
Caca menyeka airmatanya sambil menggendong Zeyna naik mobil di antar ke perusahaan Napoleon,ia biasa pergi mengantar makan siang untuk sang suami tercinta,untuk hari ini ia mengajak gadis kecil kesayangannya,mendadani dengan sangat manis,mengenakan desain dress sesuai hasil karya Ariana,wanita itu tidak sulit mendapat busana2 bagus dan terbaik dari Ariana,apalagi wanita itu memiliki putri kembar,seusia Zues saat ini,ada beberapa potong baju bekas yang masih layak di pakai Zeyna,tentu saja tanpa sepengetahuan Sang suami konglomeratnya.bukannya tidak sanggup membeli,Caca punya segalanya,apapun itu,tapi hidup berkecukupan dan menabung untuk masa depan ke 3 orang anaknya lebih di ajarkan Caca sejak dini.saat ia membuka hp setelah memastikan Zeyna duduk tenang di kursinya,di beberapa media sosial keberadaan Erica dan Lea menyita perhatian publik,bukan hal baru untuk dirinya,ia berusaha mencari-cari topik baru untuk mengalihkan kesedihannya tapi sungguh sulit sejak beberapa menit yang lalu,sejak mendengar permintaan ijin Ayah mertua tentang Deuz.
"Pak.....,tolong lebih cepat...." ia memberikan perintah pada sopirnya agar cepat,letak perusahaan Suaminya di titik ibu kota bern,tak begitu jauh dari studio.di perjalanan sang sopir tak berani bertanya sekalipun melihat airmata majikannya terus menetes,hingga hidung wanita itu kemerahan dan sesekali jarinya menyapu pipi mulusnya tanpa make up,hanya liptin yang semakin mempercantik wanita bertubuh mungil majikan paling baik menurut si sopir.
1 jam kemudian mereka tiba,tepat di Jam 12,Leon sudah berada di lobby depan menyambut mereka Karna si Dereen si pak sopir sudah lebih dulu mengirimkan pesan bahwa caca sedang sedih dan tak sabaran entah apa yang telah terjadi.
"bee.....,hai Zeyna....kemarilah sayang...." leon mengambil alih Zeyna dan menuntun Caca agar masuk lift khusus ke ruangan kerja mereka setelah turun dari mobil,jelas-jelas Caca melangkah terburu- buru mendahului Leon dengan menenteng makan siang dan tas keperluan bayinya,tak menjawab sapaan para karyawan,ia benar-benar kecut siang itu di mata para bawahan Leon yang ikut bingung,saat tiba di dalam kantor,Zeyna tak ikut masuk,salah satu maid yang nyusul dengan mobil lain sudah mengajak bayi kecil itu keruang istirahat,atas perintah Leon sendiri.
"loh....Zeyna kenapa tak di ajak kesini?" Caca bingung saat menyadari anak bayinya tak berada di ruangan ini,tapi di ruangan sebelah bersama maid.
"Zeyna akan ikut menangis melihatmu seperti ini...duduklah....ada apa siang ini?" Leon menuntun Caca duduk,dan wanita itu semakin tak kuat untuk menumpahkan segala kerisaunnya.
"tidak,kita cerai saja,aku akan menetap di sini,,kau kembalilah ke napoly.....!" Tubuh Leon bagai di sambar petir di siang bolong,hanya bisa berdiri mundur ke arah jendela kaca menatap hamparan salju di pegunungan Alpen yang tetap abadi di tanah indah ini,mulut leon tak bisa berkata apapun,ada apa dengan istrinya ini,ia menghembuskan nafas berusaha menguasai keadaan.
"kenapa diam saja??!!!,,kita urus saat ini juga...."mata hazel ini,tatapan kekecewaan,dan sedih,sakit hati,leon mengulurkan tangannya memeluk erat tubuh wanita itu,hingga terdengar suara tangis yang pecah.
"bercerai tak semudah ucapan,mulutmu sungguh tidak sejalan dengan hatimu,apakah kurang puas denganku?,aku kaya,tampan,baik hati dan juga ....sangat mencintaimu baby...." ucapan Leon membuat hati Caca sedikit membaik,walaupun terdengar terlalu sombong,ya itulah suaminya,ia memang rupawan sekalipun usianya sudah mencapai 47 tahun,pria ini mendaratkan kecupan sekilas lalu kembali duduk di samping Caca yang tetap saja imut dan menggemaskan,apalagi dengan wajah sembab seperti ini,emosi Leon menguap entah kemana sekalipun wanita itu bicara keras atau mengancam,karna ekspresi wajahnya tidak sejalan dengan mulutnya yang suka berucap pedas jika berdua seperti saat ini.melihat sosok istrinya,Leon teringat pada Alexa yang saat ini sudah menetap jauh dari rumah,gadis itu kini sudah berusia 22 tahun batin Leon,tumbuh dewasa Karna tekanan dan psikologis yang luar biasa hancur,dia adalah anak angkat kak luis,tapi sekaligus istri dari pria jenius itu.
