
Evan masih menunduk dan terdiam, Sedangkan Zaya juga sepertinya tak berkeinginan membuka suara. Mereka hening. Sudah hampir sepuluh menit Evan dan Zaya larut dalam pikiran mereka masing-masing. Entah apa yang sedang mereka pikirkan. Yang jelas, ekspresi wajah mereka tak ada yang terlihat bagus.
"Ceritakanlah kehidupanmu selama ini, Dee." akhirnya Evan berbicara terlebih dahulu.
Zaya menoleh. Dia tak langsung menjawab.
"Cerita bagian mana yang ingin Kakak dengar?" tanya Zaya kemudian.
Evan terdiam sesaat.
"Semuanya." jawabnya.
"Sepertinya banyak hal yang telah aku lewatkan. Aku ingin mendengar semuanya sekarang. Aku ingin tahu bagaimana kamu menjalani hidupmu setelah aku pergi." tambah Evan lagi.
Ya. Evan tersadar, karena terlalu senang telah berhasil menemukan Zaya, dia jadi lupa untuk mencari tahu bagaimana kehidupan Zaya sebelumnya. Dia merasa semuanya terlihat baik-baik saja.
Dan pengakuan Zaya tadi seakan menamparnya. Kata-kata Zaya membuat Evan sadar jika Zaya pasti telah banyak menghadapi kesulitan selama kepergiannya. Hidupnya pasti sangat tidak mudah.
Kini Evan ingin tahu semuanya. Dia tidak ingin melewatkan satu hal pun tentang Zaya lagi. Evan ingin tahu sebesar apa kesalahannya karena telah terlalu lama meninggalkan Zaya, lalu dia ingin menebus semua kesalahannya itu. Dia ingin mengganti setiap penderitaan Zaya dengan kebahagiaan. Itulah tekadnya.
Zaya menghela nafas dan berpikir akan memulai cerita darimana. Ia terdiam dan merangkai kata dalam pikirannya. Dan setelah beberapa saat, Zaya pun akhirnya mulai membuka suara.
Zaya menceritakan semua hal tentangnya. Mulai dari masa kecilnya yang menjadi sulit dan menyedihkan setelah kepergian Evan, hingga masa remajanya yang penuh dengan perjuangan. Zaya juga menceritakan bagaimana ia membanting tulang untuk mengumpulkan sedikit uang agar tak merasakan kelaparan, bagaimana nilai-nilai sekolahnya yang sangat jelek karena otaknya yang sangat pas-pasan. Dan bagaimana ia setiap harinya menghadapi pembulian, baik saat berada dipanti, disekolah, maupun saat ia tengah bekerja. Zaya menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewatkan.
Hingga yang terakhir, Zaya menceritakan bagaimana ia bertemu Aaron.
Zaya bercerita awal ia bertemu lelaki itu, hingga insiden yang terjadi padanya bersama Aaron. Zaya juga menceritakan pernikahannya, serta bagaimana bahagianya ia saat kelahiran Albern. Hingga dibagian akhir, Zaya bercerita tentang perceraiannya.
Dibagian itu Zaya menjadi emosional. Ia mengatakan setiap kata dengan suara bergetar. Sesekali airmatanya juga jatuh, meski cepat-cepat ia hapus kembali.
Evan melihat jika lelaki yang bernama Aaron itu punya arti yang begitu besar bagi Zaya. Tampak dari cara Zaya menyebut namanya. Ada binar lain dimata Zaya saat ia menceritakan lelaki itu. Lalu Evan pun menyadari satu hal, Zaya mencintai lelaki itu dan sangat terpukul dengan perceraiannya. Kenyataan yang juga meremukkan hati Evan hingga tak berbentuk. Perempuan yang selalu ada didalam hatinya selama ini, ternyata mencintai lelaki lain.
Zaya menyudahi cerita tentang kehidupannya. Mereka berdua pun sama-sama terdiam.
Evan tampak sedang mencerna keseluruhan dari cerita Zaya. Sedangkan Zaya berusaha untuk menenangkan dirinya karena telah meluapkan emosi yang selama ini ia pendam. Keduanya hening untuk waktu yang agak lama.
"Maaf..." lirih Evan akhirnya.
Zaya menoleh.
"Maaf, karena telah membiarkanmu menghadapi semua itu sendirian." sambung Evan lagi.
Zaya hanya tersenyum.
"Semua ini bukan salah Kak Evan. Ini sudah menjadi jalan hidupku, tentu saja aku harus menjalaninya sendiri." balasnya.
Evan menghela nafas.
"Tetap saja salahku. Seandainya saja aku tidak pergi, kamu tidak perlu menghadapi semua penderitaan itu. Meski ada kesulitan, kita bisa menghadapinya bersama-sama."
Zaya menoleh kearah Evan dan kembali tersenyum.
"Jika Kakak tidak pergi, Kakak tidak akan menjadi seorang dokter spesialis jantung, dan aku juga tidak akan punya kafe sekarang. Mungkin aku akan tetap menjadi penjual roti dan Kakak mungkin akan jadi pengamen jalanan." Zaya tertawa kecil, membuat Evan mau tidak mau ikut tersenyum.
