
Pagi selanjutnya, keadaan Aaron semakin parah. Ia bahkan tidak hanya mual, tapi juga mengalami muntah-muntah. Puncaknya saat Albern meminta dibuatkan nasi goreng seafood pada Bu Asma. Aroma amis dari makanan laut membuat Aaron mengeluarkan semua yang ada didalam perutnya hingga dia terkulai tak berdaya. Lelaki yang biasanya sangat tangguh itu akhirnya jatuh tak sadarkan diri.
Zaya benar-benar syok dibuatnya. Selama bertahun-tahun hidup bersama Aaron, baru kali ini Zaya melihat Aaron seperti ini. Ia panik dan tak tahu harus bagaimana. Tangisnya pecah begitu saja. Untung saja ada Bu Asma dan Asisten Dean yang langsung melarikan Aaron kerumah sakit terdekat. Asisten Dean juga tak lupa untuk menghubungi Ginna.
Selama perjalanan kerumah sakit, airmata Zaya tak berhenti mengalir. Zaya benar-benar khawatir pada kondisi Aaron. Ia takut suaminya itu mengidap penyakit yang cukup serius. Aaron dan dirinya baru saja kembali bersama, jika sampai terjadi hal yang buruk, Zaya tidak tahu bagaimana harus bertahan.
Mereka akhirnya sampai di rumah sakit yang dituju. Aaron pun langsung mendapatkan pertolongan di ruang gawat darurat.
Tak lama kemudian, Ginna datang dengan tergesa-gesa. Wajahnya terlihat begitu cemas. Tadi ia langsung saja pergi meninggalkan sebuah acara penting saat Dean memberikan kabar jika Aaron dilarikan kerumah sakit.
Ginna menghampiri Zaya dengan nafas memburu.
"Bagaimana keadaan Aaron?" Tanya Ginna pada Zaya.
"Dokter masih memeriksanya di dalam." Jawab Zaya sambil masih menangis.
Ginna tampak menetralkan nafasnya yang tak beraturan.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana kondisinya bisa seperti ini? Anak itu biasanya sangat kuat dan tidak mudah sakit." Ginna kembali mencecar Zaya dengan berbagai pertanyaan.
Zaya hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil sesekali menyeka airmatanya yang tak mau berhenti.
"Aku juga tidak tahu kenapa Aaron bisa begitu. Belakangan ini setiap pagi dia selalu merasa mual dan tidak tahan mencium aroma apa saja. Dia sudah memeriksakan dirinya pada dokter, tapi dokter bilang dia hanya sedang stres dan tidak ada masalah apa-apa pada lambungnya. Tapi...tapi..." Zaya tidak bisa meneruskan kata-katanya karena terisak semakin kuat.
Ginna tertegun melihat Zaya yang tampak sangat mengkhawatirkan Aaron. Tangannya pun terulur mengusap punggung menantunya itu.
"Tapi apa?" Tanya Ginna.
Zaya menghela nafas untuk menenangkan dirinya. Lalu ia berusaha mencari kata-kata yang tepat.
"Tingkahnya juga aneh akhir-akhir ini. Terkadang dia melakukan hal konyol yang tidak bisa aku pahami. Dia menjadi seperti orang lain, bahkan aku sendiri jadi heran dibuatnya. Aku benar-benar takut, Ma..." Zaya kembali tersedu. Kali ini Ginna memeluk Zaya sembari menepuk-nepuk pundak Zaya. Ia berusaha untuk menenangkan Zaya yang terlihat sangat khawatir.
Ginna tampak mencerna kata-kata Zaya tadi sembari berpikir. Lalu Ginna mengurai pelukannya dan menatap Zaya.
"Apa sekarang kau sedang hamil?" Tanya Ginna.
"Hah?" Zaya agak tertegun mendengar pertanyaam Ginna. Ia ingin menggeleng, tapi sejurus kemudian ia teringat jika ia memang belum mendapatkan tamu bulanannya.
