
Maaf para pembaca yang setia tersayangku,,,penulis baru sembuh total dan baru update lagi,,salam sehat🥰🥰🥰🥰,,,
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA🙏🙏🙏
Hari Sabtu telah menyapa,lalu siapa yang akan heboh di rumah pagi-pagi begini bukan lain adalah Zeyna,anak itu sudah berlari ke ruang tamu ke arah Leon yang ia selalu panggil Daddy,aroma bayi yang sudah selesai mandi terhirup menenangkan perasaan,pria itu langsung meraih dan memeluk putri kecil penuh cerita itu dengan mata tertutup.
"good morning Zey.....,bagaimana tidurmu semalam?" Leon mengecup pipi gembul anak mungil itu sambil menunggu jawaban,lalu terlihat Mata berwarna gading warisan dari Luis mempesona di iringi senyuman lebar,serta bicara keras.
"Zey di bacain buku dongeng sama Kakek,laluuu....,nenek memelukkku hingga Zey tidak mimpi buruk lagi,Daddy kemana aja?,mommy menelfon pagi-pagi,tapi mommy tidak bersama Daddy di saat video call Zey!!" dari deretan kejujuran,dia akhiri oleh pertanyaan penuh penasaran dari putri angkatnya ini,Caca menelfon Zeyna tapi kenapa tidak menelefon suaminya??,Leon mengumpat dalam logika egois,ya dirinya tidak menyadari jika semua makin runyam saat makan siang setelah 3 hari Caca ke Italia,belum satu kalipun wanita itu menelfon atau sekedar memberi kabar,sekalipun sibuk biasanya dering hp Leon selalu terdengar bukan lain sapaan penuh perhatian atau sekedar menyapa.
"Dad.....!,aku ingin ke Italia,nanti subuh Bibi Yuka akan berangkat,katanya urusan pekerjaan,bolehkah?, i am missing mommy....." itu suara bujuk rayu Zeus saat sore hari,Leon hanya sekedar menelfon menanyakan keadaan mereka lewat ibu mertua,lalu saat ini putra bungsunya sudah mengambil alih telepon rumah.
"ini baru dua hari nak,,Daddy juga merindukan mommy,tapi bagaimana dengan sekolahmu?" Leon tidak ingin Zeus jauh darinya,Deuz dan Caca sudah jauh,masa ia di tinggal juga??,sisi baper seorang Leon mulai marasuki.
"aku menunggu jawabannya nanti jam makan malam ya Dad....,jangan kecewakan aku ya" TUtttt,telepon di putus sepihak donk sama anak bandel itu,Leon memutar bola matanya ikut membanting telepon kantor di meja kerja saat ini,pria itu merasakan atmosfir tidak baik lalu segera meraih hp ingin menelfon sang istri tapi matanya langsung menyipit.
"aku di BLOCKK????!!!!" Suara Leon terdengar hingga di telinga Damar yang berada di ruangan sebelah,apalagi pintu ruang kerjanya belum di tutup,tanpa menunggu di panggil,pria itu segera bangun dari kesibukannya lalu ke meja sang Presdir.
"what's wrong??!!,Damar,apa salahku???,,Sera pastinya sudah memberikan penjelasan kan kalau perusahaan kita sedang sangat sibukk seminggu ini" gelisah tak jelas,duduk membelakangi Damar lalu dengan hp sudah berpindah ke tangan si Damar yang membandingkan pengecekan,saat Damar menelfon Caca terlihat jelas foto profil wanita cantik itu tampil di layar hpnya,,sedangkan di hp Leon berbanding terbalik,apalagi handphone milik pria kaya raya itu lebih canggih tentunya.
"selamat sore kak Damar....,"
suara Caca terdengar jelas di telinga Damar dan juga Leon,ingin rasanya mengambil alih hp itu tapi Damar memberikan isyarat agar bersikap tenang.
"maaf ca,aku menelfonmu mendadak karna lupa password pintu ruangan Gym di studiomu,Sera lupa mengambil pengecasan hpnya kemarin...." Damar pura2 membutuhkan bantuan,ini trik baru karna jika menggunakan pertanyaan langsung pada intinya,Caca akan bisa menebak dan makin menjadi jadi,dia wanita keras kepala jika marah,Leon tau hal itu.
