
Setelah orangtuanya menutup pembicaraan,Caca ikut bergabung untuk menyantap sarapannya di Gasebo dekat ke 3 orang dewasa itu memancing,Leon telah menyediakan roti bakar isi selai nanas dan segelas susu coklat untuknya,Bi Mel mendekat dan berbisik pelan pada anak majikannya.
"makanlah yang banyak,karna setelah ini Tuan muda akan mengajakmu ke pantai"
"mengapa harus bibi yang bilang sih,,hari ini orang-orang pada aneh,namanya Leon bi,biasa saja sebutnya",Caca memutar bola matanya jengah dengan situasi ini,sejak kemarin ia merasakan dunianya yang tenang,penuh kemandirian dan malas-malasan berubah.Bibi Mel mengusap puncak kepala,dan turun mengusap pipi pucat milik Caca,ada rasa suka cita dalam hati ibu berusia 40tahun itu,sejak Kehadiran Leon,Caca tidak terlalu bersedih,hanya bersikap ketus dan kembali bersemangat melakukan berbagai hal wajar,selayaknya seorang gadis muda seperti biasa.dua bulan terakhir sejak kakeknya meninggal,dia memilih berlatih samurai sendirian,atau menyendiri dengan kamera kakeknya.
"Paman.....kau tidak lapar?"
Paman Bob menoleh dan mengeleng,tapi Caca malah berteriak nyaring "bukan paman Bob maksudku,,he he he paman Leon......yeaaa"
Paman Bob menahan tawa dan melirik sosok pemuda di sampingnya yang senyum ketus menoleh kearah suara Caca,ia ingin marah seperti biasa,namun lidahnya kelu dan mengumpat dalam hati,otaknyapun merasa agak pusing,ia kembali menatap kail pancingnya sebelum berbalik melirik Caca yang pagi ini terlihat berbeda,atau mungkin memang penampilan Caca di rumah semanis itu?,bukan manis saja,lebih menggemaskan batin leon.
Leon berpikir keras lagi,ia menelan ludah kasar dan melirik paman Bob yang sibuk menarik kailnya,Leon tiba-tiba menyimpan kailnya bergegas ke kamar mandi,ia berdiri di depan kaca cermin menatap dirinya,dan berguman pelan.
"Ini cobaan ternikmat yang pernah aku lalui....terlalu indah yaa Tuhan,aku harus bagaimana?,bocah tengal itu sudah menodai otakku.seharusnya aku tidak kemari sendirian,mungkin aku harus menelfo David", Leon berpikir sejenak,dan kembali berguman lagi "tidak,David akan lebih cabul dariku,jangan sampai dia tau Caca secantik ini...sssshhhhhhh," Leon menyalakan kran westafel dan membasuh wajahnya dengan kasar,dan kembali keluar kamar mandi,sia sia saja membasuh wajahnya,karna tenggorokannya tetap menelan liur dengan dahaga yang liar selelah bepapasan dengn Caca di dapur,gadis itu berdiri membelakangi kompor sambil memutar gelas susunya,dan berguman parau,denga senyum polos
"jadi kau meragukan aku lagi?"
"ya,,iyalah tuan Leon,aku jadi curiga........bahwa kau adalah sejenis pria berhati peri jika di hutan dan jadi iblis jika di Padang tandus,atau jangan-jangan kau adalah seorang princely? yang sedang mengembara mencari selir??"
Leon tersenyum menutupi kegugupannya dan menjawab pelan tapi tegas
"aku tulus melakukan ini semua......karna aku memang mengenalmu lebih dari yang kau tau ca"
"ya,mengenalku,,menciumku,dan mungkin besok kau akan...."
"akan memakanmu,aku seorang monster,paham?"
bibir Caca seketika terkatup,dan kelima jarinya ikut menutup mulutnya,dalam hati membantah keras batinnya mulai melayang denga kejadian kemarin saat Leon bersikap romantis dan berakhir dengan caca naik tempat tidur di loteng tanpa mendengar penjelasan Leon tentang siapa dirinya,siapa yang salah sekarang?,Leon mandi di kolam untuk menurunkan suhu tubuhnya yang bergejolak,setelah itu ia duduk di teras depan danau hingga jam 11 malam,Caca tak menghampirinya.hingga Leon tertidur di sofa ruang tengah.