Zaya terdiam dan mulai mengingat-ingat. Haid terakhir yang ia dapat adalah beberapa hari sebelum pernikahannya. Dan sekarang sudah hampir dua bulan ia dan Aaron menikah, itu artinya seharusnya Zaya sudah dua kali mendapatkan siklus bulanannya itu.
Zaya agak terperangah saat menyadarinya. Karena kesibukannya setelah menikah, ia sampai tidak menyadari jika ia sudah tidak mendapatkan haid lagi semenjak ia menjadi istri Aaron.
Zaya pun jadi bertanya-tanya, apakah itu artinya sekarang ia sedang hamil?
"Kenapa?" Suara Ginna membuyarkan lamunan Zaya.
Zaya agak tergagap. Dia tampak bingung harus bagaimana menyampaikan apa yang sedang ia pikirkan tadi pada Ginna.
"Ma, sebenarnya... aku baru teringat jika aku sudah tidak mendapatkan haid lagi sejak kami menikah, tapi aku belum tahu apakah aku hamil atau tidak." Ujar Zaya akhirnya.
Ginna tampak menghela nafasnya.
"Bagaimana bisa kau tidak menyadari jika sudah terlambat datang bulan." Gerutu Ginna.
"Jika dugaanku benar, yang terjadi pada Aaron ada kaitannya dengan kehamilanmu. Jadi sekarang kita harus pastikan kau benar-benar hamil atau tidak."
Zaya tidak membantah ucapan ibu mertuanya itu meski ia terlihat bingung.
"Dean, Kau tetap disini dan jagalah Aaron. Aku akan membawa Zaya memeriksakan dirinya ke dokter kandungan." Ujar Ginna pada Asisten Dean.
"Baik, Nyonya." Asisten Dean membungkukkan badannya pada Ginna. Kemudian Ginna pun membawa Zaya ke bagian Obgyn di rumah sakit itu.
Zaya hanya bisa mengiyakan apa yang dikatakan oleh Ginna padanya. Ia juga hanya menurut saat Ginna membawanya mendaftar dan mengambil nomor antrian. Pikiran Zaya melayang-layang. Dadanya berdegup tak beraturan. Tiba-tiba saja ia menjadi sangat gugup dan mulai berkeringat dingin. Benarkah ia hamil? Zaya jadi tidak sabar mengetahui kebenarannya.
Akhirnya setelah beberapa saat menunggu, Zaya pun mendapat gilirannya.
Ginna langsung meminta dokter melakukan USG untuk memastikan Zaya hamil atau tidak. Nyonya besar itu memang selalu to the point seperti biasanya, hingga dokter sekalipun tidak bisa membantah perkataannya.
Jantung Zaya berpacu semakin cepat saat dokter memberikan jel pada perutnya dan mulai mengerak-gerakkan alat USG pada permukaan kulit perutnya.
Dokter itu tersenyum saat melihat layar monitor. Kemudian menoleh kearah Zaya dan juga Ginna.
"Selamat, Nyonya. Menantu Anda memang sedang mengandung. Saat ini janinnya sudah menginjak usia tujuh minggu." Ujar Dokter itu sambil masih terus tersenyum.
Ginna mengangguk menanggapi. Bibirnya menarik sebuah sudut melengkung, membentuk sebuah senyuman tipis. Sepanjang Zaya menjadi istri Aaron, baru kali ini Zaya melihat ibu mertuanya itu tersenyum saat bersamanya.
Zaya senang saat mendengar dokter mengatakan jika dirinya hamil lagi. Tapi hal lain yang lebih membuatnya senang adalah saat ia melihat Ginna tampak sangat bahagia mendengar kehamilannya.
Sepertinya apa yang dikatakan Aaron waktu itu memang benar adanya. Ginna memang telah menerima Zaya sepenuhnya sebagai menantu, dan Zaya sangat mensyukuri hal itu.
Selanjutnya Ginna juga mengatakan pada dokter jika kondisi kehamilan Zaya agak tak biasa, karena disini Aaron lah yang mengalami morning sickness, bukannya Zaya.
