
Kara sangat terharu mendengar apa yang di sampaikan ibu Dean padanya. Ia tak menyangka jika ketidaksengajaannya melamar Dean justru menjadi sesuatu yang sangat membahagiakan bagi calon ibu mertuanya ini.
Mungkin sekarang ia tak perlu terlalu mempermasahkan lagi tentang lamaran yang tidak sesuai dengan keinginannya. Yang terpenting sekarang adalah restu dari orang tua Dean yang telah didapatkannya.
Kara menghapus airmata yang kembali menetes di pipinya.
"Kenapa kau sedih, Kara?" Tanya Ibu Dean saat melihat airmata Kara yang terus mengalir.
"Tidak, Bu. Aku tidak sedih. Aku hanya merasa sangat terharu. Aku pikir Ibu tidak senang karena aku melamar Dean seperti perempuan yang tak punya harga diri. Aku tidak menyangka jika Ibu akan sangat mendukungku. Aku sampai takut untuk datang kesini tadi." Ujar Kara sambil berusaha untuk tertawa kecil.
"Kenapa kau berpikir seperti itu? Aku justru sangat menghargai usahamu itu. Jika harus menunggu Dean yang melamarmu lebih dulu, mungkin aku sudah lebih dulu menyusul ayahnya. Yang ada dalam pikiran anak itu hanyalah bekerja saja, tidak pernah memikirkan akan seperti apa kehidupan pribadinya nanti."
Ibu Dean tampak menghela nafasnya.
"Mungkin karena dia harus memikirkan kami semua. Sejak ayahnya meninggal, Dean telah menjadi tulang punggung keluarga. Dia harus menanggung pendidikan adiknya dan biaya pengobatan ibunya yang sakit-sakitan." Ujar Ibu Dean lagi dengan sedih.
"Kara, apa kau tidak menyesal memilih Dean sebagai pendampingmu? Kedepannya mungkin aku dan adiknya Dean akan jadi benalu bagi kalian berdua. Kami tidak punya pilihan selain bergantung pada Dean. Aku hanya berharap bisa terus sehat agar tak terlalu merepotkan kalian."
Ibu Dean menghela nafasnya.
"Aku ingin sekali melihat putraku itu bahagia, dia sudah terlalu lama memikul beban yang berat. Tapi sejauh ini, aku hanya terus menyusahkannya saja. Itulah sebabnya aku sangat senang mendengar dia bertunangan denganmu. Aku yakin kau bisa membuatnya bahagia. Tapi Kara...."
Ibu Dean menghentikan kata-katanya sejenak, lalu melihat kearah Kara.
"Apa kau bisa menerima kami juga. Aku dan Dira, adiknya Dean?" Tanya Ibu Dean dengan pelan dan hati-hati.
Kara tertegun. Ternyata Ibu Dean khawatir Kara akan mengeluh jika Dean menanggung biaya hidup ibu dan adiknya kelak, mengingat mereka hidup selama ini di tanggung sepenuhnya oleh Dean.
Kara tahu jika Dean adalah tulang punggung keluarganya. Ia juga paham jika Dean adalah satu-satunya sandaran bagi ibu dan adiknya itu. Tentu saja Kara tidak akan mempermasahkannya. Toh, dia juga punya penghasilan yang cukup mapan saat ini.
"Ibu tidak usah khawatir. Aku menerima Dean, tentu aku juga menerima Ibu dan Dira. Setelah kami menikah nanti, Ibu dan Dira adalah keluargaku juga. Tentu saja keluarga harus saling berbagi, entah itu kebahagiaan ataupun kesusahan." Ujar Kara akhirnya sambil mengenggam tangan Ibu Dean.
Ibu Dean tersenyum sambil menyeka airmatanya.
"Syukurlah..." Ujarnya senang.
"Aku bersyukur Dean akan menikah denganmu, Kara. Semoga kelak kalian akan selalu diberikan kebahagiaan." ujar Ibu Dean lagi dengan sedikit terisak.
Setelah adegan antara calon mertua dan calon menantu yang cukup mengharukan itu, suasana pun kembali santai. Kara kembali menjadi dirinya yang bisa menghidupkan suasana. Dan tampak Ibu Dean terlihat lebih lega karena telah mengutarakan kekhawatirannya.
Tak lama kemudian, Zaya pun berpamitan. Ia pulang dengan di jemput oleh sopir pribadinya yang kini telah diganti Aaron dengan yang baru. Yang berjenis kelamin perempuan tentu saja.
Kini tinggalah Kara dan Ibu Dean saja.
Mereka kembali berbicara santai tentang beberapa hal. Tentu saja topik tentang Dean yang lebih mendominasi. Ini adalah kali pertama Kara berbicara dengan waktu yang lama dengan calon ibu mertuanya itu.
Dan sejauh ini, Ibu Dean sangat suka dengan sifat ceria Kara. Ia jadi merasa terhibur dengan celotehan yang keluar begitu saja dari mulut Kara.
Kara akhirnya bisa menjadi dirinya sendiri saat bersama Ibu Dean. Sungguh nyaman dan lega rasanya.
Menjelang malam, Dean datang bersama adiknya. Sepertinya sepulang bekerja, Dean langsung menjemput Dira dan datang kerumah sakit dengan menggunakan mobilnya sendiri.
Dira kembali menggantikan Kara menjaga Ibu Dean, sedangkan Dean sendiri langsung mengantar Kara pulang.
"Kita makan dulu?" Tanya Dean saat mereka telah berada di dalam mobil.
