My Nanny, Ohh My Future

My Nanny, Ohh My Future
82.Jendela



Caca duduk di bangku panjang halaman belakang rumah sambil mengusap-ngusap puncak kepala putri kecil berambut lurus dan mungil itu dengan penuh sayang.


"Mommy.......,berikan anak itu pada pengasuhnya......" Deuz menyapa ibunya yang sudah sering mendapatkan kalimat tak sopan dari si sulung,entahlah ada apa dengan mereka yang ketus pada Zeyna.


"Zeyna aku datang..,...selamat pagi aunty caca"itu suara Chris,remaja itu telah tumbuh dewasa tapi tetap berwajah manis seperti ayahnya David,entah kenapa anak-anak dari sepupunya yaitu Ariana dan Riana itu selalu ke mension Leon setiap akhir pekan,bukankah kedua orang tua mereka masing-masing juga butuh liburan keluarga?,,naahh simak terus yaa guyyss love story' ini🄰.


"waaahh ada kak Ana dan Andrea juga...........woooooww wooww....,si nakal Rui dan Riu juga datang.... kalian ambil cuti?" Caca bertanya sambil meninggalkan Zeyna yang telah di gendong Chris yang berjalan pelan kearah Deuz dan Zeus,wanita itu sengaja menguji kedua putranya dalam bersikap di hadapan saudara-saudarinya anak dari David dan juga Deviz.


Leon sudah menebak suara deru motor berisik dan mobil sport yang masuk ke halaman mension tadi adalah kendaraan pribadi para ponakan-ponakannya yang datang,tanpa perlu menelfopun,hpnya sudah berdering lebih dahulu dan itu adalah Vedio call dari sang adik David.


"Kalian enak benar jadi orangtua ya.....berduaan, lalu aku dan istriku yang mengasuh anak-anak??" Leon memutar bola matanya jengah di sambut suara tertawa oleh David yang saat itu sedang memeluk Ariana tanpa malu,wanita itu melambai sambil menyusun makanan,lalu mengarahkan kamera hpnya ke arah depan di mana Riana dan Deviz sedang sibuk menyusun kotak makanan.


jadi intinya saat ini,,dua wanita kembaran beserta suami masing-masing sibuk menyiapkan makanan untuk liburan berpasangan.so,gantian 5 hari kerja merekalah yang mengalah kadang mengurusi 3 anak Leon dan Caca....begitulah keseharian keluarga besar ini.


"Hubby siapa yang menelfon?" Caca masuk ke ruang kerja Leon yang menunjuk kearah layar hp,tapi pria itu mencari seseorang.


"Zeyna mana?" Leon menunggu jawaban dari Caca yang berbincang dengan kedua kakak kembarannya sambil menunjuk kearah monitor yang khusus memantau setiap sudut ruangan mension ini,Leon berdiri di sana menatap di mana Zeyna sedang berada di taman belakang dan di gendong kakak sulungnya penuh kasih.


"biarkan kakak-kakak mereka menjaga Zeyna hari ini.." Caca berbicara pelan sambil tersenyum pada suaminya,Leon tetap menatap layar monitor lalu meraih hpnya dari tangan Caca lalu berbicara ketus.


"kalian akan kemana?" Leon bertanya pada David yang menjawab dengan singkat.


"bacalah pesan kami,,okey sampai jumpa lagi kak Leon dan mommy Caca...." TUTTT,David menutup pembicaraan sebelum kakaknya itu ngamuk,karna setelah itu Leon membaca chat pribadi dari kedua pasang suami istri itu dengan geram.


"jadi mension ini akan jadi yayasan penampungan anak nakal? ohh my.....", leon mendesah frustasi hari liburnya harus melihat ponakan dan anak-anaknya hilir mudik d mension rupanya,padahal ia ingin juga berduaan dengan sang istri.


Leon berdiri di balik pohon natal tak jauh dari ruangan taman buatan tempat para remaja-remaja itu duduk,terlihat jelas Deuz membujuk Zeyna untuk berhenti menangis,anak bayi itu baru saja habis di cubit batin sang ayah.


