My Nanny, Ohh My Future

My Nanny, Ohh My Future
24.Ingin kembali



Caca melirik raut wajah tenang Leon di depan kemudi sebelum turun dari mobil,pria itu menatapnya dengan serius,sesungguhnya Leon tidak iklas melepas caca masuk ke mension Ali,tapi bukankah David telah menasehatinya bahwa Caca bisa saja berubah pikiran karna sikap arogannya,gadis itu tersenyum padanya sebelum turun dari mobil,Leon ingin menahan lengan Caca saat sebuah notifikasi pesan masuk dari Damar masuk,sebuah email yang bawahannya teruskan mengacaukan niat Leon untuk sekedar menenangkan pikiran kalut Caca yang sudah turun dari mobil dan bergegas masuk ke teras mension megah Ali sahabatnya.


sudah kali ke 3 Caca dan Erica bertamu di kediaman Ali,karna pria itu sangat ramah dan tidak sungkan menjemput keduanya hanya untuk mengajak bermain di taman belakang.


Ali menyadari kedatangan Caca,namun pria itu tetap pada posisinya yang duduk menghadap meja bar di ruangan khusus untuk sekedar nongkrong bersama teman-temannya.


Caca meletakkan sekotak makan siang yang ia bawa dari vila.


"aku tau kamu bukan anak kecil,tapi dari dulu aku tidak lupa kalau kamu suka yang manis-manis,tadi aku sudah buatin kamu puding kurma......,"


Ali tidak bergeming,dia bukan Leon yang marah atau menjawab sinis jika tersakiti atau tersinggung,,dengan hati-hati Caca menepuk lengan Ali yang tetap terdiam.


"aku minta maaf Ali,kalaupun aku.......kalaupun aku tidak memiliki kekasih......,aku tetap tidak menerimamu... ....,jika..." lidah Caca menjadi kelu untuk melanjutkan kalimatnya saat Ali tiba-tiba ingin beranjak dari kursi yang menopang tubuh indahnya selayaknya model,suara Caca bergetar keluar bersamaan dengan nafasnya yang putus-putus menahan agar airmatanya tidak jatuh.


"jika kedatanganku......mengganggumu,semoga kamu memaafkan aku jika kepergian ku hari ke swis meringankan sakit hatimu Li,tapi.....harus aku akui.....aku....."


Ali menutup mata dan melangkah ingin menjauh saat kakinya berhenti tiba-tiba saja ketika suara Caca di iringi tangis terdengar jelas di telinganya.


"aku bersyukur pernah memiliki sehabat sepertimu,dan asal kau tau saja.....sejak kau dan Dion pergi,aku kesepian,makanya aku sangat bahagia dapat bertemu kamu di sini dan lebih sangat bersyukur aku ternyata telah memiliki sahabat seorang aktor terbaik yang telah di kenal banyak orang.....aku.......bisa apa sekarang?,asal kamu tau saja.....sejak kakek meninggal..aku benar-benar merindukan kalian,makanya aku begitu ingin dekat denganmu saat di sini......jadi aku mohon maafkan aku,terserah kamu anggap aku telah serakah memiliki kekasih seperti Leon,dan ingin tetap memilikimu sebagai sahabatku....!,selamat tinggal,aku berjanji tidak akan mengusikmu lagi karna mungkin akan melukaimu,kamu punya hak mencintaiku Li,tidak ada yang salah...hanya saja aku minta maaf....",Caca menyeka airmatanya dan menunduk pergi.


Ali terpaku di sana hanya bisa mendengar suara kaki Caca menghilang di balik pintu mensionnya.suara Caca yang mengatakan jika kakek Harland meninggal adalah kesedihan mendalam untuknya,karna orgtua itu telah mengajarkan dirinya banyak hal.setelah beberapa menit merenung dan berniat menyusul Caca ke parkiran,saat itu pula suara telfon terdengar dari kantong celana jeans-nya.di waktu yang tepat sepupu Caca menelfon karna beberapa menit yang lalu Ali menceritakan penolakan Caca karna Leon,mereka selalu berkomunikasi sekalipun jauh.


"hallo Ali .....aku sudah mengirimimu pesan dari tadi...kenapa tidak balas?"


"Hallo Dion,kenapa kamu tidak mengabariku jika kakek Harland telah meninggal?,dan....tadi Caca kemari,bisakah kita bicara nanti saja,sepertinya aku harus berdamai dengan Caca sekarang. ... "


"akupun menelfonmu untuk mengingatkan bahwa.......pria yang kau benci itu adalah benar tunangan Caca,pria itu....adalah....."


"yaaa......aku tau,dia bukan seorang fotografer biasa,aku baru menyadarinya setelah melihat reaksi Caca.....lalu aku harus bagaimana sekarang?"


