Since You Married Me

Since You Married Me
Pelangi Setelah Badai



Setelah malam itu, hubungan Zaya dan Aaron berkembang dengan sangat pesat. Keduanya menjadi sangat lengket satu sama lain, seperti kertas yang bertemu dengan lem.


Mereka banyak menghabis waktu bersama, baik dengan mengajak serta Albern ataupun tidak. Sepertinya kedua orang itu benar-benar sedang di mabuk cinta, sampai-sampai mereka tidak menyadari jika orang-orang disekitar mereka merasa takjub sekaligus iri dengan kemesraan mereka berdua.


Aaron yang tegas dan kaku, menjelma menjadi seorang budak cinta jika telah bersama dengan Zaya. Orang yang melihat tidak akan menyangka jika lelaki itu adalah pewaris Brylee Group yang terkenal dingin pada perempuan.


Siapa sangka, jika sosok lembut Zaya bisa menaklukan hati seorang Aaron Brylee yang selama ini tak tersentuh. Banyak perempuan yang memandang iri pada Zaya, pasalnya kali ini Aaron tak berniat menyembunyikan hubungannya dengan Zaya seperti dulu.


Aaron tak peduli lagi dengan apapun anggapan orang-orang. Baginya kini, menjaga hati Zaya adalah yang terpenting. Aaron tidak ingin Zaya kembali tersakiti. Dia tidak mau jika sampai Zaya terluka sekali lagi karena dirinya.


Melindungi keselamatan Zaya juga harus melindungi perasaan Zaya. Itulah yang Aaron tanamkan dibenaknya saat ini.


"Hei!" Suara Kara mengejutkan Fina yang tengah memperhatikan sesuatu diam-diam.


"Kak Kara mengagetkan saja." Sungut Fina saat tahu Kara sengaja menggodanya.


"Begitu saja kaget... Lihat apa, sih?" Kara tampak ingin tahu dengan apa yang Fina lihat.


"Sstt.... Jangan berisik...." Bisik Fina.


"Lihat itu, Bu Bos dengan lelaki yang belakangan ini sering mengantarnya." Fina kembali berbicara dengan nada rendah, nyaris berbisik. Ditunjuknya pemandangan yang menarik perhatiannya sejak tadi dengan menggunakan dagunya.


Kara menoleh kearah yang ditunjuk oleh Fina. Tampaklah di area parkir yang letaknya agak jauh dari mereka, Zaya dan Aaron sedang membuat drama percintaan di pagi hari.


"Lelaki tampan itu pasti pacarnya Bu Bos." Gumam Fina.


"Dia mantan suami Bu Bos." Ralat Kara.


"Apa?" Sontak Fina terpekik dan membelalak kearah Kara. Giliran Kara yang berlonjak kaget karena pekikan Fina.


"Fina! Membuat kaget saja. Pelan-pelan kenapa kalau mau bicara." Berganti Kara yang protes.


Fina yang menyadari kekonyolannya hanya bisa tersenyum meringis.


"Maaf, Kak. Aku terlalu syok. Aku pikir lelaki yang bersama Bu Bos itu pacarnya. Ternyata mantan suaminya." Ujarnya sambil mengacungkan kedua jarinya tanda damai.


"Mereka terlalu manis untuk pasangan yang telah bercerai, seperti orang yang sedang berpacaran saja." Gumam Fina lagi.


Kara mengangguk setuju.


"Sepertinya mantan suami yang menjadi pacar." Kara kembali meralat.


"Hah? Adakah yang seperti itu?" Tanya Fina heran.


"Tentu saja ada. Itu contohnya." Kara menunjuk kearah Zaya dan Aaron yang masih belum menyelesaikan drama percintaannya.


"Ah, sudahlah. Lebih baik kita teruskan pekerjaan kita saja." Ajak Kara kemudian.


Fina yang masih bengong keheranan pun menurut dan mengikuti Kara masuk kedalam kafe. Mesti hatinya bertanya-tanya, ia menahan diri agar tidak terlihat terlalu ingin tahu dengan urusan orang lain, terutama bosnya sendiri.


Sementara itu, Zaya yang datang ke kafe dengan diantar oleh Aaron, tampak sedang membujuk lelaki itu agar tidak mengantar jemputnya. Zaya ingin pergi ke kafe dengan mengendarai mobilnya sendiri seperti biasa, tapi setiap pagi mobil Aaron sudah terparkir didepan rumahnya sebelum ia sempat pergi.


Aaron ingin memastikan jika Zaya selamat saat pulang pergi dari kafe miliknya.


Sungguh Zaya merasa sekarang Aaron sudah sangat berlebihan. Bukankah dulu juga dia biasa melakukannya sendiri, kenapa juga sekarang tidak boleh. Entah semua perhatian dari Aaron ini merupakan anugerah ataupun musibah bagi Zaya, Zaya tidak tahu.


