
Zaya terperangah beberapa saat. Pemandangan dihadapannya kini sungguh sulit untuk diterima nalarnya. Seorang Nyonya Besar seperti Ginna, yang biasanya sangat menjunjung harga diri, kini berlutut dihadapan Zaya dengan sangat menyedihkan.
Entah apa yang membuat Ginna begitu putus asa, sampai-sampai melakukan hal yang sangat tak sesuai dengan citra dirinya selama ini. Zaya sangat-sangat terkejut melihatnya.
Zaya pun buru-buru bangkit dan membimbing Ginna untuk kembali berdiri, dibantu oleh Carissa.
"Apa yang Anda lakukan, Nyonya?" Tanya Zaya sambil memapah tubuh Ginna yang tampak lunglai menuju tempat duduknya semula.
"Kita bisa bicarakan semuanya baik-baik. Tidak perlu seperti ini." Lanjut Zaya lagi.
Ginna yang tampak sangat emosional terlihat berusaha untuk menenangkan diri.
"Yang dikatakan Nona Zaya benar, Tante. Tante harus tenang dan membicarakan hal ini dengan pikiran jernih." Suara Carissa akhirnya terdengar. Dari caranya memperlakukan Ginna, sangat jelas terlihat jika ia sangat dekat dengan ibunya Aaron itu.
Ginna mengangguk menyetujui. Kemudian setelah dirasa agak tenang, tampak ia mulai menyusun kata untuk menyampaikan sesuatu kepada Zaya.
"Aaron... Anak itu.... Dia memutuskan untuk mengakusisi Brylee Group dengan perusahaan lain untuk menghindari kebangkrutan."
Ginna menghentikan sejenak kata-katanya dan menghela nafasnya dalam. Sedangkan Zaya tampak menyimak meski tak sepenuhnya mengerti.
"Apa kau tahu, Zaya. Itu artinya, meski Brylee Group masih berdiri, tapi kepemilikannya bukan lagi menjadi milik keluarga Brylee. Aaron tidak akan memimpin perusahaan itu lagi."
Zaya terdiam dengan wajah tak percaya.
"Itu...bagaimana mungkin?" Gumam Zaya.
Ginna kembali menghela nafasnya.
"Aaron telah menjadi sosok yang berbeda sejak berpisah denganmu. Semakin lama dia semakin melangkah menuju jurang kehancurannya sendiri. Dia bertekad untuk mendapatkan dirimu kembali dan mengabaikan perusahaan. Aku tidak tahu lagi bagaimana untuk membuatnya kembali menjadi orang yang bisa diandalkan." Ginna berujar dengan sedih dan putus asa.
Zaya terdiam dan menyimak kata-kata yang diucapkan Ginna. Wajahnya masih tampak menunjukkan raut tak percaya. Bagaimana mungkin Aaron menjadi seperti itu karena dirinya. Bukankah Zaya tak memiliki arti apa-apa bagi lelaki itu, selain ibu dari anaknya?
"Selama ini, Aaron selalu menangani dengan baik setiap permasalahan yang muncul diperusahaan. Tak ada yang bisa mengusik Brylee Group, meskipun ada banyak pihak yang berusaha untuk menjatuhkan. Aaron selalu bisa membuat keadaan menjadi baik-baik saja. Tapi sekarang...putraku itu....dia benar-benar telah berubah menjadi seseorang yang menyedihkan. Dia menjadi begitu lemah, sampai-sampai aku sendiri menjadi tak mengenalinya."
Ginna berhenti beberapa saat.
"Lalu belakangan, dia mengatakan akan mengejarmu kembali. Hingga kemudian terjadi sesuatu di perusahaan. Tapi yang mengejutkanku adalah..dia memilih untuk mengakusisi perusahaan sebagai solusi untuk menstabilkan perusahaan. Bagaimana mungkin perusahaan sebesar Brylee Group diserahkan begitu saja pada perusahaan lain yang tidak lebih besar dari Brylee Group itu sendiri. Anak itu benar-benar sudah gila." Ginna bergumam sambil menyeka airmatanya yang kembali jatuh.
Zaya terdiam agak lama, kemudian ia menghela nafasnya.
"Lalu apa yang bisa saya lakukan untuk Anda, Nyonya? Saya masih tidak mengerti, kenapa Anda mengatakan jika nasib Brylee Group berada ditangan saya?" Zaya masih merasa bingung.
Ginna tak langsung menjawab. Dipandangnya Zaya dengan tatapan yang tak pernah Zaya lihat sebelumnya.
