My Nanny, Ohh My Future

My Nanny, Ohh My Future
78.Apapun



Emosi Leon benar-benar tidak terkendali,gadis di depannya itu telah menangis dan ingin berlari ke arah villa tapi tenaga suaminya lebih unggul.


"dengarkan aku baik-baik,aku persiapkan semua ini bukan hanya sekedar menutupi kesalahanku!!,aku ini suamimu,aku mencintaimu melebihi diriku sendiri,berhenti berpikir bahwa kau korban lalu merasa paling sakit hati!!!!"


suara lantang Leon membuat Damar tak bisa diam,pria itu berlari ke arah keduanya tapi Leon berteriak mencegatnya.


"kembalilah ke villa,kemasi barang-barang,aku akan membawa anak-anak jauh dari wanita ini!!,aku akan menyusul setelah bicara dengannya!!"


"apaan kau Leon??!!! kau melukai perasaan Caca jika....."


"karna dia istriku!!!,,jadi kau jangan ikut campur!!,,pergilah ke villa,ini perintah!!!" Suara bentakan keras Leon membuat tubuh Caca berguncang mundur,Damar terlihat melangkah dengan kecewa kearah villa.


"kenapa mundur???,takut???,,aku akan membawa anak-anak,hatiku sangat sakit melihatmu seperti wanita yang begitu terhianati dan tak di cintai suaminya!!!!,dan satu hal lagi berhenti pura-pura tidak tahu fakta tentang orang-orang di sekelilingku saat di kantor,,padahal kamu punya mata-mata amatiran yang diam-diam kau bayar,sebegini tidak percayanya kamu pada suamimu sendiri?" Leon berbalik ke arah villa melangkah dengan kaki panjangnya menghilang dari tatapan istrinya yang berusaha mengendalikan rasa takut dan juga sedihnya,lalu berucap pelan.


"aku tidak pernah membayar siapapun untuk mema....."Caca tak bisa melanjutkan kalimatnya saat Leon kembali berbalik dan berucap lagi,


"Stop berbicara omong kosong Casandra!!!!,aku sedang marah dan kecewa sekarang!!!!!"


lalu Leon berbalik arah ke arah villa,melangkah pelan sambil memasang wajah kesal tentunya,, menutup matanya sesaat hingga airmatanya jatuh jua di kedua pipinya yang beku,pria itu berhenti melangkah saat tak mendapat suara panggilan ataupun nafas istrinya di belakang,berharap agar Caca berlari memeluknya dari belakang atau berteriak menyuruhnya jangan pergi mungkin??? malah sepi,hanya suara ombak yang tenang dan semilir angin menerpa airmatanya.setelah 12 langkah kedepan,terpaksa Leon berbalik karna firasat buruk,karna tebakannya benar,, Caca terlihat sudah setengah badanya masuk ke tengah laut.


"Casandra.....Ya Tuhan....tolong berhenti,.......!!!!" ,para bodiguard ikut panik saat Leon berlari sekuat tenaganya ke arah laut,Damar yang sudah berada di villa mendengar kegaduhan segera keluar di ikuti Sera,bibi Mei di minta menjaga anak-anak.


"ca....." Leon menggapai lengan istrinya berbalik padanya berniat memeluk,namun lengan Caca lebih cepat melayangkan penolakan,Leon sempat terkejut,tapi pria itu memilih tetap mengangkat tubuh mungil istrinya agar menjauh dari gelombang yang nyaris menelan tubuh kecil itu menjauh,sekuat tenaga Caca melawan,tapi siapa yang bisa melawan pria bermata gelap itu.setelah keduanya tiba di atas pasir yang lembab,Sera cepat-cepat memeluk tubuh gadis bersurai gelap itu dengan handuk tebal,Leon terduduk penuh penyesalan.Damar mengusap wajahnya sendiri saat melihat kejadian itu,apalagi mendengar suara tangisan wanita kesayangan atasannya itu semakin keras.


