
Bantu Follow up donk para pembawa setia,dengan cara komen dan likeπππ
Masih di bandara internasional capodichino Napoli,sebentar lagi dirinya akan pergi dari sini,beberapa kali Caca menyeka air matanya saat dua orang petugas maskapai tiba-tiba melangkah terburu-buru ke arahnya,dan kedua orang itu memberia kode agar Caca memberi waktu untuk bicara,singkat cerita; Caca melupakan pengaruh suami dan mertuanya di kota ini,penerbangan untuk dirinya di batalkan secara sepihak oleh maskapai penerbangan,atas keputusan dari seseorang yang sudah menunggu di lobby depan.
"maafkan ketidak nyamanan ini Nyonya Casandra,kami akan mengganti segala kerugian dan....." sebelum petugas itu melanjutkan bicara,Caca mengangguk paham lalu memotong pembicaraan.
" Terserah dari kalian mengurus tiket saya,memang sebaiknya aku tidak melanjutkan perjalanan ini...." Caca menyerahkan tiketnya pada salah satu staff di sana lalu melangkah dengan mantab ke arah lobby keluar bandara,yang jelas ia tak bisa berlama-lama di sana,,biarlah suruhan mertuanya mengurus hal ini lebih lanjut.
setengah berlari ia menerjang tubuh Mrs.Queen dengan derai airmata,ya...di depan lobby ruang tunggu,kedua mertuanya sudah menunggu dengan yakin,merekalah yang membatalkan penerbangan Caca beberapa menit yang lalu,orangtua siapapun akan melakukan hal apapun demi kebahagiaan anak-anak mereka.
tak jauh dari sana ke 3 anaknya berlari dan berebutan ingin mendapat pelukan dari sang ibu,Deuz mengalah ia memilih mundur kembali ke mobil setelah mengantar kedua adiknya lebih dekat dengan posisi sang ibu,lalu si ayah? Yap pria itu sudah lebih dahulu pergi dan meninggalkan pesan pada Erica.
Erica menunggu Caca selesai menuntaskan rasa rindunya dan selesai berbicara dengan orangtuanya hampir 3 jam,di perjalanan hingga di Mension,wanita itu meminta maaf dan juga menceritakan bagaimana perasaannya yang terluka lalu berakhir dengan airmata penyesalan setelah Me.Napoloen mengajaknya bicara ber-3 di dalam ruangan kerja,tepatnya ibu mertua,dan Caca di dalam sana melihat fakta dari potret2 berita itu tidaklah benar.lengkap dengan sebuah ucapan klarifikasi pribadi dari wanita Rusia bernama Amber yang memang kini berada di dalam tahanan,dan akan di deportasi kembali ke tanah airnya sejak masalah itu merebak,segala usaha dari Leon membuat wanita itu sangat menyesal telah menentang dan mengusik keluarga Leon,wanita itu adalah mantan relasi Luis saat memiliki perusahaan cabang di rusia,sejak Luis di kabarkan tak pernah lagi bekerjasama,dan nyaris bangkrut,amber melakukan segala cara secara diam-diam ingin masuk jadi salah satu karyawan Leon,dengan cara membuntuti Leon setiap kali pria itu sudah keluar dari rumah pergi kerja,hingga akhirnya menginap di hotel yang sama,lalu pura-pura berpapasan hingga menyewa seorang fotografer gadungan,mengedit dengan berbagai gaya seakan-akan Leon dan amber memiliki hubungan spesial.hingga Luis menyadari semua itu lalu mencegat amber tapi wanita berdarah Rusia itu sudah kepalang basah mengeluarkan banyak biaya hingga tanpa berpikir panjang membuat dirinya seakan-akan terjebak dalam sebuah skandal dengan seorang Lionel Napoleon adik dari Direktur utama Napoleon Company,di mata publik nama baik Leon tercoreng seperti pecundang suka bermain wanita selain istrinya yang masih muda dan cantik jelita.
"opini publik biarlah akan termakan waktu kak .....,anak-anak sudah lelah dan tidur,sekarang aku ingin menyampaikan pesan kak Luis dulu.....lalu Leon....." Erica bicara tiba-tiba saat Caca melamun sendirian di kamar pribadi sang suami yang tak kunjung kembali entah kemana.
"hai Erica.....aku sedikit bingung....harus bagaimana saat kak Leon kembali di rumah...." Caca begitu takut menerima amarah dari sang suami,dua Minggu bukan waktu yang sedikit mendiamkan suami,sudah jam 12 malam sekarang dan Leon belum juga kembali sejak menghilang di bandara.
