Since You Married Me

Since You Married Me
Jamuan Makan Malam



Tanpa terasa mobil yang membawa Zaya dan Ginna telah sampai di tempat tujuan. Ternyata jamuan makan malam yang diadakan oleh kolega mereka di selenggarakan di sebuah hotel bintang lima.


Ginna berjalan memasuki ruangan dengan menggandeng tangan Zaya. Tampak beberapa orang yang berpapasan dengan kedua wanita cantik beda generasi ini membungkuk hormat.


Zaya melihat sekilas kearah jemarinya yang di genggam Ginna. Bibirnya terlihat membentuk sebuah garis melengkung. Zaya tersenyum dengan sangat manis. Rasanya ia seperti menemukan ibunya yang telah lama hilang. Zaya sungguh tak menyangka jika Nyonya Ginna yang terhormat, yang dulu sempat tak menerimanya, kini berjalan dengan menggenggam tangannya.


Benar apa yang dikatakan Aaron dulu. Tak ada yang bisa menebak akan seperti apa kehidupan dimasa depan. Apapun bisa terjadi.


Zaya bersyukur karena kehidupannya menjadi semakin baik seiring berjalannya waktu.


Jamuan makan malam pun di mulai. Banyak orang penting yang hadir disana. Mereka semua rata-rata adalah kalangan pengusaha, dan sebagian adalah pejabat publik.


Zaya memperhatikan kearah meja. Ada banyak sekali sendok, garpu dan pisau terletak dihadapannya dengan berbagai ukuran, serta berbagai fungsi. Untung saja sebelumnya Zaya sudah lebih dulu mempelajari tentang aturan table manner, hingga sedikit banyak ia tahu apa yang harus digunakan untuk ia makan nantinya.


Melihat Zaya yang nampak tertegun, Ginna mencondongkan tubuhnya kearah Zaya.


"Apa kau merasa kesulitan?" Tanya Ginna dengan berbisik.


Zaya menoleh. Lalu ia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku bisa mengatasinya, Ma. Jangan khawatir." Jawab Zaya pelan.


Ginna mengangguk menanggapi.


Semua orang pun mulai menyantap jamuan yang dihidangkan. Mulai dari makanan pembuka, dan dilanjutkan dengan makanan utama.


Ada begitu banyak makanan enak yang tersaji, jika saja sedang ada di rumah, Zaya pasti akan memuaskan perutnya. Tapi saat ini ia tengah berada dalam jamuan resmi. Sebagai Nyonya Muda keluarga Brylee, tentu saja ia harus makan dengan porsi yang sesuai dengan perempuan kelas atas lainnya, yang menurut Zaya sangatlah tidak mengenyangkan.


Sungguh sangat disayangkan, ada banyak makanan enak yang bisa dimakan, tapi tidak bisa makan dengan kenyang. Ternyata menjadi seorang Nyonya perlu pengorbanan juga pikir Zaya.


Tiba-tiba seorang pelayan menawarkan menu seafood kepada Zaya. Zaya hampir saja menerimanya karena tak tahu bagaimana caranya menolak.


"Tidak, terima kasih. Menantuku alergi makanan laut." Tolak Ginna pada pelayan itu.


Zaya agak terkejut mendengarnya. Ia tak menyangka jika Ginna sampai tahu Zaya alergi terhadap apa.


Pelayan yang sebelumnya menawarkan menu seafood itu pun meminta maaf dan membungkuk hormat, sebelum akhirnya berlalu.


"Terima kasih, Ma." Ujar Zaya.


"Lain kali kau harus tahu bagaimana caranya menolak. Apa kau mau pulang dari sini dengan wajah membengkak?" Tanya Ginna marah.


"Maaf, Ma. Aku tidak akan mengulanginya." Zaya terdengar seperti seorang anak kecil yang ditegur karena melakukan kesalahan. Sedangkan Ginna hanya menghembuskan nafasnya sambil kembali ke posisi duduknya semula.


Lalu tibalah waktunya hidangan penutup. Beberapa kudapan manis tampak di hidangkan pelayan di meja makan.


Kali ini Zaya benar-benar harus berjuang keras untuk tidak mengambil banyak. Semenjak hamil, Zaya memang sangat menyukai makanan manis, hingga dia bisa menghabiskan beberapa porsi. Dan sekarang ia dihadapan beberapa kudapan yang benar-benar mengugah seleranya. Sungguh sebuah cobaan jika tidak bisa makan sepuasnya.