Sera menenangkannya dengan sebuah pelukan,tapi Caca terus menangis hingga Leon mendekat lalu memeluknya dengan rasa sedih.


"maafkan aku ca......maafkan aku....."


"kurasa.......,,aku rasa......" Caca terlihat berusaha mengatur kalimat sambil menatap suaminya yang terlihat sangat kuatir,bibir wanitanya terlihat bergetar ingin mengatakan sesuatu,Sera dan Damar saling menggenggam tangan ketika suara Caca kembali keluar dengan cukup keras dan tegas.


"kurasa.......perbedaan kita sudah sangat merusak hubungan ini


....aku rasa......harus kembali ke Swiss hari ini juga,kau sungguh keterlaluan sampai ingin memisahkan aku dari anak-anak??!!!,,lebih baik aku mati daripada kehilangan mereka,aku akan pastikan kau tidak akan menang di pengadilan ,jika kau ingin mence...." Leon mengatup bibir istrinya agar kalimat yang tak ingin sekalipun ia dengar itu keluar lebih jelas dari mulut Caca.mata hazel Caca terlihat sangat terluka di pandangan siapapun yang ikut menyaksikan itu,nafasnya memburu penuh emosi lalu perlahan pelan di gantikan tubuh lemahnya.


"ssssstt....kita kembali ke villa,,,,tolong papah dia leon......", Sera mengambil alih keadaan dan Leon cepat menggendong istrinya Kembali ke villa,tak peduli seberapa keras Caca ingin melepaskan diri yang jelas saat tiba di dalam rumah yang berbahan kayu dan kaca itu,wanita itu sudah terkulai lemas karna kelelahan sendiri saat berontak dari pelukan dan gendongan suaminya.


"Sera tinggalkan kami....tolong telfon aku lewat telfon rumah kalau anak-anak bangun...." Leon memutuskan agar dirinya menyelesaikan pertengkaran ini sendirian,sudah hampir jam 10 malam dan Leon tak ingin terlihat tak bisa bertanggung jawab.


memastikan suara amarah Caca tak keluar lagi Karna gadis itu hanya menangis dalam keadaan tubuh lemas,dengan telaten Leon menyetel suhu ruangan,menyiapkan air hangat lalu menggendong istrinya berendam lalu memakaikan piyama,meyelimutinya dengan penuh hati-hati sambil terus berbisik minta maaf sesakali mengecup pipi dan keningnya.


rasa lelahnya sejak tiba tadi kini menguap entah kemana di ganti dengan rasa cemas dan juga penyesalan.karna sikapnya sungguh membuat ibu dari anak-anaknya itu murung tak bergeming,hanya bulir-bulir airmata yang sering menetes dari kedua bola mata indahnya.


dan level tertinggi dari sebuah kesedihan seorang wanita adalah airmata yang menetes sambil sekuat tenaga menjelaskan sesuatu dengan bibir bergetar.leon tak tega melihat wanitanya ingin bicara namun fisiknya terlampau bergetar dan tak bisa di kontrol.


"aku tidak pernah sekalipun membuang uang atau waktuku untuk mematai-mataimu,,aku benar-benar tidak tahu jika wanita itu.......adalah rekan kerja dan juga teman lamamu.....aku bersumpah!" rasa tertuduh pada sesuatu yang tidak pernah ia perbuat membuat Caca sangat terluka dan tertekan,apalagi mengingat bentakan tadi sungguh membuat mental tersakiti.


"aku.....aku minta maaf tidak mempercayaimu,tapi aku tidak akan merubah keputusanku,aku akan kembali ke Swiss..... sekarang biarkan aku istirahat....."


Caca berbalik membelakangi suaminya dan membenamkan wajahnya di atas bantal berusaha meredam rasa sakit dan juga kesal di benda empuk itu,namun punggungnya masih bergetar segera di usap Leon yang tetap rapat memeluknya dari belakang lalu berbisik.


