
Aaron memandang kearah Ginna dan Carlson secara bergantian. Seakan ingin meminta penegasan jika dirinya tidak salah dengar.
"Anakmu sudah lahir." Suara Carlson seakan memjawab apa yang ada di benak Aaron saat ini.
Aaron tertegun. Ada rasa haru dan bahagia yang tiba-tiba datang memenuhi ruang hatinya. Tapi bersamaan dengan itu Aaron juga bertanya-tanya dalam hati, bagaimanakah nasib Zaya saat ini? Apakah dia baik-baik saja? Apakah istrinya itu bisa melewati masa kritisnya, atau justru ia mengorbankan diri demi untuk melahirkan putri mereka?
Berjuta pertanyaan berputar-putar di kepala Aaron hingga membuat rasa takut datang menyusup diantara rasa bahagiannya.
Aaron menjadi tegang. Tanpa sadar detak jantungnya menjadi lebih cepat dari biasanya. Membayangkan semua kemungkinan yang bisa saja terjadi pada istrinya, membuat tubuhnya menjadi gemetaran.
Takut, khawatir, dan sedih. Semua rasa itu bercampur menjadi satu, membuat dadanya kembali terasa sesak.
Selang beberapa waktu kemudian, pintu ruang operasi terbuka. Tampak seorang perawat keluar dengan mendorong troli bayi dan berhenti tepat dihadapan Aaron.
"Tuan, Putri Anda telah lahir dengan sehat dan sempurna. Putri Anda juga sangat cantik. selamat, Tuan." Ujar perawat itu sambil tersenyum pada Aaron.
"Saya harus membawa putri Anda ke ruang perawatan bayi dulu. Anda boleh kesana jika ingin melihat putri Anda lebih lama." Ujar perawat itu lagi sambil kembali mendorong troli bayi yang didalamnya terdapat bayi mungil yang baru saja di lahirkan Zaya.
"Suster, bagaimana keadaan istriku?" Aaron kemudian berhasil mengeluarkan suaranya setelah sebelumnya sempat tak bisa berkata-kata.
Perawat itu berhenti.
"Istri Anda sedang menjalani operasi lanjutan untuk rahimnya yang robek. Mungkin tidak lama lagi operasinya akan selesai. Anda tunggu saja, Tuan." Jawab perawat itu sebelum kembali meneruskan langkahnya.
Aaron mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Dia tertegun sesaat sambil menghela nafasnya dengan sedikit lega. Setidaknya sejauh ini Zaya masih selamat, meski belum di ketahui seperti apa keadannya yang sebenarnya.
Carlson mendekat dan menepuk-nepuk bahu Aaron untuk memberinya semangat.
"Putrimu sudah lahir, Aaron. Sebentar lagi Zaya juga akan selesai di operasi. Semuanya akan baik-baik saja." Ujar Carlson menenangkan.
Aaron tak menjawab. Ingin sekali dia menpercayai kata-kata Papanya itu, tapi entah kenapa dia masih belum bisa merasa tenang jika belum melihat sendiri keadaan istrinya.
"Aaron?" Ginna menyentuh pundak Aaron yang terlihat sedang melamun.
"Berpikirlah positif." Ujar Ginna menimpali.
Aaron melihat kearah Ginna dan mengangguk pelan. Lalu dia kembali duduk di tempatnya semula.
"Apa kau tidak ingin melihat putrimu?" Tanya Ginna kemudian.
Aaron tampak memandang lurus kedepan dengan agak menerawang. Dia ingin sekali melihat putrinya itu, tapi dia tidak ingin pergi dari sisi Zaya saat ini. Aaron takut terjadi hal buruk pada Zaya dan dia tidak sedang mendampinginya. Hal itu tidak boleh sampai terjadi. Aaron tidak akan pergi kemana pun sebelum Zaya melewati masa kritisnya.
Putrinya bisa menunggu, tapi dia tidak tahu seperti apa keadaan istrinya saat ini. Aaron tidak ingin kehilangan setiap momen bersama istrinya itu barang sedetik pun.
"Mama dan Papa pergi saja lebih dulu. Aku akan tetap disini menunggu Zaya. Kami akan melihat putri kami bersama." Ujar Aaron lirih.
Ginna memandang sendu kearah Aaron sembari menghela nafasnya. Ia merasa begitu prihatin dengan putranya ini. Sebagai Ibu, Ginna pastinya sangat paham dengan perasaan Aaron saat ini. Tapi tak ada yang bisa dilakukannya untuk membantu supaya Aaron merasa lebih baik.
