
Caca mulai kelelahan membongkar isi lemari dan juga beberapa rak meja,hingga menelfon Sera menanyakan benda yang di carinya.tapi serapun menjawab tidak melihat apapun,padalah wanita itu sudah di infokan bahwa malam ini para maid dan dirinya tidak akan menjawab pertanyaan ibu hamil itu,Sera dan Damar sedang bersama Deuz dan keluarga besar Napoleon ,mereka sedang makan malam di sebuah pesta undanga salah satu kolega bisnis perusahaan,dan Ariana sibuk dengan mengamati seorang chef menyiapkan steak pesanan Leon untuk istrinya yang saat ini sedang di bicarakan Mrs.Napoleon.
"Menantuku sedang hamil besar dan kurang enak badan,jadi putraku masih bersamanya sekarang......ini putra sulung mereka.....,Deuz....." seperti itulah seorang kakek memperkenalkan cucu kesayangannya pada rekan-rekan bisnisnya sambil bersenda gurau di meja makan yang mewah itu.sedangkan di kamar Leon sedang terjadi pencarian harta Karun he he.
Caca memegang hpnya dengan erat lalu melangkah kearah teras kamar di mana suaminya sedang menunggu dengan tenang di sana sambil menikmati secangkir kopi dan melihat pemandangan malam.
"jangan bilang hubby membuang samuraiku?!" bentakan ketus itu terdengar menggemaskan di telinga Leon,yang dari awal pura-pura bodoh,itulah harta berharga seorang Caca selain kamera dan putranya.
"jadi dari tadi yang kamu cari itu samurai???mau membunuhku?"alis leon terangkat menukik runcing menandakan bahwa dirinya kesal,dan itu semua hanyalah drama kecilnya,Caca merasakan aura menakutkan,tapi Karan egonya yang masih menukik jadinya mulai lagi perang ini.
"baiklah.....bunuh saja,ada pistol di atas meja itu ...lebih cepat akan lebih baik bukan?" Leon bicara parau sambil melirik sebuah pistol yang memang sudah sejak awal di letakkan di sana dan tentunya tanpa peluru,bisa di tebak jika ada isinya dan demi apapun pasti otaknya bisa berhamburan keluar jika istrinya selabil tadi.
tapi bukan Leon namanya jika hal ini tak di jadikan senjata untuk pelajaran hidup keluarganya.
"ouuucchh......,apa itu pistol sungguhan?" Caca terlihat bertanya di tengah keterkejutannya,tentu saja senjata yang satu ini tidak d letakkan di dalam basecamp rumah mereka,kecuali senapan api untuk berburu milik mertuanya dulu hanya untuk pajangan.
"ambillah....cek sendiri lalu bidikkan di kepalaku....." Leon bicara parau sambil mengamati gerak gerik istrinya yang bediri 2 langkah darinya,raut gugup dan bulir keringat mulai menetes di dahi dan leher jenjangnya.
"hubby.....di sini kau bersalah....makanya aku hanya ingin latihan samurai sebentar saja......,tapi benda itu tidak ada,lalu itu tongkat kayu hubby.....yang di buat mirip potongan samurai.....bukan...."
"sweety....,lihat bayi kita,dua bulan lagi akan lahir.....,apakah salah jika aku hanya ingin kamu tenang dengan semua ini tanpa harus memikirkan masalah lainnya....okey,aku minta maaf honney....aku bukan suami romantis seperti kebanyakan,suami yang sudah berusia 37 tahun saat ini....dengan istri yang berusia 23 tahun.....kita terpaut 15 tahun.....tapi bukan berarti aku tidak pantas untuk melindungimu,mencintaimu dengan caraku sendiri.....??? i love you so much honney......really!" Leon menjelaskan dengan pelan tapi penuh penekanan,lalu meraih pistol itu di letakkan tepat di dahinya membuat Caca berteriak tiba-tiba.
"tidak!!!!!,,jangan bunuh diri......aku belum siap jadi janda.....please hubby....i am sorry....." dengan polosnya Caca berbicara diiringi airmata lalu memeluk pinggang Leon yang langsung membuang benda di tangannya itu entah kemana.
"masih marah?,tidak mau patuh dan dengar apa kata suami?" Leon mendudukkan istrinya di atas meja lalu mengusap perut bundar istrinya dengan pelan.