"apapun aku akan lakukan.....asal tidak kau tinggalkan kami bertiga....,apapun sayang.....,sekarang istirahatlah...."


leon terus mengusap punggung dan terkadang membenamkan wajahnya di balik rambut Caca yang hanya bisa menutup mata dengan perasaan sesak yang lambat laun terangkat Karna apa,entah Karna pelukan hangat suaminya atau Karna memang ia lelah hari ini....,hingga Leon mendengar suara dengkuran halus dari bibir gadis mungil itu.


Leon mengubah posisinya dari rebahan jadi duduk sambil menatap pekerjaanya di labtop,ia terjaga sepanjang malam di sisi Caca.,hingga sebuah suara igauan dari bibir mungil itu menarik perhatian leon.istrinya mengucapkan namanya di dalam lelapnya malam.


"apapun katamu Leon brengsek....?,aku membencimu pria tua.....aku mencintaimu juga beruang kutub,apapun?" kalimat cacian itu keluar dari bibir Caca yang terlelap,membuat Leon tersenyum dan bersyukur,karna Tuhan memperlihatkan kejujuran dari mahluk paling ia cintai ini di alam bawah sadarnya sekalipun,sungguh pemandangan langka,dan tidak semua suami mendapatkan moment ini,Leon mengusap Surai panjang istrinya itu lalu menarik selimut ikut berbaring setelah meletakkan semua pekerjaannya di meja.


"ya apapun akan aku lakukan...",tapi ia kembali beranjak bangun saat layar hp milik istrinya terang,menunjukkan bahwa ada notifikasi masuk,ia beranikan diri mengecek siapa yang berani menganggu istirahat wanitanya.


diam-diam Leon duduk di kursi malas tak jauh dari kedua putranya yang tertidur,hingga pagi menjelang pria itu tetap terjaga di sana sambil menekan keningnya. setelah membaca pesan singkat dari Erica untuk Caca semalam,pria itu tak bisa menutup mata hingga fajar menampar wajah dinginnya dan sapaan Damar yang mencarinya sejak 1 jam lalu.


"aku dengar ada masalah serius dengan Erica....,tapi kesehatan Caca lebih penting,Sera baru kembali dari kamar kalian,dan dokter sudah menyuntiknya...."


Damar menjelaskan keadaan pagi ini,Leon hanya mendesah dalam diam,meneguk kopi untuk gelas ke 3 sejak subuh tadi ia menyeduh kopi sendirian dan duduk diam di kamar kedua putranya,Zeus yang terkadang terbangun selalu yang leon telaten memberikan perhatian dalam bentuk tepukan,mengganti popok dan juga mengawasi Caca yang memberikan asi hingga wanita itu kembali ke kamar dengan raut tak terbaca tidak sedikitpun menatap mata Leon.


"dia demam sejak jam 5 subuh tadi,sebelum satu jam dia menyusui Zeus....," Leon menyimak namun tak menjawab,pria itu melirik jam sudah menunjukkan jam 8 pagi dan si sulung sudah terbangun ke kamar mandi.


"aku akan memandikan Deuz dulu lalu kita bicarakan pekerjaan,biarkan Caca sendirian dulu....,aku sudah janji apapun yang ia inginkan...."


Leon berkata dengan raut sedih,tadi subuh saat Caca masuk dan mendapati suaminya sedang duduk di teras kamar menunggui anak-anak,wanita itu berdecak kesal sambil memberikan asi pada Zeus,saat Leon akan mendekat,Caca menatap kesal seperti tak ingin di ganggu sedikitpun.


Damar hanya mendesah pelan lalu keluar kamar anak-anak menemui Sera yang sibuk membujuk Caca sarapan.


*PENGUMUMAN:


TERIMA KASIH UNTUK PARA PEMBACA YANG SUDAH MELUANGKAN WAKTUNYA,,DAN SUDAH MENUNGGU UPDATE .


SILAKAN KOMEN DAN LIKE UNTUK MENDUKUNG PENULIS❤️❤️❤️❤️*