"kak Leon ada di tempat biasa kak Caca juga menenangkan diri.....entah aku juga tidak tau di mana itu....,tapi ini ada pesan dari kak Luis....." Erica bicara tenang lalu menyodorkan sebuah rekaman singkat tentang masalah yang telah kakak tertua itu selesaikan serta permintaan maaf sudah menyeret nyeret suaminya yang saat ini sepertinya sedang menenangkan pikiran.
"baiklah Erica....,aku Titip anak-anak,aku tidak bisa berdiam diri di sini...." Caca memeluk Erica tanda terima kasih lalu berlari keluar kamar sambil membawa hp lalu kunci mobil,melewati 3 pria di ruang tengah yaitu Yoga,Ali dan Dion yang menyapa.
"pakailah mantel atau jaket kalau mau keluar ca.....!" Dion terus bangkit di ikuti yang lain,tapi Caca bukan anak manja yang harus peduli akan penampilan,Dion tak jauh beda dengan karakter ayahnya yang begitu perhatian dengan kondisi fisiknya Selian leon,wanita itu berlari kearah parkiran mobil dan pergi dari sana tanpa peduli Erica baru saja keluar dengan menenteng mantel serta sendal jepit.
"terserah deh!,kalau kak Leon marah melihat istrinya keluar rumah hanya degan piyama tanpa sendal.....kalian yang akan di salahkan!" Erica bicara ketus kembali masuk ke dalam rumah,kembali di ikuti Ali dan Dion,sedngkan Yoga memilih istirahat di kamar kembarannya Yuka sejak awal sudah terlelap di pojok tembok bersama Given.
"kenapa kami yang di salahkan??" Ali beranikan diri bertanya dan kali ini langsung di jawab keras oleh istrinya,tapi hal itu sangat membuat hati Ali berbunga-bunga.
"karna kalian pria pria tidak berguna!,tiga orang laki-laki takut perempuan...!,kenapa tidak bisa mencegat kak caca pergi tanpa alas kaki???!!"
"maaf sayangku,kami tidak tau jika Caca akan pergi.....dan...."
"di luar sedang hujan deras okey!!,,Dion.....segera telfon kak Leon agar dia tau dirinya bukan anak kecil yang merajuk harus di bujuk rayu!" Dion tak menjawab tapi segera meraih hpnya untuk menelfon si tuan tanah di rumah ini,tapi nomor yang di tuju sedang aktif,Dion memilih ke kamar mencari nomor seseorang yang tau di mana pria Italia maskulin itu saat ini.lalu Ali tinggalah di ruang tengah menerima amarah dari Erica,
"kenapa kau masih di sini?!!!,,cepat telfon Damar agar menyuruh seseorang melacak keberadaan kak Leon!" Erica bicara Sambil menunjuk wajah Ali yang pura-pura takut lalu ke ke kamar lantai dua di mana ia dan Erica sering tempati,wanita itu terus saja mengoceh sambil mengunci pintu kamar dari dalam.
"sayang....apakah kau melihat handphone kantorku?" Ali memiliki dua hp,untuk pribadi dan pekerjaan,dan Erica kembali marah-marah.
"aku bukan asistenmu!!!,,harus tau segala hal,aku wanita yang banyak tekanan batin dan tidak di hargai saat kau sudah lebih percaya orang lain daripada aku....!,cari hpmu sendiri!"
"okey maafkan aku sayang....sejak hari ini,semua pekerjaanku aktivitasku harus kamu cek dan di setujui kamu dulu baru aku bisa laksanakan....,maafkan aku ya....."
"Terserah!!!,,saat ini aku lebih memikirkan Caca okey!,asal kau tau saja sejak pagi dia belum makan apapun!,lalu bagaimana jika terjadi sesuatu padanya di perjalanan??!!!" Amarah Erica membuat Ali cepat2 mencari nomor David lalu mengirim pesan agar meminta seseorang mengikuti istri dari big boss itu pergi.
suara keras Erica di dengar orangtua di kamar,tapi mereka kali ini memilih istirahat,karna hal ini bagus untuk Ali,untuk pertama kalinya Erica merespon suaminya sekalipun itu dengan amarah,lebih baik daripada tidak di anggap ada sama sekali bukan?.