"tidak hubby....aku akan dengar nasehat suami....maafkan aku yaa....buanglah pistol itu.....,kau tau bukan aku akan melahirkan,lalu gimana anak- anak kita jika hubby meninggal?" pertanyaan konyol itu membuat Leon nyaris tertawa keras-keras tapi ia tak ingin dramanya Terbongkar dong ya he he.
"kan kamu bisa menikah lagi sweety?" Leon tiba-tiba menawarkan ide lain yang membuat Caca menyudahi tangisnya lalu mulai curiga jika sang suami sedang bercanda.
"benar juga ya......,,kenapa aku repot-repot menahanmu tadi,aku akan menikah lagi tentunya....."
Caca menjawab enteng sambil menengadah kearah raut kesal suaminya yang langsung meraup bibirnya dengan ganas lalu tak berhenti di sana sekalipun dadanya di cubit.wanita itu mengap-mengap saat ciuman itu selesai sekitar 15 menit kemudian,dengan bibirnya yang masih merekah dan basah.
"hubby.....ini di balkon,penumpang lain atau tamu pesta bisa melihat kita....,aku juga bisa sesak nafas......" Caca melihat sekitar yang sepi dan tentu saja balkon kamar itu di tutupi sekat-sekat di setiap sisinya.leon masih gemas lalu menggendong istrinya masuk ke dalam dan berbisik.
"siapa yang berani menikahi gadis nakal sepertimu,parahnya jika emosi,selalu menggunakan samurai,pria mana yang ingin mati di dunia ini?" Leon membalas candaan itu,dan wajah istrinya langsung merona merah saat Leon membuka kemeja putihnya hingga terlihat bekas-bekas ****** dan beberapa memar di punggung serta perutnya.
"aku di cabuli seorang wanita hamil tua semalam....." mata Caca melotot lalu melihat sekitar kamar tak ingin orang lain melihat karyanya di setiap kulit sang suami.
"hubby....kau menyebalkan!!,,siapa yang nakal?,cabul??!ohh my......,Deuz tak boleh dengar kata-kata ini" leon merebahkan istrinya di ranjang dan mengusap perut hangat dan menggemaskan itu lalu berbisik lagi.
"tidak,,aku memilih mati duluan daripada kehilanganmu duluan.....sekarang jelaskan mengapa aku tidak di beritahu tentang hubungan Given dan Yoga?" Caca bertanya sambil memiringkan posisi tubuhnya kearah pelukan Leon,tak sulit pria besar sepertinya memeluk sang istri,kecuali perut yang sedikit di kondisikan,memastikan wanita itu nyaman sambil menepuk-nepuk punggungnya bak menidurkan bayi saja.
"Given lebih serius dengan pekerjaan dan juga menolak menjadi adik angkat Ariana,sampai saat ini gadis itu tetap melakoni pekerjaanya dengan tekun......,kurasa Yoga tak senakal otaknya.....,,jangan terlalu keras padanya....." Leon membela Yoga mengingat laporan dari orang kepercayaan bahwa remaja itu hanya mabuk berat dan tertidur.
"dengarkan aku honney.....,jangan tanya ataupun memarahi Yuka maupun Yoga....,,percayalah pada mereka....." Caca merenung sejenak lalu mengangguk,leon pria yang dingin dan tegas.tapi jika masalah perasaan,pria itu ingin istrinya tidak terlalu ikut campur atau ambil pusing,karna sampai saat ini Given dan Yoga terlihat biasa-biasa saja setelah keluar dari kamar dan bergabung di tempat pesta.Yuka tak di sana,gadis itu menyesali perbuatannya dan memilih diam di kamar sampai Given tak menemukan teman baiknya itu di lantai pesta,diam-diam Yoga terus mengawasi gerak geriknya dan mengikuti hingga Given mengetuk kamar adik kembarnya.
"Yuka.....,ini aku.....,buka pintunya ..." Given tetap saja bersikap lembut dan tenang saat Yuka membuka pintu dengan raut penyesalan di sana dan menarik given masuk,Yoga terdiam di depan pintu sampai adiknya menyuruh masuk.hingga mereka bertiga mulai berbicara serius.
