
15 menit setelah Leon pergi,Luis termenung di balkon kamar saat Lexa di tuntun Caca masuk ke kamar itu,duduk di atas kasur,sedangkan Mrs.Queen mendekat pada Luis sambil menyapa lembut.
"nak,,boleh mommy duduk di sini sebentar saja?" pertanyaan itu di jawab dengan anggukan,15 menit yang lalu saat Caca dan dirinya akan meminta Riana memberikan obat pada Lexa yang terlihat kembali gelisah,Leon masuk dan mencegah hal itu, lalu meminta Caca dan ibunya sedikit bergeser,memberi ruang pada Leon dan Lexa duduk berdua di atas kasur tepatnya di ranjang mewah ruang tamu.
"Lexa.....,apakah kau mengenalku?",pertanyaan lembut Leon membuat Lexa menatap wajah pria bermata gelap itu,Luis dan Leon terbilang agak dominan terlalu perfeksionis,mata mereka yang berbeda,Leon memiliki mata indah yang tegas dan tajam,sedangkan Luis memiliki mata penuh misteri berwarna keemasan sangat indah tapi juga menjebak.
"hei.....,tidak ada satupun yang berani memarahimu di sini,aku janji,ada caca dan aku....maafkan sikap adikku Lea...,dia adikmu juga...,taulah saat ini dia sedang masa-masa labil.....,ayo katakan sesuatu tentang aku...."
"aku mengingatmu kak,kakak Leonel yang selalu baik padaku ,selalu membelaku,aku sudah mulai mengingat keluarga ini awal bulan kemarin,tapi ingatanku tentang suamiku yang sungguh tak bisa aku jelaskan dengan kata-kata" Lexa mengenggam tangannya sendiri Karna merasakan emosinya meluap lagi jika mengingat Luis lewat surat2 itu,Leon mengusap puncak kepala Lexa seperti ia biasa lakukan dulu saat gadis ini berlari mencarinya untuk mengadu tentang kejahatan luis,ia ingat betul Leon memperlakukan Lexa seperti adik kandungnya sendiri,
"begini......,aku memberimu ruang untuk bicara dengan Luis berdua,bertanyalah apapun yang ada di pikirannmu padanya,dia suamimu,dia mencintaimu Lexa....,kau tau tidak.....,sejak kau berada di tangannya,namamu Alexa Alexander....,semua yang ada di otakmu.....dialah yang berhak menjawab.....,jangan takut....kami akan mengawasi mu 24 jam....,hmmn?" Lexa mengangguk paham dan menarik nafas panjang lalu berusaha menguasai emosinya,Caca dan Mrs.Queen sedikit gelisah mendengar keputusan Leon,tapi tak ada yang berani membantah,akhirnya mereka hanya bisa mengantar Lexa ke kamar Luis saat ini.
"kami akan menunggu di luar.....,berjanjilah pada mommy kau tidak akan melukainya lagi,apapun yang terjadi,Karna Lexa juga sudah menyetujui hal yang sama pada Leon tadi akan berbicara denganmu baik-baik...." itulah keinginan Mrs.Queen setelah 15 menit yang lalu Leon mengambil satu keputusan memberikan mereka berdua kesempatan bicara sebelum Daddy Napoleon benar-benar mengajak mereka ke Italia,tepatnya di Roma,Leon berpikir bahwa kedua orang ini harus di awasi dalam jarak yang dekat dulu.
"Lexa.....aku tinggal yah....." Caca membawa beberapa benda-benda berbahaya dari kamar itu setelah menyimpan sebuah kamera pengawas di atas meja yang sudah di berikan leon tadi,Mrs.Queen juga ikut beranjak dari sana dengan persaan cemas,ia tak ingin keduanya ribut lagi tapi Leon sudah memperhitungkan semuanya setelah mengambil surat cerai yang di buat kakak konyolnya itu.
Saat Caca mengantar Mrs.Queen ke ruang tengah,Leon sudah di sana duduk bersama David,Deviz dan istri mereka masing-masing.sedangkan Mr.Napoleon sedang di ambang pintu depan menunggu langkah istrinya lebih cepat,rupanya mereka memilih duduk berdua di taman depan di mana Lea dan anak-anak lain sedang kembali dari danau.caca meraih kameranya lalu diam-diam menyelinap mengunjungi putri kecilnya yang sejak kemarin di ajak pergi ke rumah kaca,di rumah kedua orangtuanya,wanita itu tanpa pamit kesana,ia menggunakan perahu motor penyebrangan dengan perasaan merindu,hatinya teramat cemas dan gelisah sejak Luis kembali di mension,beberapa menit setelah asik mengawasi cctv di kamar Luis,David dan Leon sama-sama berang karna dari cctv terlihat Luis naik keranjang menarik selimut menutup tubuhnya malah tidur,sedangkan Lexa masuk ke ruang baca lalu tidur di sana.
"aturanku di buat untuk di langgar!,huffhh....aku butuh kopi....." Leon mendesah frustasi sekaligus lega karna melihat kakaknya dan iparnya malah memilih istirahat,sedangkan dirinya tak menemukan sosok istri mungilnya di dapurnya,ia ke halaman depan menyapa Zeus dan ponakan-ponakannya sekalian bertanya,tapi semua menggelengkan kepala tak tahu menahu wanitanya itu pergi.
"Mom.....,apakah caca pamit padamu? atau pada Dad?" Leon bertanya pada kedua orangtuanya yang ikut menggeleng,Leon mencari cari putra sulungnya juga sejak pagi belum kelihatan batang hidungnya yang mancung persis dirinya.
"ibu dan anak itu sama-sama susah di tebak!,tidak pernah patuh pada aturan....." Leon membanting pintu ruang kerjanya mengagetkan Damar dan Sera yang sedang fokus bekerja,keduanya mendesah ketus.
