
Tatapan Caca beralih ke arah sekitar kamar yang masih terlalu pagi untuk berkeringat,pelipis Leon telah di banjiri bulir keringat dengan wajah penuh damba,kini posisinya telah berada di bawah kungkungan tubuh kekar pria itu,Leon berbisik pelan dan lembut.
"Jangan egois sayang.......,aku hanya ingin kamu memakai apa yang ada dalam kotak hadiah itu.......,kamu tau,tugasmu kan,jadilah model terkahirku sebelum aku pensiun dari fotografer seperti keinginanmu,dan juga apapun yang kamu inginkan kita bicarakan nanti setelah ini"
"jangan menggodaku......,"
"tidak,,buatlah aku patuh dengan sungguh-sungguh darimu,tunjukkan donk seegois apa kamu sebagai nyonya Napoleon,dan aku tidak akan main-main dengan semua keinginanmu,aku berjanji..."
"atas dasar apa?,tidak biasanya sebaik ini,apakah ini sebuah hukuman juga ya"
"ya.....kamu dapat hukuman karna kesalahanmu"
"kesalahan yang mana?"
"tidak mengangkat telfonku,tidak membalas pesanku,tidak mendengar laranganku Jangan bermain salju.....,dan parahnya.....kamu tidak menyambut suamimu ini saat pulang kerja ya"
"apa?"
bola mata Caca berputar kesal,namun yang di katakan Leon semua benar adanya,pria itu berbalik berada di bawah Caca degan pinggulnya di peluk rapat penuh kerinduan dari suaminya yang hanya mengenakan bawahan celana satin,piyamanya entah kemana dia sudah gila batin Caca yang tercegat saat pria itu mengecup singkat bibirnya lalu tersenyum.
Caca menelan ludah membasahi kerongkongannya yang kering setelah menatap wajah tampan suaminya yang senyum manis sekali pagi ini.
dengan patuh Caca ke kamar mandi dan membuka kotak hadiah dari mertuanya,dan sebuah pesan serta ucapan salam hangat dari seorang ibu yang merindukan seorang cucu.sedangkan di tempat tidur,Leon gelisah tak menentu karna reaksi obat dari ibunya mulai bekerja.sambil menunggu gadis itu keluar dari kamar mandi,ia beranjak ke meja dekat pintu kamar,meraih kamera untuk di cek kesiapan memotret istrinya,jarang sekali Caca patuh,hanya untuk satu gambar cantik untuk keinginan leon,jadi hari ini adalah keberuntungan baik mungkin batin pria itu,,dan saat Caca keluar dari kamar mandi dengan malu-malu,nyaris saja Leon menjatuhkan kamera di tangannya saat melihat pantulan gadis kecil itu di balik kaca cermin meja rias,Caca berdiri di sana dengan dress krim tipis,meraih handuk kecil dan melangkah ke sofa sudut kamar,mengeringkan rambutnya tanpa sadar suaminya sedang mengawasi,kamar yang tadinya remang-remang kini terang saat lampu tiba-tiba di kontak Leon yang bersandar memegang kamera yang dia arahkan kemana istrinya melangkah duduk di sofa sambil mengangkat tangan menggosok rambut basahnya,beberapa kali Leon mengabadikan sosok ramping mempesona itu yang tiba-tiba telah mendekat ke arah Leon.
"udah 5 menit,aku lapar.....ini sudah jam 5....aku....."
rahang Leon mengeras menaruh kameranya di tempat semula dan menarik kasar pinggul caca jatuh ke kasur.
"mana ucapan selamat paginya sayang......"
sebelum di jawab,bibir Caca telah di bungkam dengan bibir Leon yang pagi ini tidak akan menunda lagi segala hasrat yang telah lama terkubur dalam beberapa tahun tidak menjamah seorang wanita manapun.
Leon mengecup punggung istrinya dan mengusap lembut punggungnya lalu berbisik parau di telinga Caca yang tergelitik
"jangan pernah sekalipun kau keluar dari kamar ini sebelum aku menyuruhmu ya"
"buk....bukkaannya tadi mau di suruh berpose di sini ya...untuk kau potret?"
"itu nanti sayaang.....,bukannya tadi sudah tersita 5 menit,kau menggodaku".
"Leon....jangan egois......,aku lagi sakit ...."
"aku juga sakit ca...."
"hah?"
"sakit jiwa kalau hari ini kau bisa keluar dari kamar ini dengan utuh....."
,Caca salah tingkah dan menarik diri di balik selimut menjauh dari tubuh leon yang berdiri ketus membuka tirai menatap keluar jendela.
Caca melihat kekecewaan dari raut wajah suaminya,ia ingat amanat mertuanya tadi dalam pesan singkat di kartu ucapan,dan ia bergerak ikut turun dari tempat tidur ke arah pintu kamar di awasi Leon yang berniat mengenakan kembali piyama yang sudah di tanggalkan hingga tersisa celana piyamanya yang tentu saja makin menggetarkan bibir gadis itu
"mau kemana?"
"aku mau cari susu panas,aku kedinginan.....kau tidak mau memelukku setelah menyuruhku memakai baju kurang bahan ini"
"bagaimana kamu bisa memutar balikkan kata?,keluarlah....sebelum aku tidak bisa menahan diriku dan berubah pikiran...."
"kenapa kamu marah?",Caca batal membuka pintu,ia bersandar ketus di sana menatap Leon yang gusar ingin meraih kotak rokok,namun sekali lagi bibir cerewet tiba-tiba Caca mengalihkan perhatian dan emosi pria itu berbalik menatap mata sayunya berucap tanpa jeda.
"jika masih ingin menjadi suamiku,Jangan pernah menyentuh nikotin itu Lagi dan......berhenti total,aku tidak akan segan-segan membuatmu memilih aku atau benda itu...."
