Since You Married Me

Since You Married Me
Lihatlah Putri Kita



"Bagaimana keadaan istri saya, Dokter?" Tanya Aaron begitu dokter bedah itu berada di hadapannya.


"Istri Anda baik-baik saja, Tuan. Operasinya berjalan sukses, kondisinya saat ini juga stabil. Istri Anda punya kemauan hidup yang sangat besar, sehingga bisa melewati masa kritisnya." Jawab dokter itu.


Aaron menghela nafas lega. Setelah beberapa jam berada dalam situasi yang mampu mengombang-ambingkan hatinya, akhirnya dia mendengar kabar baik juga.


Seulas senyum terbit di wajah Aaron yang tadinya terlihat sangat berantakan.


"Untuk sementara ini, istri Anda masih belum sadarkan diri karena pengaruh bius. Tapi Anda tidak usah khawatir, istri Anda akan sadar setelah beberapa saat." Tambah dokter itu lagi.


Aaron yang terlalu senang mendengar penuturan dokter tadi hanya bisa mengangguk tanpa bisa berkata-kata. Seperti ada belenggu yang terlepas, Aaron benar-benar merasa lega. Nafasnya jauh menjadi lebih ringan dari sebelumnya.


"Saya permisi dulu, Tuan." Dokter itu berlalu dari hadapan Aaron.


"Terima kasih, Dokter." Aaron akhirnya bisa mengeluarkan suaranya sebelum dokter itu benar-benar menghilang dari pandangannya.


Dokter itu berhenti sesaat dan mengangguk pada Aaron, lalu melanjutkan langkahnya lagi.


Tak lama kemudian, pintu ruang operasi kembali terbuka. Beberapa perawat mendorong brankar yang diatasnya terbaring tubuh tak berdaya Zaya.


Aaron tercenung melihat wajah pucat dengan mata terpejam itu. Setelah beberapa jam tanpa kepastian, akhirnya Aaron bisa melihat lagi wajah istrinya. Dadanya kembali bergemuruh dan di penuhi luapan emosi. Seandainya saja dia tidak segera mengendalikan diri, mungkin saat ini dia sudah berhambur memeluk istrinya yang tengah terbaring itu.


"Istri Anda akan kami di pindahkan ke ruang perawatan, Tuan." Ujar salah seorang perawat yang mendorong brankar Zaya.


Aaron mengangguk, lalu mengikuti ke tempat Zaya di pindahkan.


Setelah Zaya masuk ke ruang perawatannya, para perawat itu kembali memeriksa Zaya dengan teliti. Dan begitu di rasa sudah tidak ada masalah lagi, barulah para perawat itu pamit undur diri.


"Istri Anda akan bangun saat pengaruh biusnya sudah habis, Tuan. Kondisinya stabil. Saat ini hanya tinggal menunggunya sadar untuk bisa kembali melakukan pemeriksaan pasca operasi." Salah satu perawat memberi informasi pada Aaron sebelum pergi.


Lagi-lagi Aaron hanya mengangguk tanpa bisa berkata-kata. Dia terlalu senang hingga tidak tahu harus berkata apa.


"Kalau begitu, kami permisi dulu, Tuan." Para perawat itu berlalu meninggalkan Aaron yang masih tertegun menatap wajah istrinya.


Aaron melangkahkan kakinya beberapa langkah untuk semakin mendekat pada Zaya. Lalu setelah dia telah berada persis di samping Zaya, tangan Aaron terulur membelai pipi Zaya dengan lembut.


"Terima kasih karena sudah bertahan." lirih Aaron.


"Istrahatlah, setelah ini kita akan melihat putri kita bersama-sama." Ujar Aaron lagi sambil membelai kepala Zaya juga dengan tak kalah lembut.


Lalu di dekatkannya wajahnya pada wajah pucat Zaya. Dan di ciumnya kening istrinya itu dengan penuh perasaan.


"Terima kasih untuk semua yang telah kau lakukan, istriku. Mulai sekarang tujuan hidupku hanyalah untuk membahagiakanmu. Tidak akan aku biarkan kau meneteskan airmata lagi. Aku berjanji padamu, setelah ini kau hanya boleh menangis karena bahagia saja. Maafkanlah suamimu ini karena telah sangat terlambat menyadari betapa berharganya dirimu. Maafkanlah aku karena telah menyia-nyiakanmu di masa lalu." Aaron kembali membelai wajah Zaya sembari menatapnya dalam.