"Kembalilah pada Aaron." Ujarnya kemudian.
Zaya membeku.
Nyonya Ginna yang terhormat, yang pernah mengakui Zaya sebagai seorang pelayan didepan koleganya, saat ini meminta Zaya untuk kembali pada putranya? Sedang bermimpikah Zaya? Ataukah saat ini matahari sudah terbit dari barat?
Zaya ternganga, kemudian tertawa sumbang.
"Sejak kapan Anda suka bercanda, Nyonya?" Tanya Zaya disela tawanya yang terdengar ironi.
"Aku tidak sedang bercanda, Aku serius. Kembalilah pada Aaron, Zaya. Aku mohon padamu untuk berada disisinya lagi agar dia berhenti menjadi orang gila. Jika dia terus seperti ini, maka dimasa depan tidak akan ada lagi yang tersisa lagi untuknya maupun untuk Albern." Ginna berujar dengan nada memohon.
Zaya masih tercenung dengan keterkejutannya. Bagaimana ia mau merespon jika ia sendiri meragukan pendengarannya saat ini.
"Jadilah istri Aaron sekali lagi, dan yakinkan dia untuk mempertahankan Brylee Group sebagai kebanggaan keluarga Brylee. Demi Albern dan kebaikan kita bersama, terimalah Aaron kembali menjadi suamimu." Pinta Ginna lagi.
Zaya masih terdiam. Kali ini Zaya yakin jika pendengarannya tidak salah tangkap. Ginna benar-benar memintanya untuk kembali hidup bersama Aaron. Meski begitu, Zaya sangat ragu untuk menerima tawaran itu.
Kata-kata hidup bersama Aaron, membuatnya kembali teringat dengan penderitaannya selama tujuh tahun dulu. Seperti ada semacam trauma bagi Zaya untuk kembali mengulang itu semua.
"Saya tidak bisa menyetujui permintaan Anda begitu saja, Nyonya. Saat ini saya tidak ingin lagi menjalani hidup demi siapapun. Saya ingin menjalani hidup demi diri saya sendiri. Maaf jika ini terdengar egois, tapi jika tidak ada lagi yang tersisa untuk Albern dimasa depan, maka saya, ibunya, akan memastikan jika dia hidup dengan baik meski tanpa keluarga Brylee." Ujar Zaya akhirnya.
Ginna terdiam beberapa saat. Ia sungguh tak menyangka Zaya akan menolak permohonannya tanpa ragu. Mantan menantunya ini tampak sudah berubah menjadi semakin tangguh.
"Kenapa?" Tanya Ginna kemudian. Ia sungguh ingin tahu kenapa Zaya tidak mau kembali pada Aaron lagi. Bukankah dulu Zaya sangat mencintai putranya itu?
"Terkadang, lebih baik melepaskan dari pada mempertahankan, Nyonya. Cinta tidak selalu membuat bahagia. Seringkali justru membuat kita hidup menderita. Dan saya tidak mau mengulang penderitaan selama tujuh tahun hidup bersama Aaron lagi." Jawab Zaya dengan mantap.
Ginna terdiam. Meski tajam, tapi perkataan Zaya memang benar. Selama menjadi istri Aaron, Zaya memang telah banyak menderita. Wajar jika Zaya menolak untuk kembali bersama Aaron.
Sepertinya tanpa sadar Zaya sudah mempelajari berkata jujur dan tajam dari Ginna. Ginna pun hanya bisa tersenyum miris menanggapinya. Sepertinya tak akan mudah baginya untuk membujuk Zaya.
"Baiklah kalau begitu..." Gumam Ginna akhirnya.
"Jika kau tidak ingin menerimanya lagi, maka jangan beri dia harapan." Tambah Ginna lagi.
Zaya tertegun.
"Buat Aaron mengerti jika kau tidak mau kembali lagi padanya. Agar dia tidak bertumpu pada harapan palsu. Mungkin dengan seperti itu dia tidak terlalu terpaku denganmu dan kembali memikirkan perusahaan."
Ginna menghela nafasnya berat.
"Jangan kau gantung Aaron, Zaya. Buatlah keputusanmu. Putraku itu, dia sedang mengalami masa sulit saat ini. Aku mohon padamu agar kau bisa sedikit membantunya."
Zaya terenyuh. Tampak Ginna sangat putus asa saat mengucapkan kalimat terakhirnya. Kalimat yang terdengar tulus dari seorang ibu yang sedang mengkhawatirkan anaknya.
Aaron. Lelaki itu, benarkah saat ini Zaya harus menerimanya?
Bersambung...