My Nanny, Ohh My Future

My Nanny, Ohh My Future
Keyakinan



Dengan sepenuh hati Caca menemani Leon di balkon kamar,jam sudah menunjukkan tengah malam,dengkur halus Deuz di ranjang mereka membuat wanita itu tidak tega mengusik lelap putra sulung itu,anak itu seperti bocah meringkuk di sana menghirup wangi tubuh kedua orangtuanya di setiap jengkal seprai dan bantal,sifatnya sejak kecil cenderung manja melebihi Zeus jika sudah rindu melanda,tapi tidak terang terangan seperti adiknya ataupun Zeyna,sebelum sibuk study nanti,dia akan mengambil gelar lebih tinggi lagi,dan universitas itu adalah tempat sekolah khusus anak-anak bangsawan serta anak-anak terpilih dari banyak negara tetangga,Caca membiarkan semua hal malam ini mengalir apa adanya dengan harapan keluarganya tetap utuh penuh kasih sayang dan saling memahami,dan iapun melangkah ke tepian balkon,merengkuh bahu suaminya dari belakang,lalu keduanya sama-sama saling pandang sambil melangkah bersama di pojok ada meja dan sofa santai yang mewah biasanya keduanya habiskan waktu berduaan tanpa anak-anak,pria itu tetap menatap keluar arah danau,melewati taman belakang yang luas,ada jalur air menuju rumah mertuanya,masih bisa terlihat jelas lampu-lampu rumah kaca yang paling mencolok di kota kecil ini,bangunan kayu yang dulu tempat terbaik istri dan kakeknya menetap,kini sudah di renovasi lebih indah tidak lupa dengan sentuhan interior klasik di mana-mana,meeting keluarga,dan juga yoga dan Yuka memiliki kamar masing-masing di sana dengan catatan kamar Caca tidak boleh mereka rubah hanya di bersihkan,wanita inilah yang telah mendesain sendiri bangunan itu bersama ayahnya,tidak lupa Leon adalah background dari segi dana he he,apa sih yang tidak bisa ia lakukan untuk tempat kenangan indahnya dulu?.menyadari si istri sedang ikut melamun ia mengecup bibir wanita itu sekilas lalu melanjutkan memeriksa laporan lewat ipadnya,sesekali menatap istrinya yang sudah duduk di sofa samping meja bundar tempat Leon menaruh kopinya tadi.


" hubby...,,aku penasaran dengan caramu mengawasiku,kenapa waktu itu kau tidak menemuiku saja.....dan bilang bahwa kau mencintaiku atau mungkin sekedar bilang,Caca.....kau tidak sendirian,aku di sini" pertanyaan itu masih tentang isi bingkai foto besar di lantai atap,keduanya seperti remaja yang takut ketahuan dan ngumpet di balik jendela bisik bisikan di sana,ngobrol dengan suara pelan takut Deuz bangun,melupakan kamar mereka di lengkapi lapisan kedap suara🤣.


"karna aku yakin kita akan bertemu dengan cara Tuhan"


" Hubby jangan buatku aku menangis lagi dengan kalimat-kalimat rayuanmu....."


"sungguh,aku serius tentang hal ini,,maaf jika baru kita bicarakan semua lebih jujur saat ini,kakek selalu memberikan nasehat yang isinya begini "*setinggi apapun ego manusia,percayalah egomu tidak akan bisa mengalahkan sebuah doa*,setelah itu aku paham dan meyakini kamu adalah doaku sejak melihatmu punya semangat hidup bangkit dan ceria padahal kamu padahal sendirian di sini,bersama dengan kakek seorang mantan pengawal keluargaku,tapi kutemukan diriku di sini...,"


Caca mengangguk yakin dengan kejujuran suaminya,dan tidak terkecoh dengan belaian kecil setiap jemari pria itu di kulit wajah dan turun kemanapun pria itu inginkan,ia membatin terharu,yaaa.....kakek selalu hebat dalam berfilosofi ,sering menulis beberapa buku pantun ataupun beberapa biografinya yang ibunya selalu Terbitkan lalu di kirim dari newyork,di saat mereka masih menetap dan bekerja di sana meninggalkan Caca dan kakek di Swiss.


