Since You Married Me

Since You Married Me
Let's Go To Disneyland Paris



Albern sangat antusias dengan rencana liburan yang telah Aaron janjikan. Bocah itu sudah tidak sabar dan terus mendesak Aaron untuk segera merealisasikannya.


Dan akhirnya, setelah bisa menyerahkan pekerjaannya kepada orang-orang yang dapat dipercaya, Aaron pun mulai mempersiapkan liburannya bersama Albern dan Zaya.


Setelah menemukan tempat yang dirasa cocok, Aaron langsung memberitahukan tempat pilihannya kepada Zaya.


Zaya tampak tertegun. Dari beberapa negara di Asia yang memiliki Disneyland, entah kenapa Aaron justru memilih untuk pergi ke Disneyland Paris, Perancis. Tempat yang dinilai Zaya agak terlalu jauh jika hanya ingin mengunjungi sebuah taman hiburan.


Tapi karena Albern terlihat senang, Zaya pun tidak punya alasan untuk menolaknya.


Semua persiapan dilakukan dengan matang oleh Aaron, hingga sampailah mereka dihari yang di tunggu-tunggu oleh Albern itu.


Zaya seperti mendapat surprise saat melihat dua orang lagi telah menunggunya dibandara selain Aaron dan Albern. Mereka adalah Kara dan Dean.


Aaron tampaknya juga mengajak mereka berdua agar suasana tak merasa terlalu canggung. Keputusan yang Zaya nilai sangat tepat diambil oleh Aaron.


"Kamu juga ikut bersama Dean?" tanya Zaya pada Kara.


Kara mengangguk mengiyakan, lalu ia mencondongkan tubuhnya kearah Zaya.


"Pak Bos bilang akan memotong gaji Dean kalau aku tidak mau ikut." bisiknya ketelinga Zaya.


Mata Zaya agak membeliak.


"Kenapa?" tanyanya.


"Ya kenapa lagi, semua ini pasti karena dia tidak mau kamu merasa tidak nyaman selama ada disana." balas Kara.


'Dia mengajak Kara karena memikirkanku? Benarkah?'


Zaya jadi bertanya-tanya didalam hatinya.


"Aku hanya mengkhawatirkan kafe jika harus ikut seperti ini. Tapi sepertinya Fina orang yang bisa diandalkan." guman Kara selanjutnya.


Zaya masih agak tercenung, kemudian terlihat menghela nafasnya.


"Jangan khawatir. Fina sudah lama bekerja padaku. Dia bisa dipercaya. Lagipula kapan lagi kamu bisa jalan-jalan ke Paris." ujarnya kemudian. Lalu ia juga mencodongkan tubuhnya kearah Kara, seperti yang Kara lakukan sebelumnya.


"Dan yang terpenting, kamu jalan-jalannya gratis...." bisiknya ditelinga Kara.


Sontak saja Kara jadi tertawa terbahak-bahak mendengarnya, hingga Albern, Aaron dan Dean ikut menoleh kearah mereka.


Zaya mencubit lengan Kara untuk membuat gadis itu diam. Tapi tetap saja Kara terkikik geli meski dengan agak tertahan.


Tak lama kemudian pemberitahuan keberangkatan pesawat pun terdengar melalui pengeras suara. Mereka lalu beranjak dari duduk dan bersiap bersama barang bawaan masing-masing.


Aaron menggandeng tangan Albern.


"Ayo, Jagoan. Kita berangkat." ajak Aaron pada Abern. Albern pun menanggapinya dengan antusias.


"Oke, Papa. Let's go to Disneyland Paris." serunya dengan gembira.


___________________________________________


Zaya memejamkan matanya dengan jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Ini adalah kali pertama bagi Zaya berpergian menggunakan pesawat terbang. Zaya sudah merasa tidak nyaman sejak pesawat lepas landas. Tapi sebisa mungkin ia menahannya karena tidak ingin mepermalukan dirinya sendiri.


Zaya sempat melirik Alben yang duduk disebelah Aaron. Bahkan putranya itu saja terlihat sangat tenang dan begitu menikmati perjalanan. Bagaimana ia bisa merasa sangat takut, jika anak seusia Albern saja bisa begitu santai berada didalam pesawat.


Zaya menghela nafas sembari mengeratkan genggamannya pada pegangan kursi pesawat. Rasanya ingin ia turun dari pesawat itu secepatnya. Tapi sekarang mereka baru melakukan perjalanan selama dua jam, yang artinya masih ada beberapa jam kedepan yang harus dilewati.


