My Nanny, Ohh My Future

My Nanny, Ohh My Future
120. Pengakuan



Leon terdiam dengan tatapan rasa bersalah pada kejujuran demi kejujuran wanita terbaiknya.


"dulu....,ruangan ini adalah tempat pertama kau menerimaku dengan layak,maksudku....,saat jumpa pertama,aku hanyalah bocil yang datang mencarimu membawa surat wasiat kakek,aku tau jika tatapanmu saat itu tertuju padaku begitu santai ,tapi kau sungguh menghargaiku,bertanya dengan ramah lalu hingga akhirnya kau berpura-pura menjadi ownerku,padahal sesungguhnya,kau mengenalku melebihi aku mengenal diriku sendiri,intinya hubby....,ketika aku melihatmu saat pertama kali,hatiku dan pikiranku setiap saat hanya tertuju padamu......,aku telah mencintaimu sekalipun aku lupa bahwa saat masih kecil kau adalah pengasuhku.....,dan parahnya aku makin mencintaimu setiap kali ada tatapan kesal di sertai Omelan atau bersikap acuh tak acuh.....,aku merasa hatiku hangat,di hargai,penuh kejujuran......,banyak hal yg membuatku tidak bisa melupakan tempat ini,apalagi kau menyuruhku mendesain rooftop ini dengan konsep pilihanku.......sejak saat itu.....aku seperti menjadi seorang anak anjing yang di manusiakan oleh seorang fotografer terkenal dan juga terhormat di mana-mana .......,tapi apa salahku sampai kau tega tidak jujur soal rencana kak Luis?,di dunia ini yang paling aku percaya selain Tuhan,tentu aja kau dan anak-anak kita...cuman kadang benar kata pepatah yang mengatakan _percaya pada pencipta-Mu saja,selain itu persetan ha ha ha ha....!"


kekehan di sertai genangan airmata itu membuat lubuk hati Leon tertusuk sembilu,sulit menjelaskan waktu itu jika kakaknya telah memperdaya mereka sekeluarga demi mendapatkan Zeyna,dan Leon hanya bisa ikuti alur itu tanpa berpikir bahwa akan berakhir rumit,Leon duduk lebih dekat di samping istrinya,mengecup kedua pundak wanita itu dan menarik tubuh itu di atas pangkuannya,yang jelas caca berontak,ibaratkan seekor pinguin dan beruang kutub bergelut,percuma meronta,hanya deru nafas kesal naik turun mengibas lengan suaminya yang membujuk.


"Caca...,Terima kasih atas semua pengakuanmu....,dengarlah dulu alasanku,saat itu aku hanya curiga,tidak yakin jika kak Luis sampai membuat rencana sejauh ini,maafkan aku jika tidak jujur padamu,bukan maksud berbohong,aku hanya ingin kamu fokus dengan pekerjaanmu saat di asia,waktu itu kau tidak di sampingku......,jangan diam dan datang seperti begini di studio....maafkan semua ini Caca ...."


Leon mengatup kedua tangannya sambil menggenggam tangan Caca,kedua insan itu saling menatap lalu berakhir dengan mata istrinya semakin meneteskan airmata,Leon cepat-cepat menyeka setiap bulir air mata di wajah itu.


"lalu satu hal lagi,terlepas dari aku yang salah.....dan aku tau kau wanita yang sabar,makanya ku maafkan sikapmu kemarin meninggalkanku serta mempermalukan aku di depan keluarga besar kita,oke tidak apa-apa,aku menyusul kalian kesini secepat mungkin hingga lihat sendiri kondisiku saat ini....,tapi bukan dengan cara marah yang begini lama,apalgi kau minum wine seperti ini...menangis terus menerus hingga matamu jadi bengkak" Leon sudah minta maaf dengan berbagai cara,tapi Caca terus bersikap bahwa dirinya seperti kehilangan akal sehat,Leon perlu meluruskan dan jujur jika ia juga pria yang mendapatkan tamparan keras dari sikapnya waktu itu.


"berhenti bicara banyak,ini studio milikku,,jadi aku punya hak untuk tenangkan pikiran di sini......dan sepanjang alasanmu yang menurutku tidak menarik,malah buatku lucu!!!,seorang Leonel Napoleon, milyader sekaligus konglomerat ternama,menjadikan alasan sibuknya aku hingga tidak membicarakan niat buruk saudaramu adalah sebuah lelucon yang menyakitkan,jika kau marah dan kecewa hingga sakit begini bukan semata-mata karna salahku!,kaulah yang merasa bisa melakukan semuanya sendiri.....,aku hanyalah pajangan yang.......bisa kau bohongi...." wanita itu bicara dengan nada datar ,tapi di satu sisi ia juga mulai setengah sadar bicara,okelah studio ini sudah pindah kepemilikan dari nama Leon jadi namanya Caca,tapi tetap saja ia tidak boleh bicara seperti itu batin Leon,,emosinya meluap-luap bikin gemas saja.