Kara menoleh dan mengangguk.
"Mau makan apa?" Tanya Dean lagi.
"Apa saja." Jawab Kara.
Dean pun memarkirkan mobilnya diwarung makan pinggir jalan yang cukup ramai pengunjung.
"Makan disini tidak apa-apa?" Tanya Dean.
Sekali lagi Kara hanya mengangguk.
Mereka pun mampir dan makan malam di warung itu.
Dean mengamati Kara yang tampak tidak seperti biasanya. Gadis ceria nan heboh itu terlihat lebih banyak diam setelah menemani ibunya tadi. Apa ada hal serius yang sedang dipikirkan Kara saat ini?
"Apa ada yang terjadi saat di rumah sakit tadi?" Tanya Dean kemudian.
"Hah?"
Cepat-cepat Kara menggeleng.
"Tidak. Kami malah membicarakan hal yang menyenangkan tadi." Jawab Kara.
"Lalu kenapa kamu terlihat sedang memikirkan sesuatu?"
Kara kembali menggeleng.
"Tidak ada. Mungkin aku hanya kepikiran Zaya tadi. Melihat perutnya sudah sangat besar, aku jadi membayangkan bagaimana rasanya hamil." Kilah Kara sambil tertawa kecil.
Andai Dean tahu jika saat ini Kara sedang memikirkan cara bagaimana supaya Dean melepaskan cincin di jarinya. Kara selalu merasa bersalah setiap kali melihat Dean mengenakan cincin dari mantan pacarnya itu.
"Nanti juga kalau kita sudah menikah, kamu akan merasakan bagaimana rasanya hamil." Ujar Dean menanggapi.
"Masa? Memangnya kamu yakin bisa menghamiliku?" Tanya Kara.
"Maksudmu?" Dean menautkan kedua alisnya.
Kara tertawa.
"Tidak ada. Aku hanya bercanda." Ujarnya disela tawanya.
Dean hanya tersenyum tipis melihat tawa Kara. Tampaknya memang tidak terjadi apa-apa jika Ia masih bisa tertawa renyah seperti itu.
Setelah menyelesaikan makan malam mereka, Dean dan Kara melanjutkan perjalanan. Tapi sepertinya Dean tidak membawa Kara pulang ke rumahnya, melainkan kesuatu tempat yang tak pernah Kara datangi sebelumnya. Puncak bukit yang menyuguhkan pemandangan pusat kota.
Lampu-lampu gedung terlihat seperti kerlipan kunang-kunang dari atas sana. Begitu indah di pandang mata.
"Kara." Panggil Dean.
Kara menoleh. Dilihatnya Dean melepas cincin yang tempo hari disematkan Kara di jari manisnya. Lalu mengembalikannya kedalam gengaman tangan Kara.
"Setelah aku pikirkan dengan baik, ini rasanya tidak benar. Aku tidak bisa menerima ini." Ujar Dean.
Kara menautkan kedua alisnya. Apakah Dean sedang membatalkan pertunangan mereka?
"Maafkan aku jika selama ini tidak bisa menjadi lelaki romantis seperti yang kamu inginkan. Aku bahkan sampai membiarkan dirimu melamarku lebih dulu. Aku sungguh minta maaf, Kara." Ujar Dean lagi.
Kara tak menjawab. Ia tengah meraba kemana arah pembicaraan Dean saat ini.
"Sekarang aku berusaha untuk melakukannya dengan benar."
Mata Kara membeliak saat dilihatnya Dean mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celananya.
"Mungkin ini tidak seperti lamaran yang kamu inginkan. Aku tidak tahu caranya membuat ini untuk jadi romantis. Tapi semoga kamu melihatnya sebagai sesuatu yang aku lakukan dari hati."
Kara semakin membeliakkan matanya saat Dean membuka kotak kecil itu. Tampak sebuah cincin tertengger disana.
"Maukah kamu menikah dengan lelaki membosankan dan tidak romantis ini, Kara?" Tanya Dean kemudian.
Kara menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk menetralkan debaran di dadanya.
"Berlutut, Dean." Ujar Kara.
"Ya?"
"Kamu harus melamar seseorang dengan berlutut. Bukankah aku sudah memberikan contoh padamu sebelumya?" Ujar Kara lagi pura-pura kesal.
"Oh, maaf. Aku lupa." Buru-buru Dean berlutut dihadapan Kara hingga Kara tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.
"Kara, maukah kamu menikah denganku dan menjadi teman hidupku sampai nanti aku tak bernafas lagi?" Tanya Dean sekali lagi. Kali ini sambil berlutut dihadapan Kara.
Kara tersenyum.
"Tentu saja aku mau, tidak perlu aku jawab pun kamu pasti sudah tahu jawabannya." Ujarnya.
Dean ikut tersenyum dan bangkit dari posisi berlututnya. Kemudian disematkannya cincin tadi di jari manis Kara. Lalu diraihnya Kara kedalam pelukannya. Diciumnya kening gadis yang sangat dicintainya itu dan ia dieratkan pelukannya seolah tak akan dilepasnya lagi.
Kara kembali tersenyum dan membalas pelukan Dean. Diam-diam dibuangnya cincin yang dikembalikan Dean tadi entah kemana. Kara lega, Dean akhirnya melepaskan cincin itu tanpa harus diminta. Itu artinya ia tidak perlu merasa bersalah lagi dan bisa meneruskan hubungannya dengan Dean tanpa beban apapun.
Bersambung...
Happy reading❤❤❤