Since You Married Me

Since You Married Me
Cuti Pernikahan



"Apa kau sudah Gila?"


Aaron melotot kearah Asisten Dean yang saat ini sedang berdiri dihadapannya sembari menundukkan kepala.


Asisten pribadinya itu sedang mengajukan cuti berkaitan dengan pernikahannya yang akan diadakan tak lama lagi. Tapi yang membuat Aaron agak tak terima adalah, lama waktu cuti yang saat ini sedang diajukan oleh Dean sungguh diluar batas kewajaran.


"Kau ini mau cuti menikah atau cuti melahirkan, Dean? Bagaimana mungkin kau ingin mengambil cuti selama tiga bulan?" Sergah Aaron tidak senang.


Saat ini Brylee Group sedang mengerjakan sebuah proyek besar. Sangat banyak yang harus dikerjakan Aaron, sehingga jika Dean tidak ada, akan sangat menyusahkan bagi Aaron.


Tentu tidak masalah jika Asisten Dean hanya cuti selama seminggu. Tapi kalau tiga bulan? Kenapa dia tidak resign saja sekalian.


"Apa setelah nenikah kau berencana untuk mengajak istrimu bulan madu keliling dunia, sampai perlu waktu selama itu?" Tanya Aaron lagi.


"Bukan seperti itu, Tuan." Jawab Asisten Dean.


"Saya sudah lama ingin membawa ibu saya untuk menjalani terapi, Tuan. Tapi karena terapinya memakan waktu yang lama dan harus di dampingi dengan fokus. Saya selalu mengurungkan niat saya itu. Jadi sekarang sekalian saja saya ambil cuti agak lama agar bisa sekalian mendampingi ibu saya menjalani terapi." Asisten Dean berusaha menjelaskan.


Aaron menghela nafasnya. Dia diam sesaat dan terlihat mempertimbangkan. Tujuan Asiaten Dean mengambil cuti panjang adalah untuk mengobati ibunya, bukan untuk bersenang-senang. Tentu saja Aaron harus menyetujuinya.


Lagipula, selama hampir enam belas tahun Asisten Dean bekerja padanya, tidak pernah sekalipun dia mengajukan cuti. Baru kali ini Asisten Dean meminta cuti pada Aaron, tentu saja Aaron harus memenuhinya.


Tapi jika tidak ada Asistennya ini, sudah pasti Aaron akan sangat kerepotan dibuatnya.


"Jika yang Anda pikirkan adalah pekerjaan saya yang akan terbengkalai selama saya cuti, Anda tidak perlu khawatir, Tuan. Saya sudah menyiapkan orang untuk menggantikan saya selama saya cuti. Dia masih terhitung kerabat saya. Kerjanya sangat rapi dan cekatan. Saya yakin Anda tidak akan kesulitan selama saya tidak ada, Tuan." Ujar Asisten Dean yang seakan tahu kekhawatiran Aaron.


Aaron berpikir sejenak.


"Apa dia bisa dipercaya?" Tanya Aaron kemudian.


"Saya bisa jamin, Tuan. Anda bisa mempercayai orang itu seperti Anda mempercayai saya. Dia sangat bisa di percaya." Jawab Asisten Dean meyakinkan.


Aaron kembali menimbang-nimbang.


"Baiklah." Gumam Aaron kemudian sembari menghela nafasnya.


"Aku menyetujui pengajuan cutimu itu. Tapi, Dean, jika sampai ada masalah yang ditimbulkan oleh orang yang kau rekomendasikan, pekerjaanmu jadi taruhannya. Aku tidak peduli jika nantinya kau adalah suami dari sahabat istriku."


"Tentu saja, Tuan." Asisten Dean membungkukkan tubuhnya kearah Aaron. Lalu pamit undur diri untuk kembali menyelesaikan pekerjaannya.


Sore harinya Dean membawa orang yang akan menggantikannya untuk bertemu Aaron. Setelah melakukan perkenalan singkat dan mendengarkan apa saja yang harus dikerjakannya, orang itu undur diri dan akan datang lagi besok.


Rencananya Dean akan mendampinginya selama seminggu ini agar penggantinya itu beradaptasi terlebih dahulu. Baru setelah itu Dean akan fokus pada pernikahannya yang akan diadakan dua minggu lagi. Dia hanya berharap semuanya berjalan lancar, sesuai dengan yang telah direncanakan.


___________________________________________


"Honey." Zaya memanggil Aaron yang terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri.


Aaron menoleh. Dilihatnya istrinya tengah dalam pose yang sangat menggoda. Jika saja ia tidak sedang berperut besar, pasti Aaron akan langsung menerkamnya saat itu juga.


"Kamu sedang memikirkan apa? Terjadi sesuatu dikantor?" Tanya Zaya sambil membenahi duduknya di tempat tidur.


