Since You Married Me

Since You Married Me
Zivanna Brylee



Zaya melihat kearah putrinya yang terlelap sambil mengulas senyuman. Bayi cantik itu tertidur setelah puas menyusu pada Zaya, sehingga Zaya jadi semakin leluasa mengamati setiap bagian wajahnya satu persatu.


"Dia sangat cantik." Suara Aaron membuat Zaya mengangkat wajahnya.


"Putri kita sangat cantik, seperti Mamanya. Aku harap sifatnya juga akan sama seperti Mamanya." Tambah Aaron lagi.


Zaya tersenyum dan kembali melihat kearah putrinya.


"Apa kamu sudah menyiapkan nama untuk putri kita?" Tanya Zaya pada Aaron.


Aaron mengangguk, lalu merapatkan tubuhnya pada Zaya yang sedang menggendong putri mereka sambil bersandar di brankarnya.


Tangan Aaron terulur untuk membelai lembut wajah mungil yang tengah terlelap itu.


"Zivanna..." Gumam Aaron.


"Namanya Zivanna Brylee." Ujarnya lagi.


Zaya mendongakkan wajahnya untuk melihat kearah Aaron.


"Di buku yang aku baca beberapa waktu yang lalu, Zivanna itu artinya kemenangan. Putri kita adalah simbol kemenangan atas semua cobaan yang telah kita hadapi selama ini. Dia adalah kebanggaan dan kehormatan kita di masa depan. Dan aku juga berharap, kelak dia akan menjadi sosok mengagumkan yang akan mampu menang dari segala permainan hidup."


Zaya tertegun sambil masih menatap Aaron.


"Aku ingin kelak dia menjadi seorang pemenang seperti Mamanya." Tambah Aaron lagi.


Kali ini Zaya tersenyum sambil menurunkan pandangannya.


"Terima kasih, Tuan Aaron." Ujar Zaya lirih.


Aaron melihat kearah Zaya dengan penuh tanda tanya. Ada apa dengan panggilan Zaya kepadanya barusan?


"Tuan Aaron... Bukankah itu adalah panggilanku padamu saat kita baru saling mengenal dulu?" Tanya Zaya kemudian.


"Saat itu aku hanyalah seorang gadis yatim piatu yang hidup sebatang kara. Aku datang dengan mengaku telah hamil anakmu. Kamu bisa bayangkan, seorang gadis yatim piatu rendahan, datang mengaku hamil anak dari seorang lelaki yang bermartabat tinggi. Jika itu lelaki kaya pada umumnya, dia mungkin sudah menyingkirkan gadis itu untuk selama-lamanya agar tak merusak reputasinya."


Zaya menghela nafasnya sesaat.


"Tapi kamu memilih untuk menikahiku. Memberikan aku tempat tinggal. Dan juga memberikan aku kehormatan sebagai Nyonya di rumah itu. Kamu juga memberikan semua yang kubutuhkan hingga aku tidak lagi kekurangan apapun. Tapi aku terlalu serakah. Setelah semua yang kamu berikan padaku, aku malah menginginkan hatimu juga. Aku rasa tidak ada orang yang lebih tidak tahu malu di dunia ini dibandingkan diriku." Zaya kembali tersenyum dengan menundukkan kepalanya.


"Apa yang kau katakan, Sayang?" Tanya Aaron sambil menyentuh pipi Zaya lembut.


Zaya mengangkat wajahnya dan memandang Aaron dalam.


" Aku hanya ingin berterima kasih, Honey. Untuk semua yang sudah kamu berikan padaku. Kamu telah memberikan lebih dari yang seharusnya kamu berikan. Aku sungguh berterima kasih." Jawab Zaya.


Aaron menggeleng.


"Kau tidak perlu berterima kasih padaku. Apapun yang kau dapatkan hari ini adalah hasil dari kerja keras dan perjuanganmu sendiri. Bahkan saat menjadi istriku dulu, kau sudah sangat banyak menderita. Aku justru yang harusnya berterima kasih karena kau sudah bersedia memberiku kesempatan kedua." Ujar Aaron sambil membelai lembut pipi Zaya.


Zaya terdiam sesaat.


"Sejak kecil aku selalu memimpikan punya sebuah keluarga. Dan kini kamu mewujudkan impianku itu. Sekarang aku punya keluarga yang utuh. Dua orang putra dan putri yang mengagumkan, serta Mama dan Papa yang menyayangiku seperti orangtuaku sendiri. Seandainya bertahun-tahun lalu aku tidak bertemu denganmu. Mungkin saat ini aku akan tetap hidup sebatang kara."


Aaron tertegun dan menatap Zaya sendu. Lalu diraihnya Zaya untuk masuk kedalam pelukannya. Aaron memeluk istri dan anaknya secara bersamaan. Lalu di ciumnya kedua perempuan kesayangannya itu secara bergantian.


"Apa kau tahu, Sayang. Terkadang aku berpikir, insiden yang menimpa kita beberapa tahun yang lalu memang telah seharusnya terjadi. Mungkin itulah cara Tuhan untuk mempersatukan kita." Ujar Aaron kemudian.