terlepas dari perdebatan Ali dan Erica,Caca terus melanjutkan laju mobilnya membelah jalanan basah,saat ini Napoli sedang musim hujan,wanita itu beberapa kali bersin-bersin tapi terus melakukan mobil melewati sebuah apartemen mewah,tapi ia kembali mundur dan berhenti sesaat di sana lalu melihat ke sebuah lantai kamar di atas sana.dengan hati mantab Caca memasuki parkiran dan berdiam diri sebentar di dalam mobil mengingat pin pintu masuk kamar itu,ya..lantai 77 adalah sebuah apartemen milik Caca saat awal datang di negara Roma,saat masih awal menikah,pertama adaptasi dengan keluarga Napoleon sering terjadi perang batin Karna caper,Leon memberikan akses sebuah kamar mewah untuk wanita itu menenangkan dirinya sendirian.
"lampunya menyala,dia pasti di sana .....terserah nanti gimana kamu marah....tapi aku harus mengajakmu kembali di rumah....." Caca bergumam sendirian di dalam mobil,sedangkan Leon yang di cari sedang begitu menikmati suasana kamar yang tenang dan sepi,ia rebahan di ranjang mewah,tercium aroma seprai yang selalu di beri pewangi kesukaan caca,kamar ini selalu di rawat oleh pengelola di sini,tak perlu dirinya harus repot-repot membersihkan lagi,sejak tiba dari bandara dan berdiam diri sana,pria itu sibuk membenahi pikirannya dengan meneguk wine bersama sahabat sekaligus saudaranya David di sebuah bar private berisi orang2 kelas elite,dan itu adalah bar milik Luis yang saat ini di bawah pengawasan David,ya....si David kembarnya Devis.setelah memastikan emosi Leon sudah lenyap oleh rasa sesal sudah memarahi ibunya di pesawat tadi,David memastikan ibunya telah mendapat telfon permintaan maaf sejak 2 jam lalu,dirinya kembali ke Mension yang tak begitu jauh setelah Leon tiba-tiba menghilang tak kembali dari toelet,ternyata ia kembali ke kamar ini tanpa info kepada siapapun,dan yang tau alamat bangunan eksentrik ini hanyalah Caca seorang.
"Ayo pulang di rumah,anak-anak terus mencarimu sejak pagi tadi....." suara tegas itu lagi,bukan suara rajukan atau amarah yang dulu Leon rindukan,jadi dia kesini hanya demi anak-anak batin Leon yang memang saat ini 70% sudah terpengaruh alkohol.
Leon 45 tahun
sedangkan di sudut pandang Caca melihat leon yang menatap dingin,hatinya sangat terluka tentunya,jadi mereka tidak bisa saling memahami hanya Karna lewat tatapan mata yang sama,-sama pertahankan ego.
"Dad.....,ini kamarku...,kembalilah di kamarmu di Mension....dan apa apaan ini?" Caca pura-pura marah melihat jas berantakan di lantai tak lupa aroma asap rokok lalu aroma minuman keras membuat emosinya semakin meningkat,apalagi dengan datar Leon berkata pelan.
"Ini adalah pemberianku,terserah aku kan mau buat apa,bila perlu ku bakar sekalian,kamu bisa apa"
Caca menetap di daerah pegunungan Alpen tentu ia tak pernah lupa gimana suhu tubuh dan rasanya berada di Swiss,tapi mendengar perkataan leon yang seperti ini,kulitnya terasa dingin menusuk sampai perutnya ikut kram,inikah yang ia harapkan jauh-jauh dari rumah tak memakai alas kaki dan tak mengenakan pakian tebal menembus hujan malam-malam demi nama pernikahan??.
"oke Terserah ...sesukamu sajalah...!",Saat itu Caca berbicara dengan getir sambil melangkah keluar dari sana,saat di lift pun Leon tak mengejarnya,hingga wanita itu akhirnya luluh lantah,patah ,jatuh terduduk dengan airmata berderai di dalam lift turun ke lobby.satu sisi Leon mendesah menyadari istrinya benar-benar berbeda saat ini,10 menit berlalu pria itu tak mendengar suara nafas apalagi suara ocehan caca di kamar,pria itu berdiri di depan kaca melihat ke bawah sana dengan tatapan nanar,apakah pernikahannya sudah sehancur ini?,dirinya baru sadar jika Caca datang ke pusat kota dari Mension hanya dengan piyama,tanpa alas kaki lalu di luar hujan,tak luput dari pandangannya saat wanita itu berjalan dengan menyeka airmata menembus malam.