"pergilah....pulang urus anak-anak.....!" Leon mulai sadar percuma bicara pada orang mabuk,ia bergeser agak menjauh ke balkon menelfon putra sulungnya biar tidak kuatir dan menjaga adik adiknya di saat Leon harus mengurus beberapa hal di studio.


"apa kau mendengarku?!" wanita itu mulai berteriak,Sera yang baru saja diam-diam tiba karna ketinggalan hp dan berada di dalam kantor mengirim pesan akan mension membantu mengurus anak-anak,menyuruh mereka berdua jangan kembali hingga pertengkaran benar-benar kelar.,di iakan Leon yang hanya meminta menyimpan kunci kamar dan jug meminta obat serta makan malam di antar oleh orang kepercayaan di mension nanti.


"jadi kau akan di sini hingga kapan?" suara Caca yang terus meninggi membuat Leon terkejut dan ingin membalas dengan nada tinggi,tapi kepalanya memikirkan airmata wanita itu akan menetes lagi jika terus mengikuti emosinya.leon menurunkan beberapa tirai dengan remot dan mengatur suhu ruangan rooftop itu,menyetel musik di sudut ruangan lalu menurunkan kaca penutup atap,agar suhu dingin tidak lagi masuk karna Hari sudah menjelang malam,Caca mengamatinya dengan tatapan sayu,antara lelah,ngantuk dan juga mabuk.


"kapan kau pergi??!" ibaratkan bocil yang marah pada pasangan batin Leon yang melangkah ke arah dapur menyeduh minuman pereda mabuk dan juga menelfon ibunya agar mengurus anak-anak tanpa kuatir akan keadaanya.


Caca terdiam di atas sofa menatap bintang di balik atap transparan ini,hanya beberapa bintang dan suara musik yang lambat laun menghanyutkan.


"handphone lebih penting dariku....kemana-mana handphone!" bibir istrinya itu terus menggerutu batin Leon,padahal pria itu sudah capek capek menyediakan makan malam,malah si istri mabuk dan mengigau,untung Leon lebih duluan mencintai wanita ini pada pandangan pertama.


" beginilah yang tidak bisa aku biarkan jika mulutmu sudah meneguk alkohol....!!!,kewarasanmu lebih jujur saat mabuk.....aaaaaakhhh...jangan menggigit......!" Omelan berganti umpatan saat si istri menelanjangi dirinya dan bermain cakar dan mulutnya yang brutal mengigit area2 sensitif pria itu tidak tahan dan tau jika bagian tubuh yang di sentuh Caca adalah tempat yang bisa membuat hawa tubuhnya memanas.


"aku tidak mau menyerang orang mabuk,,dasar cabul.....!"


"diamlah....!,ini sangat enak!"


"Casandra! Ummphhh!" Leon cepat-cepat memakai kambali pakiannya dan memangku Caca di atas tubuhnya,lalu meraih minuman yang ia sediakan,pelan-pelan menuntun wanita itu kembali sadar dalam beberapa jam tertidur dalam pelukannya dengan tangan terus mencari dada si suami.


Di lain sisi Zeyna sedang menatap potret kedua orangtuanya dengan raut sedih,ia ingin sekali tidur di kamar ayah ibunya,dan mendengar suara lembut menenangkan membawa mimpi.


"zey..,belum tidur?" Deuz masuk dan terkejut saat melihat anak itu sedang menatap potret ayah dan ibunya yang selama ini berada di perpustakaan keluarga,di mana foto itu di ambil saat Deuz baru berusia 10 tahun.


"kemarilah.....apakah kau merindukan Daddy dan Mommy? Besok mereka akan pulang......" Deuz mengajak itu keluar dari sana,tapi Zeyna masih di sana,dan beralih menatap Kakak pertamanya,sudah 1 tahun lebih mereka berpisah,dan kini kakaknya itu sangat mirip dengan Daddy nya.


"Zeyna?" Deuz menatap anak itu bergantian dengan foto di dinding,apalagi saat anak itu bicara gusar.


"kenapa aku aja yang tidak mirip dengan Daddy??" serta merta melangkah lebih dulu keluar dari sana,Deuz hanya mendesah frustasi dengan tingkah bocah itu,ia juga jadi ikut berdiri sesaat menatap foto orangtuanya di sana lalu menutup pintu dengan senyum simpul,mengingat cinta pertamanya adalah sang ibu,ia jadi bangga dengan perkataan Zeyna,berarti selama ini ia baru sadar jika wajahnya duplikat sang ayah.


c