My Nanny, Ohh My Future

My Nanny, Ohh My Future
59.Pawang



Hampir setengah jam Leon membiarkan istrinya berendam,tentu saja setelah dirinya membuat wanita hamil itu kelelahan di bawah kendalinya.


"Dad.....," Deuz terlihat menyapa dari balik pintu bersama bibi Mel,Leon tersenyum membuka pintu dan menggendong putranya ke dalam ruangan.bibi Mel tentu saja pergi dari sana setelah memastikan tuan kecilnya sudah dalam pelukan ayahnya.


"sudah makan?,di sini ada makanan....mau?" Leon menunjuk makan siang yang masih tersisa di sana.namun anak itu mengeleng dan melirik hp milik ayahnya.


"aku merindukan Zio Luis.....Dad tau kan,,kalau aku tidak bisa tanpa dongeng darinya....." deg,jantung Leon berdetak kuatir,antara cemaskan ketergantungan putranya pada sang kakak,dan juga rasa cemburu karna kakaknya memang sangat dekat dengan Luis dan David sejak anak ini lahir.


"Daddy akan membacakan dongeng untukmu ...kemarilah....." Leon menuntun putranya duduk dan mengusap rambutnya yang baru selesai di gunting rapi setelah genap berusia 4 tahun kemarin mereka merayakan ulangtahunnya dengan sederhana,karna anaknya ini meminta usia 5 tahun baru di buatkan acara meriah bersama adiknya kelak.cerdas bukan?,tapi sungguh nakal,seperti saat ini,Leon begitu sungguh-sungguh mendongengkan sesuatu,anak itu malah menatap kearah lain dengan mata bercahaya tak terpengaruh untuk tidur lagi.



Deuz dan Daddy Leon


Alis leon menukik dan mengarahkan kamera hpnya memotret moment itu lalu di bagikan dalam group chatting bersama Luis,David,dan Deviz.sang Dokter Deviz sangat antusias dan mulai memulai percakapan VC bersama 2 saudaranya,hingga anak itu tertawa melihat sosok Luis yang tampan dan elegan.


"Zio Luis ......i Miss you!!!" Leon dan David memutar bola mata mereka dengan risih Karna iri,tapi tidak lama kemudian Deuz menyapa David sambil bersandar di punggung Ayahnya.


"Zio David.......,,Zio Deviz.....,,aku ingin hadiah....." kedua bersaudara itu terkejut,karna mereka telah mengirimkan kado dari jauh-jauh hari dan sudah di kabarkan tiba di istana megah milik orangtua anak itu.


"hadiah yang kemarin menarik,tapi aku ingin yang lain...." Leon mengusap-ngusap kepala anaknya yang memang terlihat bosan sejak Luke kembali ke Inggris bersama keluarganya,sekalipun mereka sempat datang,dan selalu menjalin komonikasi,tetap saja anak itu menginginkan teman bermain.


"apa yang kamu inginkan?" Deviz lebih dulu bertanya dan kedua paman lainnya mulai berpikir keras di laya r hp sana.sang ayah melirik ke tempat lain,di sisi pembaringan Caca mulai terlelap setelah mengecup puncak kepala putranya tanpa mengganggu acara telfonan para pria konglomerat ini.


"aku ingin Zio semua membujuk Daddy dan Mommy,agar Ciro dan Cira bermain di dalam rumah...." Belum sempat David berpikir akan menjawab permintaan Ponakannya,Luis dan Deviz nyaris bersamaan dengan Leon mengatakan kalimat.


"Tidak!" Dan jawaban itu telah bulat,gimanapun juga bayi-bayi jaguar itu adalah binatang buas,dan agresif.tapi tiba-tiba Caca yang awalnya nyaris terlelap segera bangun dan menghampiri putranya yang berusaha tak terlihat kecewa,hanya mengelus dada lalu menarik nafas panjang,berakhir dengan hembusan menenangkan dirinya,itulah yang di ajarkan ayah dan ibunya sejak masih tau berbicara,bukan anak Leon namanya jika harus merajuk dan menangis.luis juga telah menerapkan banyak metode untuk ponakannya itu,dan berhasil Caca awalnya kuatir malah mencemaskan Leon karna di detik berikutnya,Deuz menaiki punggung Ayahnya lalu berbisik lalu terlihat wajah sang ayah merah padam.


