
Leon menyodorkan kunci motor pada anaknya sebelum bergegas naik mobil yang di dalamnya ada Zeyna dan Caca,mereka di kawal untuk kerumah sakit,Ayah dua anak itu tidak lupa mengirim pesan pada keluarga yang lain jika mereka dalam perjalanan,lalu tidak lupa juga menelfon anak buahnya untuk mengawasi dua putranya yang saat ini masih di TKP bersama Paman mereka yang tampan-tampan,dalam hati Leon sangat kuatir pada Zeyna,dan juga rasa takutnya pada mata hazel Caca,istrinya terlihat sinis setiap kali mereka bertatapan,entah mengapa rasa lelah Leon di ganti dengan rasa gugup dan tegang pada situasi ini.
Yang paling santai dua pria dewasa itu sedang melihat sekitar sambil mengawasi dua pemuda rupawan kebanggaan dua keluarga besar masing-masing,daripada pulang dengan tangan kosong setelah melihat buah liar dan juga anak kucing gunung,dua pemuda tampan di juluki baby face bergegas mengabadikan moment itu dengan mengitari labirin sekedar mencari tahu mengapa anak kecil berusia 10 tahun bisa betah selama 2 hari 3 malam di hutan ini,sedangkan dua ponakan mereka duduk di depan air terjun dalam kebisuan,hanya suara gemercik air yang terdengar,Zeus menyeka airmatanya,si cengeng itu batin Yoga yang meninggalkan keduanya melihat sekitar,memberi ruang dua bersaudara itu saling bicara,terlihat jelas si sulung kesal pada si adik,namun menunggu selesai menangis dulu,tapi lama-lama malah bikin gemes karna terus saja mata warisan ibu mereka itu berkaca-kaca.
"kau sudah dewasa,kenapa masih saja seperti anak perempuan yang Cemen?!,siapa yang memukulmu bodoh?!!,lihat aku yang luka luka di gigit saja tidak menangis"
"kulitmu tidak sesakit hatiku kak,masih sangat membekas dia seperti melihat anjing liar ke arahku,padahal sungguh.....,aku tidak pernah melakukan hal yang salah sejak dia di ajak paman...."
"ia....aku paham....,Zeyna takut melihat jaketmu....,mungkin penculik atau orang jahat yang membuatnya seperti itu mengenakan pakian serba putih...." Deuz tidak sekalipun menuduh adiknya tapi sedang membaca situasi dan segala kemungkinan,Zeus makin menangis karna rasa bersalah,karna anak itu tidak pernah sekalipun menangis seperti itu saat bersama mereka kecuali merajuk sejenak jika merindukan kakak sulungnya ini."
"kemarilah...." Deuz berniat memeluk adiknya yang memang cepat baper kalau urusan cuek mencuek,apalagi tadi Zeyna bereaksi histeris melihatnya,pasti hatinya sangat sakit,adik yang ia jaga dan cintai sepenuh hati meneriaki dan histeris ketakutan seakan-akan melihat penjahat,pasti Zeus bingung,jauh-jauh naik kereta dari Swiss ke Milan lalu tanpa istirahat harus menempuh perjalanan hutan terlarang ini,yang harus melewati taman nasional Val Grande,jelas sekali anak remaja ini kelelahan.
"ayo kita kembali di rumah kakek dan Nenek....." sekali lagi Deuz mengajak adik kesayangannya ini,tapi tentu saja anak yang sebentar lagi akan ikut wamil itu hanya terdiam sambil membasuh wajahnya,lalu kembali menangis,dalam hati Deuz ingin menjewer saking gemas,tapi bukan saatnya sekarang bertindak agak keras,dengan perasaan menahan tawa Deuz mengapit leher adiknya agar mau mengikutinya kembali ke rumah Napoli.
"aku tidak ingin ke rumah Napoli..." Zeus mengikuti langkah kakaknya yang berjalan menyusuri jalan setapak mencari dua paman mereka.
"kau harus istirahat bodoh....!,kau sedang libur musim dingin kan sekarang?" Zeus masih saja seperti anak kecil duduk di atas rumput ilalang dan tersedu-sedu,terpaksa Deuz melihat sekitar dan memberi kode pada para pengawal agak menjaga jarak atau memberikan mereka berdua ruang.