"Jangan menyesali yang sudah terjadi, Kak. Ini adalah skenario yang sudah Tuhan tuliskan untuk kita. Tidak mungkin yang terjadi tidak memiliki sisi baik sama sekali." sambung Zaya lagi.
"Semua penderitaan yang aku alami dalam hidupku, membuat aku mempelajari banyak hal. Aku menjadi lebih tegar dan lebih kuat. Setiap kesulitan yang ada mendewasakan pemikiranku, hingga aku bisa menjadi seperti sekarang ini."
"Pertemuanku dengan Aaron, pernikahanku dan perceraianku. Aku telah menerima semuanya. Tidak ada satu pun yang aku sesali. Karena aku yakin, jika Tuhan telah memilihkan jalan ini untukku, maka pasti akan ada hal baik setelahnya. Aku percaya itu." ujar Zaya lagi.
Kali ini Evan melihat kearah Zaya dan memandangnya dengan penuh makna.
"Ternyata sekarang kamu benar-benar telah dewasa, Dee." gumamnya sambil tersenyum.
Zaya juga ikut tersenyum. Lalu mereka sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Karena matahari yang mulai meninggi, mereka akhirnya memutuskan untuk kembali. Setelah berpamitan pada pengurus panti, mereka pun melaju bersama mobil yang dikendarai Evan.
Zaya melepaskan pandangannya kearah luar jendela. Melihat pepohohan yang berjajar dipinggir jalan dengan tatapan yang tidak bisa ditebak.
Sesekali Evan melirik kearah Zaya. Dia sedikit khawatir melihat Zaya yang terdiam dengan ekspresi tak terbaca seperti saat ini. Evan takut jika Zaya sampai tidak senang dengan kata-kata Evan tentang janji masa kecil mereka dulu dan menjauh dari Evan.
"Dee..." panggil kemudian.
Zaya menoleh.
"Kenapa?" tanyanya.
Evan tampak ragu untuk mengutarakan permintaan maafnya.
"Aku antar kamu langsung kerumahmu saja, ya, tidak perlu mampir kekafe lagi, sepertinya kamu sangat lelah dan perlu istirahat." ujar Evan akhirnya.
Zaya menoleh tak langsung menjawab.
"Lagipula aku belum pernah kerumahmu, jadi aku sekalian ingin berkunjung. Aku akan suruh orang untuk mengantar mobilmu kerumahmu nanti." lanjut Evan lagi.
Zaya akhirnya mengangguk.
"Baiklah..." jawabnya.
Evan tersenyum. Dia terlihat senang karena Zaya tidak menolaknya.
"Dee, maaf ya, jika kata-kataku dipanti tadi membuatmu tidak nyaman." Evan akhirnya memberanikan diri mengutarakan kekhawatirannya.
Zaya tersenyum.
"Tidak apa-apa." jawabnya.
"Kamu tidak akan menjauhiku, kan?" tanya Evan lagi.
Kali ini Zaya menoleh dan melihat kearah Evan.
"Tentu saja tidak. Kak Evan akan tetap menjadi Kakakku." jawabnya sambil kembali tersenyum.
Evan ikut tersenyum.
"Terima kasih." gumamnya lega. Ia pun kembali fokus pada kemudinya.
Tepat tengah haru mereka kembali sampai kepusat kota. Evan tampak merendahkan kecepatan mobilnya dan menepi disebuah restoran yang cukup mewah.
Zaya menoleh kearah Evan seperti sedang meminta penjelasan.
"Sudah waktunya jam makan siang, kita makan saja dulu." ujar Evan sambil membuka sabuk pengamannya.
Zaya tak menjawab. Ia hanya pasrah dan menuruti kata-kata Evan.
Mereka berdua pun turun dari mobil. Tampak Evan menggandeng tangan Zaya saat memasuki restoran itu. Zaya tak menolak dan membiarkan saja jemarinya digenggam oleh Evan.
Tapi kemudian langkah Zaya seketika berhenti. pandangannya bersirobok pada tatapan nyalang dari seseorang yang berada disalah satu meja restoran tak jauh darinya.
Zaya terkesiap. Secara impulsif ia menarik tangannya dari genggaman Evan, seperti orang yang kedapatan tengah berselingkuh.
Zaya menjadi semakin tak menentu, dari sekian banyak tempat, kenapa juga Evan harus mengajaknya kesini. Ia benar-benar sedang tidak ingin bertemu orang itu sekarang.
Dan tanpa diduga Zaya, orang itu bangkit dari duduknya dan melangkah kearah Zaya. Tatapannya semakin nyalang dan tak tertebak. Mendadak dada Zaya jadi bergemuruh. Ia benar-benar khawatir dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
'Mau apa kamu, Aaron?'
Bersambung....
Maaf ya, semalem tiba2 ada kendala, jd baru bisa kebut sekarang. Jangan lupa like, komen dan vote selalu.
Happy reading❤❤❤