
Setelah beberapa saat, Zaya berhenti memukuli Aaron. Tapi tangisnya masih belum mereda. Tampaknya stok airmata ibu hamil satu ini sedang dalam kapasitas penuh, pasalnya saat ini masih belum ada tanda-tanda ia akan berhenti menangis. Entah apa yang ada dibenaknya hingga ia terlihat sepilu ini.
Aaron masih setia memeluk Zaya sembari membelai kepalanya istrinya itu. Kali ini tidak ada penolakan dari Zaya meski airmatanya masih terus mengalir.
"Sayang, berhentilah menangis. Nanti janin yang ada dalam kandunganmu ikut sedih." Aaron berusaha membujuk Zaya. Tangannya juga mengusap perut Zaya yang mulai membuncit.
"Kamu sadar aku sedang hamil, lalu kenapa kamu tega melakukan ini padaku?" Tanya Zaya serak.
"Memangnya aku melakukan apa?" Tanya Aaron balik.
"Kamu selingkuh, Aaron. Aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri, apa kamu masih mau mengelak juga?"
Aaron tampak menghela nafasnya.
"Memangnya apa yang kau lihat tadi? Kami tidak melakukan apapun selain makan siang bersama."
"Kamu tidak mau menemaniku makan siang, tapi kamu malah makan siang dengan perempuan itu. Kamu pasti punya hubungan khusus dengan dia, kan?" Zaya masih bersikeras dengan asumsinya.
"Sayang, dia itu investor yang telah menyelamatkan perusahaan kita." Ujar Aaron akhirnya. Dia tampak berusaha untuk mencari kalimat yang bisa meyakinkan Zaya.
Zaya terdiam dan mengangkat wajahnya. Matanya menatap Aaron dengan penuh tanda tanya.
"Suaminya, Adrian, adalah temanku saat kami masih sama-sama kuliah dulu. Mereka punya perusahaan besar yang berbasis di Amerika. Kebetulan saat ini mereka ingin merambah Asia juga. Lalu kami bertemu saat aku sedang mencari investor untuk perusahaan kita, hingga akhirnya dia setuju untuk membantu."
Zaya tampak mencerna kata-kata Aaron sambil masih menatap lekat suaminya itu.
"Sekarang kerjasama sudah terjalin. Hari ini seharusnya aku bertemu dengan Adrian untuk membahas rencana kerjasama selanjutnya. Tapi berhubung Adrian tiba-tiba berhalangan hadir, akhirnya istrinya yang menggantikan." Jelas Aaron lagi.
Zaya menautkan kedua alisnya.
"Kenapa istrinya yang menggantikannya?" Tanya Zaya masih dengan raut curiga.
"Karena istrinya adalah Wakil Direktur perusahaan mereka." Jawab Aaron lagi.
"Benarkah?" Zaya agak terkejut.
Aaron pun mengangguk meyakinkan.
Zaya terdiam agak lama. Ia terlihat sedang menimbang-nimbang antara harus mempercayai yang dikatakan Aaron atau tidak.
"Kamu... tidak sedang membohongiku, kan?" Tanya Zaya kemudian.
Aaron tersenyum.
"Tentu saja tidak, Sayang. Untuk apa aku berbohong?"
Zaya yang melihat senyum Aaron jadi kembali teringat bagaimana suaminya itu tersenyum pada perempuan tadi. Hatinya yang semula sudah agak dingin jadi kembali memanas.
"Kamu bohong!" Sergahnya sambil berusaha lepas dari pelukan Aaron. Tapi dengan sigap Aaron menahan tubuh Zaya agar tak lepas dari dekapannya.
"Aku tidak bohong, Sayang. Kenapa kau tidak mempercayai suamimu sendiri. Mana mungkin aku selingkuh, aku hanya mencintaimu. Apa kau tidak bisa melihatnya?" Aaron tampak putus asa karena tak kunjung bisa meyakinkan Zaya.
Aaron tampak mengerutkan keningnya. Dia mulai tak memahami kemana arah perkataan Zaya. Kenapa pembahasan tentang kesalahpahaman ini malah merambah kemana-mana? Dia ingin sekali mengatakan dengan tegas jika dia tidak selingkuh dan tuduhan Zaya padanya itu sungguh tidak masuk akal. Tapi jika Aaron melakukan itu, sudah bisa dipastikan jika Zaya akan kembali meangis dengan keras seperti tadi.
Aaron benar-benar bingung bagaimana caranya menenangkan istrinya ini.