"heei.....kau ini kenapa?" Deuz pura-pura jongkok sambil memeluk adiknya yang seketika makin tersedu-sedu,para pengawal menatap ke arah lain menahan tawa,lalu bergegas ke mobil dan melaporkan pada dua orang paman dari dua tuan muda itu bahwa si adik sedang meluapkan kekesalannya yang tidak berujung.
"baiklah.....malam ini kita akan tidur di sini....,aku akan menelfon Daddy dan Mommy....jika kau kelelahan...." Zeus cepat mengangguk dan kembali rebahan di atas pangkuan kakaknya,ya begitulah yang terjadi jika dua bersaudara ini baru bertemu lagi,tentu saja yang satunya sangat meminta perhatian,
Leon menatap pesan masuk,ipar-iparnya mengabari jika anak-anak menginap di sebuah hotel terdekat dari taman la Grande,yaitu taman yg tidak jauh dari hutan terlarang,mereka masih mencari jejak pelaku yang membuat anak itu trauma.Deuz sudah mengabari jika Zeus sedang tidak ingin kembali ke tengah keluarga hari ini,,ingin di luar rumah bersama kakaknya dan 2 pamannya,terkadang Leon tetap saja kuatir,karna saat ini mereka bukan berada di Swiss,sekalipun di Italia adalah tanah kelahirannya tapi di sini banyak yang telah berubah,termasuk kakaknya yang saat ini masih di bawah pengaruh obat bius,pria berambut indah yang membuatnya selalu merasa aman saat dulu,entah apa yang telah terjadi sejak Zeyna lahir,sejak Alexa mengetahui identitas nya,lalu sejak Leon terlalu positif pada apapun,hingga akhirnya merasa yakin skenario kakaknya akan berakhir baik,malah seperti ini sekarang,menyeret istri dan putranya ikut menjalani segala yang pria itu atur,dan hanya dirinya sendiri yang tau perjalanan mereka selama 1 tahun ini adalah rencana jahat kakaknya,yang berakhir nyaris merenggut nyawa pria itu sendiri.
"apakah kau masih mau di sini?, Caca saat ini sudah di rumah bersama David dan juga Deviz beserta istri-istri mereka" Mrs.Queen menegur leon yang termenung di kamar rawat Luis dan Juga lexa,lalu menatap ibunya yang pasti akan bersikap seperti sekarang,bersedia menunggui pria berambut perak itu sadar,menggenggam tangannya,dan sesekali menatap Penuh harap,kadang Leon ingin berada di posisi itu di sayang dan di perhatikan Mommy kandungnya tapi yaah....itu dulu,mereka selalu ribut demi mendapatkan pelukan sang wanita ini,tapi sekarang leon hanya bisa menatap sedih,sejahat-jahatnya Luis,tetaplah kakaknya,yang selalu melindungi ibu dan adik-adiknya saat Leon pergi jauh,saat Leon meninggalkan tanah air ini demi harga diri di mata Daddy Napoleon.
"Sayang.....,apa kau mendengarku?" sekali lagi Nyonya besar itu menyapa Leon yang segera beranjak dari sofa,mendekat dan duduk di samping kursi panjang sisi ibunya dan tiba-tiba meminta ibunya memeluknya,membenamkan kepalanya di atas pangkuan wanita paruh baya yang tetap terlihat cantik dan awet muda.
"apakah kalian habis bertengkar lagi tadi?hummnn?"
Leon mengumpat di wajah kakaknya yang masih terjaga dalam tidur,tapi yang jelas Luis tidak akan repot-repot membalas hal itu,ibu mereka yang berada di tengah menatap sendu pada Leon.
"jangan lupa.....,posisi mommy saat ini,kamu sedang jalani,bedanya...Deuz dan Zeus jarang bertengkar......,kamu dan Luis dari dulu suka bertengkar tapi Luis yang mengalah.....saat ini giliran kamu yang mengalah,dan mommy mohon selesaikan dengan baik masalah ini,ada Ayah dan ibu mertuamu yang juga sedang menunggu kabar....,jangan marah-marah terus....."
"mommy terlalu membela dan mendukung segala yang menyangkut kak Luis.....,sekarang lihat,istrinya lagi-lagi koma...dasar pria bodoh.....!"