"kurasa....biar aku yang minta maaf pada kak Caca....." Yoga beranjak meninggalkan adiknya dan Given lalu mencari kamar kakaknya dengan tergesa-gesa sambil membawa sebuah bungkusan dari sera.sebelum tiba di depan pintu kamar kakaknya,kakak iparnya sedang keluar dari sana dengan memegang hp menerima telfon,pria berkulit exotik itu memberi kode agar yoga masuk saja di mana kakaknya sedang rebahan sambil nonton.
"kak.....,aku bawakan Steak...." Caca yang awalnya kesal sejak melihat sisi lain dari adiknya,kini malah gemas dan menepuk sisi ranjang agar yoga duduk di sana,tapi remaja itu sibuk mencar nampan dan menuang isi bungkusan itu hingga Leon yang berada tak jauh dari pintu kamar ikut mencium aroma makanan kesukaan istrinya.sesaat Leon mengintip dan melihat semanis apa Yoga menyuapi kakaknya,tapi pria itu tak ingin menganggu moment itu memilih sibuk menerima telfon dari rekan Menejer perusahaan dan berdiri mengawasi interaksi manis itu.
"semanis inikah senyumanmu jika melihat Caca tertawa?" suara berat dari sisi kiri membuat Leon berbalik,dari arah tangga sosok Luis yang menggendong Alexa yang terlelap dengan gadget masih dalam genggamannya sungguh pemandangan yang makin hangatkan suasana.
"Lexa mabuk?" gadis belia seusia adik-adik iparnya itu terlihat lelap bukan mabuk,dan Leon memincingkan mata melihat ada bekas merah di leher gadis itu.
"apa yang kau lakukan padanya?" leon benar-benar tak terima jika Alexa mengalami hal buruk itu lagi,dan Luis berbicara parau.
"bukan aku yang melakukannya...." Luis melangkah masuk ke kamar di ikuti Leon yang menutup pintu dengan pelan.
"lalu siapa?,jangan sampai Caca tahu hal ini kak....." Leon begitu kuatir tapi Luis hanya menarik nafas lalu menelfon seseorang sambil memeriksa bekas merah itu.
"yang jelas ......ini semua terjadi begitu singkat.....,di lift.....,padahal aku sudah berapa kali menasehatinya jangan suka berkeliaran jauh dari para maid atau bodyguard....." Luis hanya lengah sebentar saja,Alexa sudah mendapat serangan mendadak,jika saja anak buahnya tak siaga,mungkin Luis tak akan bisa menemukan istrinya dalam keadaan masih bernafas.beruntung mereka memiliki chip khusus jika Alexa dalam bahaya akan langsung terdeteksi seperti alarm dari jam tangannya.
"saat aku tiba,lexa masih sadar.....dokter yang menyuntikkan obat biar dia tidur....,keluarlah...nanti Caca mencarimu....,tolong aktifkan sigap siaga pada anak buahmu juga ya...." Leon menarik nafas lega lalu bergegas kembali ke kamar,di sana Yoga sedang menjelaskan detail yang terjadi semalam.
"so.....apa yang kamu inginkan? dari hubungannmu dengan Given?" Caca bertanya dengan senyum menggoda saat adiknya terlihat malu.
"aku boleh memiliki orang spesial selain mami dan kakak?" Wajah yoga terlihat serius berbicara bahwa ibu dan dirinya orang yang amat penting dalam hidupnya,dan Caca hanya mengangguk sambil mengunyah lalu menekan lengan adiknya sambil berbicara pelan.
"Yuka juga harus spesial donk...." Caca menambahkan adik manjanya yang satu itu,tapi yoga mengeleng.
"kalau Yuka tetap adikku tersayang.........bukan spesial....Krn dia adalah bagian dariku juga....." Yoga menjelaskan keberadaan Yuka seperti apa di dalam hatinya,Caca tak ingin banyak mengatur Yoga Karna sang ayah telah mengajarkan banyak hal,termasuk Leon dan juga David suka mengajaknya Travelling bersama Dion.
"Yoga....gajimu sudah bisa kamu tarik besok....,,Menejer dan akuntan di studio sudah mengatur kontrakmu...." Leon berbicara sambil melihat istrinya lalu Yoga.
"gaji?,apakah aku lagi-lagi melewatkan sesuatu?"