"kemarin kamu mencemaskan Zeyna,hari ini kamu mencemaskan apa?,dengarkan aku sekarang....,masalah kita,masih bisa kita atasi dengan bicara baik- baik....,sadar tidak kamu,kak Luis dalam perjalanan ke luar negeri saat ini tapi pikirannya tak bisa tenang Karna keputusan Alexa.....,jadi ayo ...jadilah kakak yang tegas dan bijak untuk Alexa ...jangan cengeng seperti anak-anak begini.....,kasian Zeyna...." Leon mengusap-ngusap sisa airmata di pipi Caca yang mulai berhenti menangis dan mengakui emosinya sedang meluap karna keadaan juga,ia juga ikut memikirkan Alexa dan kakak iparnya Luis,apalagi semua ini berhubungan dengan keberadaan Zeyna.
"jika sudah tenang ...,bicara pelan-pelan,aku cek Zeyna dulu..."Leon bicara tenang sambil membuka pintu samping mengecek keberadaan Zeyna yang sibuk bermain bersama maid,pria itu lega lalu kembali ke dalam ruangan di mana Caca tadi ia tinggalkan,wanita itu baru selesai minum air putih lalu bicara ketus.
"kenapa aku tidak tau kalau Deus akan pergi secepat ini....?!!,kenapa hanya diam dan menunggu anak kita sudah tidak ada baru....." Caca tak bisa melanjutkan kata-katanya karna Leon mengecup bibirnya dengan intens,agar tak perlu melanjutkan kata-,kata hingga wanita itu menarik tubuhnya mundur lalu mulai terlihat marah lagi.
"kau mau anak-anakku jauh agar bisa berduaan denganmu??!!" tudingan ini membuat Leon mulai paham,lalu angkat bicara.
"Deuz bukan pergi untuk selamanya bee.....tapi dia hanya mengikuti wajib militer....,ini demi anak kita juga...."
"tidak...!"
"demi masa depan putramu...presiden hadir saat launching produk dan penemuannya,ingat?,beliau sangat tertarik dengan anak kita,dia jenius sayang"
"tidak"
"demi laboratorium yang dia bangun,demi dapatkan hak paten dan ijin.....dan lain lain,demi ijin menikah dan juga...."
"kau sungguh suami yg menyesatkan...!!!!!,bicaramu sampai pernikahan pula,stop bercandanya Dad....dasar pria tua tak peduli anak-anak" caci maki itu keluar lagi dari mulut Caca,dan hal itu lebih baik,ketimbang mendengar istrinya bicara perceraian,seakan membahas makan siang yang begitu simple.
"bisakah kita makan siang dulu?" Leon mulai menguasai keadaan dan menuntun Caca ke ruangan khusus untuk bersantai,di sana ada pintu yang bisa terhubung ke ruangan di mana Zeyna malah terlelap Karna lelah di perjalanan dan juga lelah bermain.
"Deuz baru 17 tahun Dad....,sejak kapan ayah membicarakan wamil padamu?,dan kenapa aku tidak bicarakan hal ini padaku .....kecuali ayah yang menelfonku tadi....",
"aku belum melihatmu siap menerima hal ini,jadinya aku perlu lihat situasi juga kan sayang.....,apalagi kita juga sibuk mengurus Alexa dan kak Luis kemarin..." Leon menjelaskan kenyataannya memang itulah yang terjadi,Caca tetap tidak tenang,lalu meraih hpnya mencari nomor putra sulungnya untuk menelfon,tapi di cegat Leon.
"Deuz sudah lebih dulu tahu akan hal ini,dan dia memang ingin ikut wajib militer ini di Mongolia...." tiba-tiba seketika itu juga Caca menekan dadanya dengan kuat,dan menjatuhkan hp dari genggamannya.
"Ya Tuhan sayang.....", Leon tak menunggu istrinya pingsan,entah karna belum makan siang dan juga rasa lelah yang sering melanda akhir -akhir ini membuat kepala Caca jadi pusing,Deuz adalah putra sulungnya,amat ia banggakan akan kecerdasan dan juga sikapnya,tentu saja ibu manapun akan cemas melihat putranya mulai tumbuh dewasa dan pelan-pelan sibuk dengan segala rencana hidup dan pergaulan mereka,bulan lalu contohnya,Deuz secara khusus di undang pemimpin negara Swiss karna sebuah keterlibatan dalam hal penemuan penemuan Deuz,putranya lulus Strata satu di usia 17 tahun.mewakilkan negara Eropa mengikuti beberapa lomba ilmiah,si jenius berambut panjang terlalu sering jauh dari rumah.