"Tidak ada. Semuanya baik-baik saja." Jawab Aaron. Digesernya tubuhnya sedikit hingga merapat pada tubuh Zaya.


Zaya merebahkan kepalanya di dada Aaron dan tangannya terulur menyentuh wajah suaminya itu.


"Tapi kelihatannya ada yang sedang kamu pikirkan. Kamu sampai menghela nafas beberapa kali seperti itu." Ujar Zaya lagi.


"Tidak ada apa-apa, Sayang. Hanya saja Dean tadi mengajukan cuti." Jawab Aaron.


"Dia kan mau menikah, Honey. Tentu saja harus mengambil cuti. Mungkin setelah menikah mereka juga akan menghabiskan waktu bersama selama beberapa hari."


"Hah?" Zaya agak terkejut.


"Dia mau cuti melahirkan, ya?" Tanya Zaya lagi.


"Dia bilang mau membawa ibunya untuk menjalani terapi." Jawab Aaron sambil menghela nafasnya lagi.


Zaya melihat lagi kearah Aaron yang terlihat agak gelisah. Ia tahu suaminya ini takut semua pekerjaannya menjadi berantakan jika tidak ada Asisten Dean.


"Tapi selama ini dia memang tidak pernah mengambil cuti, jadi aku tentu tidak bisa menolaknya. Lagipula alasan cutinya juga untuk mengobati ibunya, kalau aku menolaknya, rasanya seperti aku tidak mengizinkan ibunya menjalani pengobatan."


Zaya mengelus pundak Aaron, berusaha untuk sedikit menenangkan suaminya itu.


"Sudahlah, Honey. Jangan terlalu khawatir. Semuanya akan baik-baik saja. Lagipula Asisten Dean hanya ingin cuti selama tiga bulan saja, bukannya ingin mengundurkan diri." Ujar Zaya berusaha menghibur.


Aaron melihat kearah istrinya itu, lalu tersenyum jahil.


"Mungkin kau harus melakukan sesuatu agar suamimu ini tidak khawatir lagi, Sayang." Ujar Aaron kemudian.


"Melakukan apa?" Tanya Zaya antusias. Ia belum menyadari jika suaminya itu sedang modus padanya.


"Cium aku." Bisik Aaron ditelinga Zaya. Sontak Zaya membeliakkan matanya dan memukul dada Aaron dengan sekuat tenaga. Aaron terkekeh sambil menangkap tangan Zaya berusaha untuk memukulnya lagi.


"Dasar mesum. Bahkan disaat kurang menguntungkan seperti sekarang pun masih berusaha untuk mencari kesempatan." Gerutu Zaya kesal.


"Bukankah kau tadi ingin menghiburku? Kalau kau menciumku, moodku pasti akan langsung baik." kilah Aaron.


Zaya terdiam. Terlihat memikirkan apa yang Aaron katakan tadi.


"Benar seperti itu?" Tanya Zaya.


"Tentu saja." Jawab Aaron.


"Tapi, Sayang. Jika kau ingin benar-benar menghiburku, lebih baik kau menggunakan mulutmu mencium dibagian ini." Aaron mrngarahkan tangan Zaya untuk memegang benda keramatnya.


Sontak Zaya mendelik sambil menarik cepat tangannya.


"Dasar mesum! Otakmu itu mungkin harus di semprot desinfektan, supaya virus mesumnya mati semua." Sungut Zaya kesal.


Aaron semakin terkekeh dibuatnya. Diraihnya Zaya untuk masuk kedalam pelukannya. Lalu di ciumnya pucuk kepala istrinya itu berulangkali dengan gemas.


"Aku tidak akan kenapa-napa tanpa Asisten Dean, Sayang. Tapi aku akan benar-benar hancur jika kau yang ingin pergi. Tetaplah bersamaku seperti ini. Jangan pernah berpikir untuk pergi." Guman Aaron sambil menciumi wajah Zaya.


"Katakan bagaimana aku akan pergi jika kau sudah menyanderaku dengan ini." jawab Zaya sembari menunjukan perut buncitnya.


Aaron kembali tertawa sambil memcium pipi Zaya sekali lagi.


"Sebenarnya Dean sudah membawa seseorang untuk menggantikannya sementara dia cuti. Aku menyuruhnya datang ke rumah kita besok pagi. Kau pasti ingin melihat dan mengenalnya juga." Ujar Aaron kemudian.


"Bukannya kamu biasanya tidak suka aku bertemu dengan lelaki lain ?" Tanya Zaya heran.


"Dia perempuan." Jawab Aaron enteng.


"APA???"


Bersambung...


Tenang gaesss, ini tidak seperti yang kalian bayangkan, kalo ga percaya liat aja di part selanjutnya 😅


Happy reading❤❤❤