
David terlihat kesal melewati kafe miliknya dan di sana ada sopir Leon yang langsung hidupkan mobil melaju ke arah pemakaman,tak perlu lagi bertanya banyak,tugasnya adalah membuat tuan besar tidak akan menunggu lama.
"ini sungguh menyebalkan!" Leon menendang rumput-rumput di jalanan saat Damar tertawa dengan situasi yang mereka alami.
dua pria itu berjalan sambil melihat pemandangan musim semi di sana,tepat mobil jemputan datang,langsung membawa mereka ke rumah mertua Leon.
"apa ada sesuatu?"
Mrs.Naloleon bertanya pada Harry saat melihat Deus turun dari kamar membisikkan sesuatu pada kakeknya lalu pergi ke dapur memanggil bibi Mel.
"tidak ada....,,Caca sedang kelelahan saja....,kita lanjutkan permainannya..."
kedua pria tua rupawan itu kembali ke taman belakang untuk bermain catur,bersamaan dengan David kesana kemari di ikuti istrinya dan Sera yang sudah mendapat info.
"aku akan menghabisinya....." Ariana tidak pernah melihat David semarah itu,tapi Sera sudah terbiasa dan menenangkan dengan menekan pundaknya untuk duduk dulu.
"Ali tidak ada di sini,dia di apertemenya.....,"
"Mici di mana?"
"di sana...." Ariana menunjuk kearah Lea yang sedang menggendong kucing lucu.
"what?,cat?,,,,habisslaahh akuu dari Leon dan Damar. .. !"
"hei.....,,tenanglah,kecilkan suaramu......,di sini orangtua kita semua lengkap,sekarang jawab aku dengan jelas....."
"bee....nanti saja pertanyaanku,simpan dulu....,aku harus menemui Caca....."
"dia tak ingin di temui siapapun kecuali Deuz...hei duduk diam di sana dan stop berbuat ulah!!" Ariana berbisik dengan pelan namun tetap saja terdengar sebagai perintah yang tidak akan bisa suaminya itu berkutik.saat bersamaan,Leon dan Damar tiba dengan raut wajah kesal,tapi demi Ariana yang sedang hamil Leon membelokkan langkahnya kearah kamar caca.tinggalah Damar yang berdiri di sisi Sera dan sepasang suami istri Ariana dan David yang berusaha tersenyum menutupi rasa bersalahnya.
Leon mendorong pintu kamar,dimana istrinya duduk di depan balkon kamar sambil menikmati makanan yang baru saja di antarkan ibunya,dan wanita itu sudah berpapasan dengan Leon di tangga,hanya berbisik mengingatkan jika dua jam lagi akan ada lamaran Ali pada Erica jadi meminta Leon untuk tidak mengacaukan acara adiknya.
Leon tak ingin mengganggu mood istrinya,ia memilih masuk kamar mandi.membersihkan diri dengan berendam air hangat sekitar 15 menit,menenangkan dirinya agar nanti bisa menguasai keadaan jika istrinya tak mau menerima permintaan maaf.
"baby......,aku tadi mampir membeli minyak zaitun,sini pergelangan kakimu...." setelah Leon mengenakan jubah mandi,dan melihat Caca duduk di sofa sambil nonton,pria itu beranikan diri mendekat menawarkan diri memijat kaki istrinya yang terlihat agak bengkak,wajah wanita hamil ini sungguh menggemaskan batin Leon,cemberut dan takut menatap mata suaminya,ada genangan airmata di sudut bola mata hazel itu.
"hey ......,katakan sesuatu sayang...,jika marah....ya marah saja.....maafkan aku ya,tapi lain kali nyetirnya jangan ngebut-ngebut....,ingat bayi kita di sini,tidak bisa kamu adopsi di tempat lain jika......aakh ya Tuhan....." Leon menutup matanya dan mengatupkan mulutnya saat melihat gadis kecilnya itu terlihat memainkan kedua jemari-jemarinya dengan punggung bergetar,sudah sifat alami Caca sejak kecil,jika berbuat salah yang membahayakan orang lain,dirinya akan menggigit bibir dan menahan airmata,tidak lupa dengan jari-jarinya yang ia tautkan serta menunduk.
"hey baby......kemarilah.....,aku tidak marah....hmmnn" Leon duduk di sisinya setelah mengoleskan minyak di kaki Caca yang masih menunduk,perlahan wanita itu menurut mengingat kelakuannya tadi sore memang bikin kuatir.rasa kesalnya meluap setelah Sera masuk menasehatinya dan juga menjelaskan jika suaminya kesal melihat Ali masuk tadi siang di kantor studio,saat itu juga Caca merasa bersalah telah meninggalkan Leon.
"hubby.....maafkan aku.....,,aku salah......tapi itu bukan sengaja,aku kesal....sungguh aku minta maaf,jangan adopsi adik Deuz di manapun,jangan hamili wanita lain.....jangan!" Leon hanya bisa tersenyum mengusap-ngusap punggung bergetar istrinya dan memeluknya erat sambil bersandar di sofa agar perut buncit istrinya tak mendapat tekanan.
