My Nanny, Ohh My Future

My Nanny, Ohh My Future
108. Duel



Zeus menatap keseriusan Zeyna menata buku-bukunya setiap selesai menerima pelajaran online,di sana ada Deuz yang hari ini terlihat sangat lembut dan tidak menganggu adik kecil ini,dan sudah membuat rencana mengajak jalan-jalan.


"belum selesai?" Zeus mendekat dengan menahan perasaan sedih,tadi setelah marah-marah pada paman Luis,ia di ijinkan 1 hari libur sekolah online demi adik mereka,tapi tetap saja,bukan Deuz namanya tetap menyarankan dua adiknya membawa notebook,pria cool yang tidak pernah berhenti disiplin akan ilmu.


"sudah!,ayo jalan.....!",senyum lebar Zeyna begitu polos mengikuti Deus melangkah turun ke arah parkiran,anak itu berjalan dengan santai diantara kedua kakak laki-lakinya(keduanya sama-menenteng dua ransel berisi buku2 dan perbekalan) cukup si kecil yang jalan gontai sambil melambai pamit pada sosok ayah dan ibu yang duduk berbincang di ruang tengah.


"mommy kami pergi ya...!!",kaki indah mungil berusia hampir 7 tahun itu berlari riang memeluk leher ayahnya lalu mengecup pamit untuk pergi,semua yang melihat moment itu menahan terharu,para maid diam-diam ke dapur dan menunduk sedih di sana,siapa yang tidak sedih?,di rumah besar ini,siapa yang tidak tau kehidupan tuan muda Luis yang begitu misterius,mereka akan sulit menemui atau bertemu Zeyna kelak,karna rumah Luis tidak bisa di masuki sembarangan orang kecuali atas persetujuannya.caca mengawasi para pekerja mertuanya di Mension besar ini satu persatu,mereka saja sedih,apalagi dirinya saat ini melangkah ke arah ruangan pribadi Leon,tepatnya di balik tembok kamar tidur mereka,wanita itu terisak-isak di sana menekan dadanya yang naik turun tak karuan.


"belum selesai tangisku karna ulah anak sulungku yang punya perusahaan,saham dan laboratorium pribadi,sekarang anak perempuanku di ambil orangtua biologisnya....,ini sungguh membuatku ingin berteriak!", bibirnya berucap lirih karna menyadari keberadaan seseorang di ruangan itu,bukan lain adalah suaminya sendiri yang dari awal tidak pernah lepas mengawasi pergerakannya,pria itu sedang berdiri di balik pintu mengarah ke tangga turun ke ruangan favorit istrinya.


"hubby keluarlah dari persembunyianmu dan temani aku bermain....!,jangan kucing kucingan di situ!", sekali lagi Caca bersuara Sambil meraih sebuah samurai yang tertata rapi di tembok ruangan itu mengikuti arah firasatnya sang suami berada.ajak bermain adalah kode untuk mereka berdua jika ingin bertarung melatih fisik mereka lewat olahraga aneh mereka ini,dengan senyum lebar Leon keluar dari persembunyiannya dengan tatapan penuh kehangatan,Caca tetap terlihat seperti bayi menggemaskan di matanya,dengan mata sayu bulat itu sungguh membuat hari harinya semakin bucin.


"aku ingin kita berolahraga di kamar saja.....,bukan di ruangan ini...." Tut Tut Tut BIP bunyi pin pribadi pintu itu terbuka lebar,di dalam sana tetap rapi dan bersih,ruangan khusus penuh peralatan olhraga,tersedia kamar mandi dan juga kamar istirahat,di sebelahnya ada ruangan studio pribadi Leon yang sudah di renovasi,banyak tersimpan kenangan manis di sana,awal-awal Caca tiba di Mension ini dan di ruangan ini adalah tempat Caca menemukan jati dirinya.


"hubby.....hentikan!" karna lamunan yang mengusik,Caca tidak berkonsentrasi dan sering kali suaminya lebih unggul duel samurai,untungnya Leon menggunakan tongkat kayu mirip samurai,jadi hanya rasa sakit di kulit tidak sampai melukai.


"kau yang harus berhenti kucing kecil....!" Leon sudah mahir melawan Caca dan lebih banyak menggoda wanita itu,hingga akhirnya mengalah dan merajuk membuang tongkat samurainya berlalu ke arah kamar di ikuti Leon dengan cepat lalu mengunci pintu.


"hubby...!,duel kita sudah selesai,aku kalah okey....,sekarang tinggalkan aku sendirian....!" Caca tidak nyaman dengan sikap posesif Leon yang malah mendekat lalu membanya di dalam pangkuan.


"kita harus bicara.....dan ini harus..." Leon mengeratkan pelukannya agar Caca diam dan patuh.


"bicaralah...." Caca pasrah dan mulai tenang menikmati keindahan wajah suaminya yang menatap intens lalu sesekali mengecup pipi gembul istrinya yang sedikit berisi sejak berada di Itali.


