My Nanny, Ohh My Future

My Nanny, Ohh My Future
122.Trauma



Seseorang mengatakan jika seorang gadis berambut grey,di kira peri hutan sempat menyapa dirinya saat istirahat dan sempat juga pendaki itu memotret sosok anak itu tidak mengatakan jika ia tersesat atau mengalami sesuatu yang berbahaya,gadis berusia 10 tahun itu berlari menjauh saat mendengar suara para pencari mendekat,pendaki yang berniat menahan mendapat gigitan di lengan hingga saat pemuda itu gemetaran karna takut dengan aura Leon menatap tajam padanya,


"mm maaf tuan,saya tidak ingin mengejar tapi anak itu tidak ingin di dekati,saya bersumpah tidak melakukan hal mencurigakan...."



Zeyna 10 tahun


Menurut gambaran pendaki,anak itu terlihat tidak kelaparan apalagi takut,malah hanya terlihat santai dan di kira anak salah satu penduduk yang mungkin sekedar ke hutan,atau anak salah satu pendaki,ada juga yang mengira sedang bermimpi,karna visual Zeyna cenderung berparas peri.jika ada pihak kepolisian,ia akan lari mnghindar,dan polisipun hanya bisa mengawasi,tidak dapat memaksa dengan tindakan kekerasan,karna Leon meminta secara khusus untuk tidak memperlakukan anak itu dengan keras.


Di lain sisi,di jalan setapak menuju labirin,Deuz melihat jejak kaki kecil di ilalang sekitar,menunjukkan anak itu baru saja melewati tempat itu dan mendengar suara air terjun,ia berniat memberitahu adiknya,tapi Zeus sudah lumayan jauh di depan mencari paman Yoga dan Dion,dengan perasaan berkecamuk,pria itu segera menuruni batu-batu terjal hingga melihat Zeyna sedang duduk mencuci luka di kakinya.rasa panik dan kepikiran yang sudah melanda sejak kemarin seketika hilang,malah ada rasa kesal karena melihat anak itu terlihat tidak apa-apa,tidak juga terlihat kelaparan,hanya sedikit lusuh mungkin karna belum ganti baju,dengan nafas yang berusaha Deuz atur agar tenang,ia menyapa dengan lembut sambil terus mendekat.


"Zey...." anak itu tidak segera menoleh karena suara air terjun,si kakak sulung buru-buru berlari menjangkau dan memeluk anak itu yang terkejut dengan bola mata besarnya tidak mengira ia di temukan kakak pertamanya di sana.


"Zeyna.....,ini kakak...." Deuz memeluk gadis itu dengan erat,dan Zeyna membalas dengan mata berkaca-kaca,terlihat jelas jika ingin bicara tapi bibir itu hanya bisa menangis lebih dulu,warna bibir merekah karna warna buah Cherry yang sepertinya ia nikmati dan masih berceceran di sekitar anak itu dengan warna buah yang khas kemerahan seperti darah,pipi lembab yang Deuz kecup dan usap berulang-ulang,menyeka air mata anak itu hingga selesai menumpahkan segala kerinduan pada kakaknya.


"tidak apa-apa...menangislah....,,ada kakak di sini......,lepaskan semua emosimu....okey ...." jantung Deuz berdetak tidak karuan melihat anak itu ingin bicara,tapi bibirnya seperti tidak seirama dengan lidah Kelu yang juga tidak sejalan dengan pikirannya,Deuz hanya dapat menepuk-nepuk dan juga mengusap beberapa noda lumpur di kaki,menggendongnya penuh perhatian hingga Zeyna semakin mencari posisi nyaman untuk tidur,ketika mata anak itu terpejam lelah,Deuz dengan cepat mengirim pesan pada sang Daddy jika adiknya ini mengalami tekanan mental pada kerumunan,dari caranya terus menutup diri sambil melihat sekitar seakan-akan kuatir jika ada orang lain selain kakaknya di sana,ia mengantuk dan selalu ingin tidur,tapi selalu terkejut dan terjaga melihat sekitar.