"Lain kali,kalau kesal,dimanapun itu,langsung keluarkan kekesalanmu ya...,jangan lari dengan menyetir lupa diri seperti itu.....gimana kalau terjadi apa-apa,gimana jika kamu menabrak orang.....atau...."
"jangan...katakan lagi,gosok di sini....." Caca menegakkan tubuhnya sesaat menyuruh Leon mengusap-ngusap punggungnya bertanda ia ingin tidur,ya sepeti itulah sosok wanita yang di cintai Leon,masih belia dan suka merajuk kadang kadang.
"seharusnya dulu aku meminta Daddy dan Mommy adopsi kamu jadi adikku sekalian,lihatlah tingkahmu sekarang.....Deuz akan berang melihat ibunya semanja ini"
Caca hanya terdiam,membenarkan letak kepalanya agar nyaman di dada sang suami,hanya usapan beberapa menit,nafas lelap ibu dari Deuz itu telah mendengkur tak peduli Leon begitu menahan diri.
Erica dan Lea baru tiba dari jalan2 sore mereka dan sibuk membuka belanjaan saat ibu angkatnya mengetuk pintu masuk bersama ibu dari kakak iparnya.
Mrs.Queen dan Mrs.Victoria masuk di sana dengan tatapan serius dan menyuruh Lea untuk bermain di luar bersama Deuz di temani David dan juga Ariana.
"Mami,Mommy.....ada apa?,apakah aku akan di marah karna pulang jam 7 malam dari belanja?" Mrs.Queen tidak segera menjawab setelah memastikan ada sosok lain di balik pintu menuggu moment,entah mengapa ibu kandung dari Leonel itu terlihat sedih lalu mengusap puncak kepala Erica,anak yatim piatu yang dulunya di manfaatkan wanita pengincar materi Leon dan suaminya,kini tumbuh mempesona dan juga lemah lembut.
"Mommy,whathappen?" Erica melirik ibunda dari Caca yang sedang menyodorkan sebuah dress putih tulang untuk dia kenakan nanti.
"ini mami desain sendiri di bantu Ariana,pakailah nanti ya nak.....,dan.....mami akan menunggumu turun di bawah segera...." Mrs.Victoria berlalu dengan senyuman di balik pintu meninggalkan Mrs.Queen tetap di sana mengenggam jemarinya lalu berkata sambil merapikan rambut ikal halus milik gadis itu.
"Mommy menyayangimu sama seperti Luis,Leon,David dan lea.tapi sejak dulu......yang setia menemani Mommy adalah kamu dan juga Luis....,suatu saat jika ada masalah....ada keresahan...mommy akan selalu mendengarkan keluh kesahmu nak....." Erica terlihat diam sesaat lalu memeluk wanita yang sejak awal begitu keras kepala mempertahankannya menetap di rumah.hingga pelukan mereka merenggang saat pergelangan tangannya di pakaikan gelang,lalu lehernya di pakaikan kalung berlian,
"mommy kenapa bicara seperti ini?,dan ini apa.....bukannya ini milik mommy yang selalu mommy kenakan di saat ada pertemuan konglomerat?"
"Erica,hari ini kamu ulang tahun yang ke 25,Daddy,Lea dan kakak-kakakmu semua telah hadir.....kecuali luis yang sudah menitipkan ini..." Erica melihat sebuah kotak kecil berisi kunci mobil dan selembar kartu ucapan yang di bacakan Mrs.Queen.
"Dear Erica,kau memang anak adopsi,adik kami yang paling menyita kasih sayang mommy dan Daddy....,tapi percayalah,akupun mulai menyayangimu seperti kami menyayangi Lea,tumbuh dewasalah dan jadi wanita kebanggaan keluarga Napoleon selamanya.
by, kakakmu luisioner
Erica menyeka airmatanya dan mengecup pipi ibu yang meyanyanginya selama ia hidup,dan wanita itu berbisik lirih.
"jangan hiraukan kata-kata Luis yang tajam,kamu akan tetap jadi putriku....bersiaplah untuk turun ke bawah.....kami menunggumu....."
Mrs.Queen berlalu di balik pintu setelah mengecup kening Erica yang segera bersiap-siapa dengan sesekali menyeka airmatanya.ada rasa haru,dan juga terkejut karna selama 25 tahun belum pernah kedua orangtua angkatnya semeriah ini memberinya ucapan, hingga datang di Swiss hanya demi dirinya.bibirnya berbisik lirih di depan cermin,
"aku adalah salah satu anak adopsi paling bahagia,semoga anak-anak adopsi di luar sana lebih bahagia lagi,merasakaan kasih sayang dan penerimaan yang tulus bermartabat seperti ini,Terima kasih Tuhan"