"aku hanya mengingatkan......bahwa dia bukan tandinganmu.....Leon itu adalah wali yang telah di suratkan Almarhum kakekku....orantua Leonpun telah menyetujui hal itu sebagai balas budi beliau yang melindungi Leon hingga konflik di keluarganya selesai.....dan juga....fakta yang harus kamu tau adalah Leon telah lama mencintai Caca daripad dirimu."


"aku tidak peduli,salah jika aku mencintai Caca?"


"aku tidak menyalahkanmu,tapi berhentilah sekarang,karna akan sia-sia,kita adalah sahabat....aku menelfonmu bukan untuk membela Caca,tapi karna aku peduli pada persahabatan kita...."


"lalu aku harus bagaimana sekarang?"


"buanglah perasaanmu itu,kembalilah jadi sahabat terbaik Caca....."


"ingin kembali jadi sahabatnya setelah seperti ini?,bagaimana caranya?"


"pikirkanlah sendiri,bukannya tadi kamu bilang Caca menemuimu?,dia luar biasa memiliki keberanian kan,dia buktikan bahwa pengakuanmu tidak membuatnya membencimu...."


"tapi tadi lagi-lagi aku mengacaukannya.....dia menangis langsung pergi"


"kau harus berhadapan denganku jika Caca bersedih lagi......"


Ali menutup pembicaraan dan berlari keluar mension,namun sudah terlambat,mobil Leon telah membawa pergi sosok Caca keluar dari kediamannya.


Leon melirik jari-jari Caca yang saling bertautan,gadis itu memiliki kebiasaan mengutak Atik kukunya jika mengalami kekalutan,Leon menyerahkan kamera kecilnya agar jari-jari mungil itu tidak saling melukai,atau nanti Caca akan mengigit-gigit kukunya lagi.mengajaknya menemui Erica yang akan kembali ke rumah sore ini dari rumah sakit adalah ide terbaik demi menghiburnya,setelah berbincang sebentar sebelum pesawat yang menjemput crewnya kembali ke Swiss,David dan Damar mewakilinya untuk pulang ke Zurich,di kota itu studio pribadi miliknya berdiri.


Leon mengawasi Caca yang bercengkerama dengan Erica dan Sera dari balik kaca ruang tunggu pesawat.


"apakah sudah selesai masalah antara kalian bertiga,bukankah sebaiknya kalian berdua juga kembali lebih cepat,Ali memiliki pengaruh di sini.....aku kuatir dia tidak berhenti hari ini saja"


Leon menatap sejenak kekuatiran David,dan melirik Caca yang terlihat tidak ingin menjauh dari Sera dan Erica.


"aku belum bertemu Keluarga Bastian......biar ini selesai secara baik-baik,aku masih ingin mengajak Caca ke New York,keluarganya di sana,kau tau itu kan....."


"ada apa denganmu?,sepertinya kau sedang merencanakan sesuatu tanpa sepengatahuanku,jangan bilang kau akan mengantar Caca pada Orangtuanya,setelah itu kau menghilang lagi...?!"


Leon tidak menjawab,lagi-lagi membuat David gusar saja.


"Leon......jangan bilang kamu meragukan Caca karna hal ini!"


"tidak......aku hanya ingin mengajaknya sedikit lebih mengenal aku lebih dalam lagi tanpa embel-embel pekerjaan dan latar belakang keluargaku"


"jangan membuat semua jadi rumit leon"


"sudah waktunya kalian naik pesawat..."


David beranjak dengan kesal menemui Caca,pria tampan dan kurus itu memeluk Caca dengan lembut sambil mengawasi Leon yang gelisah.


"ca....telfon aku atau Erica jika ada apa-apa....,aku menyayangimu"


Caca hanya mengangguk,sesungguhnya dirinya ingin ikut kembali,entah mengapa Caca tidak ingin lagi berlama-lama di negara gurun ini sejak kejadian tadi siang.namun Leon beralasan masih ingin mengajaknya berlibur.Damar melambai kearahnya dengan perasaan cemas,sesungguhnya ia tahu ada hal lain yang menganggu pikiran atasannya,saat mereka telah di dalam pesawat Damar semakin tidak tenang saja,dan ingin turun mengajak Caca ikut kembali.sera istrinya ikut merasakan kepanikan suaminya.


"Damar.......,bisakah kamu bicara jujur sekarang?,aku merasakan dirimu mencemaskan Caca,lihatlah pandanganmu selalu keluar jendela pesawat...."


"ya....tiba-tiba saja aku teringat pesan email yang masuk di laptop kerja Leon....ada seseorang yang menanti Leon di Roma....aku mencemaskan Caca"


"kenapa kau baru memberitahuku sekarang??!!"


David terkejut dengan suara keras Sera pada suaminya,mereka duduk di ruang VIP bersama Erica yang ikut menoleh,David berdiri mendekati keduanya.


"katakan ada apa?"


David melirik Erica,dan mengatup mulutnya rapat,terdengar pengumuman pesawat akan lepas landas.


SIAPA YANG MENANTI LEON?,SILAKAN LIKE DAN KOMEN HAI PEMBACA BUDIMANπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