Ginna kembali mencondongkan kepalanya kearah Zaya.


"Makanlah sedikit saja. Jika kau masih ingin, pulang nanti kita bisa memesan dari restoran ini." Bisiknya pada Zaya.


"Bila perlu kita pekerjakan koki yang membuatnya tadi." Tambah Ginna lagi.


Zaya membulatkan matanya karena agak terkejut dengan kalimat terakhir Ginna. Buru-buru Zaya menoleh dan menggeleng.


"Tidak perlu, Ma. Aku tidak terlalu ingin. Makan sedikit disini saja sudah cukup." Jawab Zaya dengan setengah berbisik juga.


Ia benar-benar malu kali ini. Bagaimana bisa ia ketahuan ingin makan banyak oleh ibu mertuanya. Bisa-bisa setelah ini Zaya mendapatkan predikat rakus dari Ginna. Mereka baru saja dekat satu sama lain, Zaya tidak ingin memberi kesan yang konyol dan memalukan pada Ginna.


"Tidak perlu sungkan. Saat hamil, lebih baik makan banyak daripada tidak bisa makan." Ujar Ginna lagi. Kali ini Zaya tidak bisa menyangkal lagi. Memang benar jika semenjak hamil nafsu makannya jadi sangat besar. Sepertinya setelah ini Zaya akan menuruti ide Ginna untuk memesan kudapan yang ada dihadapannya ini untuk memuaskan hasrat makannya.


Akhirnya makan malam pun selesai. Zaya bisa bernafas lega karena selama penjamuan ia tak melakukan kesalahan. Kini mereka hanya tinggal menikmati acara hiburan yang lebih santai sembari mengobrol.


Meskipun obrolannya juga tak bisa dibilang obrolan santai. Pasalnya yang mereka obrolkan tak jauh-jauh dari harga saham dan bisnis.


Rasanya Zaya ingin segera mengakhiri ini dengan cepat dan merebahkan dirinya diatas tempat tidur. Bahkan jamuan makan malam seperti ini pun terasa melelahkan bagi Zaya. Dirinya benar-benar harus belajar banyak tentang bagaimana menjadi seorang Nyonya pada Ginna setelah ini. Sungguh tak semudah kelihatannya.


Tak lama kemudian, perhatian orang-orang teralihkan. Seorang tamu istimewa datang meski agak terlambat. Zaya pun ikut menoleh pada sosok yang sedikit membuat heboh itu.


Senyum Zaya mengembang saat tahu yang datang adalah suaminya, Aaron Brylee, Direktur Utama perusahaan Brylee Group.


Lelaki itu selalu saja menjadi pusat perhatian dimanapun dia berada. Beruntung sekarang semua orang sudah tahu jika Zaya adalah istrinya, sehingga Zaya tidak terlalu merasa khawatir lagi.


"Dia bilang ada hal penting yang harus dikerjakan. Tapi ternyata bisa datang juga." Gumam Ginna saat melihat Aaron baru muncul.


Zaya hanya tersenyum menanggapi. Jika saja saat ini ia tidak sedang hamil, tentu ia akan bergegas menghampiri Aaron. Tapi dengan perutnya yang sudah mulai membesar seperti sekarang, tentu ia hanya bisa menunggu Aaron yang menghampirinya.


Tapi sejurus kemudian senyum Zaya memudar. Ternyata Aaron tak datang sendiri. Dia didampingi Anna, sekertaris pribadinya yang saat ini sudah tampil cantik dengan balutan gaun indah yang sangat pas membalut tubuhnya.


Mereka berdua berjalan berdampingan layaknya pasangan. Zaya tahu jika ini bukan kali pertama Anna mendampingi Aaron menghadiri acara semacam ini. Tapi saat melihatnya secara langsung seperti sekarang ini, entah kenapa hatinya menjadi sangat tidak nyaman. Perlahan ada semacam api yang teesulut didalam diri Zaya hingga membuatnya perlahan merasa panas.


Kemudian terlihat pemilik perusahaan yang mengadakan jamuan datang menyapa Aaron, dan meminta Aaron turun ke lantai dansa. Zaya juga melihat saat Anna meminta izin Aaron untuk menjadi pasangan dansanya.


Dada Zaya bergemuruh. Ia sangat berharap Aaron menolak permintaan Anna. Seandainya saja Aaron menerima, maka dapat dipastikan jika Zaya akan meledak saat itu juga.


Bersambung...


Meledak seru kali yak...😅


tetep like, komen dan vote


Happy reading❤❤❤