 Leon menoleh ke arah balik tirai,kearah pembaringan mereka,,bayi besar itu masih mendengkur di sana dengan tanpa beban,lalu Leon kembali menatap istrinya yang duduk berhadapan dengan dirinya di meja balkon ini,wanita itu tersenyum lebar dengan mata berkaca-kaca,jemarinya yang lentik menggenggam tangan besar dan kokoh Leon yang ikut senyum sumringah saat bibir wanita itu berkata dengan sangat lembut.


" Terima kasih untuk segalanya" Leon tidak tega melihat wanita itu harus menangis padahal sedang bahagia,ia bangkit duduk di sampingnya dan mengusap puncak kepalanya dalam hati melantunkan Doa untuk anak,istrinya ini serta apapun yang ia harapkan bisa berjalan dengan semestinya Tuhan takdirkan.


"apakah kita harus tidur di sana dengan putramu yang mendengkur itu?" Caca ingin rebahan di pelukan Leon,,tapi apa boleh buat,anak mereka sedang rindu rindunya berada di kamar ini,leon menuntun Caca duduk di sisi pembaringan,lalu naik sebentar mengubah posisi tubuh anaknya yang tadi terlentang mendengkur jadi menyamping, otomatis suara dengkurannya tinggal suara nafas lelap yang teratur,Leon memberi kode agar Leon di tengah dan Caca di sisi kanannya,Deuz menyadari kehadiran kedua orangtuanya namun hanya berbalik ke arah berlawanan kembali mengejar mimpinya.


Caca masih duduk di tepi pembaringan membuka ipadnya,menulis beberapa jadwal kerja dan juga untuk jadwal rumah tangga,Leon sudah tidur memunggungi ke arah Deuz,dua laki-laki ini akan mendapat masalah esok pagi batin Caca saat mengingat sikap Zeus jika melihat kakaknya serakah begini.


Diam-diam Caca melirik suaminya dan tersenyum mengingat potret dirinya dan isi di balik foto itu ada batangan emas yang sudah Leon tanam sejak lama,airmata wanita itu hampir jatuh mengetahui pria yang ia cintai ini telah memikirkan semuanya dengan matang,tentang aset yang ia harus tinggalkan untuk Caca dan anak-anak jika terjadi sesuatu atas dirinya.


"sayang ......?" Leon sayup-sayup mendengar umpatan tadi dan berbalik,hingga kilau airmata Caca membuat pria itu sadar dari kantuknya.


"aku kesal dengan caramu dan Deuz berpikir......,bagaimana bisa kalian sudah menyimpan harta untuk kami,tanpa memikirkan perasaanku jika kalian tiada.....sungguh menyebalkan...." caca menangis karna takut di tinggal mati oleh suami dan anaknya bukan senang dengan harga gona gini gina itu wkwkwk,Leon tersenyum merentangkan tangannya agar Caca masuk dalam pelukannya,dan menuntun wanita itu rebahan,dan berbisik.


"keyakinan akan Tuhan,komonikasi,dan juga saliang memahami adalah ajaran darimu,jadi jangan menangisiku dan Deuz....."


"pria bajingan......jangan berani-berani meninggalkan aku ,kau harus lebih lama hidup dariku dan merawatku Sam seperti merawatku saat masih kecil. .....paham ?"


"siap paham tuan putri" Leon menyeka airmata wanitanya itu dengan yakin mengangguk,dan bergidik saat Deuz sudah duduk bersila menatap keduanya dengan mata besar hitamnya.


"bisakah kalian berdua tau diri jika ada aku di sini?" keduanya terkekeh malu dan berbalik saling membelakangi dengan senyum lucu dengan tingkah bocah emosi satu itu kembali rebahan dengan omelan.


"kalian sudah tua dan terus tidak tau malu. .....haiisss....."


"ia ia tidurlah....selamat malam jomblo.....bocah manja,siap-siap kamu dapat masalah dengan adik adikmu"


"berisik!"


Leon berbisik menggoda anaknya yang menarik selimut menutup wajahnya dengan kesal.caca hanya bisa terkekeh mematikan lampu kamar Hingga akhirnya mereka benar-benat tidur.