Jika bukan karena ingin menyenangkan hati putranya, Zaya tidak akan pernah melakukan semua ini.


"Kau kenapa? Sakit?" suara Aaron sedikit mengejutkan Zaya.


Zaya membuka matanya dan menoleh kearah Aaron yang berada tepat disebelahnya.


Buru-buru Zaya menggelengkan kepalanya.


Aaron masih memperhatikan wajah Zaya yang terlihat agak pucat.


"Apa kau takut?" tanya Aaron kemudian.


Zaya terlihat agak kaget dengan pertanyaan Aaron. Entah kenapa mengetahui Aaron menyadari ketakutannya, rasanya lebih memalukan daripada orang yang kedapatan sedang mencuri. Mau tidak mau Zaya mesti menerima seandainya Aaron menertawakannya.


"Ya. Aku memang sedikit takut." jawab Zaya akhirnya.


Lebih baik mengaku saja pikirnya. Toh jika Zaya menyangkal pun sudah tidak ada gunanya. Wajah pucat Zaya sudah jelas-jelas memperlihatkan jika saat ini ia sedang takut. Lagipula jika Aaron mengejeknya, Zaya tinggal menutup telinganya dengan penyumbat telinga yang sudah tersedia. Tidak perlu terlalu dipermasalahkan.


Tapi diluar dugaan Zaya, lelaki itu malah mengenggam tangan Zaya dengan lembut, seakan ingin menyalurkan keberaniannya kepada Zaya.


"Tidak usah takut. Goncangan seperti tadi sangat biasa terjadi selama penerbangan. Tidak akan berbahaya. Lagipula disini ada aku dan Albern. Kau tidak sendirian." katanya lembut, terdengar seperti ingin menenangkan Zaya.


Zaya agak terkesiap. Ia sungguh tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Aaron yang biasa berbicara datar dan dingin, kali ini berbicara dengan nada yang sangat lembut padanya seperti sedang membujuk seorang anak kecil.


"Pikirkanlah hal-hal yang menyenangkan, itu akan membantumu menjadi lebih rileks. Lalu cobalah untuk tidur agar perjalanan terasa lebih cepat." ujarnya lagi. Kali ini sambil menutupi kaki Zaya dengan selimut.


Zaya hanya bisa mematung mendapatkan perlakuan Aaron yang seperti itu. Hal ini terlalu tidak biasa baginya hingga ia tidak tahu harus merespon seperti apa. Sungguh lebih mudah baginya untuk menghadapi Aaron yang seperti gunung es dibandingkan Aaron yang seperti sekarang ini.


"Terima kasih." ujar Zaya sembari mengalihkan pandangannya kearah lain.


Zaya memejamkan matanya dan berusaha untuk terlihat tidur agar Aaron berhenti memperhatikan dan bersikap aneh padanya seperti tadi. Zaya tidak ingin sampai terbawa suasana dan melupakan jika mereka sudah bukan suami istri lagi.


Akhirnya perjalanan panjang dan melelahkan itu pun berakhir. Setelah menempuh hampir delapan belas jam perjalanan, dan sempat transit di Amsterdam sebelumnya, mereka pun sampai di Paris Charles de Gaulle Airport, bandara terbesar di kota Paris.


Disana mereka telah di sambut oleh seorang tour guide yang sebelumnya telah disewa Aaron. Mereka pun kemudian melaju ke sebuah hotel yang berada dekat dengan ikon kota Paris, Menara Eiffel.


Aaron tampaknya telah menyewa hotel yang balkon kamarnya mempunyai bagruond pemandangan Menara kebanggaan warga Paris itu. Benar-benar pilihan yang sangat bagus bagi orang-orang yang pertama kali berkunjung sepeti Zaya.


Tapi karena terlalu lelah, Zaya tidak menyadari keindahan yang disuguhkan. Segera setelah check-in hotel, Zaya menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur tanpa menghiraukan apa-apa lagi.


Perjalanan menegangkan selama delapan belas jam diatas pesawat benar-benar telah menguras seluruh energinya. Zaya lelah. Yang diinginkannya saat ini hanyalah beristirahat agar bisa kembali mendapatkan energi untuk menemani putra tercintanya bersenang-senang besok.


Zaya ingin tidur, dan ia berharap tak ada yang menganggunya kali ini.


Bersambung....


Selamat bersenang-senang ya, Al. Jangan lupa oleh2nya ya. Gantungan kunci jg ga papa, lumayan😅


Btw, kalo banyak yg vote mungkin author bakal kebut satu part lagi😂😂😂


Tetep like dan komen yak,


Happy reading❤❤❤