My Nanny, Ohh My Future

My Nanny, Ohh My Future
126. Menyapa🪦



Hari sudah larut saat Caca membuka mata di kamar,ketika tiba dari Napoli,ia membiarkan anak laki-lakinya mengurus diri mereka sendiri dan juga mempercayakan maid di mengurus Zeyna,di rumah bak istana milik orangtua kandungnya ini terasa tenang,ia sengaja menginap di sana untuk menenangkan anak-anak dan keluarganya,ia tau diri jika emosi atau sedang bermasalah dengan suami atau dalam pekerjaan ,jalan pulang adalah hal terbaik,apalagi ibunya Victoria dan Harry sudah menghubungi penuh kuatir dari saat mereka belum menemukan Zeyna.


wanita cantik itu duduk menatap keluar jendela,aroma musim panas dengan suhu terbaik bulan ini adalah masa libur nasional,tenang dan senyap,dua putranya terdengar bermain game bersama kakek mereka di ruang keluarga saat Caca berjalan menyusuri lorong ke kamar Zeyna,anak itu masih tidur setelah perjalanan yang lumayan panjang,pelan-pelan menutup pintu dan melangkah pergi ziarah ke makam kakeknya,di sana Caca berpapasan dengan wanita yang sudah melahirkan dirinya,sosok Victoria yang memang sering menyapa mendiang ayah mertuanya itu terkejut sesaat melihat Caca yang langsung duduk di hadapan nisan.


"apakah mama boleh di sini menunggumu?" sapaan lembut,untuk putri sulungnya ini di jawab dengan anggukan,terbilang umur sudah dewasa tapi dari segi watak lebih cenderung sensitif daripada 2 adik kembarnya,tidak heran tetap cantik dan menggemaskan,apalagi aduan menantunya tadi,bahwa Caca meninggalkan Italia dengan amarah dan membuat suasana rumah keluarga mertua alias besannya itu serba salah.


"hai kek......,Caca datang......" suara serak Caca bersamaan dengan tetes airmatanya,lelah dan rindu berkecamuk membuat dirinya menangis tersedu-sedu bak anak gadis, nyonya Victoria yang sudah paruh baya hanya bisa mengelus dan memeluk putrinya yang jarang menunjukkan emosi seperti ini padanya,Leon tidak pernah membiarkan Caca begitu lama untuk bersedih,tapi untuk saat ini,mungkin pria itu sedang terhalang keadaan jadi menyusul sedikit lama,di manjakan dan meladeni sikap gusar anaknya ini adalah janji-janji penuh yakin pernah di utarakan Leon pada Victoria,terlepas dari mereka bertiga yang telah saling mengenal identitas lebih awal sebelum Caca lahir,terkadang Victoria tersenyum lebar mengingat si super cool dan amat keras pendirian itu bisa mencintai putrinya hingga mereka memiliki rumah megah dan anak anak yang manis.


" menyapa kakek dalam kesedihan sama saja kamu membuat beliau tidak tenang,usap airmata ini......,dengan usia yang sudah begini nak......"


"maafkan Caca ma....,menyapa kakek di saat hati hancur begini bukan mauku,terkadang Caca kangen moment kakek mengajak ke danau dan duduk di sana......"


"yaa.....dan kakek akan tertawa keras melihatmu begitu lahap makan keju....hingga wajahmu seperti ikan buntal....." penghiburan mamany ini membuat Caca tersenyum kecut merasa di ejek,dan Victoria terkekeh geli sambil mengusap rambut lepek putrinya karna lupa mengurus diri demi cepat tiba di swiss.


Leon yang baru tiba dengan pesawat jet pribadi tidak mendapatkan istri dan anaknya di mension,saat menelfon ia baru tahu jika wanita yang ia kejar kejar itu sedang menitipkan anak-anak di rumah seberang danau,dimana mertua dan adik iparnya menetap.


sudah larut malam saat Caca membuka pintu di mension,sepi karna para maid di liburkan kecuali di panggil saat-saat tertentu saja,serumit apapun masalah,para Maid dan karyawan harus sejahtera di mata keduanya,dan sistem itu membuat semua anak buahnya betah bekerja di mension megah ini.


Leon menatap serius pada langkah istrinya yang mendekat,entah mengapa hatinya terasa sakit sejak awal tiba,amarah yang tidak terdengar di telinga,caci maki tidak terlontar,hanya tatapan asing membuat Leon pasrah,menyapapun tidak di lakukan wanita itu.hanya meletakkan tas dan juga handphone di atas meja depan Leon,tidak menatap dan berniat ke arah ruangan lain.


"selamat malam istriku...." dan sapaan Leon tidak di jawab,wanita itu melangkah naik tangga ke kamar mencari beberapa potong pakian Zeyna,saat ia duduk di kamar mungil itu melihat sekitar,ia mengingat hal pahit yang terlihat di rekaman cctv,sungguh membuat matanya bengkak karna menangis,wanita itu duduk di lantai mengingat setiap kebersamaan Luis dan Lexa di mension ini,ia tidak pernah menyangka ada kejadian menyakitkan untuk di kenang Zeyna.



