
Aaron tertegun beberapa saat. Matanya lekat menatap Zaya masih dengan raut tak percaya.
"Apa sekarang aku sudah tertidur dan sedang bermimpi?" Gumamnya.
Zaya menggeleng.
"Kamu masih terjaga, Aaron." Ujarnya.
"Aku disini, sekarang kamu harus kembali menjadi Aaron yang selama ini aku kenal. Kamu harus berjuang untuk membuat Brylee Group pulih kembali. Jangan pernah berpikir untuk menyerahkan kepemilikan perusahaanmu pada pihak lain, oke?" Zaya tersenyum meyakinkan.
Aaron pun ikut tersenyum.
"Apa kau mengkhawatirkanku?" tanyanya pada Zaya.
"Tidak. Aku hanya khawatir dengan masa depan Albern jika terjadi apa-apa denganmu." Jawab Zaya cepat.
"Benarkah? Tapi kenapa sepertinya kau sangat mengkhawatirkanku sekarang?" Aaron menatap Zaya yang juga sedang menatapnya. Untuk sesaat mereka kembali saling menatap satu sama lain.
Tiba-tiba Aaron bangkit dari duduknya dan bersimpuh di hadapan Zaya.
"Jangan pergi lagi, Zaya. Aku sangat membutuhkanmu ...," lirihnya sambil menunduk di hadapan perempuan itu.
"Maafkan aku, karena telah terlalu banyak menyakitimu. Aku menyesali kebodohanku itu setiap saat. Aku berjanji pada diriku sendiri, jika kau memberikan aku satu kesempatan lagi, akan kuganti tujuh tahun penderitaanmu dengan seumur hidup membahagiakanmu."
Zaya terdiam beberapa saat. Entah kenapa kata-kata Aaron barusan begitu menyentuh hatinya dan membuatnya terharu.
Zaya sangat tahu karakter Aaron. Lelaki ini tidak akan menjanjikan apapun yang tidak sanggup dia penuhi. Tapi jika dia sudah berjanji, dia akan mempertaruhkan apapun untuk memenuhinya. Aaron selalu memegang setiap kata-katanya. Zaya tak pernah meragukan itu.
Dan sekarang lelaki itu berjanji akan mengganti penderitaan Zaya selama ini dengan kebahagiaan seumur hidup.
Hati Zaya benar-benar terasa penuh dan menghangat. Tanpa sadar ia membalas pelukan Aaron dengan sama eratnya.
Zaya juga menginginkan Aaron, itulah kenyataanya. Faktanya, meski telah berpisah, rasa cinta Zaya terhadap lelaki itu tidaklah berkurang sedikitpun. Zaya hanya berhasil menekannya sedemikian rupa hingga rasa itu tersembunyi disudut hatinya yang paling dalam, tapi tidak bisa membuangnya.
Lalu sekarang, saat Aaron bersimpuh di hadapannya dengan penuh perasaan, rasa cinta itu kembali menyeruak kepermukaan, membuat Zaya semakin yakin jika Aaronlah yang diinginkannya.
"Aku akan kembali bersamamu, Aaron. Aku juga membutuhkanmu..." Lirih Zaya.
" Tapi jangan pernah mengabaikan aku seperti dulu lagi." Gumam Zaya lagi sambil menatap Aaron dengan tak kalah sendu.
Zaya tak mau menahan perasaannya lagi. Selama tujuh tahun ia mencintai Aaron dalam diam, dan kini lega rasanya bisa mengungkapkan perasaan, meski hanya sekedar kata 'aku membutuhkanmu.'
Zaya memejamkan matanya, menikmati momen yang menggetarkan hatinya ini.
"Aku mencintaimu, Zaya..." Bisik Aaron, namun terdengar jelas di telinga Zaya.
"Aku juga Aaron. Aku juga mencintaimu," balas Zaya.
Cukup lama mereka saling menatap, sampai akhirnya Aaron pun bangkit dari posisi bersimpuhnya.
"Terima kasih ..." bisik Aaron lagi.
Zaya mengangguk dengan wajah memerah. sungguh tak disangka dia dan Aaron akan saling menungkapkan perasaan seperti ini. Rasanya begitu syahdu.
"Terima kasih, untuk kesempatan yang sudah kau berikan untukku." Aaron kembali mengucapkan kata-kata itu sambil tersenyum ke arah Zaya. Sepertinya Aaron tidak bosan mengucapkannya malam ini.
Zaya yang masih merasa malu, hanya diam dan tak menyahut. Mulutnya terasa menjadi kaku dan tak bisa mengeluarkan suara. Zaya juga tidak tahu kenapa bisa dia semalu ini. Padahal mereka pernah berstatus sebagai suami istri.
"Duduklah dulu disana. Aku harus menyelesaikan memeriksa beberapa dokumen terlebih dahulu." Suara Aaron membuyarkan lamunan Zaya.
Zaya pun hanya mengangguk dan menuruti apa yang Aaron katakan. Ia duduk disofa yang ditunjuk Aaron sebelumnya dan mengamati lelaki itu yang kembali berkutat pada dokumen-dokumen yang telah sedikit berantakan diatas meja kerjanya.
Apakah Zaya sudah pernah bilang sebelumnya jika lelaki ini terlihat semakin tampan saat ekapresinya tengah serius.
Haisssh, lagi-lagi Zaya mulai berpikiran ngawur saat melihat Aaron.
Untuk menghindari berpikir terlalu macam-macam, Zaya pun memutuskan untuk memejam matanya saja, hingga tanpa sadar ia terlelap diatas sofa itu.
Beberapa saat kemudian, Aaron telah menyelesaikan pekerjaannya dan bergegas mendekati Zaya yang telah tertidur.
Aaron menatap wajah Zaya yang terlihat damai dan merapikan anak rambut yang menutupi keningmya.
"Terima kasih, Zaya ... Aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang kau berikan saat ini. Terima kasih sudah memilih kembali bersamaku."
Bersambung ....
Jgn lupa vote ya
Happy reading❤❤❤