" kurasa tidak perlu menelfonku hanya Karna password pintu kak,,ha ha,oh lord....!!!,aku sedang sibuk,apa yang ingin Leon bicarakan tidak akan ku dengar dan tidak akan pedulikan. hingga dia tau kesalahannya.....,"
so,trik itu tidak mampan dan Caca menyadari situasi saat ini sekalipun berada jauh dari sang suami.
"sebaiknya kalian harus liburan berdua.....daripada suasana ini merugikan banyak hal....okey....,maksudku....." Damar terus membujuk lalu hanya terdengar suara bising kendaraan entah wanita itu berada di keramaian macam apa,pada intinya dia kesal.
caca
Leon menekan nekan keningnya setelah melihat pesan Erica adalah sebuah potretan istrinya tampil mempesona dan sudah menarik perhatian publik di pusat kota Napolly.pemuda di sana tidak mengenali Caca,tapi motor yang ia kendarai,Erica yang saat itu berada di sana adalah bagian dari diri leon,lalu kendaraan yang wanita itu duduki adalah moge milik Leon di saat remaja.beberapa motor dari sana terlihat David dan Ariana juga,rupanya mereka sedang duduk di taman tak jauh dari rumah.
"apa yang harus ku lakukan?,bagaimana jika Caca masuk berita?" Leon bertanya pada Damar yang mengeleng tanpa kuatir,pengaruh keluarga Leon di Itali tidak sebanding saat berada di Swiss,tidak akan mungkin orang-orang bebas memainkan ujung jari mereka,padahal mereka mengenal sosok Napoleon Group tidak akan main-main jika sudah merasa terganggu.
"aku kehilangan akal,telfon Deuz sekarang..!" Leon mulai terlihat kesal tapi Damar tidak menggubris karna dirinya lebih tau situasi ini bukanlah hal yang perlu anak-anak ikut campur.
"Damar,apakah aku harus memarahimu di usia kepala 10 begini?" Leon Makin kesal saat Damar malah menaruh labtopnya untuk pergi dari sana.
"mar...." rahang Leon makin mengeras tapi tiba-tiba kembali berusaha tenang saat Sera masuk dengan tergesa-gesa.
"maaf..tuan tuan Budiman,aku memotong meetting kalian,info dari komisaris,bahwa Leon harus segera ke Korea esok......,terjadi hal serius di sana....." Sejak Luis mengembangkan bisnis dan membangun cabang usaha di wilayah Asia tenggara,banyak hal yang membuat kepala Leon sakit.
"bisakah sehari saja aku di beri waktu?" Leon benar- benar shock saat ini,sejak Caca pergi pola makannya tidak teratur,tapi tanggung jawabnya sangatlah besar.
"oh ia, handphone pribadiku Belum kutemukan jadi Caca belum tau apapun hal kritis di sini...." penjelasan Sera membuat hati leon makin sakit,sudah jelas sekarang kenapa Caca sungguh kecewa padanya,jadwal dan rutinitasnya yang biasa di infokan Sera jika leon tak sempat,ternyata tidak tersampaikan hanya Karna sebuah handphone yang hilang atau kelupaan entah di mana oleh menejer Sera,sejak saat itu Leon tak mendapat pembelaan.
"sejak istriku ke Italia?" Leon bertanya dengan lesu,awalnya marah kini lemas,lesu dan duduk terhenyak,sera mengangguk mengiyakan itu semua.
"lengkaplah sudah.....aku kehilangan akal.....ohh God....help me...." suara sendu Leon membuat Sera dan Damar saling pandang dan sama-sama menunduk rasa bersalah.
"apakah kau butuh kopi ?",Sera inisiatif pergi ke meja asisten untuk menyiapkan seduhan kopi,tak ada jawaban,pria itu menatap keluar jendela,ingin sekali ia bisa merentangkan kedua tangannya hanya untuk berhalusinasi jadi seekor burung yang bisa terbang dari ketinggian gedung ini ke arah pepohonan yang terbentang luas tepat di depan perusahaan.
"jangan bilang kau ingin loncat dari sana....." itu suara datar sang ayah Mr.Napleon,pria paruh baya itu terlihat maskulin dan sangat mendominasi dengan ketampanannya.