Zaya masih setia terpejam. Ia masih tetap tak bergeming layaknya putri tidur. Meski begitu Aaron sudah merasa cukup senang. Dia tak menuntut Zaya akan menanggapinya. Dia juga tak akan mempermasalahkan apa-apa lagi terhadap Zaya. Mulai saat ini, Aaron memutuskan untuk tak akan mengeluh bagaimana pun keadaan Zaya dimasa depan.


Tak berapa lama kemudian, Ginna datang setelah mendengar Zaya telah dipindahkan ke ruang perawatan. Ibu mertua Zaya itu tak lagi di temani suaminya, karena belum lama tadi Carlson telah pulang lebih dulu karena tiba-tiba ada yang harus di urusnya.


Entah bagaimana caranya, Ginna datang dengan membawa serta cucu perempuannya. Mungkin dia menggunakan identitasnya sebagai seorang Nyonya Besar untuk membuat para perawat yang bertugas menjaga para bayi mengizinkannya membawa keluar cucunya dari ruang perawatan bayi lewat dini hari seperti ini.


"Mama?" Aaron tampak keheranan melihat Ginna yang datang dengan membawa putrinya juga.


"Aku tahu kau pasti penasaran dengan wajah putrimu." Ujar Ginna sambil mengangkat cucunya itu dari troli dan menggendongnya. Lalu Ginna menyerahkan bayi mungil itu ke dalam gendongan Aaron.


Aaron terkesiap saat melihat wajah bak boneka yang ada dalam gendongannya kini. Bibir merah yang tipis dan hidung yang mungil. Putrinya cantiknya ini sangat mirip dengan sang istri, Zaya.


Ujung jari Aaron terulur untuk menyentuh ujung hidung mungil putrinya, membuat mata bayi itu terbuka. Dan tampaklah manik berwarna sedikit kehijauan seperti yang dimiliki Aaron.


Aaron menarik bibirnya membentuk sudut melengkung. Putrinya ini mirip Zaya, tapi memiliki mata seperti miliknya. Sangat cantik, sesuai dengan yang dikatakan Ginna.


Sungguh miris jika mengingat sebelumnya Aaron sempat memilih untuk tak menyelamatkan putrinya ini. Beruntung Tuhan masih bermurah hati untuk menyelamatkan keduanya. Jika tidak, mungkin Aaron akan hidup dalam penyesalan selamanya.


"Sayang, apa kau mau melihat Mama?" Tanya Aaron pada bayi mungil itu.


Bayi itu seakan melihat kearah Aaron sambil sesekali mengedipkan matanya yang indah, membuat Aaron menyimpulkan jika putrinya itu mengiyakan pertanyaannya.


Aaron membawa putrinya mendekat kearah brankar Zaya. Lalu Aaron duduk dikursi menghadap kearah istrinya itu dengan menggendong putrinya.


"Sayang, ini Mama. Sekarang Mama sedang beristirahat, tapi tidak lama lagi Mama pasti akan bangun untuk melihatmu." Ujarnya lirih.


"Lihatlah, wajah kalian bahkan sangat mirip. Mama pasti akan merasa cemburu karena Papa akan lebih mencintaimu nanti." Ujar Aaron lagi sambil tersenyum.


"Mama juga pasti akan merasa kesal, karena setelah ini dia tidak akan menjadi yang paling cantik lagi di rumah kita. Ada putri Papa ini yang akan menyainginya."


Aaron kembali menyentuh ujung hidung putrinya itu dengan masih tetap tersenyum. Dia benar-benar merasa bahagia hingga tak bisa lagi mendeskripsikan perasaannya saat ini. Lalu di pandangnya Zaya dengan tatapan yang sarat akan makna.


"Zaya..." Aaron memanggil Zaya dengan pelan dan lirih. Hatinya kembali tergetar setiap kali mengucapkan nama itu, seolah nama Zaya adalah sebuah mantra yang amat sakral dan tak boleh sembarangan diucapkan.


"Segeralah bangun, Sayang." Pinta Aaron masih dengan nada lirih. Matanya kembali berkaca-kaca karena menahan berbagai emosi yang kini bercampur di dalam dirinya.


"Lihatlah putri kita..."


Bersambung...


tetep like, komen dan vote ya gaesss


Happy reading❤❤❤