"ssssttt......"
Mrs.Queen menutup mulut putra tunggalnya itu dengan telapak tangan lalu mengecup pipi si anak yang bergegas bangun dari sana untuk kembali ke mension keluarga Napoleon,di sana istrinya pasti butuh penjelasan dan juga Zeyna sedang di bawah pengawasan dokter pribadi di rumah.
Mrs.Queen terus menatap sosok putra angkat sekaligus putra sulung di dalam keluarga,saat itupula sosok suaminya masuk dengan raut manis membawakan makan malam,mereka ingin menemani dan menunggu Luis siuman.
"Amor......,kau sudah makan malam?" sapaan sayang itu hanya anggukan dan seperti biasa ciuman paling manis di pipi dan juga pria yang mulai di tumbuhi uban itu menuntun istrinya duduk di sofa,mereka berbincang tentang rencana akan berlibur kemana setelah anak-anak berdamai.
"lihatlah dirimu,tidak lelah mengurusi dua putra kita yang saat ini sedang di timpa Masalah.....,untungnya David selalu menjadi andalan jika kita di sini,ia akan memanggil saudara kembarnya agar berkumpul di mension demi menyenangkan hati yang lain......"
"yah......jika bukan dirimu,aku tidak tau harus bagaimana menghadapi anak-anak ini......ya,David anak yang paling tidak bisa pergi atau diam saja jika mendengar masalah terjadi dengan Leon dan luis" mereka sama-sama memiliki pemikiran yang bagus jika telah membahas anak,terkadang pria paruh baya ini ingin mengajak istrinya berlibur,tapi masalah kali ini harus ia ikut turun tangan memberikan keamanan pada kedua putranya.
"semoga menantu kita mau memaafkan Leon ......"
"maksudmu bagaimana?" Mrs.Queen bingung mendengar rasa kuatir suaminya,lalu mereka mulai berbincang tentang berdebatan Luis dan Leon ,hingga membuat Caca mendengar semua yang ia jalani 1 tahun jauh dari anak-anak dan rumah adalah rencana Luis demi menjauhkan Caca,Leon dan Deuz dari Zeyna,Agar anak 10 tahun ini menetap bersama Luis dan Lexa di Italia ini,di rumah pribadi Luis.
Yang di kuatirkan sedang sibuk mandi dengan perasaan sedih,karena melihat Caca duduk merenung menunggui Zeyna di kamar dan bersama perawat,anak itu menjalani perawatan jalan di rumah,berendam di bathtub sambil membayangkan tatapan Caca tadi,wanita yang ia amat cintai itu terlihat kelelahan tapi tetap menatap kesal pada dirinya.
"semoga kamu tidak pergi di situasi yang runyam ini Casandra....." leon merasakan ketakutan setiap kali mengingat masa masa sulit dulu,ketika Caca memilih pergi darinya jika sudah kecewa,rasanya sungguh membuat dada sesak batin pria itu yang beranjak ke shower membasuh tubuhnya dari busa busa sabun,ketika mengingat ekspresi Zeyna saat histeris lalu dua putranya yang panik,airmatanya luruh juga,mengenakan kemeja hitam sambil berusaha menyeka bulir bulir airmata yang sedari tadi tidak tau permisi dulu untuk menetes,entah salah satu anak yang mana akan mengikuti jejaknya,menangis dalam diam saat merasakan tekanan emosi yang sulit di atasi,tidak menyadari Caca sudah masuk ke kamar,menyalakan lilin aroma terapi hanya untuk menenangkan pikirannya juga sebelum mandi,di saat pergi ke kamar ganti,matanya terbelalak melihat suaminya sedang tersedu sedu menghadap tembok dengan kepalan tangan sudah merah.
Leon menyadari kehadiran Caca saat wanita itu melangkah kearahnya dan tidak banyak bertanya langsung menyodorkan diri agar suaminya itu menumpahkan segala emosinya di pelukannya saja,sembari tangannya yang lentik mengusap-ngusap punggung Leon yang sedikit malu tapi juga lega.
"ku dengar,anakmu yang kedua juga sama seperti ini,menangis seperti ini....,padahal tidak ada yang memukul kalian berdua.....why?"