"Dan terlepas dari bagaimana dulu kita bertemu, aku sangat bersyukur kita bisa bersama. Aku harap kita berdua akan selalu seperti ini. Menua bersama dan menyaksikan putra-putri kita tumbuh, kemudian melahirkan cucu-cucu yang lucu untuk kita."


Aaron dan Zaya saling menatap dengan tersenyum satu sama lain.


"Mama. Papa." Suara Albern tiba-tiba saja membuyarkan momen syahdu antara kedua orang tuanya tadi.


Zaya dan Aaron menoleh secara bersamaan. Tampak Ginna yang tadi pamit untuk pulang telah datang kembali dengan membawa serta Albern.


Bocah lelaki itu berhambur kearah Zaya, lalu berhenti saat menyadari jika Zaya sedang menggendong bayi mungil di tangannya.


Albern memandang Zaya dan bayi itu secara bergantian.


Aaron tersenyum dan beranjak dari duduknya. Lalu dia mendekati Albern dan mengendong bocah itu.


"Benar. Itu adiknya Kakak Al. Namanya Zivanna."Jawab Aaron sambil membawa Albern mendekati Zaya.


Aaron duduk di kursi dekat brankar Zaya sambil memangku Albern. Sedangkan Albern sendiri masih terus memandangi Mama dan adik bayinya secara bergantian.


"Kenapa?" Tanya Aaron saat melihat ekapresi Albern yang terlihat tidak terlalu senang.


"Kenapa adik Al wajahnya mirip Mama, Al kok tidak?" Albern malah balik bertanya.


Zaya dan Aaron saling pandang dengan sedikit menahan senyum.


"Itu karena adik Al perempuan dan Mama juga perempuan. Jadi Mama dan adik wajahnya mirip." Aaron berusaha memberi penjelasan yang bisa di terima bocah cerdas itu.


"Tapi kan Al juga anak Mama. Kenapa Al tidak mirip Mama juga?" Tanya Albern lagi. Tampaknya ia tidak bisa menerima penjelasan dari Aaron.


Zaya tersenyum geli melihat putranya ini. Terlihat jelas jika saat ini Albern sedang merasa cemburu.


"Ma, boleh minta tolong gendong Zivanna sebentar?" Tanya Zaya pada Ginna kemudian.


Ginna yang sedang duduk di sofa bangkit dan mendekat kearah Zaya, lalu mengambil Zivanna dari gendongan Zaya.


"Dia tertidur dengan sangat lelap." Gumam Ginna sambil mengamati wajah cucu perempuannya itu.


"Iya. Dia baru saja menyusu." Jawab Zaya. Lalu Zaya beralih melihat kearah Albern yang duduk di pangkuan Aaron.


"Papa, bisa bawa Kakak Al duduk didekat Mama? Tanya Zaya pada Aaron.


Aaron pun mengerti. Diangkatnya Albern dan dudukkannya putranya yang sedang cemburu itu di samping Mamanya.


Zaya tersenyum dan membawa Albern kedalam pelukannya.


"Apa Kakak Al tidak senang dengan wajah tampan yang Kakak Al miliki sekarang?" Tanya Zaya kemudian sambil membelai


lembut wajah Albern.


Albern terdiam. Ia hanya melihat kearah Zaya tanpa menjawab apa-apa.


"Wajah Kakak Al ini di dapat dari wajah Papa yang tampan. Kalau Kakak Al tidak suka, Papa pasti akan merasa sedih. Masa anak Mama dan Papa dua-duanya hanya mirip Mama? Harus ada yang mirip Papa juga, kan, supaya adil." Ujar Zaya lagi.


Albern masih melihat kearah Zaya tanpa mengeluarkan kata-kata. Tapi kali ini ia mengangguk. Sepertinya ia lebih bisa menerima penjelasan dari Zaya.


"Tapi walaupun wajahnya mirip Papa, tentu saja Mama tetap menyayangi anak Mama ini. Kakak Al adalah jagoan Papa yang akan melindungi Mama dan Adik Zivanna kalau sudah besar nanti."


Albern tampak menautkan kedua alisnya.


"Kan ada Papa yang melindungi Mama?" Tanya Albern.


Zaya tersenyum. Lalu di dekatkannya bibirnya pada telinga Albern.


"Nanti kan Papa sudah tua, tidak akan bisa melindungi Mama lagi." Bisik Zaya.


Albern tampak menahan senyum sambil melihat kearah Aaron.


"Iya. Mama benar." Jawab Albern. Wajahnya tampak sudah kembali ceria.


"Sayang, apa yang kau katakan pada Albern tadi. Kau tidak mengajari dia yang aneh-aneh, kan?" Tanya Aaron dengan agak curiga.


"Tentu saja tidak." Jawab Zaya sambil kembali membawa Albern kedalam pelukannya. Lalu ibu dan anak itu kembali tersenyum, membuat Aaron yang melihatnya juga ikut tersenyum.


Tapi yang paling senang di sana adalah Ginna. Perempuan paruh baya ini tampak memandang putra, menantu dan cucu-cucunya secara bergantian dengan senyum tipis di wajahnya. Ginna berharap Aaron akan selalu berbahagia dengan keluarga kecilnya ini.


Bersambung...


Tetep like, komen dan vote


Happy reading ❤❤❤