"Rui.......jangan kuat-kuat mencubit adikku", Suara Zeus tegas mengingatkan si Rui yang memang agak bandel,lalu si kembar Andrea ikut mendekat ke arah Deuz.


"kak....berikan adik Zeyna padaku....mungkin dia akan berhenti menangis....." Andrea tak mendapat respon dari si sulung.leon terus mengawasi putranya itu dalam bertindak sambil duduk di kursi ruang baca pribadinya,dari balik kaca itu ia bisa mengawasi anak-anak itu,tanpa sepengetahuan mereka.


"Hubby......aku bawakan kopi" Caca masuk ke ruangan itu dengan senyum manisnya membawa sarapan beserta setumpuk buku bacaan,lalu duduk di tepian jendela ikut mengawasi anak-anak,caca sering duduk di depan jendela sejak remaja,jadi terkhusus ruangan ini Leon mendesain agar pinggiran jendela di lengkapi kasur kecil seukuran tempat tidur remaja yang bisa menampung tubuh mungil istrinya jika duduk atau rebahan di sana,apapun demi Caca batin Leon yang mendekat lalu memeluk dan mencium puncak kepala istrinya dengan penuh kelembutan sambil menyapukan hidungnya di antara rambut indahnya.


"lihatlah Deuz.....,,dia sepertiku" Leon meletakkan dagunya di atas puncak kepala Caca yang beralih menatap sosok putra sulungnya yang ketus di depan orangtua tapi jika Zeyna di tinggal seperti saat ini malah dirinya yang terus mengawasi balita itu.


"tentu saja karna dia memang duplikatmu,,anakmu,,ketus tapi sangat menyayangi adik-adiknya..." Caca mengusap-ngusap lengan suaminya yang melingkar di pinggangnya saat ini,moment sepagi ini jarang terjadi.dan wanita manis itu menengadah penuh syukur.


"bee......Terima kasih ya.....",Leon menunduk mendaratkan kecupan singkat di hidung istrinya yang melanjutkan kata-katanya dengan lembut.


"Terima kasih setiap aku bangun pagi,kau di depan mataku,,saat aku sedih kau orang pertama yang menggenggam tanganku lalu menuntunku untuk berserah pada Tuhan.....,,aku tau kalau...."


"kalau aku hanyalah bocah yang tidak Cantik dan......." leon melanjutkan kata-kata membosankan insecure dari perasaan Caca di akhir kalimat rasa syukurnya tadi yang udah terpenggal oleh kalimat suaminya sendiri.


"ayo kita berkencan......" Leon menuntun Caca agar turun dari posisinya saat ini ke arah luar ruangan.


"lalu bagaimana dengan anak-anak?" Caca menolak dengan ragu,ia ingin juga menikmati masa-masa berdua dengan Leon,tapi sejak melahirkan Zeus dan memiliki Zeyna,ia susah di ajak keluar untuk bersantai.dirinya rentan di depan jendela dengan kamera di tangan atau labtopnya,mengabadikan moment di rumah bersama anak-anak sudah kebiasaan wanita ini.


"ayo.....ikut aku" Leon menuntun istrinya keluar halaman depan sambil mengetik pesan singkat untuk putra sulungnya,lalu bergegas ke arah danau menghilang di dari pandangan Deuz yang 15 menit kemudian mengecek keberadaan orangtuanya di ruangan keluarga.di depan jendela itu si sulung berdiri,matanya melihat ke arah luar di mana adiknya Zeus dan sepupu-sepupunya sedang bersantai.tatapannya lebih fokus pada balita yang tertawa dalam gendongan Pengasuh.bayi itu seperti ingin digigit saja geram Deuz,pipinya yang bulat,bibirnya yang aduhai mungil,waaaawwwwww Deuz mencintainya,sungguh.pipi remaja itu merona merah dengan tatapan lembut tak terbaca di balik jendela ruang pribadi orangtuanya.