Leon menelfon dokter pribadi mereka untuk megirim seseorang membawa obat agar ia minum karna kepalanya sakit,melihat situasi saat ini tidak bisa untuk bicara,Leon menaiki tangga ingin tidur saja,lelah dengan pikiran dan juga tenaga,saat melewati kamar Zeyna,hatinya sedih melihat istrinya menangis sesugukan di sana,saat kakinya melangkah masuk,wanita itu berteriak menangis semakin keras mengusirnya agar keluar,tapi ia bukan Leon yang baru kemarin mengenal istrinya,saat marah yang begitu besar,wanita ini pasti memilih sendirian dan meluapkan emosinya dengan kamera atau di basemen untuk yoga atau latihan boxing,tapi ini bukan tentang suami istri saja tapi kakak ipar dan juga lexa yang ia sudah anggp adik,lalu yang paling di sesali adalah melihat sesuatu ketidak adilan terjadi pada Zeyna.


"kenapa harus Zeyna.....padahal dia baru saja sembuh?" melihat Zeyna di perlakukan secara egois demi lexa kembali pulih,di kurung dan membangun emosi agar ibunya itu bertengkar dengan luis,mungkin cara terakhir,tapi kedua orangtua bodoh itu lupa bagaimana menempatkan diri di hati anak mereka,sekejab hilang rasa percaya Zeyna dan memilih diam dengan trauma begitu menumpuk di usia masuk 10 tahun,memikirkan hal itu berulang-ulang membuat hatinya sakit,tangisnya terhenti saat melihat nama Zeyna yang menelfon,rupanya anak itu yang saat ini nginap bersama 2 kakaknya di rumah rumah kaca,terjaga dan menelfon,dada Caca semakin sesak saat anak itu menelfon dengan penuh curiga.


"ya.....,mommy baik-baik saja,,maaf apakah Zeyna terbangun karna mimpi buruk? mommy masih di luar...." Caca tersendat-sendat menjelaskan tapi anak itu tetap pada pertanyaan yang sama.


"no mom.....Zey sudah dari tadi bangun,sudah makan malam dan juga di temani Grandma....,suara mommy beda,,mommy nangis?"


"oh baguslah...kakak Deuz dan Zeus yang menemani malam ini ya,,dan tentu saja tidak menangis sayang....,mommy sedikit pilek karena cuaca,esok pagi mommy akan ke rumah Grandma,sekarang Zeyna mau request sarapan apa biar mommy bawakan besok pagi?"


"oke mom,,tidak,Zeyna sudah janji sama Grandma akan masak berdua di dapur esok pagi ....,huummnn mommy.....bolehkah Zey bertanya?"


"baiklah sayang....,sampai jumpa


besok yah,,mau tanya apa?boleh,tapi habis ini Zeyna harus tidur lagi ya"


"mom......,i Miss my Daddy......where is Daddy?"


mata Caca berkaca-kaca dengan bibir bergetar,ia baru ingat jika sejak kecelakaan dan kembali di rumah,Leon dan Zeyna tidak bertemu cukup lama,mereka kadang cuman saling menyapa,atau Zeyna yang sudah tidur saat Leon ke kamar anak gadis kecilnya itu,karena pria itu sibuk mengurus pelaku yang membuat insiden kecelakaan itu terjadi,dan juga pekerjaannya,baru beberapa hari Leon tidak ada kabar anak itu sudah merindukan,apalagi jika Caca benar-benar berpisah dengan suaminya ini,Leon berjongkok meraih handphone dari tangannya dan menjawab pertanyaan anak itu.


" Hello sayang...Daddy bersama mommy sekarang,esokDaddy janji akan mengajakmu kemanapun kau mau......"


"Daddy.......i really Miss you......"lalu anak itu terdengar menangis setelah sekian lama akhirnya mendengar suara ayahnya,mata pria itu sayu dan redup menunduk di hadapan Caca yang menyadari sesuatu sedang di alami suaminya ini,


" ia,Daddy janji akan seharian bersama Zeyna......ugh.....argh" seketika dunia Leon gelap dan runtuh, handphone istrinya yang jatuh dan sayup sayup anak gadisnya bertanya tanya" hallo Dadd? daaad?" dan lengan Caca yang langsung sigap menangkap punggungnya yang lemas agar tidak terbentur di pintu.


"Hubby.....hei.....kau kenapa?" Caca menutup pembicaraan dengan singkat," Zeyna,saatnya istirahat besok di lanjut lagi,okey.....we love you", ia cemas tapi lebih tidak enak lagi jika anak-anak tau bahwa ayah mereka mengalami kondisi tubuh yang tidak sehat.


Singkat cerita,pria yang mendapat berbagai tekanan itu dan selalu kuat serta bersikap profesional,akhirnya tumbang juga.