"kurasa.....,Zeyna memang harus jauh dulu dari Deuz....,mungkin perasaanku saja yg salah tentang anak pertama kita,tapi dari semua bukti yang ku lihat sejak dia pergi wamil...." Leon harus hati-hati memberikan pengertian pada caca bahwa sikap sayang Deuz pada Zeyna sedikit berbeda dari cara Zeus,pria itu terkadang mendapati beberapa penelitian Deuz telah di berikan diam-diam pada Zeyna.


" mungkin firasatku yang salah....." Caca terdiam merenung lalu menatap mata hitam penuh damba milik suaminya,jika dugaannya benar,maka semua usaha Leon percuma.


"cukup awasi saja dari jauh Dad.....,jika kau sampai berusaha menjauhkan mereka,lalu bagaimana dengan dirimu dulu?" inti dari percakapan ini adalah wajah tampan Deuz berubah merona jika melihat senyum Zeyna,bukan lain pria berusia 17 tahun itu mencintai adik tirinya lebih daripada apapun,kedua orangtua ini takut hal itu menjadi bom waktu untuk kedepannya.


"jika seandainya dugaanku benar,apakah mommy akan keberatan......?,karna kakek dan nenek mereka sudah merencanakan pernikahan untuk Deuz di usia 25 tahun nanti..."


"jika Deuz memang obsesi dengan Zeyna hingga tidak akan menikahi wanita lain selain adiknya sendiri atau membiarkan Kakek dan Neneknya menjodohkan putra kita dengan wanita yang sudah di tentukan...."


Dua pernyataan Leon hanya di jawab dengan ******* berat lalu Caca memeluk leher suaminy serta berbicara parau.


"Keduanya tidak akan menjadi masalah untukku.....,karna semua ada pada keputusan anakmu yang nakal itu....kita harus membuat sebuah rencana matang....",Caca sudah sejak lama memahami karakter setiap putranya,dan Leon benar,sikap Deuz cenderung posesif.


"ya.....,aku baru sadar sejak dua tahun ini Deuzlah yang unggul memutuskan Zeyna harus melakukan apa,hingga sekolahnya dan Zeus adalah perwakilan yang mengurus segalanya lebih lancar,tapi bodohnya Zeus tidak tahu bahwa sejak saat itu yang mengendalikan segalanya adalah Deuz......," Caca mulai membahas semua hal yang di lakukan Zeyna berkonsep rapi dan apik sempurna di bawah keputusan Deuz,dan Zeus adalah anak penurut yang lebih banyak kontak fisik dengan Zeyna.


"tapi yang lebih bodoh adalah tetap Deuz Mom...." Leon menimpali sambil mencium leher istrinya yang tidak bisa fokus.


"dia memilih pergi sekolah ke tempat yang jauh bukan hanya karna ingin,bisa jadi karna alasannya hal ini....."


"ya...,dia ingin menyangkal dan menguji perasaanya sendiri apakah kuat jauh dari adiknya atau kekasih hatinya....,dia ingin melawan perasaanya sendiri...." Leon berbicara parau karna hal itu pernah ia rasakan dulu saat menyadari hatinya tertambat pada anak gadis kecil yang ia asuh,pada saat ini adalah wanita di dalam pangkuannya.


"lalu kita harus bagaimana?,aku kurang setuju karna......,Zeyna masih terlalu kecil dan sudah menjadi bagian dari kita,aku tidak ingin Zeyna terluka seperti aku....Tidak!!!!!" tiba-tiba Caca berubah kesal dan gemas pada putranya jika sampai menginginkan Zeyna,pikirannya sudah mulai negatif.


"hey.....!,jangan mengajak putramu duel,kau akan kalah darinya dalam segi apapun!" Leon menahan tubuh Caca agar tidak beranjak dari pangkuannya untuk mengambil hp berniat menelfon Deuz yang saat ini sedang berada di pantai bersama kedua adiknya.


"aku membahas ini agar kita jadikan rahasia berdua dan cukup mengawasi pertumbuhan mereka,percayalah padaku....,lalu Masalah Sikap Deuz menyakitimu kemarin,dia sudah minta maaf bukan?"


"ugh....aku masih marah....karna ternyata produk kecantikan yang hubby berikan dulu adalah karya putraku,aku membelinya di apotik denga n uangku tau.....!,padahal bisa saja aku meminta dengan gratis pada putraku!!,,hatiku sungguh sakit....!" mulai lebay batin Leon,tapi itulah Caca jika di depannya.


"aku mencintaimu Caca.....dan uang yang kamu belanjakan itu sudah di ganti kok...lagipula....,,semua itu patut di hargai....."


"lagi -lagi hubby membela anak nakal itu......huh..." Caca membuang muka menyembunyikan semburat merona di pipinya,patut anak itu mendapat pengakuan bahwa semua jerih payahnya memberikan dampak positif,Caca cuman ingin merajuk saja pada Leon mengingat momen ini jarang terjadi jika anak-anak berada di rumah.


"