"Kalau begitu kami akan melihat putrimu lebih dulu. Setelah itu kami akan kemari lagi." Ujar Ginna.
Aaron mengangguk tanpa menoleh. Tatapannya masih menerawang lurus ke depan.
Ginna dan Carlson pun berlalu menuju ruang perawatan bayi untuk melihat cucu mereka. Sedangkan Aaron masih tak bergeming dari tempat duduknya.
Menit demi menit berlalu dengan lambat. Waktu seperti sedang enggan berjalan, sehingga penantian Aaron seakan tak berujung. Entah sudah berapa lama Aaron menunggu, tapi operasi Zaya masih belum selesai juga.
Bahkan Ginna dan Carlson sudah beberapa kali bolak-balik ke ruang perawatan bayi untuk melihat cucu mereka yang katanya sangat cantik dan menggemaskan.
Semakin lama, Aaron menjadi semakin kalut. Dia semakin khawatir Zaya tak bisa bertahan. Pikirannya telah semakin sulit di kendalikan hingga kemungkinan-kemungkinan buruk terus hadir di otaknya. Aaron membisu dengan tubuh yang semakin terasa gemetaran. Sesekali dia menghela nafas dan memejamkan matanya. Entah sampai kapan dia akan berada di situasi ini.
Pikirannya terus melayang, hingga akhirnya membawanya pada ingatan masa lalu. Dia teringat bagaimana wajah polos Zaya yang sendu saat dulu mereka bertemu pertama kali setelah Zaya hamil Albern.
Saat itu Zaya terlihat sangat terpuruk dan meyedihkan karena harus hamil anak seorang lelaki yang bisa di bilang tidak dikenalnya. Tapi dia begitu tegar dan tak pernah sekalipun meneteskan airmata ataupun minta untuk di kasihani. Dia juga tidak memanfaatkan keadaan itu untuk memeras Aaron dan mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri.
Aaron masih sangat ingat saat Zaya meminta Aaron untuk membantu menanggung biaya hidupnya hanya sampai ia melahirkan saja. Gadis yatim piatu yang tak punya siapa-siapa itu memilih untuk menanggung sendirian penderitaan yang ia dapat karena kesalahan yang Aaron lakukan, tanpa meminta pertanggung jawaban.
Ya. Benar kata Ginna jika Zaya bahkan lebih tegar dari karang.
Aaron kembali memejamkan matanya. Kali ini ingatannya terpatri saat Zaya telah menjadi istrinya, atau lebih tepatnya istri yang tak dianggap olehnya.
Zaya yang lembut dan selalu menyungging senyum terbaiknya saat berhadapan dengan Aaron. Zaya yang patuh dan yang selalu berusaha untuk membuat Aaron senang. Zaya yang tak pernah mengeluh tentang apapun. Dan ironinya, Zaya yang sama adalah Zaya yang di sia-siakan Aaron selama tujuh tahun lamanya.
Hingga puncaknya, Aaron menceraikan Zaya secara sepihak hingga membuat perempuan itu terpuruk dengan luka yang sangat dalam.
Kelopak mata Aaron kembali memanas. Nafasnya tersengal menahan desakan airmata yang semakin tak terbendung. Semakin dia mengingat semua kesalahannya di masa lalu, semakin sakit dan sesak pula dadanya. Istri malangnya itu telah banyak menderita karena dirinya, dan sekarang pun ia harus menahan sakit seorang diri di meja operasi demi untuk menghadirkan putri cantik mereka di dunia ini.
"Maafkan aku, Zaya..." Airmata Aaron akhirnya lolos lagi dari kelopak matanya.
"Maafkan aku...." Aaron terisak dengan sangat pilu hingga siapa pun yang melihatnya pasti akan merasa terenyuh. Lelaki ini begitu menyesali semua yang telah dilakukannya pada istrinya di masa lalu, hingga rasanya dia tak sanggup lagi hanya untuk sekedar bernafas. Terlalu menyesakkan.
Tapi kemudian pintu ruang operasi tiba-tiba terbuka. Dokter yang tadi membedah Zaya keluar dan menghampiri Aaron dengan sedikit tersenyum.
Cepat-cepat Aaron bangkit dan menghapus airmatanya. Secercah harapan datang di tengah kegundahan yang nyaris membuatnya putus asa.
Bersambung...
Semoga ga bosen buat nunggu kelanjutannya.
Maaf telat, soalnya lg ada tugas negara yang mesti di tunaikan duluš
Happy readingā¤ā¤ā¤