
Zaya menghidangkan teh hangat dan makanan kecil pada Ginna. Lalu ia juga duduk bersebelahan dengan ibu mertuanya itu.
Tadi setelah Aaron sempat kembali dan pergi lagi, tak berselang lama Ginna datang berkunjung. Tampaknya Ginna ingin memastikan jika Zaya dan Aaron baik-baik saja saat ini. Ginna sedikit khawatir saat semalam Aaron menyusul Zaya dan tak kembali. Ia takut terjadi hal yang tak diinginkan.
Dan melihat dari ekspresi wajah Zaya, Ginna sudah bisa menebak jika Zaya dan Aaron pasti bertengkar. Sepertinya menantunya ini masih belum piawai menangangi hal semacam ini. Mungkin sekarang ia harus turun tangan untuk membantu.
"Apa kalian bertengkar." Tanya Ginna
Zaya terlihat agak terkejut mendengar pertanyaan Ginna yang to the point.
"Ti-tidak." Zaya berbohong dengan agak terbata. Ia tidak tahu akan seperti apa reaksi Ginna jika Zaya memberi tahu mereka bertengkar.
Ginna menyesap teh yang dihidangkan Zaya dengan gaya elegannya, lalu menaruhnya lagi di atas meja. Kemudian ia melihat kearah Zaya sambil menghembuskan nafas panjang.
"Jika ingin berbohong, cobalah untuk lebih meyakinkan." Ujar Ginna kemudian.
"Wajahmu jelas sekali menunjukkan jika semalam kalian bertengkar." Tambahnya lagi.
Zaya agak menundukkan wajahnya karena malu kedapatan berbohong. Ia pun mencoba mengatur kata-kata yang tepat untuk menjelaskan situasinya bersama Aaron.
"Kami hanya berdebat." Kilah Zaya akhirnya.
"Apakah Aaron marah?" Tanya Ginna lagi.
Zaya tak langsung menjawab. Ia terdiam sesaat lalu menghela nafasnya.
"Sepertinya aku agak berlebihan semalam. Aku memintanya untuk mengganti Anna dengan sekertaris baru." Ujar Zaya akhirnya.
Ginna tampak mencerna apa yang dikatakan Zaya.
"Aku sendiri sebenarnya tidak mengerti kenapa reaksiku sampai seperti itu. Aku hanya merasa tidak nyaman dan hatiku seolah mengatakan jika ada yang tidak beres dengan Sekertaris Anna. Aku tahu jika aku terlalu berlebihan." Tambah Zaya lagi.
Ginna terdiam dan tampak berpikir.
"Sebenarnya tidak berlebihan, itu adalah insting seorang istri." Guman Ginna akhirnya.
"Maksud Mama?" Zaya menatap Ginna dengan raut penuh tanda tanya.
"Semalam aku juga merasa ada yang tidak biasa dengan sekertaris Aaron itu. Dia terlihat seperti sedang memainkan peran."
Zaya menautkan kedua alisnya dengan semakin bingung.
"Aku sudah lama mengenal gadis itu. Dia adalah seorang gadis cerdas dan pekerja keras. Dia satu-satunya sekertaris yang bekerja paling lama sejak Aaron menggantikan Papanya. Itu karena Anna satu-satunya sekeraris yang tidak pernah berusaha menggoda Aaron. Tapi akhir-akhir ini dia memang tampak berbeda." Ginna sedikit menerawang.
"Berbeda bagaimana, Ma?" Zaya tampak penasaran, tapi ia juga terlihat harap-harap cemas.
"Semalam saat dia menyapaku. Aku mencium aroma parfum sensual dari tubuhnya." Gumam Ginna.
"Parfum sensual?" Zaya mengulang yang Ginna katakan. Ia tampak semakin tak mengerti.
Zaya membulatkan matanya saat mendengar penuturan Ginna. Ia terperangah sampai menutup mulutnya dengan telapak tangannya sendiri. Apa yang didengarnya benar-benar membuatnya terkejut. Zaya memang sudah menduga jika semalam Anna sengaja ingin berdansa dengan Aaron, tapi ia tidak berpikir Anna sampai ingin melakukan hal sejauh itu.
