku tidak yakin..." Gumam Zaya sambil seolah-olah masih mengamati wajah Aaron.


"Kenapa tidak yakin?" Aaron menengadahkan wajahnya untuk menatap wajah Zaya.


"Entahlah...Tapi bagiku wajahmu ini jauh dari kata polos dan lugu. Kamu terlihat sangat piawai."


"Apa piawai itu maksudnya tampan?" Tanya Aaron.


Zaya kembali tertawa.


"Astaga, sekarang kamu juga narsis rupanya." Wajah Zaya memerah karena terlalu banyak tertawa.


"Aku tidak narsis, Sayang. Hanya mengatakan kenyataan saja. Tapi kalau menjadi narsis bisa membuatmu selalu tertawa seperti ini, mungkin aku akan belajar untuk menjadi narsis." Aaron mengulurkan tangannya menyentuh wajah Zaya. Lalu di belainya pipi Zaya dengan lembut.


Zaya menghentikan tawanya dan balas membelai rahang suaminya itu. Mereka saling memandang satu sama lain dengan tatapan yang dalam. Hanya Tuhan saja yang tahu sebesar apa kebahagiaan mereka saat ini.


Bersambung...


Nih emak kasih yang manis-manis, awas aja kalo pada diabet😁


Happy reading❤❤❤