"bisakah kau tidak melanggar aturanmu sendiri Tuan Leonel?" Sera bicara sambil menatap wajah murung atasannya yang tak peduli,ia menatap layar monitor cctv dan melihat ke arah cctv taman belakang mension,area rumahnya dan wilayah keluarga Harland di lengkapi dengan pantauan cctv,pria itu menyunggingkan senyuman lalu menatap Damar dan Sera bergantian.
"telfon aku jika kak Luis berbuat ulah....." Leon memberi perintah dan akan keluar dari sana tapi suara sera menghentikan langkahnya.
"istrimu ini memang cocok jadi asisten istriku,,tapi tidak cocok jadi temanku,dia sangat ketusss mar...." Leon bicara dengan senyu kelakarnya,tapi Sera hanya mengangkat bahu tak peduli,sudah menjadi tugasnya mengurusi caca dan Leon.
"kami hanya menjalankan tugas dan aturan yang sudah pak Leon tentukan....,"
"Sera....ini hari Minggu,aku tidak suka bicara formalmu...,aku tau..ini semua caramu agar mencegah aku menyusul Caca.." Leon terus berdebat dengan Sera yang terkekeh mengakui hal itu,sesekali mengerjai bosnya sendiri.
"aku risih melihatmu terlalu mengekori Caca,biarkan dia nikmatin hari harinya tanpa suami overprotektif....." Sera bicara dengan senyum tak peduli Leon tersinggung,dan khusus pada Damar dan Sera ia tak akan permasalahkan kalimat julukan itu.
"baiklaah...aku juga perlu mengawasi kak Luis,,aku ikuti keinginanmu Sera..,1 jam aku akan menjalankan tugasku dengan baik.....berikan laporan2 yang perlu aku cek...." 1 jam leon benar-benar menuruti keinginan Sera dan Damar,dan setelah itu dirinya pamit meninggalkan ruang kerja ke kamar kakaknya dengan langkah santai sambil mengirim pesan singkat penuh perhatian pada istri tercinta.
Di satu sisi,di kamar Luis tepatnya.pria itu terjaga saat mendengar suara nafas Lexa yang terlelap,awalnya ia ingin membangunkan gadis ini,tapi jemari Luis berhenti di udara dan pelan-pelan mengusap helai demi helai rambut gadis bersurai panjang ini,ada perubahan banyak dari segi fisik Lexa,dia sudah dewasa,dan sangat cantik,luis mendaratkan kecupan begitu lama di bawah telinga ibu dari Zeyna ini,aroma memabukkan membuatnya nyaris gila,tapi dengan penuh tekad Luis berusaha menahan diri lebih jauh mengusik lelap istrinya,ia pelan-pelan melangkah keluar ke arah ruangan minibar,karna beberapa menit yang lalu ada suara langkah tak asing ke arah sana,sudah di tebak itu Leon.
"telingamu memang paling peka......," Leon menyapa dengan senyum hangat dan sedikit bercanda mencairkan suasana,luis hanya diam sambil membuka kulkas.
"lexa masih tidur?" Leon terus bertanya,dan kali ini kakaknya mengangguk pelan,lalu meneguk sebotol susu kedelai kesukaanya.
"maafkan aku kak,kalau keputusanku tadi buatmu sedikit emosi atau......kecewa......aku hanya tidak ingin apa yang pernah ku alami terjadi padamu....." Leon berusaha menjelaskan pada luis mengapa ia harus ikut campur,karna di rumah ini siapa yang tak tahu Luis tidak suka dengan sikap orang lain yang masuk ke dalam masalah rumah tangganya,Leon tau benar karakter kakaknya.
"kau ingat bukan,dulu aku nyaris kehilangan Caca.....,saat itu kau tidak tau gimana perasaanku yang selalu di hantui rasa bersalah....dan takut..." raut wajah leon tiba-tiba sendu mengingat dirinya dulu begitu sering menarik ulur perasaan Caca hingga sebuah kecelakaan mengubah hatinya.
"saat Caca koma,,,waktu itu aku sampai memohon maaf pada Tuhan dan iklaskan caca tak mengingatku,tapi setidaknya dia tetap hidup di dunia ini,aku bisa melihat tawa dan cita-citanya terwujud,di saat itulah Caca malah di beri kesembuhan dan tak akan kusia siakan sedetikpun hingga kini.....,jadi,.....aku hanya menyarankan,di kehidupan Lexa yang kali ini.....cobalah beri dia ruang gerak dan cukup kak Luis mengawasinya ........" Leon berbicara tulus di respon kakaknya dengan senyum getir sambil menjawab lirih.
"aku tau niatmu baik Leon,tapi aku memang lebih takut darimu......,aku takut dia kembali ke Mesir dan meninggalkan aku selamanya......makanya aku terus mengurungnya di rumah sakit,padahal aku sudah tau dia sudah mulai mengingat siapa kita....,salahnya aku kurang memperketat pengawalan....sampai surat kaleng itu menjadi bacaanya setiap hari dan menjadi bumerang untuk kami sekarang.....,parahnya aku terus takut jika Zeyna di bawa pergi olehnya.....", Luis menyeka airmatanya yang hampir jatuh di atas meja bar,Leon mengusap pundak kakaknya yang menunduk.
"aku juga takut musuh-musuhku mengetahui keberadaan Zeyna,dua orang ini sangat berarti dalam hidupku....."Luis menatap nanar wajah adiknya yang sedang menatap lurus ke arah jendela kaca,dari lantai ini semua pemandangan sangatlah indah,namun tak seindah senyum kakaknya.tanpa menoleh untuk menatap balikpun,ia sadar kakaknya sedang memohon dalam hati,dan sedang menatapnya.