Since You Married Me

Since You Married Me
Panggil Aku Honey



Zaya terbangun saat merasakan ada tangan jahil yang menggerayangi tubuhnya dibawah selimut. Tapi ia enggan untuk beranjak dan kembali memejamkan matanya.


Pemilik tangan itu tampaknya tak putus asa. Karena Zaya tak merespon dengan sentuhan kecil, dipeluknya tubuh Zaya dengan posesif dari arah belakang.


"Sayang..." Aaron menggesek-gesekkan hidungnya di telinga Zaya.


"Hmm..."


Zaya masih enggan membuka matanya. Tubuhnya serasa lunglai hingga ia masih ingin melanjutkan tidurnya lagi.


"Ayo mandi. Ini sudah pagi." Tangan Aaron kembali menjelajahi tubuh Zaya dibawah selimut.


"Aku masih mengantuk, Aaron. Aku mau tidur." Jawab Zaya parau sambil masih memejamkan matanya.


Aaron tidak menyerah. Digodanya Zaya dengan sentuhan-sentuhan halus.


"Aaron..." Zaya menggeliat, tapi masih belum mau membuka mata.


"Bangunlah, Sayang. Kita mandi bersama." Bujuk Aaron sambil mengecupi punggung dan bahu Zaya.


Mata Zaya langsung terbuka. Seketika otaknya memancarkan alarm tanda bahaya. Kalimat terakhir yang didengarnya tadi terasa janggal ditelinga Zaya. Ajakan mandi bersama dari Aaron pastilah modus.


Setelah berulangkali melakuksnnya semalam, lelaki ini masih saja merasa kurang puas. Benar-benar keterlaluan.


"Mandilah lebih dulu. Nanti aku mandi setelah kamu." Ujar Zaya sambil merapatkan selimutnya.


"Kalau kita mandi bersama, aku bisa membantu menggosok punggungmu."


"Tidak, terima kasih. Aku bisa menggosok punggungku sendiri."


Aaron tersenyum jahil sambil menarik selimut Zaya, dia tahu jika pagi ini Zaya sedang menghindarinya.


"Aaron!" Zaya terpekik saat selimut yang menutup tubuh polosnya tersingkap.


Aaron terkekeh sambil mengangkat tubuh Zaya dan langsung membawanya menuju kamar mandi.


"Turunkan aku, aku mau mandi sendiri saja." Zaya berontak ingin turun dari gendongan Aaron.


"Istri yang baik harus patuh pada suaminya." Gumam Aaron sambil masih menggendong Zaya. Zaya yang mendengar kalimat keramat itupun terdiam. Yang bisa dilakukannya saat ini hanyalah pasrah dengan apapun yang akan terjadi nanti.


Melihat Zaya yang tidak berontak lagi, Aaron tersenyum puas. Sesuai dugaannya, sangat mudah mengelabui istri polosnya ini.


Lalu sesampainya didalam kamar mandi, Aaron langsung mendudukkan tubuh Zaya ke dalam bathup yang sebelumnya telah diisinya dengan air hangat. Mereka pun mandi bersama tanpa tambahan permainan dari Aaron seperti yang dikhawatirkan Zaya tadi.


Zaya pun bisa bernafas lega karena tidak harus melayani Aaron lagi saat ini. Tubuhnya benar-benar terasa lemas sekarang, jika Aaron memaksa untuk kembali bercinta, Zaya khawatir akan pingsan setelahnya. Tapi untunglah Aaron masih punya akal sehat sehingga Zaya tak perlu pingsan.


Sungguh memalukan jika hal itu sampai terjadi.


Empat puluh lima menit kemudian, Zaya dan Aaron sudah tampil rapi dan segar. Sarapan pagi spesial dari pihak hotel juga sudah tersedia dikamar mereka sebagai layanan khusus.


Tampak menu yang tersedia sangat beragam. Mulai dari Bubur dengan toping daging, roti panggang, sosis, omelet, telur mata sapi setengah matang, daging asap, salad sayuran hingga aneka buah segar yang telah di potong-potong. Tak ketinggalan pula susu dan coklat panas sebagai minuman pendamping.


Zaya agak terperangah melihatnya. Bukan varian menunya yang membuatnya tak bisa berkata-kata, tapi porsi yang diberikan agak terlihat sedikit berlebihan. Mereka hanya berdua, tapi hidangan sarapan pagi dihadapannya ini bahkan cukup untuk lima orang.


Zaya menoleh kearah Aaron seakan sedang meminta penjelasan.


"Semalam kau banyak kehabisan tenaga, Sayang. Jadi perlu banyak nutrisi pagi ini. Aku tidak mau jika kau sampai kekurangan energi. Kalau kau lemas, bagaimana kita bisa melanjutkan apa yang kita lakukan tadi malam?" Tanya Aaron dengan nada menggoda. Dibimbingnya Zaya agar duduk didekatnya.


Zaya hanya bisa mengeleng-gelengkan kepalanya. Lelaki ini semakin lama semakin konyol saja. Zaya memang butuh makan, tapi tidak sebegitunya juga. Kalau Zaya harus menghabiskan makanan ini, yang ada perutnya bisa pecah.


