
Sejak hari itu, Zaya dan Evan kembali dekat. Hubungan Kakak-Adik yang sempat terputus selama dua puluh dua tahun lebih, akhirnya berlanjut kembali. Zaya seperti menemukan bagian dari dirinya yang telah lama hilang. Keceriaannya perlahan mulai kembali. Rasa sakit didalam hati Zaya juga perlahan mulai mereda.
Evan ternyata bekerja disebuah rumah sakit terkemuka dikota ini. Meski usianya masih tergolong muda, namanya sudah mulai diperhitungkan sebagai Dokter spesialis jantung yang cukup handal. Banyak pasien penyakit jantung yang kesehatannya mendapatkan kemajuan cukup pesat dibawah perawatannya. Hal itu membuat Evan menjadi salah satu Dokter yang paling dicari dan berpenghasilan tinggi.
Hari-hari berikutnya, Evan semakin sering mengunjungi kafe Zaya. Setiap kali ada waktu luang, Evan akan menyempatkan diri untuk menemui 'adiknya' itu.
Seperti halnya hari ini. Evan datang tepat saat Zaya dan Kara tiba dikafe.
Kara memang telah bekerja pada Zaya. Setiap harinya Zaya akan menjemput Kara untuk berangkat ke kafe bersama-sama. Hal itu Zaya lakukan karena Kara yang menolak saat akan diberi kendaraan oleh Zaya meski sebagai kendaraan inventaris.
"Hai." Evan menyapa Zaya yang baru turun dari mobilnya.
"Kak Evan..."
Zaya tampak agak terkejut dengan kehadirannya yang masih begitu pagi.
"Wah...Pak Dokter, pagi-pagi sudah rapi. Sepertinya mau mengajak Bu Bos jalan, ya?" ujar Kara mengoda Zaya dan juga Evan.
Zaya mencubit lengan Kara, yang dibalas teriakan heboh oleh gadis itu.
"Ih..., Bu Bos. Jangan galak-galak, dong." teriak Kara memekakkan telinga.
Sejak bekerja dikafe Zaya, Kara memang memanggil Zaya dengan sebutan Bu Bos saat sedang bekerja, sama seperti karyawan yang lain. Bukan tanpa alasan, hal itu ia lakukan agar karyawan Zaya lain tidak merasa iri padanya. Kara tidak ingin Zaya dianggap pilih kasih oleh para bawahannya dan membuat suasana kerja menjadi tidak enak.
Zaya yang awalnya keberatan pun akhirnya hanya pasrah dan menuruti keinginan Kara.
"Apa hari ini kamu punya waktu?" tanya Evan.
Zaya tampak menautkan kedua alisnya.
"Mumpung aku sedang libur, aku mau mengajak kamu untuk menunjungi panti. Apa kamu bisa?" tanya Evan lagi.
Zaya tak langsung menjawab. Ia tampak ragu dan berpikir. Pasalnya panti asuhan tempat mereka tinggal dulu terletak dipinggiran kota. Perlu waktu sekitar tiga jam lebih untuk sampai kesana. Zaya tidak yakin untuk meninggalkan kafenya seharian.
"Sudahlah, Bu Bos, ikut saja. Sekali-kali tidak apa-apa kafe ditinggal. Toh ada aku sama Fina disini. Kami bisa dipercaya kok." Kara menimpali.
"Sudah lama aku tidak kesana. Aku yakin kamu juga." tambah Evan.
Mau tidak mau Zaya mengangguk.
Meski setiap bulannya Zaya rutin memberikan sumbangan, tak dipungkiri jika ia memang sangat jarang berkunjung kesana. Alasannya tidak lain karena jaraknya yang cukup jauh dan terlalu memakan waktu untuk mengunjungi tempat itu.
Akhirnya Zaya pun mengangguk.
"Baiklah." gumam Zaya akhirnya.
"Aku akan ikut Kakak kesana. Sebenarnya aku juga sedikit rindu dengan suasana panti." ujar Zaya.
Evan tersenyum senang.