"Deuz......!,what the hell......?" Leon membisikkan ancaman batin David,sekalipun mereka jauh tetap saja mata mereka tak bisa tertipu,setelah itu Deuz turun dan berlalu dari kamar itu sambil berteriak memanggil bibi Mel.


"Aunty Mel.....minta tolong siapkan aku baju ganti,aku ingin mandi sekarang.....", Caca mengikutinya sampai di depan pintu berniat untuk membuka baju anak itu,tapi di tolak mentah-mentah dengan raut serius oleh putranya.


"Mommy,no,ini hari Senin,jadwal Deuz mandi sendiri.....,aku bukan anak kecil.....okey...." Bibi Mel yang tiba dengan handuk hanya merapatkan bibirnya gemas,Leon hanya tetap dalam posisi duduk sambil mengarahkan kameranya ke anak itu agar saudara-saudaranya yang masih dalam panggilan Vidio melihat tingkah balita 4 tahun itu berlalu sambil membuka kancing bajunya ke kamar sebelah.caca mengeleng lalu duduk di samping Leon.


"apa yang anakmu bisikkan?" Caca penasaran,termasuk ke 3 pria di dalam panggilan hp itu.


"Deuz mengancam ku"


teeng!,seperti terdengar lonceng di dalam isi kepala Caca saat Leon mengubah posisi duduknya merapat kearah istrinya lalu berbicara ketus.


"Deuz mengancam ku,jika tak mengijinkan dua temannya itu masuk rumah,maka dirinya menelfon si pria Arab tengik itu untuk jadi pawang....lalu tidur bersamany setiap malam..."


"pawang pujangga.....ohhh ini menarik sekali....." David mulai berulah,sedangkan Luis pura-pura serius sesaat lalu berkata.


"kurasa itu ide yang nakal.....,,anakmu tahu darimana jika Ali adalah mantan rivalmu?"


"stop!!!,kalian membuatku kesal sekarang...!" Tut,panggilan di matikan sepihak oleh Leon dan tak menunggu lama,pria keras kepala itu membanting dirinya di kasur,sedangkan sang istri hanya mendesah tak pernah mengerti mengapa suaminya sungguh kesal jika membahas sahabat terbaiknya.


"aku akan keluar melihat Yuka di bawah.....,,istirahatlah...." seperti biasa Caca tidak suka memperkeruh keadaan,apalagi soal baperan suaminya ini.setiap kali selesai sekolah Yuka ke studio,adiknya itu tidak suka kamera,tapi suka berpose dan mengagumi beberapa model agency milik kakaknya dan Erica,terbersit ide dari Caca untuk membuka sekolah modeling.namun Erica masih belum menjawab karna wanita itu masih memikirkan masalahnya dengan Ali,mereka sedang perang dingin sejak beberapa Minggu kemarin,entah apa masalahnya.tapi Caca tidak akan ikut campur,sekalipun telinganya mendengar bahwa inti dari permasalahan itu karna dirinya.biarlah Erica yang bicara jujur kelak batin Caca saat menuruni tangga dan melihat adiknya sedang berdiri di depan Sera membicarakan sesuatu.


"Yuka,sudah makan siang?,Yoga ikut juga?" dua pertanyaan Caca di jawab adiknya itu dengan gelengan kepala saja,lalu seperti biasa dia akan memeluk kakaknya dan mengusap-ngusap perut si kakak yang tersenyum.


"kak Sera.....aku ingin minta tolong sesuatu yang cukup rumit....." Yuka segera menyingkir dari sana sambil berlagak bagaikam model,entah anak itu akan kemana,tapi satu hal yang Caca terapkan,siapapun harus ramah pada staff dan juga model di sana.dan adiknya itu terlihat bisa mengendalikan sikap manjanya dan melangkah ke arah ruangan para model biasa istirahat.


"adikmu selalu mencari Erica ...,tapi saat ini kau tau kan,iparmu itu sedanh badmood...." Sera menjelaskan niat Yuka ke studio,dan Caca hanya mengangkat bahu tak memusingkan hal itu.


