My Nanny, Ohh My Future

My Nanny, Ohh My Future
79.Untuk satu hari saja



Kabar tak terduga datang dari Erica yang di tinggalkan Ali setelah terjadi sebuah kesalah pahaman,entah emosi sesaat atau cemburu tak beralasan,setelah menemukan sebuah kotak berisi foto masa lalu Erica,pria kelahiran Dubai itu menghilang bagai di telan bumi.dan sebuah fakta lain adalah Ali menulis sebuah surat wasiat meninggalkan aset pribadinya atas nama Caca,hingga Erica sangat kecewa dan mengirim bukti itu pada Caca yang di baca langsung oleh Leon semalam,hingga siang hari Leon belum beranikan diri bicara masalah itu pada istrinya,serta menyembunyikan hp itu atas persetujuan Sera dan Damar.


Leon lebih banyak menyibukkan diri menumpahkan perhatian untuk Deuz dan Zeus,untuk satu hari ini saja ia menunjukkan pada Caca bahwa bisa menggantikan rasa lelah istrinya saat mengurus kedua jagoannya ketika leon tidak di rumah,ia mau Caca paham bahwa dirinya mau merasakan bagaimana jadi Caca hari ini.


hingga saat makan siang,Caca melupakan rasa kesalnya berniat memanggil Leon untuk makan siang,tapi yang ia dapati pria itu sibuk menemani anak-anak tidur.rasa sedih dan luluh merasuki hati wanita muda itu,tapi mengingat seberapa keras Leon marah kemarin membuat hatinya kembali sakit dan tubuhnya merinding,tatapan tajam dan juga suara keras dari pria itu membuat mental siapapun runtuh,jika saja Caca tidak terbiasa sejak belasan tahun di intimidasi Leon,maka hanya rumah sakit jiwa yang bisa ia huni saat ini.


Tanpa terasa airmatanya hampir menetes saat bulu mata tebal suaminya bergerak gerak terbuka dari lelapnya lalu menatap Caca yang akan beranjak dari tepi ranjang anak-anak,tatapan teduh dan penuh kasih menekan lengannya agar tetap di sana.


"My Baby.....,,sudah mendingan?" Caca merasakan telapak suaminya yang lebar dan hangat mengusap pipinya dengan hati-hati lalu beranjak duduk dengan gerakan perlahan agar kedua putranya tidak terjaga dari lelap siang mereka.suara Caca tidak bisa keluar Karna sebuah kecupan singkat menenggelamkan niatnya bicara.


"untuk hari ini istirahatlah.....,aku akan menjaga anak-anak sampai kamu berhenti marah padaku.....,tapi berikan aku pelukan besok.....jika hari ini aku sukses menemani mereka...."


suara serak-serak basah dan nyaris terdengar seperti bisikan membuat pipi Caca merona dengan sikap patuh suaminya ini,tapi Caca harus menunjukkan bahwa dirinya memang harus sesekali tegas,ia pura-pura tegakkan bahu lalu berdiri menjauhi tempat tidur lalu bicara dengan sinis.


"aku hanya memastikan anak-anak sudah kenyang dan tidak kau bawa pergi dariku,tentu saja aku masih sakit dan harus istirahat....." suara Caca yang di buat- buat tegas membuat suasana yang tadinya nyaris romantis berubah patah hati untuk Leon.


"bibi Mei sudah menyiapkan makan siang untukmu,jika anak-a nak sudah terlelap,silakan isi kembali perutmu,,biar kuat menjaga anak-anakku hari ini"


Caca terus bicara sambil berjongkok sesaat mengambil sesuatu di laci meja,Leon yang awalnya ingin marah hanya bisa menelan liur,dari awal Caca masuk ke kamar hanya mengenakan piyama tipis yang semalam di pakaikan Leon sendiri,tubuh istrinya tetap langsing tapi berisi di tempat-tempat tertentu,otak Leon sudah traveling kemana-kemana saat wanita yang melahirkan anak-anaknya itu makin jongkok ke arah lantai,malah saat ini posisinya ke arah tempat tidur hingga dua kotak makanan milik Zeus hampir menyembul keluar menyapa dari balik piyama yang berbentuk v di leher jenjang Caca,kini sang ayah yang ingin mencicipi bekal miilik putranya,ia mengalihkan pandangan melirik keluar jendela,takut tak bisa mengontrol yang tak bisa di ajak kompromi,matanya menangkap sosok yang tak jauh dari pesisir pantai yaitu Sera dan Damar sedang duduk di bawah gazebo,keduany sibuk dengan dua labtop di sana,kedua suami istri itu benar-benar menikmati waktu kerja mereka sambil berlibur,nikmat betul batin Loen.