Dengan sedikit menghela nafas, Zaya pun mulai menyantap sarapannya. Mata berbinar saat memasukkan suapan pertama pada mulutnya. Bubur dengan toping daging yang dimakannya sekarang benar-benar enak. Rasanya gurih dan dagingnya lembut, menyatu sempurna dimulut Zaya, menciptakan rasa yang bisa menggoyang lidah.


"Enak?" Tanya Aaron. Lelaki itu hanya makan sepotong roti panggang bersama segelas coklat panas, seperti sarapannya saat dirumah.


Zaya mengangguk.


"Mau coba?" Tanya Zaya sambil mengarahkan satu suapan ke mulut Aaron.


Aaron terlihat berpikir sejenak, kemudian ia membuka mulutnya dengan ragu. Zaya memasukkan suapan itu kedalam mulut Aaron. Aaron pun mengangguk-anggukkan kepalanya saat merasakan bubur itu.


"Benar. Ini enak. Aku juga mau." Ujarnya.


Zaya menyodorkan mangkuk bubur yang satunya kehadapan Aaron, tapi Aaron menggesernya lagi.


"Maksudku aku mau yang sedang kau makan itu. Kita makan satu mangkuk berdua." Ujarnya.


Zaya memandang Aaron sesaat.


"Ayo, suapi aku lagi." Pinta Aaron.


Zaya kembali mengarahkan satu suapan pada Aaron sambil masih memandang heran pada lelaki itu.


Aaron kembali membuka mulutnya dan menerima suapan dari Zaya.


"Kau juga harus coba ini." Aaron menusuk potongan sosis panggang dengan menggunakan garpu, lalu mengarahkannya pada mulut Zaya.


Berganti Zaya yang menerima suapan dari Aaron.


"Bagaimana? Enak, kan?"


Zaya mengangguk setuju.


Mereka pun melanjutkan sarapan dengan saling menyuapi satu sama lain. Sarapan bersama paling berkesan sepanjang mereka pernah hidup sebagai suami istri.


"Aaron, setelah ini aku mau menemui Albern. Pagi ini dia pasti bertanya-tanya kenapa aku tidak turun sarapan dengannya."


"Albern tidak akan mencarimu. Mama dan Papa sudah membawa Albern pulang bersama mereka. Mama juga sudah mengatur Albern untuk menginap bersama mereka selama seminggu kedepan."


"Hah? Kenapa?" Zaya menatap Aaron dengan penuh tanda tanya.


"Karena aku yang memintanya. Kita perlu waktu berdua saja selama seminggu ini, Sayang." Aaron menatap Zaya dengan kerlingan mata nakalnya, sehingga Zaya jadi jengah dibuatnya.


"Aaron... Kamu ini benar-benar, ya." Gerutu Zaya kesal.


Tiba-tiba Aaron mengecup bibir Zaya sekilas.


"Mulai sekarang aku tidak mau mendengar kau meyebut namaku selain saat kita sedang bercinta. Jika kau tetap melakukannya, aku akan menghukummu dengan ciuman dibibir."


Zaya mendelik.


"Lalu aku harus memanggilmu apa?" Tanya Zaya.


Aaron tersenyum sambil membelai wajah Zaya lembut.


"Panggil aku Honey." Ujarnya.


Zaya terpana dengan mata yang membulat sempurna.


"Honey?"


"Iya."


"Kamu...tidak sedang becanda, kan?" Ledek Zaya sambil tertawa.


Aaron gemas, lalu disingkirkannya nampan besar berisi sarapan mereka ke tempat yang agak jauh. Zaya yang melihatnya pun langsung menghentikan tawanya.


Kemudian Zaya terpekik saat Aaron mendorongnya ketempat tidur. Tubuhnya langsung masuk kedalam kungkungan tubuh Aaron yang jauh lebih besar.


"Aaron..." Zaya ingin protes, tapi Aaron langsung membungkam mulutnya lagi dengan ciuman.


"Sudah aku bilang, kau akan mendapatkan hukuman jika masih memanggilku Aaron."


Zaya terengah.


"Oke..oke.. Honey..aku akan panggil Honey, tapi lepaskan aku dulu. Kamu kan belum selesai sarapan..., Honey..." Zaya berusaha membujuk Aaron agar turun dari tubuhnya.


"Aku sudah kenyang, sekarang aku mau makanan penutup."


"Kalau begitu kita pesan makanan penutupnya. Kamu mau apa? Es krim? Pai?" Zaya masih berusaha membuat Aaron menyingkir dari tubuhnya.


"Makanan penutupnya sudah ada dihadapanku," bisik Aaron sambil kembali memulai aksinya.


Zaya hanya bisa pasrah. Untung saja ia sudah makan cukup banyak tadi sehingga sudah punya sedikit tenaga. Zaya hanya berharap Aaron tidak melakukannya berulangkali seperti semalam. jika tidak, Zaya ragu apakah masih bisa melakukan aktivitas lain setelah ini.


Bersambung ....


Maaf emak telat, semalem niatnya mau up malah ketiduran. Gegara Aaron sm Zaya lembur, emak yang capek😂😂😂


tetep like, komen dan vote ya


Happy reading❤❤❤