My Nanny, Ohh My Future

My Nanny, Ohh My Future
14.Penikmat Rindu



Setelah kembali dari pinggiran Desa Grindelwald,Caca di ajak berhenti di tepi pantai pinggiran kota Zurich.beberapa kilometer dari sanalah rumah kakek Harland.....Desa tersembunyi yang hanya di author yang tahu he he.leon sedang sibuk mencari makanan di tempat jualan kaki lima,Caca sibuk dengan kameranya,saat seorang wisatawan berkomentar melihat Caca berdiri di atas tanggul pantai.


"cantiknya gadis itu,apakah dia anak dari desa sebelah?",Leon yang sibuk menatap penjual cumi bakar ikut menoleh kearah wisatawan memandang,diam-diam Leon mengabadikan moment itu dengan kamera pribadinya.



Setelah mengawasi Caca yang sibuk dengan kameranya,dengan hati-hati Leon mengajak Caca ke sebuah tempat rahasia,dan itu adalah pantai yang hanya dirinya dan kakek Harland tau.


"indah sekali......Leon,apa aku pernah kesini?aku merasa familiar dengan pantai ini he he"


"makanlah cumimu ca,besok lusa kamu tidak akan bisa menikmati moment2 ini,kita akan kembali ke zurich untuk bekerja,2 Minggu lagi kau akan menemaniku ke Dubai....puaskanlah dirimu sekarang"


"janji????,,kak Leon mengajakku ke Dubai???!!" tiba2 hati Leon menghangat,Caca begitu antusias bertanya dan menunggu jawaban penuh harap,matanya berbinar dengan senyum menggemaskan.


"jika impianmu sungguh2,,apapun aku kabulkan.....asal kau sungguh2 dan...aku punya sebuah hadiah"


1 bulan Caca bekerja,ia telah memenangkan lomba fotografi di sebuah majalah atas namanya sebagai editor,tentu saja ia terharu dan langsung memeluk Leon dengan erat,setelah beberapa menit hanya suara isakan yang terdengar.


"heiii......kenapa lagi sekarang?,bukannya kau senang malah menangis....gagal deh aku memberimu kejutan"


Caca menyeka airmatanya dan mundur sedikit tapi masih memeluk leher Leon.


"aku merindukan kakek......seharusnya beliau melihatku di kenal dunia sekarang,ini semua berkat didikannya,Leon harus tau...aku mencintai kakek lebih dari yang semua orang tahu"


"Leon......,Terima kasih,tidak sia-sia aku mencarimu"


Caca mengucapkan tanda terima kasihnya dengan lembut dan manis.hati Leon merindukan kakek Harland,tanpa peduli sekitar,Leon merebahkan diri di atas pasir pantai mengawasi Caca yang sibuk membuka majalah hasil karyanya,awal bertemu sebulan lalu,Caca hanyalah anak kecil di matanya,namun saat ini dan kemarin,Leon yakin,dirinya salah besar.caca sudah dewasa sebelum masanya,ia begitu tangguh tahan banting di bawah didikan sosok leon,pria itu menahan airmatanya agar tidak jatuh,ia merindukan Caca yang dulu,anak yang begitu manja dan aktif,kini anak itu telah me jadi matang karna kerasnya hidup.hanya penikmat Rindu,saat ini Leon ingin mencium dan menggelitik Caca seperti dulu....mencium seluruh wajahnya seakan bayi,namun itu semua tertahan oleh rasa bersalah.terngiang kata-kata ibunya 2 hari lalu......jika ia harus menjauhkan Caca dari hidupnya yang penuh misteri."mungkin nanti jika Tuhan tidak mentakdirkan aku menikahimu,aku sudah bahagia melihatmu bahagia seperti ini bacah nakalku" Leon tersenyum dan membatin sambil menatap wajah Caca yang sibuk membanggakan dirinya sendiri.


"sekarang kenapa kau memanggilku kakak?,aku bukan kakakmu" Leon sengaja bertanya mencairka suasana haru itu,Caca mengangkat bahu bingung dan menjawab dengan polosnya.


"lalu aku harus memanggil apa?,suami?kakak belum menikahiku.kl aku bilang pacar,kapan kakak menyatakan cinta?"


"kalau sekarang aku bilang,Caca.....hanya aku laki2 yang harus kau cintai dan lari dalam pelukku saja seumur hidupmu,bagaimana?"


"hah?"


"cinta tidak perlu di ungkapkan lewat kata saja kan?,bisa juga dengan tingkah laku....apakah kamu mencintaiku Caca?"


"hah? mencintai kak Leon?"


jari telunjuk Caca menunjukk dirinya dengan bingung sambil mengarahkan wajahnya ke arah leoan yang beranjak dari atas pasir,posisinya lebih tinggi dari Caca yang duduk bersila.


"yaaa ca,,,iaa......bisakah kamu mencintaiku ca?,karna aku mencintaimu,menyukaimu sejak kamu lahir......dan.....itu semua tidak berubah sampai saat ini..."


Leon tidak mendapat jawaban,gadis itu menatap heran dengan airmata siap meluncur dari kedua mata hazelnya.