"Sore nanti aku jemput." Ujar Aaron dengan nada tidak ingin dibantah.


Zaya tak menjawab. Ia sedikit kesal karena permintaannya tidak digubris Aaron. Zaya ingin membawa mobil sendiri, tapi Aaron bersikeras untuk mengantar Zaya kemanapun Zaya mau pergi. Tampaknya lelaki ini benar-benar menjadi posesif sekarang.


"Tidak bilang i love you dulu?" Goda Aaron saat Zaya turun dari mobil dengan raut kesal. Lalu Aaron juga turun dari mobil dan menyusul Zaya.


"Pergilah. Aku mau masuk ke kafe." Sergah Zaya saat Aaron sudah tepat dihadapannya.


"Apa kau tidak dengar, aku mau kau bilang i love you dulu."


Zaya mendelik dan melengos.


"Aku tidak mau."jawabnya.


"Bilang i love you, nanti sore aku ajak kau ke suatu tempat." Tawarnya.


"Aku jamin kau pasti akan menyukainya." Tambah Aaron lagi.


Zaya terdiam sejenak, terlihat sedang mempertimbangkan.


"Baiklah..." Ujar Zaya akhirnya. Zaya pun berbalik dan menghela sejenak.


"I love you," ujar Zaya malas.


"Love you, too." Aaron langsung menyahut sembari melambaikan tangannya pada Zaya.


Sore harinya, Aaron benar-benar membawa Zaya kesuatu tempat.


Awalnya Zaya tidak tahu kemana mereka akan pergi. Tapi kemudian, ia merasa mengenal jalan yang mereka lalui.


Tak lama kemudian mereka pun sampai ditempat tujuan.


Benar apa yang Zaya tebak sebelumnya, mereka pergi kepantai yang dulu pernah Zaya datangi bersama Aaron.


Zaya dan Aaron menyimpan alas kaki mereka terlebih dahulu didalam mobil sebelum akhirnya mereka berakhir dengan bermain air.


Zaya tertawa dengan sangat cerah, hingga membuat Aaron jadi tersenyum melihatnya. Lelaki itu kemudian melangkah mendekati Zaya.


"Terakhir kali kita datang kesini, Kau sangat sedih saat kita pulang. Hari ini tidak boleh ada kesedihan lagi. Aku ingin kau terus tertawa seperti ini, Zaya." Ujar Aaron pelan.


Zaya terdiam. Entah apa bedanya, tapi rasanya ada yang lain dengan Aaron.


"Aku ingin kau selamanya menjadi teman hidupku, dalam suka maupun duka. Apapun yang terjadi, tetaplah bersamaku hingga akhir." Aaron menghentikan kata-katanya, lalu mengambil sesuatu dari saku celananya.


Aaron mengeluarkan sebuah kotak kecil dan membukanya dihadapan Zaya. Sebuah cincin bertahtakan berlian tampak tertengger disana.


Zaya terperangah saat melihat cincin itu. Apakah artinya ini? Apa sekarang Aaron sedang melamarnya.


Belum hilang keterkejutan Zaya, tiba-tiba saja Aaron berlutut dihadapan Zaya, dengan satu kaki bertumpu pada pada tanah yang dipijaknya.


"Zaya Diandra, will you marry me....again?" Tanyanya.


Zaya mematung.


Ia terdiam beberapa saat karena masih belum bisa mempercayai apa yang terjadi saat ini.


Aaron Brylee, sosok yang sangat didambakan Zaya selama lebih dari tujuh tahun lamanya, kini tengah berlutut dihadapannya, menunggu sebuah jawaban.


Aitmata tiba-tiba saja lolos dari pelupuk mata Zaya. Ia menangis sembari menganggukkan kepalanya.


"Ya, Aaron. Aku mau..." Lirihnya.


Aaron tersenyum dan bangkit. Lalu disematkannya cincin itu dijari manis Zaya.


"Terima kasih, Zaya. Aku mencintaimu. Mulai saat ini aku akan berusaha sebaik mungkin untuk membahagiakanmu." Aaron berujar mantap.


"Aku juga mencintaimu, Aaron." Ujarnya disela sembari terisak.


Zaya sangat bahagia. Meski sudah tahu Aaron akan mengajaknya menikah, Zaya tidak menbayangkan jika Aaron akan melamarnya seperti ini. Tampaknya pengorbanan Zaya selama ini tak berakhir sia-sia.


Pelangi akhirnya muncul setelah badai. Sangat indah, hingga Zaya sampai tak bisa mendeskripsikan sebesar apa kebahagiaannya hari ini.


Bersambung...


Yang nanyain Evan kemana? sekarang dia lg sibuk, tapi sebentar lagi bakal nongol kok


Tetep vote ya


Happy reading❤❤❤