"Benarkah seperti itu?" Zaya masih terperangah tak percaya.
"Akhir-akhir ini penampilan Anna juga agak berbeda. Dia terlihat lebih modis dan berdandan lebih dari biasanya. Dan yang membuatku semakin curiga adalah dia tidak pernah menjalin hubungan dengan lelaki manapun sejak menjadi sekertaris Aaron. Padahal untuk gadis seperti dirinya, tentu saja tidak akan susah mencari pasangan. Bahkan di perusahaan pun banyak yang menyukainya. Aku curiga jika dia sudah mengincar Aaron sejak lama."
Ginna tampak semakin serius. Sedangkan Zaya terlihat syok saat mendengar apa yang dikatakan oleh ibu mertuanya itu.
"Tapi bukankah dia sudah bekerja dengan Aaron sejak lama, kenapa baru sekarang berusaha untuk mendekati Aaron. Kenapa tidak sejak dulu saat Aaron belum menikah, atau saat kami bercerai tempo hari?" Tanya Zaya ingin tahu.
"Itu karena selama ini Aaron adalah sosok yang dingin dan tak tersentuh perempuan manapun. Jika dia sedikit saja menunjukkan rasa tertariknya pada Aaron, bisa dipastikan Aaron akan memecatnya saat itu juga. Tapi sekarang Aaron sudah tidak sedingin dulu. Semenjak menikah lagi denganmu, dia menjadi sosok yang lebih hangat, sehingga mungkin dia berpikir saat ini dia punya celah untuk mendekati Aaron. Apalagi sekarang Aaron punya kesan baik terhadapnya, jadi Aaron tidak akan curiga dengan apa yang dia lakukan."
Ginna terdiam sejenak.
"Aku sangat yakin jika Aaron tak akan tertarik untuk berselingkuh. Tapi yang aku khawatirkan bagaimana jika dia dijebak. Dengan kepercayaan yang sudah dia dapat dari Aaron. Bisa saja jika saat ini Anna sedang merencanakan sesuatu. Dan melihat dari kecerdasan dan pengendalian dirinya yang luar biasa, Anna pasti tidak akan tampil keluar sebagai perebut suami orang. Dia pasti akan tampil sebagai sosok pelipur lara yang akhirnya membuat jatuh cinta."
Zaya semakin menautkan kedua alisnya sembari mengeleng-gelengkan kepalanya.
"A-pa maksudnya itu, Ma?" Tanya Zaya tak mengerti.
"Aku curiga jika mengajak Aaron berdansa dengannya semalam memang bertujuan agar kau dan Aaron bertengkar." Jawab Ginna gamblang.
"Mungkinkah seperti itu, Ma? Bukankah Aaron saja bahkan tidak tahu jika aku pergi kesana. Lalu bagaimana dia bisa tahu?" Tanya Zaya tak percaya.
Ginna tersenyum tipis. Lalu melihat kearah Zaya.
"Kau ini benar-benar naif rupanya. Jika seseorang sudah merencanakan sesuatu yang besar, tentu hal seperti itu tidaklah sulit untuk dicari tahu. Aku merasa jika Anna tidaklah sesederhana kelihatannya." Jawab Ginna.
"Dia mungkin juga memanfaatkan kondisi psikismu yang sedang tidak baik karena pengaruh kehamilan, jadi kemungkinan untuk membuatmu marah dan bertengkar dengan Aaron sangatlah besar. Jika sampai kau tidak hati-hati, kau dan Aaron akan masuk kedalam perangkap yang disiapkannya."
Zaya tampat tercenung sembari menelan salivanya dengan susah. Kemudian ia mengangkat wajahnya dan melihat kearah Ginna.
"Tapi, Ma. Bagaimana Mama bisa memahami hal ini dengan mudah?" Tanya Zaya kemudian.
Ginna tersenyum sembari menatap kearah depan. Matanya tampak agak sedikit menerawang.
"Trik perempuan penganggu semacam ini, tentu saja aku sangat paham dibandingkan dengan siapapun. Karena aku telah sering menghadapi hal ini dulu jauh sebelum dirimu."
Bersambung...
Next...
Vote duluš
Tetep like dan komen
Happy readingā¤ā¤ā¤