"Yoga dulu wamil di Mongolia,aku sedih saat dia kembali makin jauh keputusannya ingin kuliah di New York....dan sampai saat ini Ibu dan Ayah sulit sekali mengajaknya kembali kecuali Yuka yang memohon....aku tidak ingin terjadi juga pada Deuz....,kau tau kan sayang....aku ...sangat mencintai anak-anak kita....sekalipun tak jarang mereka nakal dan juga melawanku....tapi...."
"baiklah...aku akan mengalah ,Yaah ku akui tidak mudah menikah muda denganmu dan memiliki anak jenius....,tapi aku ingin beberapa hari ini berduaan dengan Deuz,sebelum dia benar-benar memutuskan akan pilihannya...." Caca menguasai emosi lalu berbicara lemah lembut kembali pada Leon,tidak seperti tadi ia terlihat sangat kecewa dan tidak setuju jika Leon mengirim putra sulung mereka wamil terlalu jauh dari rumah,tapi apalah dayanya,Napoleon Company bukanlah perusahaan biasa,semua bidang mereka adalah kuasai,mulai dari yg paling pokok,seniman dan industri.
"kurasa....., waktu tidur Zeyna cukup lama,aku ingin makan siang....",Leon terlihat menatap sayu kearah Caca yang paham tatapan lapar seperti itu,tapi ia pura-pura tak paham dan menyediakan makan siang di atas meja.
"pilih mana,,semalam tidak tidur,atau beri aku makan siang..." Leon melahap spaghetti dengan tatapan menggoda,Caca melirik jam lalu menatap kesal ke arah suaminya,dengan gusar ia menarik dasi leon yang mengikutinya ke arah pintu rahasia,ada kamar pribadi di sana.
"aku masih marah,dan ini hanya Karna memang tugasku......lalu....." di saat keduanya akan masuk di balik pintu itu seseorang yang masuk tanpa permisi menyapa dengan santai.
"kalian mau kemana?" suara seseorang membuat kepala Leon langsung pusing,ia ingin marah,tapi yang menyapa mereka bukan lain adalah si sulung.tentu saja Caca akan gusar dan pura-pura merapikan dasi suaminya yang menahan geram sudah merusak suasana romantis ini,dan Deuz pura-pura tak tahu menahu,langsung duduk di depan meja menyantap makan siang milik ayahnya.
"lanjutkan saja Mom,Dad......asal jangan memberiku adik secengeng Zeyna......,aku suka adik yang smart dan.....lincah seperti...Anna dan Andrea....kurang lebih seperti itu....." bola Mata sang ibu menyipit dengan pipi yang merah nyaris sematang kulit tomat,salah satu tanganny mencubit perut Leon yang terbatuk-batuk menahan tawa berjalan ke arah ruangan di mana Zeyna tidur,si sulung memang suka bicara blak blakan sekali,anak itu sejak kecil suka menegur ayahnya tanpa tau tempat,karna ayahnya kadang tidak tau situasi dan tempat juga menunjukkan ke semua orang bahwa sang ibu adalah miliknya seorang.
"mommy....,aku mampir di sini karna ingin meminjam kamera milikmu..." tadinya mengantar Zeus kesekolah,tapi saat di perjalanan Deuz tiba-tiba menerima sebuah pesan dari kakeknya bahwa sang ibu sedang shock setelah mengetahui dirinya akan wajib meliter di Mongolia,bukan di Swiss.
"untuk apa meminjam kamera mommy,bukannya kalian sudah punya kamera?"
"aku sekalian meminta mommy jadi fotografer ku esok,ada sebuah tawaran dari Zia Erica.....dan aku tidak ingin orang lain yang mengambil pose-pose mahalku,,hanya mommy....."
Caca terlihat bingung karna di rumah tidak kekurangan kamera berkualitas,dan sedikit sedih akan permintaan langka anaknya.Leon kembali dengan menggendong Zeyna yang terlihat tak ramah pada Deuz,anak itu langsung memeluk leher Leon dan tidak ingin melihat kakaknya,tapi Deuz sudah tau akan dendam si kecil ini karna kejadian tadi pagi.
"he he....,kau masih marah padaku??,kemarilah bocah!!!!" Deuz meraih sosok mungil itu,dengan sedikit menarik paksa,karna Zeyna tidak ingin di cubit,dia terlihat berengut dan nyaris menangis,Leon memberi kode dengan tatapan jika Deuz terus menggoda adiknya hari ini maka siap-siap dirinya mendapat hukuman serius.