"Kalau begitu kita berangkat sekarang, mumpung masih pagi." ajak Evan.
Zaya mengangguk.
"Pakai mobilku saja." ujar Evan lagi.
Zaya kembali mengangguk. Mereka pun masuk kedalam mobil Evan.
Sebelum menutup pintu mobil, Zaya melambaikan tangannya pada Kara.
"Aku pergi dulu, ya. Kalau ada apa-apa hubungi aku." ujarnya pada Kara.
Kara membalas dengan acungan jempol. Kemudian Kara juga membalas lambaian tangan Evan.
"Good luck, Pak Dokter." teriaknya, yang tentu saja dibalas dengan pelototan mata Zaya.
Kara tertawa, begitu juga dengan Evan.
Tampaknya Kara menyadari jika saat ini Evan sedang mengejar sahabatnya itu. Perhatian Evan sudah tidak bisa lagi dikatakan sebagai perhatian seorang kakak pada adiknya, tapi lebih kearah lelaki yang memperhatikan wanitanya.
Kara semakin yakin saat melihat cara Evan menatap Zaya. Bukan lagi tatapan sayang, tapi Evan menatap Zaya dengan tatapan memuja. Sepertinya Dokter muda itu benar-benar telah jatuh cinta pada Zaya.
Tapi Kara juga tahu, sahabatnya yang polos itu tidak menyadari jika lelaki yang ia anggap sebagai seorang kakak itu kini punya perasaan lebih terhadapnya.
Seperti apapun perkembangan hubungan kedua orang ini, Kara hanya berharap Zaya bisa merasa bahagia kedepannya.
Kemudian Kara masuk kedalam kafe sesaat setelah mobil yang dikendarai Zaya dan Evan melaju.
Didalam mobil tampak Zaya dan Evan sama-sama diam.
"Kita cari makanan kecil dulu untuk anak-anak." ujar Evan sambil menepikan mobilnya diparkiran sebuah minimarket.
Zaya mengangguk. Lalu mereka turun dan masuk kedalam minimarket itu.
Zaya mengambil dua keranjang kosong, lalu mengisinya dengan snack, coklat dan permen. Setelah dirasa cukup mereka pun mengantri dimeja kasir untuk membayar.
"Pengantin baru ya, Kak?" tanya kasir itu akhirnya.
"Hah?" Zaya sedikit kaget.
"Yang biasanya belanja sama pasangan seperti ini kebanyakan pengantin baru, Kak. Apa jangan-jangan sudah lama menikahnya, ya?" tanya kasir itu lagi sambil memasukkan barang-barang Zaya.
Zaya tampak sedikit malu dan berdehem, tidak tahu mesti menjawab apa.
"Ngomong-ngomong, kalian serasi sekali lho, Kak. Cantik dan ganteng." tambah kasir itu lagi sambil tersenyum.
Zaya hanya bisa ikut tersenyum tanpa bisa menjawab apa-apa. Ia sendiri tidak merasa perlu menyanggah omongan kasir itu, toh tidak membuatnya rugi juga pikir Zaya.
Kasir itu akhirnya menyebutkan nominal yang harus dibayar Zaya, dan setelah Zaya membayar, segera ia keluar dari minimarket itu.
Karena terlalu terburu-buru, Zaya tidak menyadari jika Evan masih didalam.
"Hei, Nona. Aku mau ditinggal disini, ya?" terdengar suara Evan dari arah belakang Zaya.
Sontak Zaya menoleh. Tampak lelaki itu melangkah lebar kearahnya.
"Kenapa buru-buru begitu? Malu karena omongan kasir tadi?" goda Evan sambil tersenyum jahil.
Zaya melengos dengan wajah memerah.
Evan tertawa.
"Ternyata kamu masih tidak berubah, ya. Masih suka merona." ujarnya sambil mencubit pipi Zaya gemas.
"Kak Evan, sakit!" sergah Zaya.
Evan semakin terbahak.
"Sudah umur segini, bagaimana bisa kamu masih tetap menggemaskan seperti ini." ujar Evan disela tawanya.