"oh ****!!!!",dengan langkah sempoyongan leon terburu-buru menyusul sambil menelfon David yang sudah bisa menebak jika Caca menemukannya dalam posisi setengah waras.
"tolong kau hadang istriku,dia sedang marah padaku...!,saat ini aku baru turun dengan lift,dia sudah di arah depan jalan menuju jalan tanpa mengenakan alas kaki dan......." Tuutt,percakapan lewat telfon itu langsung di putus oleh David yang berlari ke kamar membangunkan istrinya agar bergegas.
"bee.....cepat langkahnya....,jangan terlalu lelet" Ariana lebih cepat berlari keluar ke arah mobil,lalu keduanya mulai mencari keberadaan Caca sesuai instruksi Leon,di saat Ariana dan David melihat Caca sedang berjalan di tengah hujan,di ikuti Leon di belakangnya yang berjalan sempoyongann,di saat itulah suasana jadi sangat menyedihkan di mata Ariana,ia berniat keluar dari mobil di hadang Davi.
"kita awasi dulu.....,beri Caca waktu....." dan......filling Ariana tepat...,wanita itu berjalan lebih cepat menyadari keberadaan Leon 10 langkah darinya,lalu entah keberanian darimana,langkah si adik sepupu Ariana itu masuk di dalam bar.
bersamaan dengan lengan Leon menahannya lalu bicara tegas.
"Terserah kamu mau mabuk berapa liter,jika ingin,aku tambah akan sediakan,asal kau jangan masuk ke dalam!" Caca berusaha menarik tangannya tapi tenaga Leon lebih kuat sekalipun pria itu sedikit teler.David dan Ariana akhirnya keluar dan menyeret keduanya ke mobil lalu terus menyeret keduanya ke apartemen yang tadi.
"Be....telfon Seseorang mengirim wine terbaik untuk di nomor 77...", David menghempas tubuh Leon ke kamar mandi,sedangkan Caca di ajak ke dapur.
"David.....kau serius??!!" Ariana langsung tersambung dengan seorang kepercayaan mereka lalu beberapa keheningan berjalan,karna Caca tidak ingin bicara apapun sejak awal.
sedangkan David mulai menceramahi Leon di dalam bath up saat pria itu di perintahkan membersihkan diri dan otaknya.
"jika semua tidak bisa di bicarakan baik-baik,biarkan kau melihat Caca bicara saat mabuk....!" ide David membuat leon merinding lalu menjawab.
"istriku seorang Yakuza jika mabuk!kau tidak lupa dia adalah....." Leon keluar pintu setelah merasa segar di ikuti David,melirik jam di dinding,dan baru sadar sudah dua jam keduanya di Kamar mandi.
Ariana dan Caca sedang meneruskan kegiatan di dapur dalam diam,hingga David kesana dan mengajak Ariana kembali ke rumah mereka.
"anak-anak sebentar lagi bangun,jadi kami harus istirahat sejenak sebelum benar-benar mengurusi kenakalan mereka....,ku rasa kalian bisa bicara baik-baik,kasian Deuz dan Zeus.....pikirkan juga Zeyna.....,anak itu masih terlalu kecil jika di kembalikan pada orangtuanya.....dan kurasa....kau yang paling keberatan jika hal itu terjadi....." Seketika wanita yang di ajak bicara itu hanya mengangguk patuh,Ariana mengusap puncak kepala adik sepupunya itu lalu berbisik.
"kau mencintainya begitu lama ca,,mengapa sekarang kau begini ragu pada kak Leon....,ingatlah karaktermu dulu tidak seemosional ini....berhenti meneguk wine itu..." Ariana dari dua jam yg lalu hanya berusaha sabar melihat Caca menikmati wine sambil menyiapkan makan malam,kali ini dia meraih botol wine serta slokinya dan di letakkan di dalam kulkas,lalu kembali menerima sebuah kotak berisi pasta.
"kalian sudah membantuku,bawalah ini,nikmati sebelum dingin....." Caca menyerahkan hidangan yang tadinya mereka sama-sama siapkan di dapur sambil mengantar mereka ke depan lift lalu kembali ke kamar tamu dengan membawa botol wine.
"senikmat ini ternyata....." ia bergumam sendiri sambil meneguk isi dari botol itu untuk yang kesekian,saat selesai memakai pakaian santai lalu melihat jam sudah hampir jam 4 subuh,Leon tidak melihat Caca kembali ke kamar utama jadi dirinya ke dapur menikmati pasta yang sudah di sajikan.