Hati Leon geli dengan ancaman Caca,ia akui bukan kali ini saja gadis itu melarangnya merokok,ia sesekali mengisap rokok jika hanya ingin,bukan perokok aktif namun kali ini gadis itu serius,dengan ekspresi datar dan sosok tegapnya membusungkan dada tanpa menyadari mata leon beralih menyadari jika istrinya tidak mengenakan dalaman,singguh lucu,ia tersenyum licik dan mendekat.
"baik,aku menurutimu sayang,,tapi ada syaratnya...."
"apa?"
"aku ganti rokoknya dengan dirimu"
"maksudmu?"
Leon melihat Caca mengigit bibir malu-malu ingin keluar Hanya dengan busana penuh godaan itu?,jangan harap.leon bergegas keluar kamar menyiapkan segelas susu dan kembali secepat mungkin di kamar memberikan gadis itu meneguk habis susu hangat dari dalam gelas yang hampir jatuh saat bibir gadis belia itu yang memekik saat menyadari inti dari tubuh leon yang teramat luar biasa tegak butuh keadilan untuk haknya sebagai seorang suaminya yang dari awal menatap lembut sambil memeluk Caca di atas pangkuannya.
"kita sepakat sayang???hhmmn"
"sepakaat...."
"bagus.....sekarang patuhlah...."
Leon memberi ruang gadis itu untuk menarik nafas dulu,ia bangun ke arah pintu menguncinya dan tersenyum melepas yang mengganggu pemandangan mata Leon pada tubuh istrinya yang terlihat malu-malu
"Leon...."
"iya....katakan kau mencintaiku"
"i iya....aku mencintaimu suamiku"
Pipi Leon terasa panas,apalagi telinga dan hasratnya saat telapak tangan Caca menyentuh wajahnya selesai mengakui perasaannya,tubuh pria itu bergetar menahan gejolak jiwanya untuk lebih dalam memasuki istrinya yang memekik tertahan saat sesuatu yang panas menerobos masuk dengan sedikit keras,jari-jari Caca mencengkeram tengkuk Leon yang menunduk mengecup bibir ranum istrinya yang menengadah di iringi ringisan dan isakan,Leon merasakannya juga bagaimana rapatnya inti dari tubuh istrinya yang mendesah untuk beberapa detik berikutnya saat Leon bergerak pelan menggoda sekujur tubuh mungil dan indah istrinya yang mendesah serta tiba-tiba berbicara parau.
"Leon......hanya aku milikmu,jika kau macam-macam setelah ini...aku akan membunuhmu...dengan.......samuraiku"
Leon ingin tertawa sekeras mungkin mendengar ancaman istrinya,namun ia tak ingin suasana romantis ini berubah jadi pertarungan di Medan perang.perbuatannya telah membuat Caca terkulai lemas hingga tertidur.sekuat apapun bela diri Caca,ia tidak dapat mengalahkan sisi liar suaminya yang membuat beberapa tanda di dada dan pahanya saat ia tidur,pria itu menggendong Caca ke kamar mandi dan dengan suka rela memandikan istrinya di dalam air hangat serta telaten memakaikan pakaian.
"maafkan aku......"
Caca mengenggam tangan Leon yang merasa bersalah setelah melihat seprai kamar ada beberapa titik merah di sana,gadis itu tersenyum dan bersandar dalam gendongan suaminya ke meja makan depan balkon kamar.
"my amor.......makanlah...."
"kamu juga sayang..."
"sayang?"
"ya.....iyakan?,he he he"
Leon memeluk mesra istrinya yang terkekeh sambil mengunyah makan siangnya dengan lahap.dering telfon dari David tidak mengubah posisi Caca dari pangkuan Leon,pria itu mengangkat video call dari sepupunya yang sudah heboh bersama staff lain yang ada di ruangan itu.
"selamat siang tuan dan nyonya Napoleon.......kapan kami kesana?"
"besok hmmmpt.."
caca tidak dapat melanjutkan kata-katanya saat bibir Leon mengecup singkat bibirnya dan membuat David mengerutu.
"aduuuhhhhh kalian telah mencemari mataku......!!!!,,saat ini juga kami akan siap-siap kesana!!!"
Leon tersenyum melihat tingkah David yang memang teramat bawel,Sera juga ikut bicara.
"kami akan menjemput caca....."
"kalian akan aku pecat jika hal itu faktanya"
terdengar suara tawa gaduh mewarnai musim salju yang terasa membekukan kulit tapi hangat dalam hati keduanya yang mengabari menunggu kedatangan para staff dan David di kastil.
"Leon,,eehh maksudku.....sayang....."
"ummnn?"
"ayo main salju....."
"sudah sembuh?"
Kecupan lembut Leon di kening terasa nyaman untuk Caca tetap betah meringkuk dalam pelukannya,hingga sebuah dering handphone Caca mengusik pandangan keduanya.tertera nama sepupunya Dion,Caca segera menerima panggilan itu dengan senang.
"hallo Dion......"
"hallo ca,aku.....akan tiba besok di Swiss.....dan aku mengajak Diana dan Ariana....."
"ohhh yaa???!!,,ini sungguh kejutan,,"
"dan satu orang lagi....Ali juga sudah memesan tiket,kami mendengarmu telah menikah,tentu kami ingin menganggu acara bulan madumu"
Caca menatap suaminya yang pura-pura melirik ke arah halaman belakang,ini sungguh kejutan tentunya,Caca tersenyum menjawab candaan sepupunya yang ternyata di hubungi Leon beberapa hari lalu,Ali juga akan datang.
"aku egois atau apa sekarang?"
mata gadis itu berkaca-kaca memeluk leher suaminya yang juga telah mengatur jadwal kerjanya agar tidak terlalu padat.