Zaya mendengus kesal sambil terus berjalan kearah mobil.
Evan masih tersenyum geli saat menyusul Zaya. Lalu dia mengambil dua kantong belanjaan yang dibawa oleh Zaya tanpa permisi.
"Eh?" Zaya agak kaget mrngetahui belanjaan ditangannya sudah berpindah tangan.
Evan berjalan mendahului Zaya dan menaruh belanjaan itu kedalam bagasi mobil. Lalu dia kembali mendekati Zaya dan menarik tangannya kembali kearah minimarket.
Zaya tampak bingung.
"Kenapa kita kesini lagi, apa ada yang ketinggalan?" tanyanya.
"Iya." jawab Evan singkat, lalu dia memdudukkan tubuh Zaya dikursi khusus pengunjung yang ada dilluar minimarket.
"Tunggu disini." pintanya sebelum meninggalkan Zaya masuk kedalam.
Tak lama Evan kembali dengan membawa dua es krim rasa coklat ditangannya. Kemudian dia menyodorkan salah satunya pada Zaya sambil ikut duduk disamping perempuan itu.
Zaya menerima es krim itu dengan sedikit terperangah.
"Kak Evan, kita bukan anak-anak lagi, lho." ujar Zaya sedikit mengingatkan.
"Siapa bilang es krim cuma buat anak kecil, tidak ada label yang menuliskan hal seperti itu dikemasannya." jawab Evan acuh sambil membuka kemasan es krim dan mulai menikmatinya.
Zaya melihat Evan dengan sedikit aneh, sebelum akhirnya ikut memakan es krim miliknya juga.
Dan tampaklah dua orang dewasa yang sedang menikmati es krim dipagi hari, persis seperti kelakuan dua anak kecil yang tidak bisa diberi tahu. Mereka saling melirik, dan saat pandangan mereka bertemu, keduanya sama-sama tertawa menyadari kekonyolan yang sedang mereka lakukan.
"Kamu ingat, Dee. Dua hari sebelum aku dijemput orang tua angkatku, kamu bilang sangat ingin makan es krim. Lalu aku berjanji akan membelikanmu es krim jika sudah punya uang. Tapi kemudian, aku pergi meninggalkanmu dan tidak pernah menepati janjiku itu." tiba-tiba Evan menengadahkan wajahnya dan berucap dengan sendu.
Zaya terdiam. Ia menoleh kearah Evan dan menatapnya lekat. Sungguh Zaya tidak ingat lagi dengan hal itu jika Evan tidak mengatakannya sekarang.
"Sekarang akhirnya aku bisa menepati janjiku, walaupun rasanya sudah sangat terlambat dan tidak berarti lagi." ujarnya lagi sambil menoleh kearah Zaya
Evan menatap Zaya dengan lekat dan tidak seperti sebelumnya. Tatapannya menyiratkan sebuah perasaan yang teramat sangat dalam, seperti telah terpendam dalam waktu yang sangat lama.
Zaya terkesiap. Tatapan Evan seperti menenggekamkannya, membuatnya kesulitan menghela nafas. Zaya tak mengerti dengan situasi yang saat ini tengah ia hadapi. Evan benar-benar telah membuat hatinya kebingungan.
Bersambung...
Kemaren Zaya udah banyak nangis, sekarang dibikin rileks dulu. Biar dia happy2 dan menikmati waktu bersama Evan sebelum menghadapi konflik yang sebenarnya.
Kalo ada yg nanya Zaya bakal sama Evan apa sama Aaron, pokoknya entah itu Evan ataupun Aaron, Zaya bakal sama lelaki yang bisa membahagiakannya. Jadi kita liat aja dipart2 berikutnya ya.
Btw, sorry author ga bisa bales komennya satu2 hari ini, soalnya lg ada hal yg mesti dikerjain didunia nyata. Tapi author tuh suka senyum2 sendiri bacanya, jadi makasih ya buat yg udah komen.
Jgn lupa vote y biar author dapet asupan nutrisi buat lanjut upš
Happy readingā¤ā¤ā¤