"mom....fotolah aku bersama Zeyna....." Sekali lagi Deuz meminta dengan serius,dan hal ini adalah moment langka.caca cepat-cepat meraih kamera,tak peduli sang suami terlihat ketus di meja kerjanya menikmati sisa makan siang yang sebagian sudah di lahap Deuz tadi,airmata wanita itu nyaris merusak suasana bahagia di siang ini,entah mengapa Caca sangat terharu,si sulung telah dewasa dan sangat pengertian.
"Mom.......,aku tunggu di ruangan Zeyna....." Deuz tidak menyadari keharuan ibunya,remaja itu memeluk gadis mungil yang sibuk menarik diri karna bibir anak laki-laki itu terus saja mendaratkan ciuman-ciuman gemas sambil berbisik parau.
"awas saja kalau berani kau memberikan ciuman pertamamu pada pria lain,aku akan membunuh pria itu.....," seorang remaja 17 tahun mengecup pipi seorang bayi mungil yang tak paham apapun tentang sikap kakak sulungnya ini yang ternyata sudah diam-diam jatuh cinta pada bayi kecil ini sejak awal lahir di dunia ini,entah cinta sebagai kakak atau apapun itu hanya Deuzlah sendiri yang tau,aroma manis dari kulit bayi itu semakin membuat gemas batinnya.
"jangan jual mahal....,cepatlah tumbuh dewasa,agar kau lihat,hanya akulah laki-laki paling tampan di dunia ini.....,okey.....!" Deuz terus berbisik lalu mencium pipi gadis kecil itu terus dan menerus,lalu beralih menggelitik bayi itu hingga meledak tertawa,para maid ikut takjub,bagaimana bisa tuan muda Deuz yang sulit mendekati Zeyna dengan niat semanis ini kecuali selalu membuat anak bayi itu menangis.
"Mom....serius memotret anak-anakmu...." Leon mengawasi Caca yang berdiri di ambang pintu memainkan blits blits kamera dengan sesekali berbalik menyeka airmatanya,saking bahagia sampai sampai wanita itu membidik kamera dengan tangis tanpa suara,bagaiman jika putra keduanya juga hadir di sini.
"hei.....,Deuz akan salah paham jika dia melihat airmatamu.....,"leon berbisik pelan,jarak Caca dan Deuz cukup jauh karna posisi Caca di pintu masuk ruangan anak-anak lalu Deuz dan Zeyna di atas kasur tepi kaca jendela yang terlihat tanpa tirai,hingga mata bayi itu semakin bercahaya karna pantulan matahari.
"Jika putraku Zeus di sini,sungguh aku akan siap mati hari ini juga dalam keadaan bahagia.....,kau tau kan,moment ini sulit kita temui......putra-putraku sayang......oohh astaga....,,mereka manis sekali....tolong potret kami...." Caca berbisik gemas menyeka airmatanya lalu menyodorkan kamera di tangan sang suami,lalu ia berlari kecil ikut bergabung bersama putra sulung dan putri bungsu menurut wanita cantik ini,Leon membidik dengan hati yang juga ikut bahagia sekali.
"anak-anak dari anak kecil yang ku jaga dulu,sudah sedewasa ini.....he he..." moment bahagia itu terus berlanjut hingga Deuz akan pamit kembali menjemput Zeus dari sekolah,karna sudah jam pulang sekalian juga Caca dan Zeyna pamit.
Leon berdiri di balik kaca menatap ke arah lobby kantor,di sana ia bisa melihat istrinya naik mobil di bantu Deuz yang membukakan pintu mobil,sebelum si sulung itu naik di motor pribadinya terus mengkawal mobil ibunya kembali ke Mension,Leon duduk di kursi kerjanya dengan tenang lalu membuka hp melihat ada sebuah pesan dari Luis,pria itu mengirim sebuah foto,meminta Leon harus menindak lanjuti sesuatu hal.
Alexa
Itu hanyalah foto Selfi istrinya di depan kaca,tapi isi pesannya adalah sejak pagi tadi sosok istrinya di kabarkan hilang dari kamar apertemen,dan Luis meminta bantuan pada Leon agar memastikan posisi Alexa saat ini di mana,tanpa banyak membalas chat Luis,Leon memilih menelfon kakaknya itu yang baru saja tiba dari bandara ke hotel,ia langsung menerima panggilan telfon tanpa peduli bagaimana sikap Leon.
"hallo kak,lihatlah rambut Alexa,kemarin dia mengecatnya jadi hitam,mungkin karna saat Selfi,dia menyadari warna rambutnya harus di warnain lagi,mungkin dia lagi bersama Given ke salon.....atau ke mana mungkin,,hei....berhenti mengawasi istrimu dengan begini sekali.....,dia lebih cerdas dalam hal memantau.....,,dia sudah dewasa...." panjang lebar Leon mengomeli kakaknya sambil mengotak Atik komputer di depannya mengecek keberadaan Alexa lewat beberapa orang anak buah suruhannya saat ini.