"Jika tadi aku tersenyum, itu hanya untuk menjaga etika kesopanan, Sayang. Aku bahkan tidak menyadari kalau dia punya wajah yang cantik. Aku tidak terlalu memperhatikan wajahnya. Bagiku wajah semua wanita sama saja. Ada mata, hidung, bibir, pipi...semuanya sama saja."
Zaya mendelik mendengar kata-kata Aaron. Ia kesal, tapi di sisi lain juga ingin tertawa.
"Bagiku, satu-satunya wanita cantik yang pernah kutemui adalah istriku. Dia tidak hanya cantik, tapi juga sangat baik. Aku benar-benar beruntung bisa menikahinya." Aaron mengecup kening Zaya dengan penuh perasaan.
"Jangan menangis lagi, Sayang. Kau membuatku takut dan juga sedih. Apa kau tahu, melihatmu mengeluarkan airmata seperti ini, hatiku terasa sakit. Aku jadi merasa gagal karena tidak bisa membahagiakanmu untuk yang kedua kalinya." Ujar Aaron lagi. Kali ini suaranya terdengar sendu.
"Percayalah padaku, aku mungkin akan melakukan kesalahan apa saja kecuali selingkuh. Aku akan lebih memilih mati daripada harus menduakanmu, Sayang." Aaron menatap Zaya dalam sambil merangkum wajah istrinya itu. Sedangkan Zaya hanya bisa tertegun mendengar kata-kata Aaron.
"Jika aku selingkuh, kau berhak mrmbunuhku dengan kedua tanganmu sendiri. Bila perlu aku akan membuat surat pernyataan, kepemilikan semua asetku akan berpindah padamu jika aku terbukti berselingkuh. Aku akan jatuh miskin jika aku mengkhianatimu. Apa kita perlu membicarakan hal ini pada pengacaraku?" Aaron kembali menatap Zaya yang kini juga sedang menatapnya.
Zaya terdiam agak lama sebelum akhirnya airmata kembali mengalir di pipinya. Ia memeluk Aaron erat sambil kembali menangis.
"Maaf..." Lirihnya serak.
Aaron membalas pelukan Zaya dan kembali mengecup pucuk kepala istrinys itu. Dia lega karena akhirnya Zaya menerima penjelasannya.
"Mulai sekarang, yakinilah satu hal, Sayang. Apapun yang terjadi, bagaimana pun keadaannya, percayalah jika aku hanya mencintaimu. Hanya kau satu-satunya perempuan yang aku inginkan untuk selalu berada di sisiku, saat ini dan juga nanti. Ingatlah itu selalu."
Zaya semakin menenggelamkan tubuhnya didalam pelukan Aaron. Sungguh bodoh ia meragukan suaminya. Bukankah sudah sangat jelas jika Aaron bukanlah lelaki yang suka bermain perempuan. Entah setan apa yang mempengaruhinya hingga ia sampai menuduh suami setianya ini berselingkuh. Zaya pun merutuki dirinya sendiri.
"Maafkan aku, Honey. Aku hanya takut kamu meninggalkanku. Ada begitu banyak perempuan diluar sana yang menginginkanmu. Aku takut kamu tergoda. Aku tidak bisa membayangkan jika kamu berpaling dariku..." Zaya kembali terisak.
"Dan harusnya kau tahu jika mereka semua tak sebanding denganmu." Aaron menimpali sembari kembali merangkum wajah Zaya dengan kedua tangannya. Dihapusnya airmata Zaya dan di ciumnya setiap sudut wajah istrinya itu.
"Berjanjilah kau tidak akan menangis karena hal seperti ini lagi." Pinta Aaron kemudian.
Zaya menatap Aaron, kemudian mengangguk pelan.
"Jangan menghancurkan barang-barang lagi. Para pelayan akan ketakutan jika kau nengamuk seperti tadi." Pinta Aaron lagi.
Zaya membulatkan matanya dan kembali menenggelamkan wajahnya di dada Aaron karena malu. Ia baru sadar jika kelakuannya tadi sudah di luar batas. Entah bagaimana ia akan menghadapi para pelayan dirumahnya setelah ini.
"Maaf..." Zaya kembali bergumam lirih sambil memeluk Aaron erat.
Aaron tersenyum dan membalas pelukan Zaya. Dia lega karena akhirnya bisa mengakhiri drama kali ini. Semoga saja tidak ada drama lain setelah ini. Aaron sungguh berharap kedepannya mereka akan baik-baik saja tanpa drama apapun lagi.
Bersambung...
Damai lagi, padahal sih menurut emak lebih seru berantem😁😅😅
Jgn lupa like, komen dan votenya ya
Happy reading❤❤❤