"minum air dulu....." Deuz menawarkan air minum yang ia bawa,namun gadis itu menolak,hanya terlihat langsung senang memeluk leher kakaknya seakan-akan ia sudah di tunggu dua hari ini,mencari kenyamanan di pundak kokoh itu,terasa hangat dan nyaman seperti berada di dalam kapas hangat batin si kecil,hingga terdengar suara kakak keduanya menyapa dengan berlari mendekat,seperti yang sudah di kuatirkan,anak itu langsung sigap dan terjaga menatap lalu berbicara untuk pertama kalinya sejak awal bertemu tadi.


"Zeyna.....,maafkan kak Zeus okey....kami di sini untuk mengajak kamu pulang....." Deuz begitu kasihan melihat adik keduanya yang berusaha melepas tas dan ingin memeluk penuh rindu,tapi Zeyna malah ingin berlari hingga Deuz segera memegang lengan anak itu tiba-tiba meronta-ronta ingin menjauh.


"Zeyna......,tenanglah?,itu kak Zeus......,paman Yoga dan juga Paman Dion!",Deuz meyakinkan agar dia tenang tapi seperti ada kebencian dan amarah dari mata Zeyna pada kakak keduanya,lalu beralih menatap pada paman Yoga,lalu ia menatap Dion dengan perasaan waspada.


"pegang dia lebih kuat....sepertinya ia ketakutan melihat warna baju kita" deru motor dan mobil mendekat semakin membuat Zeyna panik,tangan Deuz seketika mendapat gigitan hingga ia hampir melepas lengan anak itu,tapi demi adikya yang mengalami sesuatu yang aneh,Deuz menahan segala pukulan dan serangan gadis itu di iringi dengan suara teriakan histeris membuat Leon dan Caca yang sedang bergegas kesana ikut panik,airmata Caca seketika tumpah melihat anak itu mengamuk hingga membuat Deuz hanya bisa memeluk dan tidak membalas satu kalipun perlakuan kasar Zeyna,Leon mendekat ikut meraih anak itu seketika diam dan menangis lebih keras saat Ayah yang ia amat rindukan memeluk dan berbicara parau.


" Daddy sudah di sini,tenanglah .....ssssshhhtt....mommy juga sudah di sini,it's okey sweetie.....,ada kak Deuz,dan juga kakak kesayanganmu Zeus...." menutup matanya dengan telapak tangan agar tidak melihat warna baju orang-orang sekitar,entah apa yang terjadi saat Leon tidak berada di sisi Zeyna,yang jelas hati siapapun sedih hanya mendengar suara tangisannya,setelah menyuntik obat dan anak itu tertidur, Leon membaringkannya di dalam pangkuan Caca yang sudah berusaha tenang dan meminta waktu berdua saja dengan anak yang ia rindukan serta rasa bersalah selama ini.


"kita harus segera membawanya ke rumah sakit,aku akan bicara dengan kakak-kakakya..." Leon meninggalkan Caca yang menggendong Zeyna bersama team medis lain,pria itu melangkah ke arah anak-anaknya duduk dengan raut sedih sejak melihat apa yang telah terjadi dengan mental Zeyna,Deuz menatap luka luka cakar dan juga gigitan di lengan dengan sedih,rasanya tidak sesakit hatinya saat ini.apalagi Zeus,ia gemetaran sambil mengoles obat pada lengan kakaknya,antara rasa bersalah dan takut pada kakaknya.


"kita akan bicara di rumah Napoli,jadi kalian harus kembali untuk istirahat,kemarilah nak....." Leon meraih leher putra keduanya,memberikan rangkulan hangat dan juga rindu setelah 6 bulan pergi keluar negeri,lalu bertemu di tempat ini,ia jauh-jauh dari rumah Swiss ke italia demi si bungsu.


"semua akan baik-baik saja okey......,kalian putra Daddy yang sangat hebat....."


Deuz juga bersandar lega di pundak ayahnya,sekalipun sudah jelas Zeyna mengalami trauma,setidaknya ia di temukan dalam keadaan selamat di hutan ini,banyak hal yang mengganjal di pikiran,terutama pada adiknya Zeus yang jauh-jauh dari Swiss