Dokter pun menjelaskan jika Aaron kemungkinan besar mengalami sindrom kehamilan simpatik, atau dalam dunia kedokteran dikenal dengan sindrom couvade. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa hal. Diantaranya karena stres atau karena ikatan emosi yang kuat antara suami dan istri, sehingga saat istri hamil justru suami yang merasakan tanda-tandanya.
Zaya tak bisa berkata-kata saat mendengar penjelasan dokter. Ada rasa haru yang menyusup diruang hatinya. Aaron menanggung semua rasa tidak nyaman di awal kehamilan yang harusnya Zaya rasakan. Dan itu semua kemungkinan disebabkan karena ikatan emosi Aaron yang kuat pada Zaya. Hal itu sungguh membahagiakan disamping kehamilannya itu sendiri. Meski di sisi lain Zaya juga merasa sedih melihat Aaron yang tampak sangat menderita.
Setelah pemeriksaan selesai, dokter meresepkan vitamin pada Zaya. Dan sekali lagi Zaya merasa terharu. Ginna menyuruh Zaya duduk disalah satu bangku yang ada di koridor rumah sakit, sedangkan Ginna pergi menebus sendiri vitamin yang diresepkan dokter pada Zaya.
Zaya tak menyangka hari ini datang juga. Hari dimana ia mendapat cinta suami dan kasih sayang ibu mertuanya. Bagi seorang yatim piatu seperti dirinya, tentu saja hal itu sangat berarti bagi Zaya. Dan kini Zaya telah mendapatkan itu semua, sungguh ia tak menginginkan yang lain lagi. Zaya benar-benar telah merasa bahagia.
Selanjutnya Zaya dan Ginna menemui Aaron yang telah dipindahkan keruang perawatan. Lelaki itu sudah sadar. Ia tampak bersandar pada sandaran tempat tidur rumah sakit dengan tangan yang sedang diinfus. Keadaan Aaron sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya.
Ginna hanya sebentar berada disana. Ia langsung berpamitan karena harus segera kembali ke sebuah acara penting yang masih berkaitan dengan perusahaan. Asisten Dean juga melakukan hal yang sama.
Nampaknya Ginna maupun Asisten Dean sedang memberi ruang bagi Zaya dan Aaron untuk bicara.
Zaya mendekati Aaron dan duduk disamping lelaki itu.
"Sudah merasa baikan?" Tanya Zaya.
Aaron mengangguk. Lalu ia tersenyum saat melihat tangannya yang terpasang selang infus.
"Seumur hidupku baru sekarang aku merasakan ini." Gumam Aaron sambil menunjuk tangannya itu.
Zaya ikut tersenyum. Lalu dipeluknya Aaron dengan perasaan yang bercampur aduk.
"Honey, maafkan aku. Sekarang kamu yang harus merasakan semua ini, bukannya aku." Zaya bergumam dengan agak sedih.
Aaron menautkan alisnya karena tidak mengerti dengan yang dikatakan Zaya.
"Tapi kamu tidak usah khawatir, dokter bilang kamu akan baik-baik saja setelah trimester pertama." Lanjut Zaya lagi.
"Kau sedang membicarakan apa, Sayang?" Tanya Aaron bingung. Dia sungguh tidak mengerti dengan apa yang Zaya bicarakan tadi. Dia akan baik-baik saja setelah trimester pertama. Trimester pertama apa?
Zaya tampak menghela nafas untuk menetralkan debaran di dadanya.
"Setelah ini kita akan kedatangan anggota keluarga baru." Ujar Zaya akhirnya. Tapi bukannya mengerti, Aaron tampak semakin bingung mendengar kalimat terakhir Zaya.
Zaya pun kembali menghela nafas dan terlihat sedang mengatur kata. Dipandangnya Aaron dengan tatapan yang dalam.
"Honey..." Zaya menyentuh wajah Aaron lembut.
"Aku hamil."
Bersambung...
Jgn lupa like, komen dan vote ya gaesss
Happy reading❤❤❤