Since You Married Me

Since You Married Me
Pengakuan



Zaya mematung. Ia tidak tahu harus menuruti permintaan Aaron atau segera pergi dari sana. Lalu dengan sedikit memberanikan diri, Zaya menoleh dan berusaha untuk melihat ke arah lelaki itu.


Aaron masih menatapnya dengan pandangan sayu dan penuh harap. Tak pernah sebelumnya Zaya melihat Aaron begitu tak berdaya seperti sekarang ini.


"Tolong temani aku beristirahat. Aku sangat lelah." Lirih Aaron lagi.


Kali ini Zaya benar-benar lunglai. Kalimat Aaron yang terakhir bagaikan sebuah batu besar yang menghantam hatinya.


Selama ini, sebanyak apa pun pekerjaan Aaron dan sebesar apapun permasalahan yang tengah dihadapinya, tak pernah sekalipun lelaki itu akan mengeluh. Dia adalah sosok yang kuat dan pantang menyerah. Kepiawaiannya dalam memecahkan setiap permasalahan yang ada, membuatnya jadi pribadi yang tak terkalahkan.


Tapi lihatlah sekarang, Aaron terlihat sangat- sangat tak berdaya. Lelaki yang biasanya selalu tangguh itu kini berada dititik terlemahnya.


Zaya pun akhirnya tak kuasa untuk pergi.


Ia kembali duduk diposisinya semula. Lalu bersamaan dengan itu, pegangan Aaron pada ujung bajunya pun terlepas.


"Terima kasih..." Bisik Aaron sambil sedikit menarik sudut bibirnya. Kemudian dia kembali memejamkan matanya untuk kembali tidur.


Zaya menatap wajah Aaron dengan seksama. Entah kenapa Zaya merasa wajah itu tak lagi secerah dulu. Guratan halus yang sebelumnya memang telah ada dikening Aaron, kini menjadi semakin menegas, mengisyaratkan jika lelaki ini telah berpikir terlalu keras.


Tangan Zaya terulur hendak menyentuh wajah yang kelelahan itu dengan lembut, namun urung dia lakukan. Setetes airmata kembali membasahi pipi Zaya. Hatinya remuk melihat Aaron yang sekarang. Dada Zaya terasa sakit, bahkan lebih sakit daripada saat Aaron meminta bercerai dengannya dulu.


Seperti bisa merasakan perubahan wajah Zaya, mata Aaron kembali terbuka dan menatap ke arah Zaya. Pandangan mereka pun bertemu untuk beberapa saat.


Aaron bangkit dari posisi berbaringnya dan bersandar pada sandaran tempat tidur. Tangannya terulur mengambil tisu di atas nakas, lalu menghapus air mata Zaya dengan tisu tersebut. Perlakuan yang tak pernah Zaya dapatkan sebelumnya.


"Kenapa menangis. Apa permintaanku terlalu merepotkanmu?" tanya Aaron.


Zaya diam tak menjawab. Kepalanya juga tidak menggeleng ataupun mengangguk untuk merespon pertanyaan Aaron. Tapi airmatanya kembali jatuh dan sekarang malah menjadi semakin deras.


"Apa yang terjadi, Aaron? Kenapa sekarang kamu menjadi seperti ini? Kemana perginya Aaron yang ku kenal dulu? Aaron yang selalu bisa mengatasi apapun. Aaron yang tak tertandingi dan mampu mengalahkan semuanya. Kemana perginya dia?" Zaya terisak tanpa bisa ia tahan lagi. Dadanya benar-benar sesak saat ini.


Kini berganti Aaron yang terdiam dan memandang Zaya sendu. Dia tak menyangka jika perempuan yang sudah sering disakitinya ini masih akan menangis untuknya. Rasa penyesalan pun semakin besar bersarang dihati Aaron. Bagaimana bisa dulu dia menyia-nyiakan sosok berharga dihadapannya ini.


"Kembalilah seperti dulu, Aaron. Jadilah orang yang selama ini aku kenal. Aku selalu ingin melihatmu bersinar dan berada dipuncak kejayaan. Kau dan Albern, kalian berdua harus hidup dengan sukses dan bahagia. Itulah do'a dan harapanku saat aku keluar dari rumah ini dulu. Aku tidak pernah ingin melihatmu menjadi seperti ini. Tolong jangan buat aku semakin bersedih."


Zaya menyeka airmatanya.


"Tidak masalah jika kamu bersama dengan orang lain dan melupakanku. Asalkan kamu selalu bahagia, walaupun bukan aku sumber kebahagiaanmu, aku akan ikut senang, Aaron. Sungguh...itu akan jauh lebih baik daripada aku harus melihatmu seperti ini."