"aku sedang mencari seorang pawang....." Sera melonjak kaget,otaknya sudah traveling kemana-mana.


"siapa yang kamu ingin jinakkan ca??,hmmnn?" Sera menuntun Caca duduk di sofa ruangan pribadi miliknya dan keduanya mendapati Leon mendengkur di atas ranjang tak jauh dari sofa itu.


"tentu saja bukan suamiku yang di jinakkan.....,,itu kucing milik Deuz....." Caca menjelaskan sambil memijit batang hidungnya lalu berbisik.


"Leon di ancam Deuz,jika ciro dan Cira tak di ijinkan main d dalam rumah,anak itu akan menelfon Ali agar menetap di rumah kita,," Sera mengangguk paham,dan membalas bisikan Caca.


"anak kalian sungguh nakal.....semoga nanti aku tidak memiliki anak senakal Deuz...." Sera bersungut-sungut sambil menatap leon yang rebahan dalam mimpi indahnya.


"suamimu itu yang menanamkan bibit nakal...." Sera berbicara ketus tak peduli pipi Caca terlihat merona karna malu,sekretaris pribadinya itu mencibir penuh canda lalu kembali ke ruangan miliknya sendiri tak jauh dari kamar Deuz,di mana anak itu sedang bermain game sendirian menggunakan labtop pemberian kakeknya.


"nakal......,! uuuhh Nonno membuat gamenya rumittt..,,!"terdengar Deuz ngomel di atas kursi malasnya,ada seorang baby sitter di sana,bibi Mei yang sedang menata isi lemari milik Deuz jika ikut ke kantor studio jadi tidak perlu lagi membawa banyak pakian dari rumah,karna beberapa set pakian sudah tersedia di studio ini,dulu adalah rumah lama Leon.


"Apa yang kakak pikirkan?" Yoga mengusap lengan kakaknya agar tak terkejut dengan kemunculannya dari ruang tamu,Kakak kembar Yuka,mereka memang sulit akur,tapi bukan berarti mereka bisa saling menjauh.mami Victoria berwatak keras dan tegas,sebagai anak laki-laki Tunggal Yoga di ajarkan harus melindungi saudari perempuannya.


"Yoga......hampir saja aku memukulmu jika muncul tanpa suara ....,lihat Deuz,dia kini sungguh nakal sejak sering bersama kamu dan kak Dion......" Caca bicara seakan menuduh kakak sepupunya Dion dan juga Yoga yang mengajarkan Deuz pintar beragumen seperti tadi.


"satu jam lagi aku akan mengajak Deuz ke rumah kami,di sana ada Daddy Napoleon dan Mommy Queen dari Italia,mereka baru saja tiba.....dan sedang berunding tentang sekolah Deuz......,sampaikan pada Yuka kalau aku menunggunya di sini ..." Yoga bicara sambil memasuki kamar Deuz yang berhenti bermain game saat melihat pamannya datang,tentu saja mereka memiliki hobby yang sama yaitu menonton film dokumenter di ruang baca tak jauh dari bilik sebelah ruang tidur anak itu.caca hanya tetap bersandar di depan pintu mengawasi putranya dengan berbisik sendiri.


"bukankah Deuz telah menguasai 5 bahasa dan sudah les private seminggu dua kali?,dia akan makin nakal jika memberinya pendidikan yang terlalu banyak di rumah....." wanita itu berbalik ke arah ruangan kerjanya lagi setelah memastikan keadaan tetap terkontrol dengan baik.kecuali suara dering hp suaminya terus saja terdengar.Caca melihat itu panggilan dari Luis,Leon terlihat begitu pulas di kasur ,Caca tak tega membangunkan suaminya itu,dering hp berhenti,hingga sesaat Caca melihat beberapa pesan chat masuk dari kakak sulung suaminya.


"hei bocah Nakal....,,angkat telfonku....!" Luis mengirim kalimat itu berulang-ulang kali,hingga akhirnya hp Caca yang berdering di atas meja kerja. setelah meletakkan hp Leon di meja rias,Caca bergegas kembali ke meja kerjanya dan melihat itu panggilan dari Luis.