"sayang......,,Sera saat ini sedang hamil kan,apakah kamu tidak ingin hamil lagi?" Leon berbisik tapi juga terkejut sendiri mendengar pertanyaan yang keluar dari mulutnya,entah kegoblokan macam apa yang membuatnya bicara di waktu tak tepat,Caca yang dari awal sedang sibuk mencari penutup lensa kamera di bawah meja langsung mengangkat wajahnya dengan tatapan polos,tapi di mata leon posisi itu adalah tatapan terimut yang dirinya selalu rindukan.


"hubby bilang apa tadi?"


Caca bertanya dengan mata hazelnya yang terang,lalu melihat benda yang ia cari berada di dekat tumit Leon yang hanya bisa menggigit bibir kuat saat gadisnya itu kembali merangkak di dekat ranjang,tepat di antara kaki Leon,meraih penutup kamera itu lalu beranjak berdiri dengan deru nafas menerpa sekujur wajahnya,di akhiri dengan hempasan rambut yang beraroma shampo mengenai wajah.


"moment langka ini......." Leon berbisik sambil meraih helai rambut wanita ini dan menciumnya dengan begitu lama,gemas,rindu.tapi Caca sibuk dengan kamera tak menyadari bahwa leon sedang berusaha menahan sesuatu yang sejak kemarin mendukung emosinya tak terkendali.


"moment apa? Hubby bilang apa tadi tentang kak Sera?"


dua pertanyaan Caca menyadarkam Leon untuk tau diri bahwa si istri sedang memberinya hukuman hari ini. sekali lagi Leon menelan liur melihat bokong istrinya sepagi ini tak mengenakan dalaman melangkah dengan santai ke arah keluar pintu tanpa menunggu jawaban lagi.


Leon melirik kedua putranya yang masih terlelap lalu ia bergegas mengikuti kearah mana Caca akan pergi,rasa penasaran membuat dirinya seperti seorang penguntit diam-diam melihat tingkah Caca di kamar mereka berdua,wanita itu tak peduli sekitar malah menanggalkan piyamanya lalu berjalan tanpa sehelai benangpun ke arah kamar mandi.leon terus saja melangkah pelan mengawasi istrinya hingga selesai mandi,memakai bodycream sambil bersenandung di kamar seakan-akan ia adalah gadis belia yang berlibur seorang diri di sebuah pulau terpencil batin Leon yang hanya bisa mengumpat atas sikapnya kemarin hingga liburan mereka untuk dua hari ini tak bisa memeluk istrinya.


Terkadang ada kejutan terindah di balik segala cobaan yang Tuhan berikan pada umatnya,begitupun yang Leon maknai dari setiap kejadian yang ia lalui.malam ini dirinya duduk makan sendirian,Caca benar-benar tak ingin bersamanya,selesai masak ia pamit pada bibi Mei untuk berkeliling sekitar villla.Sera dan Damar juga sibuk dengan pekerjaan dan menginap di luar villa.bi Mei yang bergantian menjaga kedua putranya yang saat ini tertidur setelah seharian bermain bersama sang ayah.


Dari hari ini,Leon belajar memahami bagaimana keseharian sang istri kecilnya bersama anak-anak,leonpun sadar gimana lelahnya jadi seorang ibu,hari ini sangat ia merasa lelah tapi juga bahagia karna bisa memiliki waktu pribadi memahami sifat dan sikap kedua anak-anaknya,Leon kembali mengecek mereka setelah makan,ia duduk sebentar mengamati bayi mungil Zeus,mencium pipi gembul anak itu lalu melirik Deus si sulung,Leon meraih lengan putra pertamanya itu lalu mendaratkan ciuman bertubi-tubi hingga terjaga dan terbangun dengan tatapan heran.