Zaya tersedu hingga bahunya bergetar. Sedangkan Aaron masih tetap diam dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Aaron ingin memeluk Zaya, tapi tak bisa dia lakukan karena dia merasa tak berhak melakukan itu. Zaya bukan lagi istrinya.


"Maafkan aku, Zaya. Aku benar-benar bersalah. Aku telah banyak menyakitimu, tapi kau masih peduli dengan kebahagiaanku. Bagaimana aku harus menebus semua kesalahanku padamu selama ini, Zaya. Katakanlah." Aaron bergumam dengan suara serak. Sedangkan Zaya semakin terisak dibuatnya.


"Aku tidak bisa bahagia tanpamu. Aku bodoh karena selama ini menganggap hanya Albern saja sumber kekuatanku. Ternyata aku salah. Ternyata bukan hanya Albern, tapi justru kaulah kekuatan terbesarku. Aku bodoh karena telah mengusirmu dari kehidupanku, Zaya. Aku mengira tidak masalah melepasmu agar kau bisa terbebas dariku. Tapi ternyata aku malah menjadi gila dan tak bisa melakukan apa-apa tanpamu."


Zaya terkesiap.


Kalimat demi kalimat yang Aaron ucapkan benar-benar sangat mengejutkan. Bahkan telinganya sendiri mungkin meragukan apa yang saat ini ditangkapnya.


Aaron terdengar seperti tengah mencurahkan isi hatinya. Ini adalah kalimat-kalimat paling menyentuh yang pernah Aaron ucapkan pada Zaya, sepanjang Zaya mengenal lelaki ini.


Apakah ini yang disebut dengan pengakuan?


Benarkah Aaron saat ini sedang mengungkapkan pengakuannya kepada Zaya?


Zaya menatap lelaki itu lekat. Tidak ada kebohongan dimatanya. Dia benar-benar mengatakan yang sesungguhnya. Tapi tetap saja Zaya tidak bisa percaya begitu saja dengan apa yang didengarnya barusan.


Aaron tak bisa hidup tanpa Zaya, sungguh terdengar mustahil.


"Aku mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak bisa melanjutkan hidupku tanpamu. Sejak kau tidak ada dirumah ini, aku tidak bisa memikirkan apa-apa lagi selain dirimu. Aku sangat menyesal telah menceraikanmu, Zaya. Bahkan pekerjaanku pun ikut menjadi berantakan karena aku hanya terpaku pada penyesalanku."


Zaya masih tak bergeming. Dari sorot matanya jelas terlihat jika ia masih tidak percaya dengan kata-kata Aaron.


"Bukankah waktu itu kamu menceraikanku karena kekasihmu kembali? Kenapa kamu harus menyesal? Apa mungkin hubunganmu dengannya tidak berjalan lancar?" Tanya Zaya kemudian dengan agak tajam.


Aaron menautkan kedua alisnya.


"Kekasih?" Gumamnya bingung.


"Aku tidak pernah punya kekasih sebelumnya. Satu-satunya yang pernah menjadi kekasihku adalah kau sendiri. Itu pun hanya sehari." Lanjut Aaron lagi.


Zaya mendelik dengan wajah agak merona. Terbayang lagi diingatannya saat ia dengan tak tahu malunya meminta Aaron menjadi kekasih seharinya waktu itu. Kenangan yang indah sekaligus menyedihkan yang tak akan terlupakan bagi Zaya. Tapi benarkah itu pengalaman pertama juga bagi Aaron?


"Hanya kau yang pernah menjadi istri dan juga kekasihku, tidak ada wanita lain. Dan kedepannya juga aku hanya menginginkan dirimu. Hanya kau yang aku harapkan untuk menjadi istri sekaligus kekasihku," bisik Aaron lirih, tapi terdengar jelas di telinga Zaya.


Zaya meremang. Tak pernah terbayangkan olehnya akan berada dalam situasi ini setelah mereka bercerai. Berada di hadapan Aaron dan mendengarkan curahan hatinya, kenapa semua itu justru Zaya rasakan saat sudah tak menjadi istri Aaron lagi?


Zaya tak tahu harus tertawa atau menangis. Entah bagaimana nasib dirinya dan Aaron nanti. Sungguh ia tak mengerti kenapa Aaron mempunyai perasaan terhadapnya justru disaat Zaya mulai menikmati hidupnya tanpa lelaki itu. Zaya tidak tahu akan berakhir seperti apa ini nantinya.


Tiba-tiba Aaron menatap Zaya lebih dalam daripada sebelumnya.


"Maukah kau memaafkan semua kesalahanku dan memulainya lagi dari awal, Zaya?"


Bersambung....


Aku sih maunya up 2 part, tapi kerjaan ga abis-abis...😭😭😭


jgn lupa vote ya sayang


Happy reading❤❤❤❤