"Dad.....,aku sudah bilang jangan menciumku,aku sudah besar...." Deuz memang duplikat dari dirinya bukan?,ketus dalam kondisi apapun.


"ini hadiah dari Daddy....." Leon menjawab sekenanya saja agar mereka tak bertengkar,siapa yang akan melerai mereka di saat Caca saat ini tak ingin di ganggu.


"hadiah itu bukan ciuman Dad.....tapi berupa benda atau peliharaan,mobil atau singa mungkin....aku tidak keberatan.....,dan juga ini hadiah untuk apa?" Deuz menggerutu Sambil menatap kesal lalu mendorong wajah ayahnya yang akan mengecup pipinya lagi.


"Hadiah Karna hari ini Deuz mau menemani Daddy menjaga Zeus....,bermain bersama Daddy dan tidak menyusahkan Daddy....kerjasama yang hebat boy" Leon sungguh-sungguh mengucapkan kalimat itu,sambil mengusap rambut tebal putranya yang hanya terdiam lalu berbalik ke arah tempat tidur kecil adiknya tidur,menatap Zeus yang lelap lalu berucap pelan.


"untuk hari ini saja Dad..


.,lain kali aku akan benar-benar marah pada Daddy jika melihat mommy menangis lagi...." Hati Leon tersentuh dan menunduk di depan putranya yang memunggunginya,menyembunyikan genangan airmata seorang anak yang sedih mengingat airmata sang ibunda tercintanya kemarin.leon tau betul karakter Deuz,suara bergetar anak itu saat menanyakan sebuah janji.


"promise me,Dad?"


pertanyaan dari suara putranya yang bergetar namun tegas penuh emosi membuat Leon merasakan dadanya sesak dan menengadah keluar jendela dengan mata berkaca-kaca lalu menjawab.


"yes, i promise this is the last day you will see your mother crying ,son......." di balik pintu yang sedikit terbuka Caca mendengar suara Leon menjawab pertanyaan putranya dengan mantab,sebagai seorang ibu dan juga istri hatinya terenyuh ingin memeluk kedua laki-laki hebat di dalam sana,ada rasa bersalah juga mengingat bahwa tak seharusnya balita cerdas itu tidak boleh melihat atau tahu pertengkaran orangtua.tetapi kakinya memilih melangkah ke kamar dengan lelah setelah seharian keluar ke arah pantai bersama satu bodyguard perempuan,memotret dan juga bersantai sendirian menenangkan pikiran.view indah di luar tak bisa membuatnya lupa akan kedua putranya,airmatanya menetes sesekali saat duduk di laur rumah mengingat seharian ia tak peduli pada bayinya dan juga pada si sulung hanya karna ingin Leon kapok.


"apakah malam ini Daddy menemanimu tidur lagi?" Leon akan rebah di sisi si sulung tapi anak itu menyikut perut ayahnya sambil berguman pura-pura ingin mandiri.


"aku tidak suka mendengar suara dengkuran,Daddy berisik.....aku ingin tidur sendirian...." tak ayal Leon mendesah berdiri menjauhi kasur putranya kearah jendela...menutup tirai kaca dan mematikan lampu utama lalu berbisik pelan.


"mimpi indah my son....", Leon menyalakan lampu tidur favorit kedua anaknya dan pura-pura keluar kamar sambil mengingat bahwa kemarin ia tak lupa bahwa tak satudetikpun ia bisa terlelap,dirinya tahu sekarang Deuz hanya tak ingin melihat ibunya sedih lagi lalu memberinya waktu berdua bersama si gadis kepala batu itu.dua menit kemudian Leon mengintip di balik pintu kelakuan putranya yang turun menekan nomor telepon rumah yang di angkat bibi Mei.


"Bibi mei...tolong bawakan aku susu,kemarilah tidur bersama kami..,temani aku nonton...." Deuz menutup telepon dengan mata berbinar lalu duduk menghadap tv,sebelum itu lengan mungilnya cekatan menarik tirai khusus penutup di kasur box adiknya agar si adik tak terganggu dengan cahaya dan suara tv.leon bersandar di balik pintu dengan perasaan lega akan karakter putra sulungnya.bibi Mei melangkah tergopoh-gopoh ke arah kamar berpapasan dgn Leon yang berbisik.


"Terima kasih Bibi Mei....selamat tidur"